
Joe membawa Eliana dan kedua temannya kesebuah villa terpencil jauh dari mana-mana.
"El, Bi. Serem banget tempatnya. Gue takut banget nih." Cloe ketakutan, ia teman 1.
Eliana berjalan menghampiri Joe.
"Hai! Joe tampan..." Eliana bergaya seksi.
Joe menoleh kearah Eliana karena namanya disebut. Joe kaget melihat Eliana begitu dekat dan terlihat dua gu**ng kembar milik Eliana sangat menantang.
"Ya Allah, kalau bukan perintah Nufail. Amit-amit gue berurusan sama ulet keket yang ada gue nanti gatal-gatal." Batin Joe merasa ngeri.
"Kok diam aja, atau kamu..." Eliana bergelayutan dan memegang tangan Joe.
"Hufh! Jaga sikap anda Nona." Joe menepis tangan Eliana, lalu ia mengambil tisue basah di meja. Kemudian mengelap tangan yang dipegang Eliana.
"Sial, emang gue kuman. Sampai-sampai dia ngelap tangannya pake tisue basah." Batin Eliana marah, ia menghentakkan kakinya. Joe melihatnya tersenyum sinis.
"Dasar ja**ng tak diri, gue harus cepat-cepat beri dia hukuman." Kata Joe dalam hati. Lalu ia memanggil anak buahnya.
"Gimana udah beres semua?." Tanya Joe kepada anak buahnya.
"Sudah, boss. Tinggal dilakukan aja." Jawab Soni, anak buahnya Joe.
"Kalau gitu kalian lakukan sekarang." Perintah Joe.
"Baik, boss." Soni mengajak yang lain menghampiri Eliana dan kedua temannya.
"Hai Nona-nona manis." Goda Soni.
"Mau apa kalian?." Bianca bangun dari duduknya.
"Kita akan bersenang-senang, Nona." Iwan mencolek dagu Bianca.
"Jangan macam-macam." Bianca menepis tangan Iwan.
"Kami hanya punya satu macam aja kok, kalian pegang mereka semua." Kata Sonia, ia memerintahkan teman-temannya memegang Eliana dkk.
__ADS_1
Eliana dkk memberontak.
"Lepaskan... Lepaskan..." Serentak.
"Kalian ngga tau siapa saya?Hah!. Suami gue itu Abbas Ferdinand orang terkaya di negeri ini, kalau suami gue tau, gue seperti ini. Dia akan menuntut kalian semua." Eliana memberontak.
"Hahahaha... kekuasaan laki loe itu ngga ada apa-apanya dengan boss besar kita. Nufail Zhafran Al Ghazali sang penguasa kerajaan bisnis seluruh negara, udah loe nikmati aja permainan kita." Kata Soni, lalu ia menyuntikkan Eliana dkk.
"Aarrgghhh... " Teriakkan mereka kesakitan.
"Kalian kasih suntikan apa ini." Cloe merasa aneh di tubuhnya.
"Ini obat perangsang sangat kuat." Iwan menjelaskan.
"Cepat kalian ikat mereka, kita lihat mereka seperti apa nanti. Hahahaha..." Soni merasa senang.
Eliana dkk diikat kedua tangannya, obatnya sudah mulai bekerja.
Soni dkk duduk di kursi begitu juga Joe, mereka menonton tingkah Eliana dkk.
Eliana dkk sudah seperti cacing kepanasan.
"Panas, aahh..."
"Ini tersiksa banget, tolong gue." Bianca duduk di pangkuan Soni.
Joe melihat gelagat Eliana, lalu ia langsung pergi keruangan.
"Semuanya saya serahkan kepada kalian." Katanya dan masuk keruangan.
"Joe, mau kemana. Gue tau loe pengen nikmati tubuh gue yang seksi inikan, ayolah lakukan. Gue terima loe lapang dada." Eliana berjalan menghampiri Joe, tapi Joe sudah keburu masuk ruangan.
"Aahh... Siapa aja tolong bantu gue, ini tersiksa banget." Kata Eliana lagi.
Laki-laki yang berada disana menghindari Eliana dkk. Mereka tau kalau Eliana dkk adalah orang yang mencelakai Alsava.
Eliana dkk tidak menyerah mereka mengejar Soni dkk.
"Ayolah, sayang. Kalau kamu bisa menangkap ku. Aku akan kasih servis yang sangat memuaskan." Soni mengkedipkan matanya.
__ADS_1
"Please kalian jangan terus menghindar terus, gue udah ngga tahan." Cloe seperti orang gila, ia mencopot pakaiannya.
"Iya, kalian jangan menghindar tolong. Puaskan aku." Eliana yang tak tau malu, ia juga melepas pakaian.
"Ini tersiksa banget." Bianca ikut melepas pakaian.
Mereka walau tangan diikat tapi masih bisa membuka pakaiannya.
"Maaf kami ngga mau ja**ng seperti kalian." Kata Iwan.
"Apa maksud loe itu apa?. Sshh..." Bianca menggigit bibirnya.
"Ssshhhh..." Eliana udah merasa lemas dan jatuh kelantai.
"Hahahaha... Sangat mengasyikkan, melihat mereka seperti orang gila." Sahut Soni.
"Iya, benar. Tapi kasihan juga mereka, padahal body mereka bagus loh." Ucapan Iwan mendapatkan pukulan dari soni.
"Ck, itu hukuman pantas buat mereka. Asal loe tau mereka itu udah kendor lobangnya, sering dipake sama pria hidung belang. Gue mah ogah takut penyakit." Soni berdidik ngeri.
"Ini hukuman tersadis buat perempuan." Iwan terus menatap Eliana dkk yang bergulingan di lantai.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Apa Eliana dkk akan bertahan atau malah ambruk tak sadarkan diri?
Tetap selalu dukung novel ini...