Aku Bukan Siapa-siapa

Aku Bukan Siapa-siapa
Hamil Kah???


__ADS_3

Keesokan paginya, Alsava terbangun dan langsung berlari ke kamar mandi.


Hoek... Hoek... Hoek...


Mendengar suara muntah Nufail terbangun, lalu melihat sekeliling ia tidak menemukan sang istri.


Hoek... Hoek... Hoek...


Nufail langsung berlari kekamar mandi.


"Sayang, kamu kenapa?." Nufail panik, ia memijat leher dan bahu Alsava.


"Aku ngga tau, Bay. Rasanya mual sekali." Alsava lemas dan ia tidak sadarkan diri.


"Sayang, Alsava. Kamu kenapa?." Nufail menepuk pipi Alsava. Nufail langsung menggendong Alsava.


"Umi, Papa, Mama, Opa, Oma... Alsava pingsan." Teriak Nufail sambil mengendong Alsava.


"Ya Allah, apa yang terjadi nak?." Umi memegangi pipi Alsava.


"Tadi Alsava muntah-muntah dan pingsan." Kata Nufail.


"Ya udah cepat bawa kerumah sakit." Perintah Mama Savara.


"Biar gue aja yang nyetir." Bang Alvan tangannya sudah memegang kunci mobil.


Nufail dan Bang Alvan langsung ke mobil, tetap Alsava dalam gendongan Nufail. Lalu mereka masuk ke dalam mobil.


Setelah Nufail dan Alsava masuk, bang Alvan melajukan mobilnya.


"Sayang, bangun. Jangan bikin aku khawatir." Nufail mengelus pipi Alsava.


"Tenang Alsava ngga apa-apa, gue yakin itu. Dia itu kuat." Bang Alvan melirik ke spion.


"Gue tau dia orangnya kuat, tapi gue ngga tega melihat dia seperti ini." Tiba-tiba airmata Nufail menetes.

__ADS_1


"Ya Allah, begitu cintanya loe sama adik gue. Gue jadi lega melepaskan buat loe, Alsava sangat beruntung mendapatkan suami seperti loe. Sangat mencintai Alsava." Kata Bang Alvan dalam hati.


Alsava membuka matanya.


"Ini dimana?." Alsava lirih.


"Sayang, akhir kamu bangun juga." Nufail senang dan memeluk Alsava.


"Kamu kenapa menangis, Bay?." Alsava dalam keadaan lemas, kaget melihat Nufail menangis.


"Aku takut kamu kenapa-napa, yank." Nufail memeluk erat Alsava.


"Aku ngga apa-apa, tadi cuma lemas doang " Alsava melepas pelukan Nufail.


"Tapi tetap aja kita harus kerumah sakit." Nufail kekeh membawa Alsava kerumah sakit.


"Ngga mau, aku udah mendingan." Alsava menolak.


"Al, loe harus tetap periksa kerumah sakit. Asal loe tau laki loe itu sangat khawatir banget, waktu loe pingsan dia menangis seperti perempuan." Ucap Bang Alvan mengejek Nufail.


"Wajar dong gue khawatir, Alsava kan bini gue. Teman sehidup semati." Nufail merangkul Alsava.


Tibalah mereka di rumah sakit.


"Kalian kedalam aja dulu, nanti gue nyusul." Bang Alvan menurunkan Nufail dan Alsava di loby rumah sakit.


"Sip." Kata Nufail mengacungkan jempolnya.


Nufail dan Alsava masuk dan langsung menuju rumah sakit.


Alsava langsung di periksa tanpa pendaftaran, karena sebelum berangkat Opa sudah menelpon pihak rumah sakit.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Nufail, ketika Dokter Windi keluar dari ruang periksa.


"Tidak ada penyakit serius, lebih baik tuan langsung ke Dokter kandungan." Jawab Dokter Windi sebagai dokter umum.

__ADS_1


"Loh! kok ke dokter kandungan, emang istri saya ada penyakit apa sampai kedokter kandungan?." Nufail bingung.


"Ini baru perkiraan saya, nyonya sedang mengandung. Lebih detailnya kalian periksa, ini saya sarankan ke Dokter Chelsea. Dokter Kandungan paling bagus disini." Dokter Windi menjelaskan.


"Benarkah. Ya Allah, terimakasih. Baik dok, saya dan istri saya langsung ke Dokter Chelsea." Nufail senang.


Nufail masuk keruang periksa dan melihat Alsava berbaring.


"Sayang, terimakasih." Nufail mencium kening Alsava.


"Dokter tadi menjelaskan apa dan kenapa kamu berterimakasih?." Alsava bingung.


"Bentar lagi kita menjadi orangtua, sayang. Tapi kita periksa dulu ke dokter kandungan lebih yakinnya." Nufail tersenyum dan mengelus rambut Alsava.


"Benarkah, Alhamdulillah akhirnya aku bisa mengandung, aku jadi seorang ibu." Alsava menangis bahagia.


"Yuk, kita ke Dokter Chelsea." Nufail mengajak Alsava.


"Tapi, Bay. Kalau aku ngga hamil gimana?." Alsava takut kalau nanti di periksa tidak hamil. Ia meragukan.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Hayo!!! Tebak Alsava hamil atau ngga???.


__ADS_2