Aku Bukan Siapa-siapa

Aku Bukan Siapa-siapa
Kurang Ajar


__ADS_3

Abbas terdiam, ia beberapa kali mengusap kasar wajahnya dan berteriak.


"Bass, tenang dulu." Kata Dokter Chelsea.


"Gue ngga bisa tenang, perusahaan yang Papi rintis dari nol. Sekarang bangkrut dalam semalam, para pemegang saham kabur dan mencabut dananya. Gue Benar-benar udah kecolongan." Abbas meneteskan airmata.


"Apa yang harus gue lakukan, bokap gue pasti kecewa sama gue." Kata Abbas mengusap kasar wajahnya.


"Loe tenang dulu, gue akan bantu Loe. Gue merasa ada yang janggal, nanti gue dan anak buah gue akan selidiki semuanya." Dokter Erik menepuk punggung Abbas.


Ting...


Bunyi pesan ponsel Abbas.


Abbas melihat isi pesan dan matanya terbelalak, membuat Dokter Erik penasaran dan mengambil paksa ponsel dari tangan Abbas.


"Gila, bini loe chuy. Main gila sama bangkotan, parah... parah... parah..." Dokter Erik menggelengkan kepala.


"Kurang ajar, gue ngga terima. Pasti Eliana di jebak." Rahang Abbas mengeras dan dia sangat marah.


"Kayanya ini bukan rekayasa dech, ini murni. Buka mata dan hati loe, perempuan loe puja dan loe pilih sebenarnya lebih dari iblis."


"Maksud loe apa menghina bini gue." Abbas menarik kerah baju Dokter Erik.


"Slow dong, kalau loe ngga percaya sama omongan gue. Ngga masalah, tapi loe harus selidiki. Biar loe kagak menyesal nantinya, yah! kalau loe menyesal juga sudah terlambat. Berlian yang udah loe buang, sekarang sangat berharga dan mahal bagi seseorang. Dan berlian itu sangat bahagia di miliki seseorang yang sangat mencintainya dan akan segera launching baby berlian." Kata Dokter Erik melepas tangan Abbas di kemejanya.


"Omongan loe bikin semakin gue pusing, sebaiknya loe pergi dari sini. Gue butuh ketenangan." Abbas duduk dan menyenderkan kepalanya di sofa.


"Terserah loe, tapi asal loe ingat gue selalu ada. Walau loe ngga pernah peduli dan hargai gue selama ini. Gue tetap akan bantu Loe, gue balik. Bye." Dokter Erik keluar ruangan Abbas.


"Shitt... kenapa ini terjadi sama gue?." Abbas menendang meja tepat di depannya.


Ddrrtt... Ddrrtt...


Ponsel Abbas bergetar dan di lihat orang rumah tlp.


"Ha-halo tuan, saya Bi Inem. Mau ngabarin kalau Aden Satria masuk rumah sakit." Bi Inem Gugup dan panik.


"APA!!!." Abbas berdiri.


"Satria sakit apa bi?."


"Itu anu, Aden Satria Nangis terus dan pucat. Bibi langsung bawa aja ke rumah sakit. Takut Aden Satria kenapa-napa. Sekarang Den Satria malah demam tinggi Tuan." Bi Inem masih panik


"Oke, Bi. Saya langsung kesana, bibi sharelok rumah sakit mana."


"Baik, Tuan."


Telpon di tutup, Abbas langsung menuju kerumah sakit. Dia masa bodo meninggalkan masalah yang dia hadapi sekarang, demi satria. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sangat tinggi.


Tak lama kemudian, Abbas sampai di rumah sakit yang sudah di sharelok oleh Bi Inem.


"Bi, gimana dengan Satria?." Abbas menghampiri Bi Inem yang berdiri di depan ruang periksa Satria.


"Masih dalam pemeriksaan, tuan." Kata Bi Inem.


Abbas dan Bi Inem duduk di kursi, menunggu dokter yang memeriksa Satria keluar.


Beberapa menit kemudian, Dokter yang menangani Satria keluar. Abbas langsung menghampiri Dokter tersebut.

__ADS_1


"Dok, keadaan anak saya bagaimana?."


"Sebenarnya anak bapak ini ada masalah didalam ususnya dan harus segera di operasi. Tapi Dokter Chelsea tadi harus minta izin dulu sama orangtuanya."


Flash Back On


Pagi hari, tepat pukul 6 pagi. Dokter Chelsea datang mengunjungi Satria, tiba-tiba Bi Inem berlari menghampiri Dokter Chelsea.


"Non, dari semalam Den Satria nangis terus udah di kasih susu. Tapi Den Satria ngga mau."


"Si Eliana udah kasih Asi?Dan Abbas kemana bi?."


"Nyonya ngga mau memberi Den Satria Asi dan Tuan Abbas udah beberapa hari Tuan Abbas pulang malam terus."


"Ya Allah, tega sekali itu Eliana. Ya udah, coba aku periksa Satria. Antarkan aku kekamar Satria Bi."


"Iya, Non. Mari."


Dokter Chelsea dan Bi Inem berjalan menuju kamar Satria.


Ceklek


Bi Inem membuka pintu kamar Satria.


"Ya Allah, Satria." Dokter Chelsea kaget melihat Satria yang pucat.


"Ini gimana, Non. Kasihan Den Satria." Bi Inem Panik.


"Udah Bibi ngga usah Khawatir, kita bawa Satria ke rumah sakit sekarang. Bibi Siapkan kebutuhan Satria."


"Iya, Non."


"Saya tunggu di depan sambil jemur Satria."


"Iya, Non."


"Satria kamu tenang, ada tante."


Dokter Chelsea menjemur Satria di bawah sinar matahari pagi. Wajah Satria yang pucat membuat Dokter Chelsea sedih.


"Ya Allah, Nak. Mommy mu begitu jahat sama kamu, biarkan kamu sama tante dulu sampai kamu sembuh ya sayang." Dokter Chelsea mencium kening Satria.


Bi Inem datang dengan membawa tas.


"Bi tolong buka pintu mobil dan taruh tasnya dulu, biar bibi bisa gendong Satria aja."


"Baik, Non." Bi Inem memasukkan tas kedalam mobil, lalu mengambil ahli Satria.


"Ya udah kita langsung berangkat kerumah sakit."


Setelah memastikan Bi Inem dan Satria masuk mobil, Dokter Chelsea melajukan mobilnya. Selama perjalanan Satria tetap masih menangis.


"Ya Allah sayang, kamu jangan menangis terus. Tante akan selalu ada buat Satria." Dokter Chelsea mengelus kepala Satria.


Kemudian mereka tiba di rumah sakit. Dokter Chelsea langsung keruangan scan, karena ia merasa ada sesuatu di dalam diri Satria.


Dokter Irwan kaget melihat Dokter Chelsea bawa anak dan terlihat panik.


"Dokter Irwan tolong periksa keseluruhan keponakan saya." Dokter Chelsea meniduri Satria di tempat scan.

__ADS_1


"Iya, ini keponakan kamu yang mana Chelsea?." Dokter Irwan penasaran.


"Udah kamu jangan kepo, sekarang periksa keponakan saya."


"Iya-iya, bawel amat ini nyonya."


Dokter Irwan menyalakan mesin scan dan memeriksa keseluruh tubuh Satria.


"Wah! gawat, Chel."


"Gawat gimana?."


"Lihat nih, ada kebocoran ususnya dan harus segera di operasi."


"Ya Allah, kasihan sekali kamu nak." Dokter Chelsea menggendong kembali Satria.


"Aku telp Mommy dan Daddynya dulu."


Dokter Chelsea menghubungi Eliana, tapi tidak di angkat.


"Dokter Irwan saya mohon jaga Satria sebentar, saya harus menghubungi orangtuanya. Bi, tolong pegang Satria dulu. Saya mau mencari Eliana dulu."


"Oke... Baik Non..." Serentak.


Dokter Chelsea pergi.


"Bi lebih baik kita keruangan saya lebih baik."


"Baik, Dok. Tapi kenapa Aden Satria badannya panas?."


"Sini biar saya periksa, Bi usahakan bisa menghubungi orangtuanya." Dokter Irwan langsung membawa Satria ke dalam ruang periksa.


Bi Inem menghubungi Abbas.


Flash Back Off


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Saya tegaskan demi Allah ini novel bukan plagiat ya... ini murni kisah nyata seorang teman dan karangan Author sendiri... tolong novel mana yang sama biar saya bisa melihat dimana kesamaannya...


__ADS_2