
Joe memberikan kabar kepada Nufail, bahwa Eliana sudah meninggal.
"Innalillahi wa innalillahi rojiun, semoga amal ibadahnya di terima Allah. Joe, urus pemakaman Eliana. Ingat jangan beritahu Alsava biar Gue saja yang kasih tau." Kata Nufail.
"Baik, Bos." Kata Joe.
"Oia, Joe. Apa gue terlalu keras menghukum Eliana?."
"Tidak, Bos. Karena penyakit sudah lama dia derita, Bos. Suster disana juga kasih tau, kalau sebelum Eliana Meninggal. Dia Sholat dulu dan meninggal dalam keadaan Sujud."
"Masya Allah, berarti dia sudah taubat. Gue mendoakan Allah mengampuni dosa-dosanya dan memberikan dia tempat yang khusus."
"Amiin Ya Robbal'alamin."
"Loe kasih tau Abbas dan laksanakan segera pemakaman Eliana."
Abbas dan Khumaira ingin berangkat bulan muda, tiba-tiba Sekretaris Roy datang.
"Maaf tuan, Nyonya." Sekretaris Roy mengatur napas, ia buru-buru menemui Abbas dan Khumaira.
"Hmm... Ada apa loe kesini?Loe kan tau gue sama bini gue mau bulan madu." Abbas kesel.
"Maaf tuan, ini berita penting."
Abbas dan Khumaira saling pandang.
"Berita penting apa?."
"Mmm... Itu, Nyonya Eliana meninggal."
"Innalillahi Wa Innalillahi Rojiun. Kapan?."
"Eliana Siapa mas?." Khumaira bingung.
"Itu Baby, mantan istri mas."
"Innalillahi Wa Innalillahi Rojiun. Ibu kandungnya Satria Mas?."
"Iya, Baby."
"Ayo, mas. Kita nyelawat." Khumaira menarik tangan Abbas.
"Kamu semangat banget sih."
"Dia kan mantan istri Mas, walau dia pernah menyakiti mas. Tapi kita harus memaafkan dan kamu lihat yang terakhir kalinya, dampingi Satria."
"Baik, Baby. Sungguh beruntungnya aku memiliki istri seperti mu." Abbas mencubit hidung Khumaira.
"Sama-sama mas."
Mereka berdua naik mobil dan menuju kepemakaman Eliana.
Kabar Eliana Meninggal sudah sampai di Mansion utama, Alsava betapa kagetnya mendengarnya.
__ADS_1
"Innalillahi Wa Innalillahi Rojiun, Ya Allah ampunilah segala dosa-dosanya dan terimalah amal dan ibadahnya. Walau dia pernah menyakiti ku, tapi aku sudah memaafkannya sejak dulu. Kenapa Nufail tidak kasih tau aku mengenai berita ini." Batin Alsava, ia tidak sengaja mendengar pembicaraan para tetua bicara di ruang keluarga.
"Ayo Kita menyelawat kediaman Eliana." Ajak Umi Aisyah.
"Aku tidak mau, biar aja ular betina kena karmanya." Oma Anne melipat kedua tangannya di dada.
"Aku juga, aku tidak sudi melihat wajahnya." Mama Savara juga menolak. Alsava duduk di samping Umi Aisyah.
"Mama dan Oma, jangan seperti itu. Maafkan segala kesalahannya, agar dia tenang disana. Aku yang sudah di sakiti aja, sudah memaafkannya. Aku tidak mau jadi orang pedendam, karena pedendam itu temannya setan. Betul tidak Umi?." Alsava menaikkan alis dan menghadap Umi Aisyah.
"Itu benar, sayang. Alhamdulillah kamu sudah mau maafkannya, kamu wanita hebat. Umi bangga sama kamu, Sayang." Umi Aisyah memeluk Alsava.
"Ish, Kalian ini. Oke aku dan Mommy akan berusaha memaafkan dia." Kata Mama Savara.
"Iya, Mama dan Oma harus segera memaafkannya. Karena nabi itu mengajarkan kita untuk saling memaafkan, walau itu orang yang banyak menyakiti kita. Kita tetap memaafkannya."
"Lihatlah sekarang menantu ku ini sudah bisa memberi ceramah."
"Ya udah kalian aja yang nyelawat, keburu siang. Sikembar 4 biar Mama dan Mommy yang jaga." Kata mama Savara.
Mereka semua pergi kepemakaman Eliana.
"Selamat tinggal Eliana, semoga kamu tenang aku sudah memaafkan mu. Kamu tenang aja Satria akan tetap menjadi anak ku." Batin Abbas. Ia dan Khumaira sudah tiba lebih dahulu, karena letak hotel dan pemakaman Eliana tidak jauh.
"Masya Allah, aku mendengar dari Suster. Eliana Meninggal dalam keadaan sujud, kau akhirnya bertaubat sebelum ajal menjemput mu. Semoga amal dan ibadahnya diterima Allah, kamu tenang aja aku dan mas Abbas akan membimbing Satria menjadi anak yang Soleh membuat kamu menjadi bangga mempunyai anak seperti Satria. Terimakasih sudah melahirkan Satria, Dia anak yang ganteng dan sangat lucu. Aku sangat menyayanginya, saat pertama kali bertemu dengan Satria. Selamat jalan mba, semoga engkau tenang disana." Batin Khumaira.
Alsava dan keluarganya datang.
"Al, terimakasih sudah mau hadir. Maafkan kesalahan Eliana disini aku yang salah." Kata Abbas.
"Aku sudah memaafkannya kok dan aku juga tidak menyalahkan siapa-siapa, karena sudah takdir Allah." Alsava tersenyum.
"Ukhti Alsava wanita the best, pantas abang Nufail begitu mencintaimu." Sahut Khumaira.
"Ya, jelas dong. Istri siapa dulu, ya yank." Nufail merangkul pinggang dan mencium pipi Alsava.
"Ish, kamu kebiasaan." Alsava memukul pelan tangan Nufail.
"Biarin kamu kan istri aku."
"Iya, tapi kan ngga di tempat umum gini."
Abbas dan Khumaira tersenyum melihat Nufail dan Alsava sedang berdebat.
"Udah, Kalian jangan berdebat. Malu di lihat orang." Abbas menenangkan Nufail dan Alsava.
"Siapa yang berdebat, ya Yank." Kata Nufail cuek.
"Oia, Yank. Kami kok, sudah sampai kesini. Siapa yang kasih tau?."
"Ooo... Itu aku dengar para orang tua sedang ngobrol di ruang tengah. Yah, aku ikut dech."
"My quadruplet sama siapa, Yank?."
__ADS_1
"Kaya wartawan banyak nanya, kamu tenang aja ada Oma dan Eyang Uyut serta Baby sister."
"Ya udah, kita pulang. Aku ngga mau kamu kecapean, kan kamu juga harus menyusui ke empat anak kembar mu dan aku." Goda Nufail.
"Dasar suami mesum." Alsava membalik badan dan berjalan menuju mobil, lalu Nufail menyusul.
"Dasar itu orang kalau ketemu ada aja yang di debatkan, tapi mereka tetap saling mencintai dan menyayangi. Semoga kita seperti itu, berdebat tapi tidak saling benci atau marah. Malah lebih saling mencintai dan menyayangi, agar pernikahan berwarna tidak lempeng atau garing." Abbas merangkul pinggang Khumaira dan tangan satunya di masukan kedalam saku celana.
"Iya, Mas. Kamu kalau ada masalah atau aku ada salah langsung tegur aku dan ceritakan segala masalah mu, jangan ada di tutupi. Terbukalah sama aku, Insya Allah aku akan menjadi pendengar yang baik dan memperbaiki kesalahan ku." Kata Khumaira.
"Iya, kamu juga. Oke, ya udah kita kembali. Pesawat akan segera berangkat, sayang kalau tidak pergi. Tiket bulan madu dari Nufail."
"Iya, Mas."
Di Sisi Lain.
Mami Siska terkejut mendengar bahwa Eliana Meninggal.
"Sialan, wanita itu udah meninggal. Aku belum memberi dia pelajaran, telah membohongi ku selama ini." Mami Siska menendang-nendang.
"Sabar, bu. Kalau ibu seperti ini terus akan lama ibu disini." Kata Suster.
"Diam kamu, aku tidak ada urusan sama kamu." Mami Siska melototi Suster.
"Bukan begitu, bu. Banyak-banyak Istighfar, bu. Agar jin tidak mempengaruhi ibu terus."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Apakah setelah Abbas dan Khumaira bulan madu akan di karuniakan momongan?
Apakah Mami Siska akan bertaubat?
Tunggu jawabannya...
Tetap jangan Lupa Like, Vote dan Komentar ya...
See you 😘😘😘😘😘
__ADS_1