
Alsava sedang asyik menonton drakor, Nufail datang dan langsung memeluk Alsava dari samping kiri.
"Serius banget nih nontonnya, emang kamu nonton apa sih?."
"Eh! Babay, bikin kaget aja. Ini loh aku nonton drakor, Bay... Kamu sudah selesai meetingnya."
"Sudah, Sayang. Emang kenapa?."
"Ish!!, masa lupa. Katanya mau ngajak aku ke Mall." Alsava mengerucutkan bibirnya.
Cup
Nufail mengecup bibir Alsava.
"Ini bibir kalau Manyun begini, selalu pengen aku lahap. Tenang aku ngga lupa kok, sayang." Nufail menarik hidung Alsava.
"Ya Udah, Yuk. Kita berangkat sekarang." Alsava bangun dan merangkul tangan Nufail.
"Joe, kamu siapkan mobil." Nufail melempar kunci ke arah Joe.
"Siap, Tuan Boss." Joe menerima kunci yang di lempar Nufail.
"Tapi ingat nanti disana kamu jangan kecapean, Oke."
"Iya, Babay Ku sayang. Mmuuaacchh..." Alsava mencium pipi Nufail.
"Duh! Jadi pengen lahap kamu, Yank."
"Dasar mesum." Alsava memukul lengan kekar Nufail.
"Kan mesum sama istri sendiri, apalagi sekarang kamu itu tambah seksi." Nufail meremes pan*** Alsava.
"Ih!! Nakal, ini tangan." Alsava mencubit tangan Nufail.
"Aauuww... Sakit-sakit, Yank." Nufail mengaduh.
__ADS_1
"Salah kamu sendiri."
Skip
Mereka tibalah di Mall.
"Kok sepi banget, Bay. Apa jangan-jangan kamu yang nyuruh mall ini di kosongin?." Alsava menoleh kekanan dan kekiri.
"Iya, biar kamu leluasa jelajahi Mall ini." Nufail jawab dengan enteng.
"Ish! Kamu jangan begitu, kalau sepi kaya gini sama aja kita ke kuburan. Ngga seru, pokoknya kamu buat ini Mall ramai kaya sebelumnya."
"Tapi, Yank..."
"Ngga ada tapi-tapian, minta sekarang."
"Baiklah... Joe buat Mall ini kembali ramai seperti sebelumnya."
"Laksanakan, Tuan." Joe langsung telp Direktur Mall.
"Babay, kita kesana yuk." Alsava menarik Nufail ke toko baju baby.
"Buruan, aku ngga sabaran lihat baju untuk my quadruplet. Babay."
"Iya-iya, sayang."
Mereka memasuki toko baju Baby.
"Ih! Lucu-lucu banget... Aku jadi bingung milihnya." Alsava memegang beberapa baju bayi.
"Kamu mau beli semuanya, aku sanggup kok. Yank." Bisik Nufail dan memeluk Alsava dari belakang, karena mall sudah kembali ramai. Banyak orang-orang melihat tingkah Alsava yang sangat imut melihat-melihat baju. Membuat Nufail cemburu.
"Ish! Babay, kamu jangan seperti ini. Ngga enak di lihat orang." Alsava merasa risih.
"Biarin aja, biar mereka tau kalau kamu itu milik aku. Yank." Nufail tidak melepas pelukkan.
__ADS_1
"Tapi kalau kaya gini terus, aku susah bergerak tau. Sikap biasa aja kaya pasangan yang lain, Babay." Alsava melepas tangan Nufail.
"Baiklah, tapi aku tetap disini nemanin kamu."
"Iya, sayangku, Babay ku. Cup." Alsava mengecup pipi Nufail.
Nufail tersenyum.
"Duh! gemesin banget sih kamu, kalau di kamar udah aku lahap kamu. Yank." Nufail mencubit pipi Alsava.
"Sakit tau, Bay."
"Maaf-maaf... Mmuuaacchh..." Nufail mencium kedua pipi Alsava.
"Dasar tuan bucin, ngga di rumah, kantor, di mall atau dimana-mana. Selalu membuat bikin orang baper, termasuk gue. Nasib-nasib jadi jomblo." Batin Joe, lalu menarik napas.
"Tunggu, itu bukannya Abbas ya. Wah! gawat nih bisa perang dunia ketiga, gue harus gimana nih... Kalau gue ngomong ke Tuan nanti dia akan lebih marah lagi, OMG... Gue jadi ketakutan gini, kaya bukan diri gue ini. Gue harus tenang dan tetap jaga wibawa, Bismillahirohmanirohim" Kata Joe dalam hati, ia melihat dari kejauhan Abbas dengan asistennya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bagi kalian ingin mengganti visual yang pantas di novel ini tolong infoin ya... Jadi biar enak aja ya... Oke...
Jangan lupa Like, Vote, Komentar dan hadiah ya... see you...