
"Boy, Papi berharap setelah ini kamu Benar-benar berubah. Jangan mengikuti sikap Mami mu." Batin Papi Mario setelah keluar dari mushola.
Papi Mario terus melanjutkan melangkahnya, tiba-tiba langkahnya berhenti di depan kamar Mami Siska di rawat. Papi Mario menatap Mami Siska dari jendela, ada rasa iba dan hatinya merasa gundah. Melihat wanita yang dulu pernah ia cintai dan melahirkan putranya.
"Sis, entah aku tidak tega melihat kamu seperti ini. Walau di hati sudah ada cinta untuk mu, tapi dari lubuk hatiku tidak tega melihat mu seperti ini. Maaf aku sudah tidak bisa mencintai mu lagi, karena sifat kamulah membuat aku tidak lagi mencintai mu. Tapi jika kamu mau berubah aku akan pikirkan lagi." Papi Mario menyekat airmatanya, lalu pergi menuju pakiran mobil.
Ketika Papi Mario ingin masuk ke mobil, tiba-tiba ponselnya berdering.
Ddrrtt... Ddrrtt...
"Assalamualaikum Pi." Panggil tersebut dari Alsava.
"Wa'alaikumsalam, putri Papi yang cantik. Bagaimana kabar kamu dan keluarga disana?." Papi Mario tersenyum mendengar suara Alsava membuatnya menghilangkan rasa gundah di hatinya.
"Alhamdulillah baik, Pi. Papi sendiri gimana?Baik-baik ajakan? Kenapa papi ngga pernah memberi aku kabar, aku kan khawatir." Alsava merasa khawatir karena sejak Papi Mario pergi, Papi Mario tidak memberi kabar kepada Alsava.
"Papi baik-baik aja, maaf ya. Papi ngga sempat menghubungi kamu, karena urusan disini tambah ribet. Papi butuh waktu lama menyelesaikannya, sayang."
"Yang penting papi harus jaga kesehatan dan jangan sampai kelelahan, atau perlu aku kesana menemani papi. Aku takut papi nanti kenapa-napa."
"Kamu memang wanita yang baik, Abbas akan menyesal meninggalkan kamu." Batin Papi Mario.
"Hallo, Pi. Kok, diam. Kenapa?."
"Eh! Maaf, tadi Papi melepas penyamaran Papi." Katanya bohong. Alsava mengetahui rencana Papi pulang ke Indonesia.
"Pi, maafkan aku, gara-gara aku papi harus bercerai dari orang yang papi cintai." Batin Alsava.
"Kamu jangan kesini dulu, nanti kalau keadaan mendadak baru kamu kesini. Papi mau menghukum Abbas dulu, biar dia menyesal menceraikan kamu dan memilih wanita ja**ng itu."
βYa udah, yang penting papi jangan lupa hubungi aku. Oke."
__ADS_1
"Siap tuan puteri, ya udah. Papi mau nyetir dulu, Assalamualaikum putri Papi yang cantik."
"Wa'alaikumsalam papi aku ganteng dan baik hati."
Panggilan telp telah usai, kemudian Papi Mario melajukan mobilnya.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Dua hari kemudian, Abbas mendatangi perusahaan Papinya.
"Pi,." Abbas asal masuk aja tanpa mengutuk pintu atau memberi salam. Sedangkan Papi Mario melihat kedatangan Abbas yang tidak sopan hanya menghela napas.
"Ada apa kamu datang." Ketus Papi Mario dan pura-pura mengetik laptopnya.
"Jadi benar Papi, menceraikan Mami. Apa Papi tidak memberikan Mami kesempatan?." Abbas menghampiri Papi Mario yang sedang berkutik dengan laptopnya.
"Tidak ada kesempatan, sama seperti kamu terhadap Alsava." Kata Papi Mario tajam hingga menusuk di hati Abbas.
"Beda gitu, asal kamu tau gara-gara kamu Alsava depresi dan mengakhiri hidupnya." Papi Mario berbohong.
"Maafkan Papi, nak. Terpaksa harus berbuat ini biar Abbas menyesal." Kata Papi Mario dalam hati.
"APA!!!." Abbas terkejut dan Abbas merasa hatinya seperti tertusuk sembilan pisau mendengar perkataan Papi Mario.
"Kenapa kaget?bukannya kamu harus senang Alsava udah tiada." Papi Mario menatap tajam.
"Bu-bukan begitu, Pi."
"Bukan begitu kenapa?." Papi Mario terus memojokkan Abbas agar melihat penyesalannya.
"Maafkan aku, Pi. Aku ngga tau kalau kaya gini, kapan Alsava meninggal?." Airmata Abbas tiba-tiba keluar.
__ADS_1
"Kamu harusnya minta maaf kepada Alsava bukannya Papi." Papi Mario dengan santainya duduk di sofa, di ikuti Abbas.
"Pi, kapan Alsava meninggal dan dimana pemakamannya?." Abbas menggoyangkan tangan Papi Mario dan meneteskan airmata.
"Waktu persidangan, makanya ia tidak datang."
Dduuaarrr
Hati Abbas seakan meledak.
"APAAA!!! Kenapa Papi tidak memberitahu Abbas?Ya Allah, maafkan dosa Hamba." Abbas terasa lemas dan duduk di lantai.
"Kenapa kamu pergi secepat itu?aku menyesal hiks... hiks... hiks..." Abbas menangis sejadi-jadinya. Papi Mario melihat Abbas menangis seperti itu merasa tidak tega.
"Buat apa kamu menangis seperti itu?bukannya saat ini ada wanita yang kamu cintai dan sedang mengandung anakmu." Papi Mario melirik sinis Abbas.
"Pi, Eliana emang saat ini istriku. Tapi hati ku entah cuma ada nama Alsava, Pi. Tolong beritahu aku dimana Alsava di makamkan. Aku ingin minta maaf." Abbas menghadap dan memegang tangan Papi Mario, ia masih duduk di lantai.
"Tidak ada gunanya kamu minta maaf sekarang, orangnya udah tidak ada. Lebih baik kamu pergi dari sini, sebelum Papi marah sama kamu." Papi Mario menepis tangan Abbas.
"Hiks... Hiks... Hiks... Maafkan Abbas, Alsava maafkan Aku." Abbas terus berusaha memegang tangan Papi Mario, walau Papi Mario beberapa kali menepis tangan Abbas.
.......
.
.
.
......Berikan jempol mu yang banyak ya.........
__ADS_1
ππππ»πππππππππππππ