
Tiba-tiba datang seorang pria muda, gagah, berwajah arab, tampan dan tinggi menghampiri mereka bertiga.
"Selamat malam semuanya, maaf nih kalau sambutannya ada yang kurang." Ucap pria itu ramah dan mencium satu persatu tangan 3 wanita cantik.
"Deg, kenapa jantung gue berdetak kencang dan gue merasa ngga asing dengan wajahnya." Kata Alsava dalam hati.
"Mi, Oma. Siapa Dia?." Bisik Alsava.
Pria itu tersenyum manis melihat Alsava, hingga membuat Alsava salah tingkah.
"Gimana gantengkan, keturunan arab loh." Bisik Oma.
"Iya, Mi. Ganteng banget, coba aja kalau Mami masih muda. Udah Mami sikat itu si Arab, sikat sana dan jangan kasih kendor." Kata Mama Savara terpesona melihat Nufail.
"Mmm... Maaf, bisakah kita duduk. Dari tadi kalian saling berbisik, membuatku pegal." Walau perkataan Nufail dingin, tapi masih sopan.
"Ah! iya, Maaf ya. Nak ganteng, kami bikin kamu pegal. Tenang kalau kamu dan Alsava menikah, nanti di pijat sama Alsava. Dia jago loh untuk memijat kamu." Kata Oma, membuat Alsava malu.
"Bisa aja, Oma. Oia, ini Mama Savara dan Alsava kan?." Nufail menebak.
"Kamu benar, tapi kamu kok tau kami." Mama Savara bingung. Alsava diam, ia sedang mengatur jantungnya berdebar-debar.
"Mama Savara lupa, saya Nufail Zhafran Al Ghazali. Anaknya Aisyah Khumaira dan Adam Al Ghazali." Ucap Nufail.
"Ya,Ya" Mama Savara berusaha mengingat.
"APA!! Aisyah Khumaira Adam Al Ghazali." Teriak kaget Mama Savara tepat di kuping Alsava
"Ish! Mama, kuping Alsava sakit nih." Alsava memegang telinganya dan cemberut.
"Hehehe... Maaf, sayang." Mama Savara mengelus telinga Alsava.
__ADS_1
"Kamu emang tidak berubah, selalu lucu dan imut." Kata Nufail membuat pipi Alsava memerah.
"Ish! Apaan sih, sok kenal aja." Alsava ketus, ia menutupi kalau sebenarnya senang.
"Hahahaha... Tingkah kamu itu dari dulu selalu membuat ku senang sampai-sampai aku ngga bisa melupakan kamu." Tanpa sadar Nufail memegang tangan Alsava.
Tok
"Belum muhrim, jangan pegang-pegang." Kata wanita paruh baya, tapi masih kelihatan muda.
"Aduh! Umi, Sakit." Nufail memegang kepalanya.
"Aisyah!!." Mama Savara langsung memeluk wanita paruh baya.
"Berisik sekali kamu, Ara. Telinga ku sampai sakit, itulah kebiasaan kamu selalu teriak." Ucap Umi Aisyah.
"Bodo amat, yang penting aku sangat merindukan kamu." Mama Savara masih memeluk Umi Aisyah.
"Dasar." Umi Aisyah tersenyum dan membalas pelukan Mama Savara.
"Ngga kok, kita tetap sayang." Umi Aisyah memeluk Oma Anne juga.
"Put, kita pergi aja yuk. Mereka kalau udah ngobrol kita pasti di lupakan." Nufail mengulurkan tangannya. Alsava bingung.
"Udah, jangan ragu. Aku ngga akan macem-macem sama kamu." Katanya Lagi.
"Oke, Emang kita mau kemana?." Alsava menerima uluran tangan Nufail.
"Ke atas, pasti nanti kamu suka." Nufail menggandeng tangan Alsava dengan erat.
Mereka berjalan ke atas, sedang para tetua asyik mengobrol mengenang masa lalu yang lucu.
Tiba di atas.
__ADS_1
"Subhanallah, indah banget tempat ini. Benar kata kamu, aku suka sama tempat ini." Alsava takjub melihat pemandangan yang sangat indah.
"Aku ngga akan pernah salah, sama seperti aku tak pernah salah menilai mu untuk menjadi istriku." Ucapan Nufail membuat jiwa Alsava meronta.
"Kamu belum tau aku sebenarnya, kalau kamu tau akan menyesal menjadikan aku istri mu." Alsava sedih.
"Hei, jangan sedih. Aku sudah tau masalah yang kamu hadapi, bagi aku kamu itu wanita hebat dan sempurna. Dia aja yang begitu bodoh melepas kamu." Nufail memegang tangan Alsava.
"Kenapa kamu bersikap begini?, padahal kita baru mengenal tadi." Alsava melepas tangan Nufail.
"Kita udah kenal lama kok." Nufail mengajak Alsava duduk di sofa.
"Masa, aku kok ngga ingat ya." Alsava berusaha mengingat.
"Aku akan cerita, lebih baik kamu coba makanan ini semoga kamu mengingatnya." Nufail menyodorkan sepiring cream sup.
"Wah! cream sup." Alsava senang.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, komentar, vote dan beri aku bintang ya.... see you...😘😘😘😘