
Maaf kalau novel ini tidak bermutu, jelek atau berantakan. Karena aku buat novel ini masih dalam pembelajaran dan aku mohon tolong hargai dalam penulisan maupun di novel ini atau di novel lain, untuk menjadi penulis itu sangat berat harus cari cerita. Kadang sampai tidak tidur untuk hanya untuk update novel.
Aku mewakili penulis lainnya, tolong hargai hasil karya novel. Pendapat boleh tapi jangan terlalu menyinggung, karena tidak semua penulis tegar atau menerima. Dengan kata-kata menyakitkan akan membuat penulis down. Maaf kalau aku ngomong seperti ini... ππππ.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ*
Alsava dan Nufail masih berada di dalam mobil. Nufail sangat panik melihat Alsava merintih kesakitan.
Alsava melihat kebelakang dan menarik napas.
"Hufh..."
"Sayang, kamu ngga apa-apakan?apa yang sakit?." Nufail panik dan memegang tangan Alsava. Melihat Nufail sangat mengkhawatirkan dirinya, Alsava merasa sangat terharu.
"Babay, kamu tenang aja dech. Aku ini ngga apa-apa kok." Alsava mencium tangan Nufail agar tenang. Nufail menepikan mobil di pinggiran.
"Kamu yakin, kamu ngga apa-apa?." Nufail memegang kedua pipi Alsava.
"Iya, Babay ku. Suami ku, aku ngga apa-apa. Tadi aku akting, bis kalau ngga gitu Eliana akan terus ngajakin berantem. Aku udah cape, Bay." Alsava menatap Nufail.
"Ya Allah, Yank. Kamu itu membuat aku sangat mengkhawatirkan kamu dan My quadruplet, sayang."
"Maaf, Babay."
"Baiklah, lain kali kamu jangan seperti ini ya. Aku ngga suka."
"Iya, Babay." Alsava menarik hidung mancung Nufail.
Cup
__ADS_1
Nufail mencium bibir Alsava.
"Bay, Eliana dan teman-temannya mau di apakan sama Joe dan anak buahnya?." Alsava melepas ciuman.
"Joe akan menghukum mereka. Hukuman yang pantas buat mereka, Joe pasti tau. Udah kamu jangan memikirkan mereka, ngga ada gunanya. Yang penting hukuman apa yang pantas buat kamu yang pergi begitu saja tanpa memberitahu aku." Nufail tersenyum licik.
"Hah!!! hukuman, masa kamu tega menghukum aku yang sedang hamil anak-anak mu." Alsava dengan wajah memelas.
"Hahahaha... imutnya istri ku ini. Mmuuaacchh." Nufail mencium bibir Alsava.
"Ish!! Babay, kamu jangan menghukumku yang tidak-tidak."
"Tenang sayang, hukuman ini ngga berat kok. Malah kamu nanti sangat menikmatinya." Bisik Nufail, membuat Alsava merinding.
"Ish! Dasar mesum." Alsava mencubit pinggang Nufail.
"Hahaha... tapi kamu sukakan?." Nufail bukan kesakitan malah tertawa.
"Udah jangan cemberut, aku minta maaf." Nufail memegang dagu.
Tiba-tiba Alsava membuka pintu mobil dan keluar.
"Yank, kamu mau kemana?." Nufail langsung mengikuti Alsava.
Alsava tadi melihat tukang cendol, ia langsung buru-buru keluar dari mobil dan menghampiri tukang cendol.
"Bang, cendolnya 2 gelas ya." Alsava semangat.
"Aduh! Yank, kamu itu kalau mau beli cendol bilang kenapa sih. Jangan lari." Nufail mengatur napas.
__ADS_1
"Kamu mau?." Alsava tanpa dosa menyodorkan segelas es cendol.
"Terimakasih, Yank." Nufail mengambil segelas cendol dan duduk di samping Alsava.
"Mmm... Segernya. Bang, aku pesan lagi." Kata Alsava.
"Stop, Yank. Kamu jangan terlalu banyak minum es. Nanti kamu sakit, Yank." Larang Nufail.
"Ish! Kamu ini, aku ini lagi ngidam. Emang kamu nanti my quadruplet ileran gimana? aku ngg akan suka. Please... Kan bukan buat aku aja tapi buat My quadruplet juga. Kamu jangan pelit sama bini dan anak-anak."
"Ya udah terserah kamu. Tapi kamu janji abis ini kamu langsung istirahat di Mansion, aku ngga mau kamu kelelahan."
"Iya, Babay ku sayang." Alsava masih menikmati es cendol.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa jempol, vote, dan komentarnya ya... ππππ