
Mobil Abbas memasuki Mansion, ia menatapi Mansion dulu pernah ia dan Alsava tempati. Eliana dan Abbas tinggal di Mansion utama bersama Mami Siska, karena Eliana tidak mau kalau Abbas selalu membayangkan Alsava.
"Al, maafkan aku." Abbas mengeluarkan airmata dan kepalanya bersandar di setir mobil.
"Aden Abbas kenapa tidak turun dari mobil, apa terjadi sesuatu." Kata Pak Tejo satpam.
"Yuk, kita lihat pak." Ajak Mang Tata satpam juga, lalu mereka berdua menghampiri mobil Abbas.
Tok
Tok
Tok
Kaca mobil di ketuk pak Tejo.
"Aden, Aden."
Terdengar suara ketukan Abbas menghapus airmata dan membukakan jendela mobil.
"Ada apa Pak Tejo dan mamang Tata?."
"Alhamdulillah, Aden ngga apa-apa. Mamang khawatir." Mang Tata logat sundanya.
"Maaf kalau kami lancang, abis Aden tidak keluar dari mobil. Kami sangat mengkhawatirkan Aden." Kata Pak Tejo.
Abbas membuka pintu mobil, lalu keluar dari mobil. Pak Tejo dan Mang Tata agak mundur.
"Pak, Mang. Terimakasih ya, udah mau mengkhawatirkan Abbas." Abbas lembut.
"Apa ini Aden Abbas, tumben bahasanya lembut." Pikir keduanya(Pak Tejo dan Mang Tata) dan saling menatap.
"Kenapa kalian jadi diam, apa ada yang aneh sama Abbas." Abbas menatap bingung Pak Tejo dan Mang Tata.
"Ah! Ngga den, kami hanya..." Pembicaraan Pak Tejo terpotong.
"Hai! sayang, rupanya kamu disini." Eliana yang tiba-tiba datang dan memeluk Abbas.
__ADS_1
Abbas terdiam, dia kaget kenapa Eliana tau Abbas ada di Mansion yang dulu.
"Sayang, kok diam aja." Eliana melepas pelukan dan memegang pipi Abbas.
Abbas menatap wajah Eliana, entah mengapa mata Eliana penuh kebohongan dan ia meragukan cintanya.
"Sayang, jawab dong. Jangan diam aja, aku ngga suka." Eliana kesal di cuekin.
Abbas melepas tangan Eliana.
"Aku cuma lelah hari ini, kenapa kamu bisa kesini?." Abbas menyelidik.
"Sial, gue jadi ngga bisa ambil barangnya Alsava. Padahal gue udah ngebayangi menikmati barang-barang branded dan perhiasan yang mahal lagi, gue harus cari alasan biar Abbas ngga curiga sama gue." Batin Eliana.
"Tadi aku ngga sengaja melihat mobil mu dan mengikuti, ternyata kamu belok kesini. Tadinya aku mau ajak kamu jalan-jalan." Eliana bergelayutan manja di tangan Abbas.
Pak Tejo dan Mang Tata melihat Abbas bermesraan dengan Eliana, mereka mengundurkan diri ketempat kerja mereka.
"Den, kami kembali ke pos." Kata Mang Tata.
"Silakan." Abbas menganggukkan kepala.
Ketika Abbas memasuki Mansion, muncullah bayangan Alsava tersenyum senang. Abbas membelikan Mansion yang indah, semua desain ruangan adalah impian Alsava.
"*Mas, ini indah banget. Kok kamu tau desain yang aku impikan, ketika aku mempunyai rumah yang besar. Tapi terlihat sederhana." Alsava senang.
"Iya dong, ini aku berikan salah satu bentuk cinta aku sama kamu. Bahkan aku udah nyiapkan kamar untuk anak-anak kita nanti." Abbas memeluk Alsava dari belakang.
"Amiin, semoga kita cepat di beri keturunan ya mas." Alsava senang*.
"Alsava maafkan aku." Abbas mengusap wajahnya.
"Tadi kamu ngomong apa, Yank?." Eliana tadi asik memantau ruangan, jadi dia tidak dengar apa yang Abbas katakan.
"Ngga ada apa-apa, aku kekamar dulu ya. Kamu kalau masih mau keliling ruangan silakan." Abbas sambil berjalan menuju tangga.
"Dengan senang hati, sayang. Jadi aku bisa memantau isi ruangan." Eliana Senyum sinis.
__ADS_1
"Ya, Yank. Nanti aku akan menyusul kamu."
πΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Abbas memasuki kamar, dia melihat seluruh ruangan masih terdapat beberapa foto ia dengan Alsava.
"Senyum manismu tidak akan aku lupakan, maafkan aku." Abbas menyentuh foto Alsava yang di meja.
"Aku sungguh menyesal, ternyata aku masih mencintaimu. Kenapa kamu pergi begitu aja, tanpa menemui ku, apa kamu membiarkan aku hidup dalam penyesalan."
Abbas berjalan menuju ke ranjang, kenangan manis yang sangat berkesan. Karena ia pertama kali membuka gawang Alsava, lalu Abbas meminum obat di meja.
"Sungguh aku bodoh, cuma gara-gara kamu tidak bisa memiliki keturunan aku menyakiti kamu. Padahal dulu kamu wanita yang susah aku dapat. Alsava, maafkan aku, kamu wanita soleha, baik dan tidak pernah menuntut apa-apa. Kamu pasti berada di surga, kita tidak berjodoh di dunia. Mungkin di akhir nanti kita bisa berjodoh untuk selamanya. Aku mencintaimu Alsava." Abbas memeluk foto Alsava dan memejamkan matanya, ia membayangkan kembali bersama Alsava.
Eliana memasuki kamar, ia kaget melihat Abbas menutup mata sambil memeluk foto.
"Yank, bangun. Bangun, please jangan bikin aku khawatir." Eliana menggoyangkan tubuh Abbas, tapi Abbas tidak membuka matanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
...Penasaran ya... Jangan lupa Like, komentar dan Votenya... See you... πππππ...