Aku Bukan Siapa-siapa

Aku Bukan Siapa-siapa
Pilihan Abi


__ADS_3

Khumaira menyerahkan ponselnya ke Abi.


"Astaghfirullah... ini benaran kamu Nak Albert?." Abi Khumaira memberikan Ponsel Khumaira ke Albert.


"Ini pasti editan, aku tidak pernah melakukannya. Aku berani sumpah." Albert mengangkat tangannya.


"Cih... Jangan suka bersumpah, nanti celaka sendiri. Lagi pula buat apa aku mengedit-edit foto orang yang suka main perempuan atau mabuk-mabukan, lebih baik aku edit foto diri ku sendiri. Dasar orang aneh." Khumaira sinis.


"Aira, kamu jangan bicara seperti itu. Umi sama Abi tidak pernah mengajarkan berbicara seperti itu." Kata Umi, ia tidak mau Khumaira berbuat kasar kepada orang lain.


"Maaf Umi, bis aku tidak suka udah ketahuan salah malah tidak mau mengakuinya dan dia malah bersumpah." Khumaira menunduk dan memainkan ujung Hijabnya. Abbas melihat Khumaira ingin rasanya memegang tangannya.


"Disini Abi yang akan memutuskan siapa yang akan menjadi suami Khumaira, tapi sebelumnya Abi akan mengetes kalian berdua dulu. Agar Abi tidak salah pilih." Kata Abi, ia menatap Abbas dan Albert.


"Nak Albert, engkau anak Ustad kondang di kota ini dan juga anak dari sahabatku. Aku ingin menanyakan bila nanti Khumaira bukan jodohmu, apa yang kamu lakukan?Dan apa yang kamu lakukan bila Khumaira sudah menjadi istrimu nanti?." Tanya Abi Khumaira kepada Albert.


"Aku akan tetap memperjuangkan sebelum Khumaira menikah dengan orang tersebut dan bila Khumaira menjadi istriku aku akan memanjakan dia, membahagiakan dia dan menuruti keinginannya." Albert bangga dengan jawabannya.


"Mmm, oke." Abi Khumaira tersenyum.


"Kau Nak Abbas, kau pria yang baru ku kenal. Aku tidak tau seluk beluk tentang dirimu, tapi saya akan tetap menanyakan ke kamu dengan pertanyaan sama dengan nak Albert... Aku ingin menanyakan bila nanti Khumaira bukan jodohmu, apa yang kamu lakukan?Dan apa yang kamu lakukan bila Khumaira sudah menjadi istrimu nanti?." Tanya Abi Khumaira ke Abbas.


"Baik, Pak. Bismillahirohmanirohim... Bila Khumaira bukan jodoh saya, saya akan mencoba mengikhlaskan Khumaira dengan pria tersebut dan saya akan mendoakan kebahagiaan Khumaira dan suaminya. Dan Bila Khumaira menjadi istri saya, saya akan berusaha membahagiakannya. Walau saya tidak bisa memberikan keturunan, tapi saya tetap akan berusaha membahagiakannya dan saya akan menjadikan Khumaira menjadi istri yang soleha, begitu juga dengan Khumaira menjadikan saya suami yang Soleh. Karena kami sama-sama belajar menuju jalan Allah." Ucapan Abbas membuat Khumaira bangga, di balik cadarnya. Khumaira tersenyum.


"Abi sudah menemukan calon buat Khumaira, untuk siapa yang tidak terpilih Abi mohon berlapang dada dan menerimanya dengan Ikhlas." Kata Abi Khumaira.

__ADS_1


"Aku siap, Bi." Kata Albert.


"Insya Allah, saya Ikhlas. Pak." Kata Abbas.


Abi Khumaira berjalan menuju Albert dan memeluknya. Albert merasa senang, ia kira Abi Khumaira memilihnya. Khumaira nampak sedih dan ia memeluk Uminya.


Abbas berdiri, ketika Abbas ingin berpamitan Abi Khumaira memanggilnya.


"Nak Abbas, mau kemana?." Tanya Abi Khumaira.


"Saya pamit undur diri, saya sudah ikhlas Khumaira bersama Albert. Pak." Kata Abbas, walau hati terasa sakit. Tapi ia berusaha ikhlas.


"Nak Abi belum menentukan siapa yang menjadi suami Khumaira."


"Mmm... Oke, Nak Albert. Abi pribadi minta maaf tidak bisa memilih mu, titip salam maaf kepada kedua orangtua mu. Abi tidak bisa memilih kamu menjadi menantu ku." Abi Khumaira memegang bahu Albert, sedangkan Albert mengepal kedua tangannya. Ia menatap Abbas penuh kebencian.


"Sial, gue tidak bisa mendapatkan Khumaira. Tapi gue ngga akan menerima ini, gue akan berusaha mendapatkan Khumaira bagaimana pun caranya." Kata Albert dalam hati.


"Alhamdulillah... Apa Bapak benaran menerima saya menjadi menantu, walau saya ini mandul." Kata Abbas, ia merasa senang.


"Selamat ya, Tuan." Sekretaris Roy turut senang.


"Iya, Nak. Jangan panggil Bapak, panggil saja Abi Umi seperti Khumaira memanggil kami." Kata Abi Khumaira.


Albert merasa di cuekin, lalu ia pergi dengan kesal.

__ADS_1


"Baik, Pak... Eh! Abi." Abbas menggaruk kepala yang gatal.


"Hahaha... entar juga kamu terbiasa. Oia, segera bawa orangtua mu menghadap Abi dan Umi." Abi Khumaira menepuk pundak Abbas.


"Mami saya sedang sakit, Papi kandung saya entah kemana?." Abbas menunduk sedih.


"Tidak apa-apa, Nufail juga sudah menceritakan semuanya. Dan ternyata pilihan Nufail tidak salah." Kata Abi.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan Lupa Like, Vote dan Komentarnya.

__ADS_1


__ADS_2