
"Oy! Lu ngapain manggil!" Ucap Carlos pelan dengan suara yang menekan.
"Cuma mau nyapa temen aja," jawab Nathan santai tanpa melirik Carlos.
Dari sisi lain Nayra baru saja hendak berdiri namun satu tangan dengan cepat menarik tangannya untuk kembali ke posisi duduknya dan tidak lain adalah Aska yang memang tidak ingin Nayra menghampiri pria itu dan meninggalkan kegiatan makan mereka.
"Aska! Gue mau temuin temen gue bentar aja!" Seru Nayra dengan wajah kesal menatap Aska yang tetap bersikap santai.
"Buat apa? Kita ini lagi makan dan mereka juga lagi makan, jadi lu jangan ganggu mereka!" ujar Aska yang tidak mau kalah.
"Apaan sih!" Gerutu Nayra yang kemudian melanjutkan makannya dengan berat hati.
Nayra ingin sekali pergi menemui temannya apalagi ada Carlos, siapa yang tidak senang jika bertemu orang yang disukai? Tentu akan sangat senang sampai-sampai ingin menghampirinya, namun hal itu tidak bisa dilakukan oleh Nayra karena adanya Aska. Ingin menolak dan melawan namun pasti Aska akan melaporkan itu pada ayahnya dan Nayra tidak ingin itu terjadi.
"Sekarang fokus sama gue dan nikmatin makanan lu," ujar Aska pelan sambil menatap wajah Nayra.
Sebenarnya jauh didalam hati Aska merasa kesal pada pria yang sedari tadi dilirik oleh Nayra. Namun Aska tidak begitu menunjukkan rasa kesalnya dan mencoba untuk bersikap tenang.
"Kenapa Nay gak jadi kesini ya?" tanya Nathan pelan.
"Iyalah, gak liat itu ada siapa?" ujar Carlos balik bertanya.
Nathan pun melirik pria misterius yang duduk berhadapan dengan Nayra. Dan sudah dapat dipastikan karena pria itu sehingga Nayra tidak jadi kesini, Nathan berfikir bahwa Nayra lebih memilih pria itu daripada menemukannya dan Carlos.
"Oh iya bener juga," tutur Nathan dan kembali menikmati makanan mereka.
Nathan beberapa kali memperhatikan Carlos yang ekspresi wajahnya tidak seperti sebelumnya, sekarang sepertinya sedang merasa kesal dan Nathan paham penyebabnya.
"Gue yakin itu bukan cowoknya," ujar Nathan.
"Tau apa lu? Itu udah pasti cowoknya," ungkap Carlos.
"Tapi dari raut wajah Nay sepertinya dia gak suka sama orang itu... Coba deh lu perhatikan," jelas Nathan yang kembali melirik Nayra.
Namun Carlos tidak mendengarkan ucapan Nathan dan tetap fokus pada makannya. Perasaannya sangat sakit saat ini apalagi jika mengetahui pria itu benar-benar pacar Nayra, semua harapannya tentu akan hancur begitu saja.
Carlos juga berfikir itu yang terbaik melihat pria itu sepertinya dari kalangan atas tentu bisa membahagiakan Nayra, berbeda dengan dirinya yang hanya orang miskin tidak memiliki sesuatu yang berharga.
__ADS_1
"Than... Ayo cabut!" Ajak Carlos yang langsung bangkit berdiri dan segera berjalan keluar cafe.
"Lah gue belum selesai makan," tanpa menunggu lama Nathan pun langsung bangkit berdiri mengejar Carlos.
Disisi lain Nayra melirik Carlos yang pergi keluar dan tidak hanya Carlos yang merasa sakit tetapi perasaan Nayra saat ini juga merasa sakit. Ingin rasanya menghampiri Carlos namun tidak bisa.
"Nay?" Panggil Aska.
Nayra langsung melirik Aska dan kembali menikmati makanannya.
Diluar cafe tepatnya didalam mobil Nathan dan Carlos hanya berdiam sebelumnya akhirnya mobil Nathan melaju menuju rumah Nathan.
"Sebelum tau kebenarannya jangan berfikir sembarangan," tutur Nathan sembari menyetir mobil.
Carlos melirik Nathan sekilas, "Iyaa nanti gue cari tau."
"Tapi gimana?" Lanjutnya.
"Tenang aja... Gue bakal bantuin lu," ujar Nathan sambil tersenyum.
Sementara situasi di cafe, Aska mulai kesal karena semenjak Carlos pergi Nayra mulai terlihat murung dan tidak bisa menikmati kebersamaannya. Namun kekesalan Aska tidak ditunjukkan dan tetap ia tahan dengan senyuman.
"Siapa cowok tadi?" Tanya Aska sambil memainkan garpunya.
"Mana?" lirih Nayra.
"Itu yang tadi Nay!" Seru Aska.
Nayra menghelakan nafas beratnya, "mereka temen gue."
"Kayaknya penting banget salah satu diantara mereka," tutur Aska.
"Gak usah banyak tanya, habisin makan lu dan setelah itu gue mau pulang!"
Bagaimana bisa Nayra jalan berdua dengan orang yang tidak disukainya itu, tentu rasanya tidak enak bahkan Aska melarang dirinya untuk bertemu dengan temannya.
"Klo lu gak suka disini... Kita pergi ke tempat lain," ajak Aska mencoba membujuk Nayra.
__ADS_1
Nayra tersenyum senang, "Ok klo gitu ke rumah gue."
Terlihat Aska mengepalkan tangannya menahan kesal, ia selalu berupayah agar Nayra menaruh perasaan pada dirinya namun itu begitu sulit.
"Liat aja Nay, gue bakal buat lu jatuh cinta sama gue," batin Aska.
"Fine! Kita pulang," ajak Aska yang membuat Nayra terkejut tidak percaya.
"Pulang ke rumah gue?" Tanya Nayra memastikan.
"Iya ayo!" Aska tersenyum menyeringai.
Nayra tampak senang mendengar ajakan Aska yang sebenarnya sulit dipercaya. Dan keduanya pun pergi menuju parkiran.
Dalam perjalanan Nayra tidak mau memperhatikan Aska jadi ia terus memperhatikan dijendela melihat-lihat sekitar.
"Humm... Aska," panggil Nayra pelan.
Aska menoleh sekilas, "kenapa?"
"Gue rasa lu salah jalan," ucap Nayra sembari memperhatikan sekitar.
"Bener kok, ini cuma motong jalan soalnya jalan biasa lagi macet," ungkap Aska sambil tersenyum miring.
"Lu bohong!" Bentak Nayra yang sudah melirik Aska.
"Diem Nay, kenapa muka lu panik gitu sih hahaha," Aska yang melihat raut wajah Nayra hanya bisa tertawa senang.
"Lu jangan main-main sama gue!" Seru Nayra kesal.
Nayra kembali memperhatikan sekitar dan memang semua terlihat asing baginya, selama Nayra tinggal didaerah rumahnya tidak pernah ada jalan lain untuk potong jalan seperti yang dikatakan Aska.
Sesekali Nayra mencoba membuka pintu mobil namun terkunci bahkan kaca mobilnya pun tidak bisa diturunkan. Nayra ingin berteriak percuma saja.
Aska tidak henti-hentinya menahan tawa melihat tingkah Nayra, "Udah diam aja Nay, lu bakal seneng kok."
"Maksud lu apaan sih?!" Seru Nayra.
__ADS_1
"Bawa gue pulang ke rumah... Sekarang!"
Bersambung....