
Setelah semuanya rapi, mereka pun bergegas menuju bandara. Karena keluarga lain dan para sahabat sudah disana.
Bandar Udara Heathrow
"Lama amat mereka, jangan-jangan malah lupa lagi." Umi Aisya duduk di kursi tunggu.
"Sabar jeng, mungkin jalan sedang macet." Kata Mama Savara.
Tak lama kemudian, Alsava dan Nufail datang.
"Nah itu mereka." Mama Savara menunjuk.
"Ck, mereka kagak malu napa pake gendong-gendong gitu. Bikin sensasi aja." Kata Abang Alvan sinis.
"Namanya juga pengantin baru, nanti Abang sana Reina juga merasakan." Goda Icha. Membuat Bang Alvan dan Reina salah tingkah.
"Ish! apaan sih loe." Reina menyenggol tangan Icha dan pipinya merah merona.
"Hahaha... Kalian lucu." Icha malah tertawa kencang, membuat semua orang menatapnya.
"Berisik banget sih loe." Reina membekap mulut Icha.
"Hai, maaf kita terlambat. Biasalah pengantin baru selalu pengennya bertempur dulu." Ucap Nufail membuat Alsava malu.
"Wah! gila tuh... Adik gue udah kaya macan tutul." Goda Bang Alvan.
"Ish! Kalian ini, udah cepat. Pesawat sudah mau berangkat." Kata Mama Savara.
Mereka menaiki pesawat pribadinya Nufail fasilitasnya lebih wow. Raja Arab aja kalah.
__ADS_1
"Welcome In Indonesian." Teriak Bang Alvan ketika sudah sampai di bandara Soekarno-Hatta.
"Berisik tau bang." Alsava memukul bahu Bang Alvan.
"Tau kaya orang norak aja." Nufail sinis.
"Biarin, ya. Beb Reina." Bang Alvan merangkul Reina.
"Cie... Udah terang-terangan nih." Goda Icha.
"Bilang aja iri, noh! sama temannya raja onta. Kalau loe bisa. Hahaha..." Bang Alvan gantian menggoda Icha.
"Ish! kamu jangan kaya gitu." Reina memukul tangan Bang Alvan.
"Kalian ini selalu berdebat, sudah masuk ke mobil yang sudah tersedia." Kata Papa Alven yang pusing mendengar ocehan anak-anaknya.
"Siap pak, boss." Serentak.
Papi Mario sudah menyediakan 10 mobil mewah untuk menjemput mereka.
Icha menjadi salah tingkah duduk berdekatan dengan Khaliq, cowok keturunan Arab dan pastinya ganteng, tinggi lagi. Membuat Icha klepek-klepek.
"Nama kamu Icha kan, sahabat dari Alsava?." Khaliq membuka suara.
"Eh! Iya, loh! Loe bisa bicara bahasa Indonesia?." Icha terkejut Khaliq bisa bicara Indonesia.
"Iya, soalnya Umi ku orang Aceh, Abi orang Arab tulen." Kata Khaliq tersenyum.
^^^"OMG, ini Onta bisa tersenyum. Gue kira dia manusia kulkas dari Inggris sampai Bandara Soekarno Hatta diam aja kagak ngomong apa-apa, tapi ganteng juga kalau tersenyum." Batin Icha meronta.^^^
__ADS_1
"Woi! Malah melamun, naksir ya sama aku." Ucapnya pede.
"Jangan kegeeran loe, orang gue lagi lihat tadi ada tukang cilok. Gue udah lama ngga makan itu." Icha bohong, sebenarnya jantungnya dag-dig-dug.
"Masa?. Tapi muka kamu merah tuh." Khaliq menowel pipi Icha, membuat empunya semakin memerah wajahnya.
"Ish! Apa-apan sih. Ini tangan tolong dikondisikan." Icha memukul pelan tangan Khaliq.
"Cie... Udah berani megang tangan aku nih ceritanya." Khaliq malah terus menggoda Icha, menurutnya Icha sangat lucu dan menggemaskan.
"Tau ah!." Icha mengerucutkan bibirnya.
"Hahahaha... Marah nih sekarang, kamu sangat menggemaskan." Khaliq menarik pipi Icha.
"Aauuww... sakit tau, nanti pipi gue bisa melar gimana?Gue kan ngga cantik lagi." Icha kesal.
"Tapi bagi aku tetap cantik kok." Kata-kata Khaliq membuat Icha salah tingkah dan senang.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Aku istirahat dulu ya... tunggu kisah selanjutnya. Apa Abbas langsung bangun dari tidur panjangnya atau malah sebaliknya?. Penasaran 🤔🤔🤔 Tunggu aja ya... See you...😘😘😘