
Hari ini sidang terakhir perceraian Antara Mami Siska dan Papi Mario. Nufail dan Alsava mendampingi Papi Mario dan Abbas mendampingi Mami Siska. Abbas merasa sedih kedua orangtuanya bercerai di saat dia sedang terpuruk.
Abbas juga menatap Alsava terlihat tambah cantik menggunakan dress warna putih.
"Betapa bodohnya gue melepas berlian hanya sebuah kerikil dan berlian itu tambah bersinar, membuat ku ingin memiliki lagi. Tapi itu tidak mungkin, hufh... Udah jadi nasib gue pisah dari berlian dan sekarang kehidupan gue ngga jelas." Batin Abbas, ia menatap seduh Alsava. Nufail merasa tidak terima Alsava di tatap Abbas, lalu Nufail meminta Alsava pindah tempat duduk.
"Yank, pindah tempat duduk. Aku ngga suka dari tadi si Ba**ng** selalu menatap mu." Bisik Nufail tak terima.
"Hahaha... Kamu cemburu, baiklah." Alsava tersenyum, lalu bergeser duduknya.
Nufail terus mencium tangan Alsava, membuat Abbas kesal.
"Sial, Nufail malah sengaja manas-manasin gue." Abbas mengepal tangannya.
Tak lama kemudian, Hakim menyatakan Papi Mario dan Mami Siska resmi bercerai.
"Alhamdulillah, akhirnya Papi terbebas juga dari mak lampir." Nufail merasa senang.
"Iya, Bay. Tapi aku juga kasihan sama Mami Siska, pasti sangat menyakitkan. Aku pernah rasakan itu, Bay." Alsava menyadarkan kepalanya di pundak Nufail, ia merasa sedih dan mengingat betapa hancurnya kehidupan yang Alsava alami.
"Udah kamu jangan sedih, inilah sudah merupakan takdir yang di berikan oleh Allah dan juga perceraian ini juga akibat dari ulahnya. Lagian wanita gila sama kamu itu beda jauh, sayang. Setelah kamu bercerai dengan ba**ng**, kamu itu ibarat berlian yang menjadi perebutan maka dari itu aku harus cepat menikahimu agar tidak ada lagi yang bisa melirik kamu lagi, sayang." Nufail mengelus rambut Alsava.
"Ya Allah, kenapa ini sakit banget melihat Alsava dan Nufail bermesraan?Alsava, aku masih mencintai mu. Aku memang pria bodoh melepas mu, semoga aku bisa cepat melupakan mu." Batin Abbas, ia terus menatap Alsava dan Nufail.
"Tidak, pak hakim. Saya tidak mau bercerai dengan Mas Mario, saya sangat mencintainya. Tolong saya batalkan keputusannya." Mami Siska memohon kepada pak Hakim.
"Maaf Bu, ini sudah menjadi keputusan dan ada bukti kuat dalam kasus perceraian ini. Maaf saya permisi dulu." Kata Pak Hakim, lalu pergi meninggalkan Mami Siska yang terus memohon.
"Mam, sudah. Jangan bikin malu." Abbas menarik Maminya.
"Papi selamat ya jadi duren." Alsava memeluk Papi Mario.
__ADS_1
"Ck, duren. Duren yang udah tua kali." Kata Papi Mario.
"Hahaha... Papi mengaku tua, tapi senangkan. Udah bebas dari mak lampir dan sekarang dengan bebas mengejar Umi." Goda Nufail.
"Hahaha... Emang kamu mau Papi menggantikan Abi mu?." Papi Mario memepetkan tubuhnya ke tubuh Nufail.
"Dengan senang hati aku menerimanya, tapi tergantung Umi juga ih Pi." Kata Nufail.
"Bagus, kalian senang melihat aku menderita. Mas kamu kenapa bisa setega ini sama aku, salah aku apa mas?." Mami Siska memegang tangan Papi Mario.
"Aku tega, bukannya kamu itu lebih tega membohongi ku selama ini." Papi Mario melepas tangan Mami Siska.
"Aku berbuat begitu karena aku sangat mencintai mu Mas." Mami Siska menatap Papi Mario dan meneteskan air mata.
"Kamu bukan mencintaiku, tapi kamu hanya terobsesi sama aku."
"Pasti gara-gara wanita ini, kamu bisa sejahat ini sama aku." Mami Siska mendorong Alsava tapi dengan sigap Nufail menarik Alsava dan jatuh di pelukannya.
"Siska cukup, kamu bukan sadar atas kesalahan mu. Malah menyalahkan orang lain, aku sungguh muak. Kamu bohongi aku bertahun-tahun kalau Abbas bukan putra kandung ku, aku sungguh menyesal memilih mu. Aku kira tadinya kamu bisa berubah, tapi ternyata kamu makin menggila." Papi Mario Marah.
"APA!!! Jadi Abbas bukan anak kandung Papi?" Abbas terkejut.
"Kamu anak Mas Mario, sayang. Kamu jangan dengarkan omong kosong dari Papi." Mami Siska memegang tangan Abbas.
"Maafkan Papi, Abbas. Papi bukan anak kandung Papi..." Papi Mario menatap sedih Abbas. Ia tidak menyangka putra yang ia sayangi dan kebanggaannya, ternyata bukan putra kandungannya.
"Ya Allah, kenapa ini terjadi pada keluarga ku. Mami kenapa jahat sama aku dan Papi." Abbas menepis kasar Mami Siska.
"Abbas, dengar penjelasan Mami dulu Nak." Mami Siska berusaha memegang tangan Abbas.
"Aku tidak mau mendengarkan penjelasan Mami, lebih baik kita jangan pernah lagi ketemu." Abbas menepis kasar tangan Mami Siska dan pergi.
__ADS_1
"Abbas, tunggu nak. Dengar penjelasan Mami dulu." Kata Mami Siska, lalu Mami Siska mengejar Abbas.
"Hadeh!!! Penuh drama sekali itu Mak lampir." Nufail mengeleng-geleng melihat tingkah Mami Siska.
"Kamu tidak apa-apa, al?." Kata Papi Mario khawatir.
"Aku tidak apa-apa, ya udah yuk. Pi, kita pergi dari sini." Alsava tersenyum.
"Kasihan sekali kamu, Bass. Semoga kamu kuat menghadapi cobaan ini." Batin Alsava, ya. Walau Alsava masih benci dengan Abbas, tapi ia juga merasa kasihan melihat Abbas sengsara. Bukan Alsava masih mencintai, tapi Alsava memang orangnya tidak tegaan melihat orang kesusahan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, Vote dan komentarnya see you... 😘😘😘😘
__ADS_1