Aku Bukan Siapa-siapa

Aku Bukan Siapa-siapa
Terpuruk


__ADS_3

"Hiks... Hiks... Hiks... Kenapa papi seperti itu, dulu papi tidak pernah kasar dengan Mami, kenapa bisa setega itu sama Mami."


"Abbas juga ngga nyangka sifat Papi seperti itu sama Mami, padahal papi itu orangnya selalu lembut dan sayang sama keluarga."


"Itu pasti karena si ja***, si wanita ular itu. Kamu harus beri dia pelajaran, bass. Kamu harus balaskan rasa sakit mami sama dia. Hiks... Hiks... Hiks..."


Mami turun dari mobil dan langsung menuju kamar.


Bbrraakkk


Mami Siska menutup pintu kamar dengan kasar, hingga mengkagetkan semua penghuni rumah.


"Ya Allah, Mami. Abbas bingung harus apa dan memilih siapa." Abbas menghela napas. Lalu ia masuk ke kamarnya.


Abbas membuka pintu kamar, ia tidak melihat sang istri.


"Kemana Eliana, apa di kamar mandi?." Kata Abbas dan berjalan menuju kamar mandi. Kemudian pintu kamar mandi ia buka, tapi tidak ada Eliana.


"Kemana dia?." Abbas mengambil ponsel di sakunya untuk menghubungi istrinya.


Abbas kaget melihat pesan atau notifikasi dari bank.


"Astaghfirullah, Eliana belanja habis 1 Miliyar. Buat apa dia belanja barang semahal itu dan apa yang dia beli, ah! Nanti gue tanyakan." Abbas menghubungi Eliana, tapi tidak di angkat.


Tut... Tut... Tut...


Sudah beberapa kali di hubungi Eliana tak kunjung angkat telpon dari Abbas.

__ADS_1


"Kenapa ngga di angkat-angkat sih." Abbas sudah mulai emosi.


"Lebih baik Gue cari dia." Ketika Abbas ingin membuka pintu, Eliana sudah di depan pintu kamar dan membawa beberapa barang belanjaannya.


"Sue, pria mandul udah pulang. Gue harus cari alibi yang tepat, agar Abbas tidak mencurigai." Batin Eliana.


"Eh! Mas Abbas udah pulang." Eliana tersenyum tanpa berdosa.


"Kamu dari mana?." Tanya Abbas ketus.


"Kamu tidak melihat aku bawa barang belanjaan." Eliana ketus juga. Abbas mengambil paksa beberapa paper bag yang di pegang Eliana.


"Ya Allah, Eliana. Kenapa kamu belanja baju, tas, perhiasan, sepatu, gaun, dress dan dalaman. Padahal aku sudah membelikan kamu beberapa hari yang lalu." Abbas marah.


"Kalau itu udah lama, kalau ini model terbaru dan baru keluar. Limited edition lagi, aku ngga mau ketinggalan." Eliana mengambil lagi barang-barangnya yang di pegang Abbas.


"Dulu Alsava tidak pernah belanja semahal ini, malah dia memberikan kepada orang yang lebih membutuhkan. Dia tidak pernah menghamburkan uang."


Eliana sakit mendengar Abbas masih mengingat Alsava, ia pun meneteskan airmata. Abbas menyadari sifat yang begitu keras terhadap Eliana. Lalu ia menghampiri Eliana yang berbaring di ranjang.


"Sayang, maafin aku ya." Abbas mengelus rambut Eliana.


"Ngga, aku ngga mau memaafkan kamu. Yah, aku tau ada sisi sifat Alsava yang tidak bisa aku lakukan. Tapi aku ini istrimu dan sedang mengandung anak mu, kenapa kamu tega marah sama aku. Emang Alsava bisa mengandung anak kamu, mmhh. Jawab." Eliana meluapkan emosinya.


"Maaf, Yank. Saat ini aku sedang masalah, Papi mau menceraikan Mami." Abbas sedih.


"Apa!!! Kenapa kok bisa?." Eliana kaget.

__ADS_1


"Iya, Yank. Aku ngga mau Mami dan Papi berpisah, apa yang aku lakukan?." Abbas memeluk Eliana.


"Sabar, ya. Maaf juga tadi aku belanja ngga ngabari kamu dan aku juga khilaf belanja begitu banyak."


"Ngga apa-apa kok, Yank. Lain kali kalau belanja itu jangan berlebihan."


"Gila, dia melarang gue belanja berlebihan. Gue iyain aja dulu." Batin Eliana


"Iya, Yank."


Bbrruukk


Terdengar suara benda jatuh.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jgn lupa Vote, like, komentar dan hadiahnya... kutunggu...


__ADS_2