Aku Bukan Siapa-siapa

Aku Bukan Siapa-siapa
Hadiah


__ADS_3

Semenjak Alsava di USG dan melihat dua titik di perutnya, Nufail terus menempel bagai perangko. Nufail ngga mau jauh-jauh dari Alsava.


Saking senangnya Nufail memberikan Alsava Mansion megah dan luas, ia ingin suatu saat nanti dia ingin mempunyai anak 11. Biar membentuk tim kesebelasan 😄😄😄😄.


Hari ini Nufail mengajak Alsava melihat Mansion.


"Wah! Babay ini Mansion punya siapa indah sekali." Alsava takjub, pas di depan Mansion.



"Milik kita sayang." Nufail mengelus rambut Alsava.


"Yuk, kita turun." Nufail membuka pintu mobil. Lalu menggandeng tangan Alsava.


Mereka berjalan masuk ke dalam Mansion. Tiba di depan pintu mereka di sambut ada 20 pelayan.


"Selamat datang, tuan dan nyonya. Perkenalkan saya Ari kepala pelayan disini." Kata Pak Ari sopan.


"Iya, Pak. Gimana semuanya sudah di persiapkan?." Kata Nufail Tegas.


"Sudah Tuan, Nyonya dan Tuan bisa langsung menempati Mansion ini." Ucap Pak Ari.


"Baiklah, Yuk. Yank, kita kekamar." Ajak Nufail dan merangkul pinggang.


"Ish! Aku masih ingin lihat-lihat." Alsava memukul tangan Nufail.


"Oke-oke, aku temani."


Mereka menuju ruang keluarga



Ruang keluarga di desain klasik dan elegan, karena Alsava menyukai desain klasik dan elegan.


"Kamu tau selera aku, Babay." Alsava menjatuhkan kepalanya di bahu Nufail.


"Iya, dong. Aku kan suami terhebat tau apa yang istrinya inginkan tanpa ia ngasih tau." Nufail mengecup kening Alsava.


"Ck, selalu PD." Alsava berdecih.


"Hahaha... Memang kenyataannya begitu kok, Yank." Nufail memeluk erat Alsava.


"Yuk, kita lihat yang lain." Alsava melepas pelukan.



Ruang Makan



Dapur



Ruang Karaoke.

__ADS_1



Ruang Bioskop.



Biliar



Lapang basket.



Nampak belakang Mansion. Turun kebawah menemukan kolam renang air terjun.



Nufail juga mempersiapkan taman bermain untuk anaknya nanti.




Kamar tidur pun sudah di siapkan, baru 3 kamar di desain selebihnya nanti Alsava yang memilihnya.





"Iya, Yank. Aku siapkan di Indoor dan di Outdoor, biar mereka nanti betah bermain di Mansion."


"Tapi kan..." Omongan Alsava berhenti.


"Udahlah, sekarang kita ke kamar kita berdua." Nufail menggendong Alsava dengan bridal style.


"Ish! Kamu mah." Alsava memukul dada bidang Nufail.


"Udah jangan berontak, nanti kamu jatuh. Kamu harus istirahat kasihan Debaynya." Nufail mencium bibir Alsava.


"Baiklah. Oia, kamu kenapa menyiapkan ruang karaoke, bioskop bahkan lapangan basket Indoor?."


"Aku siapkan biar aku dan kamu selalu ada waktu bersama."


Cup


Nufail mencium bibir Alsava kembali.


"So sweet banget sih suami aku. Makin cinta dech aku, Mmuuaacchh..." Alsava mengalungkan tangannya di leher Nufail, lalu mengecup bibir Nufail.


"Aku juga makin cinta sama kamu." Ucap Nufail.


Mereka naik lift, karena kamar mereka ada di lantai 3.

__ADS_1



"Ada liftnya juga, Babay."


"Iya, biar nanti kamu ngga lelah turun naik tangga."


Tak lama kemudian, mereka sampai di kamar mereka.


Ceklek


Dalam masih gendongan, Alsava membuka pintu.



Alsava di taruh pelan-pelan, lalu Nufail mengecup kening Alsava.


"Gimana suka Mansionnya."


"Suka, Bay. Terimakasih ya."


"Sama-sama istriku, kita mandi bareng yuk."


"Gendong lagi." Alsava Manja.


"Manja sekali istriku ini." Nufail menarik hidung Alsava.


Nufail menggendong Alsava, lalu berjalan menuju kamar mandi.



"Wow!!!, ini lebih luas dari Mansion Papi Mario." Alsava Takjub.


"Iya, dong. Nanti kita bisa bermain beberapa pose dan tempat. Hahaha..." Nufail membayangkan ia bermain bola dengan Alsava.


"Dasar suami mesum." Alsava mengetuk kening Nufail.


Setelah mandi, mereka menuju walk in closet untuk mengambil baju.



"Sumpah, Bay. Aku merasa takjub kamu memilih Mansion yang Benar-benar bikin aku terpesona." Alsava duduk di kursi.


"Iya, Dong. Ini semua aku lakukan demi kamu dan Debay. Kamu senang aku juga senang." Kata Nufail.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2