Aku Bukan Siapa-siapa

Aku Bukan Siapa-siapa
Akhir Dari Penantian


__ADS_3

Hari tepat hari Sabtu, waktunya Nufail memberikan waktu bersama Istri dan Anak-anaknya. Saat ini keluarga bahagia berada di taman belakang, menikmati udara pagi.


"Duh! Anak-anak Daddy lucu dan menggemaskan banget sih, kalian jangan cepat gede ya. Nanti Daddy tidak bisa memeluk dan mencium kalian seperti ini lagi." Nufail mencium gemas ke anak-anaknya.


"Hahaha... ngga mungkinlah mereka kecil terus, kamu ada-ada aja." Alsava menggelengkan kepala.


"Abis kalau masih kecil begini mereka itu lucu dan menggemaskan, Yank. Kalau udah gede ngga akan selucu dan segemas seperti ini."


"Terserah, nih kamu bantu aku memberi bubur sehat ke Cynta dan Cynda. Aku ke Ghoza dan Ghozi, ya."


Alsava meletakkan satu mangkok sedang berisi bubur sehat yang di buat khusus koki ahli gizi, menu bubur sehat hari ini adalah ikan salmon, brokoli, keju dan wortel. Sebenarnya Alsava bisa membuat sendiri makanan untuk sih kembar 4, tapi Nufail mencegah Alsava membuatnya. Karena Nufail tidak mau Alsava kecapean.


"Duh! Anak-anak Mommy pada lapar ya."


"Iya, Mom. Biar aku tambah lucu dan menggemaskan." Nufail meniru suara anak kecil.


"Maaf tuan, nyonya. Di luar ada Tuan Abbas dan Khumaira." Kata Pelayan.


"Iya, Bi. Suruh tunggu di ruang keluarga." Kata Nufail.


"Tumben mereka kemari, ada apa ya. Bay?." Alsava bingung kedatangan Abbas dan Khumaira.


"Maneketehe." Nufail menaikkan kedua bahunya.


"Ya udah, sana kamu temui mereka lebih dulu. Nanti aku menyusul, setelah My quadruplet aku bersihkan."


"Iya, sayang."


Nufail menghampiri Abbas dan Khumaira ke ruang keluarga.


"Maaf menunggu lama, biasa gue abis suapi anak-anak gue." Kata Nufail.


"Ngga lama kok, sory gue ganggu waktu loe dan keluarga." Abbas menjabat tangan Nufail.


"Tidak kok, santai aja. Oia, kalian sudah Sarapan?."


"Sudah, Bro. Istri gue ini ternyata sangat pintar memasak, lihat tubuh gue jadi lebih berisi."


"Hahaha... Baru tau, kemarin kemana aja."


Alsava datang sambil mendorong troli, ke empat anak kembarnya.


"Masya Allah, keponakan Aunty lucu dan menggemaskan." Khumaira langsung mencium pipi gembul baby kembar empat.


"Bro, gue mau cerita sama loe. Kalau akhir-akhir ini bini gue bersifat aneh dan membingungkan." Bisik Abbas.


"Maksudnya aneh dan membingungkan kaya gimana?sumpah gue ngga ngerti maksud loe itu." Nufail ikut berbisik.


"Bini gue kadang senang, kadang sedih dan kadang marah-marah ngga jelas. Abis itu dia minta nasi kebuli yang berada di Turki, gue kan bingung di tengah malam. Gue di suruh beli, gue bilang besok aja. Malah dia nangis, gue jadi bingung. Bro, gue menderita dengan sifat dia yang aneh seperti itu."


"Mmm... Kata orang dulu, ya. Kalau bocah bersifat tidak biasanya, seperti menangis ngga berhenti-henti atau melihat seseorang merasa nangis histeris. Bertanda bocah itu ketempelan makhluk tak kasat mata."


"Hi...hi.. Jangan membuat gue merinding dong, Bro."


"Hahaha... Masa sama begituan loe takut, cemen loe."


"Reseh loe... Gue serius oncom, gimana caranya gue mau bini gue sifatnya seperti dulu lagi."

__ADS_1


"Loe coba entar malam tubuh Bini loe di kepretin sama daun kelor."


"Benar ini akan berhasil, jangan loe ngeprenk gue."


"Benar, coba aja loe tanya pelayan di rumah ini."


"Iya,-iya."


"Kalian berdua kenapa sih dari tadi berbisik?." Alsava curiga, Abbas dan Nufail merencanakan sesuatu.


"Ah! Ngga, ini urusan laki-laki. Ya ngga, Bro." Abbas gugup.


Alsava dan Khumaira mengerutkan kedua alisnya dan menatap curiga.


"Bukan apa-apa sayang, tadi kami itu cuma bicara sesama laki-laki. Mengenai dalaman kami." Nufail jawab asal, Abbas menepuk jidatnya.


"Dasar suami mesum, yuk Ukhti. Kita bermain bersama anak-anak yang comel ini." Kata Khumaira, lalu membantu mendorong troli.


"Tuh!, lihatkan. Saudara loe itu, bersifat anehkan?Biasanya dia selalu lemah lembut, bertutur kata yang baik. Lah tadi dia pergi gitu aja." Abbas menyenderkan tubuhnya ke sofa.


"Hahaha... Loe sih menghajar Khumaira sampai dia marah sama loe." Nufail bukannya prihatin sama Abbas malah menertawakannya.


"Loe tega banget sih sama gue."


"Udah jangan kaya cewek ngambek, yuk kita susul mereka."


"Ukhti, aku mau tanya. Kenapa akhir-akhir ini aku merasa aneh, tidak seperti diri ku." Tanya Khumaira sambil mengajak Ghoza dan Ghozi bermain.


"Maksudnya?." Alsava bingung.


Alsava tersenyum dan mengajaknya kekamar.


"Kalian tolong jaga anak-anak dulu ya. Aku mau kekamar sebentar." Perintah Alsava, setiap Alsava dan anak-anak akan di kelilingi 4 Baby sister dan 4 Bodyguard.


"Siap Nyonya." Serentak.


Alsava dan Khumaira menaiki lift.


"Lihatkan mereka berdua pasti marah sama kita." Abbas memandangi istrinya pergi bersama Alsava.


"Jangan berpikir jelek dulu, mungkin mereka mau kekamar. Udah jangan melalow, Loe bantu jaga anak-anak gue." Kata Nufail, walau sudah dijaga sama baby sitter dan bodyguard. Nufail tetap tidak mempercayai mereka.


Alsava memberikan benda kecil dan tipis kepada Khumaira.


"Ini apa?." Khumaira membalik-balikkan benda tersebut.


"Ini namanya tespack atau tes kehamilan, coba kamu sana di kamar mandi. Aku yakin kamu saat ini sedang hamil." Alsava mendorong pelan Khumaira kekamar mandi.


"Tapi bagaimana caranya?." Khumaira masih bingung.


"Ya ampun, kamu polos banget sih. Petunjuknya ada disini kamu tinggal mengikuti saja dan nih aku kasih wadah untuk menampung air pipis mu." Alsava memberikan botol kecil ke Khumaira.


Khumaira masih dalam keadaan bingung, lalu masuk kedalam kamar mandi. Kemudian ia mengikuti petunjuk. Alsava mondar-mandir menunggu Khumaira.


"Ra, udah belum?."


Ceklek

__ADS_1


Pintu kamar mandi terbuka.


"Ini garis-garis apa ya Ukhti?, apa aku ada penyakitnya?."


"Masya Allah, kamu ini orangnya luar biasa sekali. Ini namanya kamu Benar-benar hamil, Ra. Selamat ya, akhirnya penantian selama ini terkabulkan." Alsava memeluk Khumaira.


"Ya Allah, terimakasih. Ternyata mas Abbas tidak mandul, doa kami dikabulkan." Khumaira sujud syukur, setelah Alsava melepas pelukan.


Alsava terharu, ia ikut menangis. Penantian Abbas memiliki anak terwujud, Alsava ikut senang. Walau Abbas adalah mantan suaminya, kini menjadi saudara.


"Lebih baik kamu periksa lagi kedokter, biar lebih jelas lagi."


"Iya, Ukhti."


Alsava dan Khumaira turun kebawah untuk menemui suami-suami mereka.


Nufail dan Abbas bingung melihat Alsava dan Khumaira tersenyum bahagia.


"Ada apa dengan mereka?." Kata Nufail.


"Ngga tau, loe lihatkan sekarang Alsava ikut aneh juga." Bisik Abbas.


"Mas, nih." Khumaira memberikan benda kecil dan tipis, membuat Abbas mengkerutkan alisnya.


"Ini apa, Baby?." Abbas membolak-balik benda tersebut.


"Ini namanya tespack." Nufail menoyor kepala Abbas.


"Hah?Buat apa?." Abbas tambah bingung.


"Masya Allah, ini tes kehamilan. Nih garis dua berarti bini loe hamil." Nufail menepuk jidatnya.


"Benarkah?." Abbas menatap istrinya.


"Benar, Mas. Aku hamil, kata Ukhti Alsava kita harus periksa kedokter. Biar lebih jelas." Khumaira menganggukkan kepala.


.


.


.


.


.


.


.


.


Penantian Abbas terwujud itu karena usaha dan doa Abbas dan Khumaira selama ini, walau umur pernikahan mereka masih muda. Tapi mereka sangat mengharapkan anak, apalagi Abbas yang di vonis mandul. Selamat ya Abbas dan Khumaira....


Jangan Lupa like, Vote dan komentarnya ya...


See You 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2