Aku Bukan Siapa-siapa

Aku Bukan Siapa-siapa
Kabur


__ADS_3

"Apa aku jual aja, untuk memajukan perusahaan. Tapi barang-barang itu sudah aku berikan kepada Alsava, Aarrgghhh... kenapa jadi makin rumit." Batin Abbas, ia menjambak-jambak rambutnya.


"Tuan anda baik-baik aja." Sekretaris Roy menyentuh lengan Abbas.


"Gue baik-baik aja, cuma gue lelah dengan kehidupan gue ini. Masalah terus bertambah." Kata Abbas beberapa kali menghela napas.


"Itu barang-barang Alsava simpan baik-baik, bila nanti butuh baru kita jual. Gue mau istirahat dulu." Kata Abbas Lagi, lalu beranjak kedalam kamar.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Berita kebangkrutan Ferdinand group sudah tersebar dimana-mana, termasuk rumah sakit jiwa. Mami Siska syok melihat berita di Tv.


"Ngga-ngga mungkin, perusahaan yang aku dan Mario bangun susah payah. Bangkrut dalam hitungan detik, ini pasti ulah Mario bersama wanita ja**ng itu." Mami Siska mondar-mandir.


Pprraannkk


Mami Siska memecahkan piring dan gelas.


"Aku ngga terima... Aku harus keluar dari sini untuk minta perhitungan dengan si ja**ng, kenapa Mario begitu bodoh dan percaya dengan sih ja**ng itu." Kata Mami Siska.


Perawat dan dokter mendengar suara pecahan, langsung menghampiri ke kamar Mami Siska.


"Pak pegang ibu Siska." Perintah Dokter Mega yang menangani Mami Siska.


"Baik, Dok." Dua perawat langsung memegang tangan Mami Siska.


"Lepaskan... Lepaskan saya... Saya harus menemui anak saya..." Mami Siska berontak.


Dokter Mega menyiapkan suntikan untuk menenangkan Mami Siska.


"Tidak... Jangan... Saya ngga mau di suntik..." Mami Siska merasa ketakutan, lalu menendang naga dua perawat otomatis dua perawat melepaskan tangan Mami Siska, karena ada kesempatan Mami Siska lari sekencang mungkin. Dokter Mega dan dua perawat mengejar Mami Siska.


Perawat dan dokter-dokter lain ikut mengejar Mami Siska. Tapi mereka kalah cepat, karena dulunya Mami Siska adalah atlet lari maraton.


Mami Siska terus berlari sekencang mungkin, tanpa menoleh. Dia terus berlari hingga Ia sampai di pembuangan sampah dan jalan buntu.

__ADS_1


"Hosh... Hosh... Hosh... Jalan buntu, aku harus gimana lagi. Aku ngga mau ketangkap lagi." Mami Siska panik dan napasnya tidak beraturan. Mami Siska melihat sekeliling semua tempat hanya sampah-sampah, lalu ia melihat ada plastik hitam yang besar.


"Aku sembunyi disana aja." Mami Siska langsung mendekati plastik sampah dan masuk kedalam plastik sampah.


"Hosh...Hosh... Hosh... Gila tuh perempuan tua cepat juga larinya." Salah satu perawat ngos-ngosan.


"Hosh... Hosh... Hosh... Benar. Kemana perginya lagi, gue udah cape banget." Kata perawat 2, ia juga napasnya ngos-ngosan.


"Udah kita balik aja, mungkin udah ketemu sama yang lain. Disini bau banget gue ngga tahan." Kata Perawat 1 menutup hidungnya.


"Yuk, gue juga ngga tahan baunya. Rasanya gue pengen muntah." Ucap Perawat 2 juga menutup hidungnya.


Dua perawat itu kembali kerumah sakit. Karena tidak ada suara lagi Mami Siska keluar dari tempat persembunyiannya.


"Hufh... Mereka sudah pergi, aku harus menemui Abbas. Tapi aku harus gimana malah badan ku bau lagi, ini semua gara-gara wanita mandul itu. Andai aja Abbas tidak menikah dengan dia, hidup aku akan merasa tenang dan masih berada di istana Ferdinand. Mas Mario akan tetap menjadi suami ku yang sangat menyayangi ku... Aku harus cepat-cepat membuat perhitungan dengan Alsava. Aku ngga rela hidup ku berantakan, sedangkan dia berkelimpuhan harta berlimpah dari Mas Mario." Mami Siska mengepalkan kedua tangan dan matanya merah.


Mami Siska berjalan tak tau mau kemana, ia mencoba mencari bantuan.


"Nah, disana ada ibu-ibu pengajian. Aku harus berwajah sedih." Mami Siska merapihkan penampilannya. Lalu menghampiri ibu-ibu pengajian.


"Assalamualaikum... Ya Allah Ibu... Ini di minum dulu... Biar tenang." Bu Jamilah menggandeng Mami Siska dan memberikan Mami Siska minum.


"Terimakasih bu." Mami Siska meminum air yang di berikan Ibu Jamilah.


"Nama ibu siapa dan dari mana?." Kata Ibu Hayati memegang bahu Mami Siska.


"Perkenalkan nama saya Ibu Siska, saya dari Jakarta selatan." Mami Siska meletakkan gelas.


"Maaf Bu, lebih baik ibu harus bersihkan penampilan ibu nanti sekalian ikut kita ngaji. Biar hati tenang." Ucap Ibu Salamah.


"Tapi saya tidak punya baju ganti." Mami Siska sedih.


"Kalau begitu ikut saya, kebetulan itu rumah saya." Ibu Salamah menujuk rumah yang berdekatan dengan Masjid.


"Terimakasih banyak ya bu. Saya tidak tau harus apa lagi, mau pulang tidak ada ongkos naik taksi dan mau hubungi Ponsel sudah di ambil sama perampok." Mami Siska menunduk sedih.

__ADS_1


"Tidak usah sungkan bu, kita sebagai manusia harus saling tolong menolong. Maaf sebelumnya apa ibu seorang muslim?." Kata Ibu Jamilah.


"Yes, mereka mau menolong ku." Batin Mami Siska Senang.


"Iya, bu. Saya muslim."


"Ya sudah, ayo. Saya bantu ibu membersihkan diri, saya ada baju baru beli kemarin. Semoga aja bisa muat dengan ibu Siska." Ajak Ibu Salamah.


"Iya, ibu. Semoga aja dan terimakasih, maaf saya merepotkan." Mami Siska Senang.


"Iya bu sama-sama." Kata Ibu Salamah.


Mami Siska dan Ibu Salamah berjalan menuju rumah Ibu Jamilah.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, komentarnya ya... di tunggu loh... 😘😘😘😘


__ADS_2