
"Aisyah, jujur dari dulu sampai sekarang aku tidak pernah melupakan mu di hatiku. Malah rasa itu semakin bertambah, aku membohongi Siska kalau aku Benar-benar sudah melupakan mu dan mulai mencintainya. Kamu jangan perdulikan kata orang, yang jalani kita dan lagi pula aku bersama mu itu setelah aku bercerai dengan Siska. Aku juga akan menghukum orang-orang yang menghujat mu, kamu tenang aja." Papi Mario meyakinkan Umi Aisyah.
"Ya Allah, apa yang harus kulakukan. Apa aku harus menerimanya?." Batin Umi Aisyah.
"Aisyah, aku tidak memaksa mu untuk menjawab sekarang. Intinya aku ingin kamu tau bahwa aku selalu mencintai mu dan nama kamu di hatiku tidak bisa tergantikan." Papi Mario memegang tangan Umi Aisyah.
"Ish, sih Aisyah bukan terima aja. Ini malah pakai mau nunda-nunda." Geram Oma Anne di balik tembok.
"Iya, Mom. Gimana kita kesana bantu Mario untuk meyakinkan Aisyah?." Usul Mama Savara.
"Benar kata mu, yuk. Kita kesana." Oma Anne menarik tangan Mama Savara.
"Aisyah, tadi Mommy tak sengaja mendengar. Kalau Mario melamar mu." Kata Oma Anne yang baru datang bersama Mama Savara. Umi Aisyah buru-buru melepas tangan Papi Mario.
Umi Aisyah bersemu merah, ia malu Oma Anne dan Mama Savara mendengarnya.
"Iya, Mom. Aku melamar Aisyah menjadi istriku, tapi aku ngga memaksa Aisyah menjawab sekarang. Aku tidak mau Aisyah menerima ku dengan terpaksa, Mom." Kata Papi Mario.
"Benar kata mu, Mario. Sifat seperti ini menandakan kamu menghargai perempuan, Mommy bangga memiliki anak seperti mu. Kamu harus berjuang meyakinkan Aisyah, kalau kamu pantas menjadi suami dan Papi yang baik buat Aisyah dan Nufail." Oma Anne duduk di sebelah Papi Mario dan menepuk pundak Papi Mario.
__ADS_1
"Iya, Mom. Aku harus ekstra berjuang, apalagi dulu aku yang meninggalkan dia. Aku akan membuktikan rasa cinta ku ini tulus, walau aku sudah tua. Tapi aku kuat untuk berjuang meraih cintamu kembali." Papi Mario menatap Umi Aisyah.
"Syah, aku saranin. Lebih baik kamu terima aja Mario, kamu tidak usah memikirkan omongan orang. Kamu tenang aja ada keluarga yang akan menolong mu, bila mereka berbuat jahat sama kamu, kamu ngga usah takut. Lagi pula selama ini kamu juga masih ada perasaan dengan Mario, jangan banyak berpikir terima aja Mario." Mama Savara terus mendesak Umi Aisyah.
"Ya Allah, aku harus bagaimana. Di satu sisi aku masih ada perasaan sama Mario, tapi di sisi lain aku takut orang-orang mengguncingkan aku." Batin Umi Aisyah, ia merasa dilema.
"Jujur aku masih bingung, ini terlalu mendadak buat ku. Aku harus memikirkan ini semua, demi untuk kepentingan bersama dan aku tidak mau bila aku menerimanya ada yang tersakiti." Umi Aisyah sedu.
"Aisyah, kamu tenang aja. Ngga ada yang tersakiti, Abbas pasti mengerti lagian dia bukan anak kandung Mario, ngga ada hubungannya dengan Mario dan Siska udah di Rsj. Udah kamu jangan banyak mikir, terima aja Mario. Keluarga semua mendukung kok." Mama Savara terus mendesak Umi Aisyah.
"Sudah Savara, jangan terus memaksa untuk menerima ku. Aku akan menunggu kapan pun itu." Papi Mario menghentikan Mama Savara yang terus mendesak Umi Aisyah.
"Ish, emang kamu. Udah jangan maksa Aisyah lagi." Oma Anne memukul tangan Mama Savara.
"Ouh... Sakit Mom." Mama Savara kesakitan.
"Hahahaha... Kalian berdua ini seperti anak kecil, selalu aja bertengkar." Papi Mario tertawa.
"Kami bukan bertengkar, Mommy hanya memberikan pelajaran buat Savara. Jadi orang jangan memaksakan kehendaknya." Oma Anne tidak terima.
__ADS_1
"Oke-oke... Oia aku pergi dulu, ada meeting." Papi Mario melihat jam di tangannya, lalu ia berdiri dan berjalan ke arah Umi Aisyah.
"Aku akan menunggu mu, I Love you forever." Bisik Papi Mario, membuat Umi Aisyah membelalakkan matanya dan hatinya berbunga-bunga.
"Ya Allah, dengan perkataan Mario membuat ku senang. Aku harus sholat Istikharah, minta petunjuk Nya." Batin Umi Aisyah.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like, Vote dan Komentarnya ya...
__ADS_1
See you... 😘😘😘😘