
"Gimana kamu sudah mengingatnya, Sava sayang." Kata Nufail menarik hidung Alsava.
"Sakit tau, lagi pula bagaimana aku ingat saat itukan usia aku 3 th. Dasar aneh kamu." Alsava mengelus hidungnya yang di tarik Nufail.
"Hahahaha... Baiklah, walau kamu tidak mengingat aku. Tapi perasaan aku ke kamu tidak akan pudar, walau kamu saat ini sudah... maaf janda." Nufail jeda agar Alsava tidak tersinggung.
"Tapi bagaimana kamu bisa tau kalau aku sudah janda?." Alsava penasaran.
"Rasa cinta ku pada mu terlalu kuat dan aku takut kamu kenapa-napa, jadi aku mengirimkan beberapa pengawal untuk melindungi mu. Tanpa kamu dan keluarga mengetahui."
"Pantas aja, waktu aku pulang kuliah di malam hari dan saat itu aku di begal, tapi tiba-tiba datang segerombolan orang berbaju hitam dan berbadan gede. Aku pikir mereka itu polisi."
"Iya, aku dapat laporan kamu di begal. Langsung menambahkan orang untuk melindungi kamu. Tapi aku kecewa waktu kamu menikah dan tidak menunggu aku." Nufail cemberut.
"Salah kamu sendiri kenapa datangnya lama, jadi aku menikah sama breng***."
"Maaf ya aku datang terlambat, gara-gara aku kamu jadi nikah sama si cunguk." Nufail memegang tangan Alsava.
"Ish! Dari tadi kamu pegang-pegang terus, risih tau." Alsava menarik tangannya.
"Makanya kamu mau ya, jadi istri aku."
"Ck, melamar wanita ngga romantis dan ngga modal. Jangan mau Al sama laki-laki kaya dia." Teriak Umi Aisyah.
"Umi, bukannya ngebantuin malah bikin anaknya perjaka tua." Ucap Nufail mengerucutkan bibirnya.
"Oma juga ngga mau punya calon cucu menantu ngga modal dan ngga romantis, masa kalah sama borokokok sia. Kalau ngga Alsava kamu pergi cari laki-laki lain." Goda Oma Anne.
"Duh! Oma, please jangan dong. Aku ngga bisa hidup tanpa Alsava, besok aku siapkan semua. Kalau sekarang Fail belum mempersiapkan." Nufail membujuk Oma Anne.
"Udahlah, kenapa kalian tega banget sama calon menantu ku yang ganteng. Sini Mama peluk." Mama Savara merentangkan kedua tangannya.
"Oh! Mama Savara, engkau yang paling mengerti diri ku." Ucap Lebay Nufail.
Pprookk
__ADS_1
"Drama yang bagus, ini udah malam. Ingat nanti Papa dan Opa marah kalau ke malaman kita pulangnya." Kata Alsava mengambil tas.
"Sava, kamu biar aku yang antar pulang. Soalnya aku masih kangen sama kamu." Nufail langsung menarik Alsava.
"Dasar anak muda kita di lupakan begitu aja, dulu aja ngerek minta uang jajan. Udah gede cuek dan masa bodo." Ucap Umi Aisyah menggelengkan kepala.
"Biarkan aja mereka seperti itu, kita pulang juga. Ayo, mi." Mama Savara menggandeng Oma Anne.
Di Mobil Nufail.
"Sava, aku senang banget bisa ketemu kamu lagi. Aku ngga sabaran meminang kamu." Nufail menyetir.
"Sory bukan aku ngga mau terima kamu, tapi hati aku terlalu banyak luka. Jadi butuh lama untuk mengengobati, tapi kamu kalau mau menunggu silakan." Alsava menghembus napas.
"Aku tau hati kamu masih sakit, tapi kamu jangan biarkan terlalu lama. Itu akan mengakibatkan kamu makin terpuruk, aku ngga mau berjanji. Tapi aku akan berusaha selalu membuat kamu tersenyum dan melupakan masalah yang kamu hadapi. Kamu terima aku dulu, dengan perjalanan nanti kamu pasti akan sepenuhnya menerima aku di hati kamu." Nufail memegang tangan Alsava dan mengelus, lalu mencium tangan Alsava. Nufail meminggirkan mobilnya di tepi jalan.
"Alsava Putri Alvendra aku sangat mencintaimu, mungkin ini waktu yang tidak tetap. Tapi aku tidak bisa harus memendam perasaan ini terlalu lama, mau kan kamu menjadi istriku." Nufail memegang tangan Alsava.
Deg... Deg... Deg...
"Benar kata Umi kamu ngga romantis, masa mau melamar wanita di dalam mobil lagi." Alsava menarik tangan Nufail.
"Oke, besok aku akan siapkan kamu harus dandan yang cantik. Ya." Nufail mencolek hidung Alsava, lalu melajukan kembali mobilnya.
...TAMAT...
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tapi bohong 😆😆😆😆......
kita lanjut lagi....
__ADS_1
😘😘😘😘😘😘