
Tibalah mereka di Mansion yang sudah di siapkan oleh Papi Mario.
"Akhirnya sampai juga." Kata Oma Anne yang di gandeng oleh Mama Savara.
"Iya, Mi. Mario luar biasa mempersiapkan semuanya, dia memang anak ku." Kata Opa Bangga.
"Benar, Pi. Tapi kemana mario?." Papa Alven celingak-celinguk mencari Papi Mario.
"Papi Mario tadi udah ngabarin aku, beliau masih di rumah sakit." Kata Bang Alvan yang baru sampai bersama Reina.
"Siapa yang sakit?." Tanya Reina bingung.
Semua menatap Bang Alvan untuk memberikan kode. Kecuali Reina menatapnya bingung.
"Shit, para orangtua kenapa pada melototin gue... Astaga gue lupa kalau cewek gue ini sahabat baik Alsava. Duh! Gue harus apa." Batin Bang Alvan, ia menggaruk tengkuk leher yang tidak gatel.
"Bang, di tanya malah diam aja." Reina menggoyangkan tangan Bang Alvan.
"Ah! Itu, Papi Mario menjenguk temannya. Ya jenguk temannya." Bang Alvan berbohong.
Para orangtua bernapas lega.
"Hai! Kalian udah sampai juga." Icha yang baru datang bersama Khaliq.
"Assalamualaikum..." Khaliq mengucap salam pas di telinga Icha, karena hembusan napas Khaliq membuat Icha berdebar-debar.
"Cha, wajah loe kenapa tiba-tiba merah?Cie... Sudah dapat gebetan." Goda Reina
"Ish!Apaan sih. Onta kalau teriak jangan di kuping gue." Icha memukul Khaliq.
__ADS_1
"Hahaha... Lagian kamu kalau masuk rumah itu ucapkan salam, bukan hai." Khaliq senang menggoda Icha.
"Ya, tapi kan ngga harus tepat di kuping gue kali." Icha mengerucutkan bibirnya dan tangan di lipat di dadanya.
"Udah kalian jadian aja, cocok tau." Kali ini yang menggoda Bang Alvan.
"Tau ah!, lebih baik gue pergi kekamar. Dah! semua." Icha kesel. Khaliq menggeleng-geleng melihat tingkah Icha.
"Loe harus ekstra sabar, kalau nanti loe jadian sama bocah itu." Bang Alvan menepuk pundak Khaliq.
Khaliq hanya menjawab senyuman.
"Ngomong-ngomong kemana itu pengantin baru?." Kata Bang Alvan.
"Iya, kemana mereka seharusnya udah sampai." Ucap Reina, ia mulai khawatir dengan Alsava.
Alsava dan Nufail langsung kehotel, mereka lupa mengkasih kabar.
"Ish! Babay, tenaga kamu terbuat apa sih. Dari semalam kita udah melakukan malah hingga subuh. Abis itu kita langsung berangkat ke Indonesia, kamu ngga cape. Babay." Kata Alsava tubuhnya sudah polos.
"Kalau yang ini ngga akan cape buat aku, Yank. Malah tenaga ku bertambah." Ucap Nufail yang sedang memasuki Sang Ular ke dalam Goa.
"Dasar Onta Arab, badan ku tuh yang remuk. Kamu mah enak tinggal manjat doang, apa daya ku harus tetap melayaninya. Kalau ngga dosa nanti." Batin Alsava meronta.
"Aaaarrrggghhh..." Ucap Nufail mencapai puncak kenikmatan. Lalu menjatuhkan tubuh di samping Alsava dan memeluk istrinya yang nampak kelelahan.
"Maafkan aku, ya. Yank, abis aku ngga tahan kalau berdekatan dengan mu adik kecil ku selalu bangun." Kata Nufail mencium kening Alsava.
"Berarti kamu jangan dekat sama aku, asal kamu tau badan aku itu udah remuk." Alsava mendorong tubuh Alsava, lalu bangun dari ranjang dan Ia mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Ish! Jangan gitu dong, aku ngga bisa jauh dari kamu." Nufail langsung memeluk Alsava.
"Iya, aku janji ngga akan begitu lagi. Tapi kalau malam boleh ya, cuma 3 ronde aja. Kan biasanya sampai beberapa ronde." Katanya lagi.
"Tau ah!, aku mau mandi." Alsava masih kesel dan melepas tangan Nufail.
"Yank, Jangan marah. Please maafkan aku, ya." Nufail merengek, membujuk Alsava.
"Berisik tau ngga." Alsava membalikan tubuhnya dan menghadap Nufail yang merengek.
"Iya, tapi maafin aku ya. Kamu jangan menjauh dari aku." Nufail memegang tangan Alsava.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, vote dan komentarnya... 😘😘😘
__ADS_1