
kisah ini merupakan curhatan Author sendiri, bukan lanjutan novel atau judul novel baru.
Saat ini aku sedang sedih, Aku menolong orang dengan ikhlas tanpa imbalan apapun. Tapi orang itu membalas dengan kebencian dan amarah. Aku sudah menanyakan dimana letak kesalahan dan apa kesalahan aku, tapi dia tidak membalas chat ku.
Kisah ini berawal, waktu itu aku sedang wfh dan aku sedang ke warung ku lihat ada 4 anak umur sih Kakak Sekitar 8 th, adik kedua umur 6 th, adik laki-lakinya umur 2 th dan si bungsu umur 6 bulan. Aku menghampiri mereka.
"Dik, nama kalian siapa?dimana rumah kalian?orangtua kalian kemana?." Tanya ku, karena aku melihat sih adik laki-laki menangis.
"Aku Ocha, tante. Ini adik-adik ku, Icha, Atha dan di dorongan Amey. Kami tinggal ngontrak di kontrakan Uwa Taslih, Bunda dan Ayah kerja." Jawab Ocha senyum. Aku mendengar iba, anak sekecil Ocha sudah bisa mengurus adik-adiknya. Padahal seusianya masih menikmati bermain bersama teman-temannya.
"Wah! Kamu hebat ya, masih kecil sudah bisa mengurus adik-adik kamu. Oia kalian sudah makan belum?." Puji ku, lalu Aku mengelus rambut Ocha.
"Terimakasih, Tante. Aku belum makan, soalnya duitnya hanya cukup buat jajan aja."
"Ya Allah, ya udah. Kalian makan di rumah, tante dulu aja. Yah, walau cuma ada telur dan nasi. Soalnya tante belum masak."
"Iya, Tante."
Aku mengajak mereka kerumah.
Ketika di dalam rumah, anak ku terkejut melihat kedatangan 4 bocah tersebut.
"Mama, Ocha dan Icha kan teman baru ku. Mereka anak yatim." Kata Reina anak ku, aku sempat bingung apa yang di bicarakan Reina. Karena Ocha cerita tadi "Bunda dan Ayah bekerja."
"Tante, pasti bingung. Ayah kami yang sekarang itu bukan ayah kandung ku, melainkan ayah sambung ku." Penjelasan Ocha.
"Oh! Gitu, ya udah kalian silakan duduk. Tante masakin telur dulu ya, jangan sungkan anggap aja rumah sendiri... Rei, ajak main teman-temannya, ya." Kata ku, lalu pergi di dapur.
Tak lama kemudian, masakan ku matang dan aku mengajak 3 bocah makan, sedangkan sih bungsu aku gendong. Aku kasih bubur instan yang ku beli di warung depan rumah.
Tak terasa hari sudah mulai sore, mereka izin pulang.
"Tante, terimakasih ya. Aku dan adik-adik pamit pulang." Sopan Ocha.
"Iya, Sayang. Jangan kapok ya, main kesini."
"Iya, tante."
Mereka pun pulang.
"Ma, kasihan dech mereka. Padahal ada neneknya, tapi neneknya cuek dan ngga peduli gitu." Kata Reina.
"Masa sih, kamu kata siapa?."
"Orang mereka sendiri yang cerita."
"Oh! Ya udah kamu mandi sana, udah bau asem."
__ADS_1
"Iya, ma."
Keesokan harinya, mereka main kerumah ku. Kali ini aku memasakkan lauk dan sayur mereka, saat ini tidak canggung lagi. Dan dirumah ada suami ku, suamiku menerima mereka dengan senang hati. Karena kami memang suka anak kecil.
"Oia, kalian panggil tante dan Om. Mama dan Papa ya, seperti Reina memanggil kami."
"Iya, Mama Yanti dan Papa koyum." Serentak Ocha dan Icha.
Skip
Seminggu kemudian, aku di pertemukan dengan bunda 4 bocah tersebut.
"Kak, terimakasih ya sudah mau merepotkan ke 4 anak ku." Kata Sih Bunda.
"Iya, Sama-sama. Malah aku senang di rumah rame anak-anak."
Kami pun ngobrol hingga hari sudah menjelang sore.
"Oia, Kak. Aku boleh minta tolong, teteh momong sih Amey ya, Kak. Nanti ada bayarannya." Kata Sih Bunda.
"Itu terserah tetehnya mau atau ngga." Kata Ku, Oia Teteh adalah kakak ipar ku, dia walaupun keterbelakangan tapi dia mengerti tentang kerjaan mau itu nyuci baju, nyuci piring atau pekerjaan lain. Cuma sifatnya aja seperti anak kecil.
"Teh, mau momong Amey?." Tanya ku.
"Mau." Jawabnya semangat.
"Mau dia, la." Kata ku.
Skip lagi 😁😁😁
Pertengahan bulan, Bunda dan Ayahnya Ocha bertengkar membuat Ocha dan Icha sangat ketakutan.
"La, loe mau kemana bawa tas?." Aku lihat Sih bunda bawa tas besar dan sambil menggendong Amey.
"Gue mau pulang ke rumah abah, gue udah ngga kuat hidup sama laki-laki kaya dia." Sih Bunda menangis.
"Loe mau naik apa?biar di anter sama laki gue." Kata Ku, aku sangat khawatir.
"Maaf ya, Kak. Ngerepotin."
"Ngga kok, gue kagak merasa ngerepotin."
"Oia, gue titip Ocha dan Icha ya."
"Iya, La. Loe tenang aja."
Sih Bunda di antar oleh suami ku dan kedua anak ku tinggal di rumah ku.
__ADS_1
"Ocha, sebenarnya ngga mau bunda nikah lagi. Ocha ngga mau bunda bersedih dan sengsara." Ocha menangis.
"Kak, kita ikut bunda aja." Sahut Icha menangis juga.
"Udah-udah kalian jangan menangis, lebih baik kalian tidur ini udah malam. Besok biar papa yang anter kalian kerumah Abah." Aku mengelus rambut Ocha dan Icha, aku sedih mendengar Ocha bercerita.
Tok
Tok
Tok
"Assalamualaikum, Ocha dan Ichanya ada?." Sih Ayah.
"Ada." Kata ku.
"Ocha, Icha. Pulang yuk, ayah bawa ayam goreng kesukaan kalian." Sih Ayah memelas.
"Ya udah, kita pulang." Kata Ocha sinis.
Ocha dan Icha pulang bersama Ayahnya.
Keesokan harinya, Sih Bunda dan Ayahnya Ocha sudah baikan. Sih Bunda dan Ayahnya kerja Amey di asuh oleh Teteh. Banyak orang menanyakan gajinya berapa ngasuh Sih Amey, aku jawab aja sehari 50 ribu. Padahal ngga segitu.
Aku pertemukan kembali Ocha dan Icha kepada Mbah Akung dari Abinya alias bapak kandungnya. Mbahnya menceritakan kejadian dari awal sih Bunda dan Abinya menikah sampai terjadi pertengkaran.
"Pak, Bu. Itu adalah masa lalu, yang penting sekarang Ocha dan Icha adalah cucu kalian. Ngga ada kan bekas cucu? Jika Ocha dan Icha menikah walinya Mbah Kung dan Omnya, jadi lupakan masa lalu. Kita sama-sama urus Ocha dan Icha untuk masa depannya, jangan lagi ada kebencian." Kata Ku.
"Iya, yan. Baik kita urus mereka sama-sama." Kata Mbah kung Ocha dan Icha.
Ocha dapat beasiswa pesantren dari majikan Sih Bunda. Sejujurnya Ocha ngga mau, Tapi sih Bunda memaksanya. Aku sebenarnya tidak tega, yah. Mau bagaimana lagi itu urusan mereka.
Ocha pun masuk pesantren, walau ia jalankan dengan terpaksa. Tapi sebelumnya aku memberikan dia semangat.
Singkat cerita, ini Amey sudah hampir umur 3 th.
Di saat pampers dan susu habis aku belikan dengan menggunakan uang sendiri. Kadang saudara ku memberi kan mereka uang atau baju. Di saat Amey sakit aku berobatkan dia ke klinik dan aku urut panggil tukang urut di dekat rumah, begitu juga dengan Icha bila sakit. Padahal aku dan suami kesulitan keuangan, tapi kami usahakan. Aku juga membelikan Ocha dan Icha sepatu.
Orang-orang membicarakan Sih Bunda dan Ayahnya tentang kejelekan, aku tidak peduli. Orang bilang aku bodoh mau aja bantuin dia ngga di kasih duit atau apa. Aku tetap ngga peduli. Saat Sih Bunda membohongi ku, aku diam dan tetap usaha ngga marah. Karena aku sudah terlanjur sayang dengan anak-anaknya.
Tapi Sih Bunda sekarang berubah, ia tiba-tiba marah ngga jelas pada ku karena apa. Atau termakan omongan orang atau juga karena sifat atau omongan ku yang membuatnya tersinggung.
Ku ajak ketemuan untuk mempertanyakan permasalahannya apa, Sih Bunda ngga balas Chat ku. Alasannya sedang ke pondok, ke pesantrennya Ocha. Eh! Sih Bunda sudah memblokir no. ku.
Dulu sehari sebelum no. ku di blokir aku melihat statusnya. "Pantesan ngga punya teman."
Aku baru ngeh, Yah. Jujur di sini aku tidak punya teman, itu karena mereka pada busuk aku tidak mau berteman dekat sama mereka. Depannya manis tapi belakangnya busuk.
__ADS_1
"Asal loe tau teman gue di luaran banyak, bahkan sampai di luar negeri. Ngapain punya teman di daerah sini, cukup suami dan anak. Juga teteh, menjadi teman sejati ku. Ngga mungkin mereka menyakiti ku. Dasar pengecut dan pecundang. beraninya hanya lewat Sosmed, di ajak ketemuan kagak mau. Padahal gue sampai minta maaf sama loe, gue ngga tau kesalahan gue apa, tapi loe tdk menggubris chat gue. Gue kecewa sama loe lebih percaya sama omongan orang, padahal gue udah sering bilang jangan percaya dengan satu orang. Kalau gue salah tegurlah gue langsung, bukannya nyari-nyari informasi yang salah. Gue ngga rugi kok, kehilangan teman seperti loe." Aku emosi
Bagaimana tanggapan kalian apa yang harus aku lakukan, aku sungguh sakit hati sama dia. Dia tidak melihat ketulusan ku dan pengorbanan ku. Dia sudah terpengaruh omongan orang, tidak krocek kebenaran.