
Ketika Mami Siska ingin menghampiri Umi Aisyah. Mama Savara dan Oma sudah ada di samping Umi Aisyah.
"Itu Savara, penampilannya sangat berbeda dan lebih elegan. Dan di sampingnya itu bukannya Nyonya Smith, kenapa mereka bisa bersama?." Mami Siska penasaran, lalu diam-diam dia mendekati dan mendengar percakapan Umi Aisyah, Mama Savara dan Oma Anne.
"Duh! rasanya tidak sabaran menunggu cucu-cucu kita lahir, ya." Kata Mama Savara memeluk salah satu pakaian yang di pilihnya.
"Benar kamu, aku juga ngga sabaran bermain sama mereka." Kata Umi Aisyah membayangkan bermain dengan 4 cucunya nanti.
"Untung Alsava berpisah dengan Abbas, dan nikah sama Nufail. Malah di kasih 4 lagi, kalau Alsava masih mempertahankan pernikahan dengan Abbas. Dia tidak akan mempunyai anak, kan kalian tau itu Abbas mandul. Tapi baguslah mereka berpisah, Mommy ngga setuju Alsava bersama Abbas. Abbas yang bodoh dan mau aja di pengaruhi sama Siska dan wanita ja**ng itu." Geram Oma Anne mengingat masa lalu Alsava.
"APA!!!, Abbas Mandul." Mami Siska keluar dari persembunyiannya.
"Siska!!!." Serentak. Mereka kaget melihat Siska tiba-tiba muncul.
"Apa yang katakan itu benar?kalian bohongkan?." Mami Siska mendengar perkataan itu terkejut, seluruh badannya terasa lemas.
"Ck, masa kamu tidak tau anak mu mandul. Oia, kamu kan ada di rumah sakit jiwa jadi tidak tau kejadian sebenarnya." Ucap Oma Anne sinis.
"Sst... Mommy jangan ngomong seperti itu, bisa gawat kalau dia ngamuk. Kan Oma tau sendiri dia mantan pasien rumah sakit jiwa." Bisik Mama Savara.
"APA!!! ngga mungkin, Abbas Mandul. Lihat ini anaknya bersama Eliana." Mami Siska menunjuk Satria berada di gendongan Bi Inem.
"Hahaha... Kamu dan anak mu benar-benar bodoh mau aja di bohongi Eliana. Kalau kamu ngga percaya cek DNA aja, ya udah. Yuk, kita pergi dari sini. Mommy takut ngga bisa kontrol emosi Mommy." Kata oma Anne menggandeng tangan Mama Savara dan Umi Aisyah.
"Ini ngga mungkin... Bi Satria anaknya Abbas kan... Cucu Kesayangan ku kan..." Mami Siska memegang bahu Bi Inem
__ADS_1
Bi Inem hanya diam saja dan menunduk.
"Bi, jawab pertanyaan saja." Bentak Mami Siska.
"Ma-maaf Nyo-nyonya, sa-saya ti-tidak ta-tau. Le-lebih ba-baik ta-tanyakan ke tu-tuan." Bi Inem Gugup.
"****..." Mami Siska terlihat kesel dan pergi meninggalkan Bi Inem dan Satria.
"Maaf Nya. Biarkan tuan Abbas yang menjelaskan ini semua ke Nyonya, yang saya takutkan nanti Nyonya akan berkelakuan kasar sama Aden Satria. Bibi tidak akan tega melihat kamu nanti di siksa, apa saya akan membawa Satria pergi. Saya takut kamu nanti di siksa oleh Nyonya Siska, dulu aja menantunya aja di siksa abis-abisan. Padahal Nona Alsava itu menantu idaman, lebih baik aku telpon tuan Abbas. Sebelum nyonya Siska sampai di kantor." Kata Bi Inem menatap kepergian Mami Siska dan mengelus punggung Satria, lalu Bi Inem mengambil ponsel di dalam saku kantongnya.
"Assalamualaikum tuan..." Bi Inem Panik.
"Wa'alaikumsalam, ada apa Bi?." Kata Abbas di seberang.
"Bi, tenang. Lebih baik pulang ke Mansion dan Bibi dan Satria tinggal ruangan yang berada di Mansion, nanti segala keperluan biar Roy yang mengurusnya. Abbas mohon jaga Satria dengan baik, jangan pernah meninggalkan Satria. Bila keadaan membaik nanti Bibi dan Satria baru keluar." Kata Abbas, ia sudah merasa panik.
Bbrukk
Pintu di buka kasar. Abbas langsung mematikan ponselnya.
"Abbas Mami ingin kamu jawab jujur dan tidak ada yang di tutupi." Terlihat mata Mami marah
"Mami, ada apa sih. Datang langsung marah-marah, tenang dulu. Nih minum dulu." Abbas memberi segelas air mineral.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
Apakah Abbas akan jujur?
Apakah Mami Siska akan menjadi gila lagi?
Gimana nasib Satria nanti?
Tunggu jawabannya dan selalu tetap setia di novel ku ini...
Like, vote, dan komentarnya jangan lupa ya...
See you 😘😘😘😘
__ADS_1