
Mami Siska sudah berganti pakaian, lalu ia menuruni tangga sambil berteriak nama supirnya.
"UUDDIINN... SSIIAAPPKKAAN MMOOBBIILL..." Teriak Mami Siska beberapa kali.
Udin mendengar teriakan Mami Siska buru-buru menghabiskan kopinya.
"Sue banget itu nenek-nenek, ganggu ketenangan gue yang sedang menikmati kopi buatan bidadari gue." Udin kesel, Udin yang usianya masih 35 tahun dan sudah menikah dengan Ria pembantu baru di Mansion Utama.
"Iya, Nya. Tinggal Nyonya naik saja." Udin tak kalah berteriak.
Mami Siska sudah tepat di depan Udin, lalu menjewer kuping Udin.
"Kamu ini malah balas meneriakkan ku, hm." Mami Siska terlihat marah.
"A-ampun Nya, saya lagi tanggung menikmati kopi Nya." Udin meringis kesakitan.
"Udah jangan banyak alasan, cepat antarkan aku." Perintah Mami Siska.
"Baik, Nya." Udin mengambil jaket dan topi, sedangkan kunci mobil sudah di mobil.
Mami Siska masuk kedalam mobil, di susul Udin.
"Dasar supir kurang ajar, tadi seharusnya kamu itu membuka pintu mobil." Mami Siska kesel.
"Maaf, Nya. Lagian tadi Nya jalan duluan." Bela Udin.
"Ngga usah ngeles kaya bajai kamu, udah jalan. Jangan banyak omong, saya lagi pusing ditambah lagi sikap kamu kaya gini bikin saya tambah pusing." Mami Siska memijat keningnya.
"Maafkan sikap saya, Nya. Kalau gitu kita mau kemana?apa Nyonya mau ke rumah sakit atau kemana?." Udin menoleh kebelakang.
"Kamu ikuti arahan dari saya, sekarang jalan aja. Kamu jangan banyak omong lagi."
"Baik, Nya." Udin melajukan mobilnya.
Tibalah mereka di tempat tujuan,
"Nya, ini rumah siapa?." Tanya Udin bingung.
"Udah kamu jangan bawel, diam aja." Kata Mami Siska sewot.
__ADS_1
Sebuah mobil sport keluar dari rumah itu.
"Din, cepat ikuti mobil itu." Kata Mami Siska memukul pundak Udin.
"Iya-iya, Nya." Udin dengan buru-buru menyalakan mesin dan melajukan mobil.
"Pokoknya kita harus ikuti itu mobil, jangan sampai kehilangan." Kata Mami Siska.
"Baik, Nya." Ucap Udin tanpa menoleh ke Mami Siska.
"Aku yakin pasti mereka akan mengadakan pertemuan, aku harus bisa menggagalkan rencana mereka." Kata Mami Siska dalam hati.
Mobil sport putih itu memasuki komplek perumahan mewah, lalu berhenti di depan rumah bercat krem. Mami Siska langsung buru-buru turun dan mendekati orang yang berada di mobil sport putih itu.
"Hmm... Bagus ya kamu... Pasti kamu sangat senang ya, melihat ku menderita." Kata Mami Siska emosi.
"Maksud kamu apa?." Umi Aisyah bingung. Ya orang yang dari tadi Mami Siska ikuti itu adalah Umi Aisyah.
"Jangan berlaga bodoh kamu, aku tau kamu merencanakan ini semuakan?Aku ngga nyangka wanita berhijab dan taat beragama, tapi licik." Mami Siska sinis.
"Eh! ada Ibu Siska, apa kabar?gimana udah ketemu keluarganya?." Ibu Salamah yang baru datang.
"Eh! I-iya, kabar saya baik bu. saya sudah ketemu keluarga, terimakasih ya bu. Kalau ngga ada ibu entah gimana nasib saya saat itu." Mami Siska pura-pura senyum.
"Alhamdulillah kalau begitu, sesama manusia itu harus tolong menolong. Oia, kami sedang mengadakan pengajian rutin. Ibu Siska harus ikut dengan kami." Ibu Salamah menuntun Mami Siska masuk kerumah.
"Tapi saya..." Mami Siska ingin menolak, tapi Ibu Salamah sudah menuntunnya masuk ke dalam rumah.
"Sue, apes banget aku. Ingin buat perhitungan sama Umi Aisyah, malah ketemu ini ibu ubur-ubur. Bikin kesel aja, Aisyah kamu saat ini bebas dan bersenang dulu, aku nanti akan buat perhitungan sama kamu." Ucap Mami Siska dalam hati, ia melihat Umi Aisyah dengan kebencian.
"Maksud dari ucapan Siska itu apa dan kenapa dia bisa kenal dengan Ibu Salamah?." Batin Umi Aisyah, ia masih bingung ucapan Mami Siska, di tambah lagi Ibu Salamah mengenal Mami Siska.
Mami Siska duduk di samping kiri Ibu Salamah dan Umi Aisyah duduk di samping kanan Ibu Salamah.
"Assalamualaikum ibu semua, perkenalkan di samping kiri saya ini ibu Siska. Maaf ya dia tidak berhijab, kalian pasti bingung siapa dia. Saya akan menjelaskan, dia ini adalah kawan saya dan dia kesini akan mengikuti kita pengajian. Karena dia kesini buru-buru tidak menggunakan Hijab, jadi siapa diantara kalian yang membawa Hijab lebih?." Ibu Salamah memperkenalkan Mami Siska ke ibu-ibu pengajian.
"Ini Ibu Salamah, kebetulan saya membawa Hijab lebih." Umi Aisyah menyondorkan Hijab warna putih ke Ibu Salamah.
"Maksudnya apa lagi Aisyah ngasih aku Hijab, sumpah suasana disini bikin aku gerah. Pokoknya aku harus bisa keluar dari rumah ini." Batin Mami Siska, ia melototi Umi Aisyah.
__ADS_1
"Ini Ibu Siska pakailah, acara akan segera di mulai." Ibu Salamah memberikan Hijab ke Mami Siska.
"Maaf Bu, tiba-tiba saya ada urusan. Saya pamit ya." Mami Siska hendak berdiri langsung di cegah oleh Ibu Salamah.
"Urusan dunia nanti aja." Ibu Salamah memegang tangan Umi Salamah.
"Baiklah." Dengan terpaksa Mami Siska mengikuti pengajian dan ia menggunakan Hijab.
"Aisyah pasti di dalam hati mu pasti senang melihat ku menderita seperti ini." Batin Mami Siska, ia melihat Umi Aisyah sambil merapihkan hijabnya.
Pengajian di mulai, Mami Siska mulai gelisah dan kupingnya terasa panas.
"Kenapa aku merasa gelisah dan kuping ku terasa panas mendengar ayat-ayat Al Qur'an?." Ucap Mami Siska dalam hati.
.
.
.
.
.
.
🤣🤣🤣🤣... Mungkin hati mu sudah di penuhi jin Mami, makanya kamu harus di ruqiah.
Aku tak masalah kalian bilang ini novel sangat berantakan, membuat kalian bingung dengan alur cerita dan ngga nyambung. Karena aku menulis novel ini sambil bekerja dan waktu itu sedang mengurus mama ku yang sedang sakit, sekarang mama udah ngga ada, jadi aku tidak fokus saat menulis novel, aku hanya bisa minta maaf sama kalian kalau novel ini tidak sesuai harapan kalian. Insya Allah bila ada waktu aku akan memperbaiki, tapi tidak waktu dekat ini.
Jangan lupa like, Vote dan komentarnya ya...
.
.
.
.
__ADS_1
.