
"Benaran, kalau kita ngga bikin resepsi pernikahan nanti di sangka orang-orang kita belum menikah. Kan kamu tau sendiri kita mempunyai perusahaan mendunia, aku juga takut nanti banyak pria yang mengejar kamu." Nufail mengerucutkan bibirnya.
"Hei! Babay ku sayang yang gantengnya tidak ketulungan, hati aku cuma ada kamu. Tidak ada satu pun yang bisa menggeser kamu di hati ku." Ucap Alsava memegang kedua pipi Nufail dan mengecup bibir Alsava.
"Makasih, Yank. Kamu akhirnya sudah mencintai ku, aku akan berusaha menjadi suami yang terbaik dan ingatkan aku bila aku ada salah." Nufail memeluk Alsava.
"Iya, aku juga akan berusaha menjadi istri yang terbaik dan jangan membuangku bila nanti ada kabar tidak enak." Kata Alsava menatap Nufail dengan tatapan sendu.
"Aku ngga akan membuang mu, emang kamu sampah. Kamu itu bagaikan berlian yang bersinar, yang harus mesti aku jaga segenap jiwa dan raga ku." Nufail menaruh tangannya di pinggul Alsava.
"Gombal, ya udah. Yuk, kita joging." Alsava melepas tangan Nufail.
Alsava mengganti pakaian dan memakai sepatu, sedangkan Nufail sudah berada di bawah. Maklum perempuan kalau dandan kadang lama.
"Udah siap." Nufail mengulurkan tangannya.
"Sudah, yuk." Alsava menerima uluran tangan Nufail.
Mereka joging di taman sekitar komplek. Banyak gadis, wanita bahkan nenek kagum dengan ketampanan Nufail. Begitu juga dengan Alsava dengan kecantikannya, hingga Nufail dan Alsava cemburu.
"Yank, lain kali nanti kamu jangan berpakaian seperti ini. Ya." Nufail merangkul posesif.
"Kamu juga, Babay. Jangan senyam-senyum sama yang lain." Alsava cemberut.
__ADS_1
"Hai!! Pengantin baru." Sapa Bang Alvan.
"Bang Alvan!!." Alsava langsung memeluk Bang Alvan.
"Udah jangan lama-lama pelukannya." Nufail posesif.
"Ck, masa loe cemburu sama gue. Gue kan abangnya." Kata Bang Alvan.
"Walau loe itu abang ipar gue, tapi gue cemburu Alsava berpelukan dengan cowok lain." Nufail memeluk Alsava.
"Ish!! Kalian kalau ketemu selalu berantem kaya Tom and Jerry." Alsava memisahkan Bang Alvan dan Nufail.
"Oia, Alsava. Kata Papa dan Opa, kalian resepsi di Indonesia. Karena Papi Mario tidak bisa kesini dan Opa sudah menentukan tanggalnya resepsi pernikahan kalian itu tepatnya di bulan depan, gue ngga tau tepatnya tanggal berapa. Yang bikin gue kaget itu Opa udah menyiapkan semua tinggal kalian nanti duduk manis di pelaminan, kapan Opa mengurusnya atau Papi Mario?Gue bingung sekaligus kaget dengan tingkah mereka. Apalagi setelah resepsi pernikahan kalian, minggu depannya gue di suruh nikah. Haduh! jadi pusing juga." Kata Bang Alvan, membuat Nufail dan Alsava melongo.
"Abis loe cerita panjang amat, curhat nih." Ledek Nufail.
"Dasar adik ipar laknut, orang ngasih kabar baik buat kalian. Malah pada bengong, ucapin terimakasih kek, apa kek." Bang Alvan mengerucutkan bibirnya dan melipatkan tangan di dadanya.
"Iya, terimakasih abang Alvan ganteng." Alsava mencubit pipi Bang Alvan.
"Ish!! Loe. Udah, Ah! Gue mau lari lagi." Bang Alvan bergegas pergi.
"Hahaha... Abang Kamu lucu, Yank. Kaya Abg PMS, gampang ngambeknya." Nufail tertawa.
__ADS_1
"Hus!! Gitu-gitu abang aku loh, kakak ipar kamu. Ngga baik kaya gitu, walau kalian seumuran tapi kamu harus sopan. Kamu kan nikah sama adiknya, jadi automatis dia abang kamu juga." Alsava menepuk tangan Nufail.
"Iya, Alsava sayang. Btw, kan tanggal resepsi pernikahan kita udah di tentukan dan di adakan di Indonesia, apakah kamu mau atau ngga?automatis nanti kamu akan ketemu sama si borokokok dan dedemit. Apa kamu siap, Yank?." Nufail memegang tangan Alsava dan menatapnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dari Sore tidur abis minum obat, sekarang jam 00.31 kebangun jadi update dech....
__ADS_1