
Abbas sudah kembali ke Villa pertemuan dengan Papi Mario membuatnya senang, tapi dia juga memikirkan apa yang di bilang Papi Mario. Lalu menghubungi sekretaris Roy.
"Ternyata Nufail dan Alsava mau bekerja sama dengan gue, tapi gue harus bagaimana jika ketemu dengan mereka. Jujur gue sangat malu bila bertemu dengan mereka, karena perbuatan istri dan nyokap gue." Kata Abbas memegang keningnya.
"Begini, Tuan. Saran saya terima aja, mereka itu pengusaha tersukses dan juga jarang-jarang mereka yang sendiri mengajukan kerjasama, padahal mereka itu susah di ajak kerjasama. Terima aja, Tuan. Nanti saya akan buatkan proposal dan dokumen-dokumen yang lain." Kata Sekretaris Roy.
"Baiklah loe urus, bila udah selesai. Kita temui mereka, Oia satu lagi loe kerumah sakit yang nyokap gue di rawat buat nyokap gue lumpuh dan pasung dia. Biar dia jera."
"Sadis banget, Tuan. Nyonya Siska kan ibu kandung Tuan, apakah ngga takut dosa?."
"Justru dosa dia udah banyak, makanya gue hukum dia agar dia bisa sadar. Udah loe urus semua, nanti kabarin gue secepatnya kalau udah kelar." Abbas langsung mematikan sambungan telpon.
"Dasar bos luknat main matiin telpon." Sekretaris Roy menggeleng-geleng.
Sekretaris Roy menuju rumah sakit jiwa, ia membawa beberapa pengawal.
Tak lama kemudian, Sekretaris Roy tiba di rumah sakit dan langsung menemui Dokter Alex yang menangani Mami Siska.
"Dok, ini suntikan untuk Nyonya Siska dan tuan Abbas ingin Nyonya Siska di pasung." Sekretaris Roy memberikan paper bag. Sebelum Sekretaris Roy tiba di rumah sakit, Abbas sudah memberitahu kepada pihak rumah sakit.
"Apakah tuan Abbas sudah yakin?." Dokter Alex menegaskan.
"Sudah sangat yakin, udah lakukan pekerjaan dokter dan jangan banyak tanya. Uangnya sudah di transfer langsung dari tuan Abbas." Perintah Sekretaris Roy kepada Dokter Alex.
"Oke kalau gitu, saya akan laksanakan. Kalian bisa melihatnya." Dokter Alex menjadi semangat.
"Dasar nih orang kalau dengar duit langsung semangat, dasar dokter matre." Batin Sekretaris Roy.
Mereka sama-sama ke kamar Mami Siska.
__ADS_1
"Aarrgghhh... brengsek kamu Abbas, aku ibu kandung kamu. Kenapa kamu tega sama Mami di masukan kesini lagi?Mami ngga gila." Mami Siska melempar semua barang di meja.
"Ya Ampun, itu wanita iblis tambah gila. Pantas Tuan Abbas memberi dia hukuman." Sekretaris Roy melihat tingkah laku Mami Siska yang semakin menggila.
"Yah seperti itu Nyonya Siska, pertama kali datang udah ngamuk-ngamuk. Udah beberapa piring dan gelas yang dia banting." Dokter Alex menceritakan.
"Cepat kalian pegang tangan Nyonya Siska, gue ngga bisa lama-lama." Sekretaris Roy memerintahkan pengawalnya.
"Baik, Bos." Serentak.
"Mau ngapain kalian... Jangan pegang-pegang." Mami Siska berontak.
"Maaf Nyonya harus di suntik dulu biar cepat sembuh." Bujuk Sekretaris Roy.
"Roy, saya ngga sakit... Tolong lepaskan saya Roy... Saya ingin ketemu Abbas." Mami Siska berusaha melepaskan tangan pengawal.
"Makanya Nyonya harus di suntik dulu, nanti ketemu sama Tuan." Bujuk Sekretaris Roy.
"Aarrgghhh... Ssaakkiitt." Teriak Mami Siska dan badannya lemas.
"Pasung dia." Perintah Sekretaris Roy.
"Baik, Bos." Serentak pengawal.
Dalam keadaan lemas Mami Siska di pasung.
"Semoga Nyonya cepat sadar dan bertaubatlah." Kata Sekretaris Roy, lalu pergi meninggalkan Mami Siska.
"Halo, Tuan. Urusan Nyonya Siska sudah beres." Sekretaris Roy menelpon Abbas.
__ADS_1
"Bagus, sekarang loe urus proposal dan dokumen-dokumen." Kata Abbas di seberang telpon.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Mami Siska tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya dan mau bicara aja susah.
"Hiks... Hiks... Hiks... Abbas kamu tega membuat Mami seperti ini, kamu anak kandung Mami kenapa tega sama Mami." Kata Mami Siska dalam hati.
"Nyonya, Maafkan saya berbuat seperti ini. Karena ini sudah perintah dari Tuan." Kata Dokter Alex merasa kasihan melihat Mami Siska.
Mami Siska hanya bisa melototi Dokter Alex.
"Benar kata Sekretaris Roy, dia wanita iblis. Melihatnya melotot membuat ku merinding. Lebih baik aku pergi aja, dari pada lama-lama disini." Batin Dokter Alex.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan Lupa Like, Vote dan Komentarnya ya...
__ADS_1
See you... πππ