Aku Bukan Siapa-siapa

Aku Bukan Siapa-siapa
Rencana


__ADS_3

Pekerjaan Nufail kian bertambah, karena ia juga menghendel perusahaan Abbas. Walau Nufail sibuk, ia masih menyempatkan waktu untuk istri dan anak-anaknya. Ia juga tidak mengenal lelah kalau sudah bersama istri dan anak-anakny, rasa lelah tiba-tiba hilang begitu saja. Melihat istri dan anak-anaknya.


Seperti hari ini Nufail pulang tepat pukul 10 malam.


"Babay, kamu sudah pulang." Kata Alsava yang baru saja keluar dari kamar anak-anaknya. Ia melihat Nufail mau masuk kedalam kamar.


"Loh, Sayang. Kamu belum tidur?." Nufail mendekati Alsava dan mengecup kening istrinya penuh cinta.


"Belum, aku baru saja mentidurkan My quadruplet. Kamu kelihatan lelah mau aku siapkan air hangat untuk mandi."


"Ngga apa saja, yang penting nanti kalau Abbas dan Khumaira sudah selesai bulan madu. Kita akan berlibur."


"Jangan dulu, My Quadruplet masih kecil. Aku takut nanti mereka terkena virus."


"Baiklah, kita liburan di rumah sajalah."


"Aki siapkan air hangatnya dulu, ya. Itu minuman dan beberapa cemilan sudah aku siapkan di atas meja."


"Terimakasih, sayang."


Alsava masuk kedalam kamar mandi, lalu nyiapkan air hangat dan menuangkan sabun beraroma terapi kedalam bathtub.


"Babay, air hangatnya sudah. Kamu mandi sana."


"Iya, sayang. Terimakasih."


Nufail mengecup kening Alsava dan tangannya memegang gunung kembar milik Alsava.


"Ish, ini tangan nakal." Alsava memukul pelan tangan Nufail.


"Udah lama aku ngga memegang dan merasakan lagi. Kapan kamu selesai nifasnya, Sayang. Masa sih otong main ngga lewat lobang, ngga asyik banget. Sayang." Nufail memanyunkan bibirnya.


"Sabar ya, Sayang. Tunggu dua atau tiga bulan lagi, aku takut jahitan di perut terbuka."


"Lama banget, sayang. Ya udah, tong. Kita main solo aja ya."


Alsava mendengar Nufail bicara sama adik kecilnya Nufail tertawa.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸🌸


Keesokan harinya,


Semua orang sudah berkumpul di ruang makan, termasuk Alsava dan Nufail.


"Begini, kan Abbas dan Khumaira sudah menikah bagaimana kalau kita yang menentukan hari buat Aisyah dan Mario." Kata Opa Smith.


"Benar itu, Dad. Kalau bukan kita yang tentukan, mereka ngga akan maju-maju." Kata Oma Anne.


"Lebih baik kita tanyakan dulu sama Nufail, Dad. Mom." Kata Papa Alvendra.


"Gimana menurut mu, Nak." Tanya Mama Savara.


"Menurut ku sih oke-oke aja, aku juga tidak sabaran mereka menikah. Kalau kelamaan nanti takut menimbulkan fitnah." Kata Nufail.


"Benar itu, Bay. Aku juga setujuh, kalau untuk menentukan tanggal pernikahan aku dan Mas Nufail serahkan kepada Opa dan Papa. Kalau untuk dekor dan semacamnya. Aku serahkan kepada Oma dan Mama." Kata Alsava.


"Oke, kita buat rencananya dulu. Kalau sudah siap semua kita langsung nikahkan mereka." Kata Opa.


"Selesai makan kita kumpul lagi di ruang keluarga." Perintah Oma Anne.


"Ish! kalian ini."


Di sisi lain,


Papi Mario mendatangi Mansion Umi Aisyah, kedua orangtua Khumaira masih berada di Indonesia. Mereka tinggal bersama Umi Aisyah untuk sementara, karena Mansion mereka sedang di renovasi.


"Assalamu'alaikum, Bidadari surgaku." Sapa Papi Mario.


"Wa'alaikumsalam. Ish, kamu." Umi Aisyah malu-malu.


"Ulu-Ulu, gemasnya calon ku ini. Sayangnya belum boleh dipegang."


"Makanya cepat-cepat tuh di ijab qobulnya." Sindir Abi Ibrahim.


"Kalian jangan kalah sama anak-anak mu yang sudah menikah." Tambah Umi Jamilah.

__ADS_1


"Ish, Mas dan Mba ini bikin aku malu aja." Umi Aisyah merona.


"Jadi kapan nih rencana kalian nikah?tidak enak kalau kelamaan, takut fitnah." Kata Abi Ibrahim.


"Coba abang tanyakan saja dengan adik mu itu, kalau aku ingin hari ini juga nikahnya."


"Tuh, Mario sudah siap. Mau mikir apa lagi." Umi Jamilah menyenggol bahu Umi Aisyah.


"Tunggu Abbas dan Khumaira pulang saja, nanti kita bicarakan lagi." Kata Umi Aisyah.


"Iya, Aku akan selalu menunggu mu. Kapan pun itu, yang terpenting kamu jangan pernah meninggalkan ku."


"Ck, alay. Ayo, Mi. Kita lebih baik pergi, dari pada melihat ke alayan Mario." Abi Ibrahim menarik tangan Umi, lalu pergi keluar Mansion.


"Hahaha... Sayang, Abang dan Mbak mu lucu."


"Gara-gara kamu tau, kita ini udah tua. Jangan kaya anak baru kemarin, aku malu tau." Umi Aisyah cemberut.


"Iya-iya, Aku minta maaf. Abis aku senang aja, akhirnya kita bisa bersatu kembali. Dari sekian tahun lamanya kita berpisah."


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan Lupa like, Vote dan Komentarnya ya....


See you..😘😘😘😘


__ADS_2