
"Rasakan kamu ja**ng, lebih kamu mati... hahaha." Mami Siska senang.
"Ini hukuman mu sudah melawan mami, Ck. Aku ngga sudi dia memanggil ku Mami."
Mami Siska memeriksa Eliana, apa masih bernapas atau tidak.
"Ooo.. Masih bernapas, hey. Kalian pelayan jangan ada pernah menyentuhnya, biarkan dia seperti ini." Perintah Mami Siska.
P**rok... Prok... Prok...
Nufail bertepuk tangan.
"Bagus-Bagus... Loe sudah berani mencelakai orang." Nufail menatap Mami Siska dengan tajam.
"Siapa kamu?." Mami Siska berdiri.
"Loe ngga kenal gue, apa loe ngga punya Tv?apa loe miskin jadi ngga punya Tv?." Nufail tersenyum sinis.
"Sembarangan kalau ngomong, asal kalian tau aku ini Mami dari Abbas Ferdinand, pengusaha muda terkenal di kota ini." Ucap Mami Siska sombong.
"Hahaha... Pengusaha yang bodoh membuang berlian demi kerikil-kerikil ngga jelas seperti loe dan ja**ng itu." Nufail menunjuk ke arah Eliana.
"Kurang ajar..." Mami Siska ingin menampar Nufail, tapi dengan kilat Nufail memegang kuat tangan Mami Siska.
"Udah bosan hidup loe, Gue akan membuat hidup loe menderita." Mata Nufail memerah dan rahangnya mengeras.
"Lepaskan, kamu berani-beraninya melawan wanita yang sudah tua." Mami Siska berontak.
"Hahahaha... Wanita seperti loe tidak akan gue kasihan, karena loe udah banyak melukai orang."
"Apa yang kamu lakukan pada ku, hah!."
"Gue akan jelaskan jati diri gue, Loe pasti kenal dengan Adam dan Aisyah?"
"Kenapa emangnya? dan urusan kamu apa nanyain mereka sama aku?lepaskan tanganku."
"Ada lah, gue anak mereka Nufail Zhafran Al Ghazali. Pengusaha sukses yang terkenal seluruh negeri, bahkan perusahaan anak loe di bawah wewenang gue. Bisa aja hari ini gue menjatuhkan perusahaan anak loe."
"Apa!!! Kamu Nufail?Suami Alsava yang kaya itu?."
"Iya."
"Jangan... aku ngga mau miskin, aku udah susah payah mendapatkannya."
"Iya, mendapatkan dengan cara licik... Mmm... Bagaimana ya kalau Abbas tau kalau sebenarnya Mami yang dia bela dan banggakan tau adalah iblis berwajah manusia, dan juga kalau dia bukan anak kandung dari Papi Mario. Melainkan anak dari seorang gigolo." Bisik Nufail. Mami Siska terbelalak matanya.
__ADS_1
"Ba-bagaimana kamu tau itu?." Mami Siska sudah mulai ketakutan.
"Itu lah kekuasaan seorang Nufail, dengan sekejap informasi mudah didapatkan." Nufail mencengkeram kuat tangan Mami Siska.
"Dan satu lagi gue sangat setujuh Papi Mario dan Umi bersama lagi, gue akan mempercepat mengurus perceraian loe dengan Papi Mario."
"Jangan... Aku tidak bisa hidup dengan Mas Mario, aku sangat mencintainya."
"Loe ngga pantas bersanding dengan Papi... Joe, Loe ke perusahaan Abbas dan kasih tau bukti. Bahwa dia bukan anak Papi Mario dan juga urus juga perceraian Papi Mario secepatnya... Soni... Iwan... Kalian urus wanita gila ini dan ja**ng itu." Nufail mendorong Mami Siska dengan kasar.
"Baik, Bos." Serentak.
"Tidak-tidak... Jangan-jangan... Kamu lakukan..." Mami Siska memegangi kaki Nufail.
"Lepaskan..." Nufail menendang Mami Siska.
"Tidak-tidak... Aku tidak mau miskin, aku tidak mau kehilangan semuanya." Tangan Mami Siska gemetaran.
"Aarrgghhh... Aku takut menjadi gembel... ngga-ngga mau aku... Jangan-jangan lakukan itu." Mami Siska menarik rambutnya dan menggelengkan kepala.
"Bos, dia udah mulai gila." Bisik Joe.
"Biarkan aja, mana tisue basah dan sanitizer spray. Gue jijik memegang dia." Kata Nufail.
"Ini, Bos." Joe menyerahkan tisue basah dan sanitizer spray. Nufail segera membersihkan tangannya dan menyemprotkan seluruh badannya dengan sanitizer spray.
"Siap Bo." Joe segara ke mobil.
Kemudian, Joe membawa sekotak jengkol.
"Kamu kasih ke wanita gila, gue pengen lihat reaksi dia melihat ini." Nufail tersenyum devil.
"Hahaha... Dengan senang hati, Bos." Joe mendekati Mami Siska yang sudah diikat di kursi.
"Ayo, bukan mulutnya..." Kata Joe menyodorkan jengkol ke Mami Siska.
"Ngga-ngga...." Mami Siska merasa ketakutan, karena dia elergi dengan jengkol. Seluruh tubuhnya akan bentol-bentol.
"Enak, kok. Ini namanya daging spesial, di jamin ketagihan dech." Joe mendekati dan menjijilin Mami Siska dengan jengkol.
"Jangan... Aku takut." Mami Siska tubuhnya gemetar.
Joe meletakkan jengkol ke seluruh tubuh Mami Siska.
"Hoek.... Hoek..." Mami Siska muntah-muntah.
__ADS_1
"Hahaha... lebay, baru aja di taruh di badan. Apalagi ane kasih ke mulut mu." Kata Joe, dia merasa senang dapat mainan baru.
"Hoek... Hoek... Aku udah ngga kuat, baunya bikin mual." Mami Siska tak sadarkan diri.
"Game over, jengkol pemenangnya. Hahaha..." Joe tepuk tangan.
Eliana sudah di obati oleh Iwan.
"Ini dimana?kemana mak lampir?." Eliana celingak-celinguk.
"Baguslah loe udah sadar, cepat bangun dan lakukan hukuman loe." Iwan menendang Eliana.
"Tega banget loe sama gue, Loe lihat kan gue abis jatuh." Eliana memelas.
"Ck, gue ngga peduli. Semakin loe menunda semakin banyak hukuman loe dapat." Tegas Iwan.
"Dasar kalian ba**ngan, ngga puas apa kalian menghukum gue." Eliana melempar bantal ke arah Iwan.
"Itu belum seberapa, Loe udah melakukan kesalahan fatal. Apalagi loe menyakiti istri bos, Loe ngga akan bisa di maafkan. Cepat bangun kalau tidak gue akan berbuat kasar sama loe." Iwan menendang bantal.
"Lebih baik Gue bunuh aja, daripada kalian siksa gue kaya gini." Eliana bangun dan memukul dada Iwan.
"Bunuh loe?ngga akan karena permainan loe belum selesai dan nikmati hukuman loe." Iwan menarik kasar Eliana. Lalu melempar Eliana ke kamar pria yang mempunyai penyakit HIV.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf ya kalau temponya kurang nyambung atau tidak enak di baca, harap maklum aku lagi kurang fit. Tetapi tetap dukungannya ya...
__ADS_1
Like, vote dan komentarnya see you... 😘😘😘😘