
Abbas menelfon Nufail untuk memberi kabar atas terpilihnya menjadi calon suami Khumaira.
"Assalamualaikum, Bro."
"Wa'alaikumsalam, gimana sukses ngga loe?."
"Alhamdulillah, kita akan jadi saudaraan."
"Alhamdulillah, gimana ceritanya sampai Om gue menerima loe?."
Abbas menceritakan semuanya kepada Nufail.
"Hahaha... andai aja gue ada disana. Gue akan buat malu dia, tapi gue saranin hati-hati ntuh sih onta somplak ngga akan menerima dan akan membuat perhitungan. Jadi nanti loe dan Khumaira lebih baik menikah di Indonesia aja, nanti gue kasih tau Om gue. Demi kebaikan kalian, tapi tenang aja gue akan suruh anak buah gue menjaga kalian. Dia tidak akan berkutik kalau gue udah turun tangan."
"Oke lah kalau begitu, terimakasih ya. Loe selama ini udah banyak membantu gue, entah gue harus balas loe dengan apa."
"Ck, lebay loe. Gue hanya minta jaga baik-baik itu adik gue dan jangan pernah loe sakitin, kalau loe berani nyakitin dia. Loe akan berurusan dengan gue."
"Hahaha... Iya-iya, Insya Allah. Gue ngga akan pernah sakiti wanita lagi, gue udah taubat. Bro."
"Bagus lah, kalau gitu. Udah dulu ya, gue mau nyuapin bini gue, Assalamualaikum."
"Mmm... Wa'alaikumsalam."
Sambungan telpon terputus, setelah menelpon Nufail. Abbas kembali lagi kerumah Khumaira. Abbas dan Sekretaris Roy menginap di samping rumah Khumaira, rumah yang Abbas dan Sekretaris Roy itu milik Nufail.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, Eh! Nak Abbas ada apa?." Kata Abi hendak keluar.
"Begini, Bi. Tadi Abbas menelpon Nufail tentang aku terpilih menjadi calon suami Khumaira, Nufail menyarankan aku dan Khumaira menikah nanti di Indonesia saja. Demi keselamatan kita semua, Bi."
__ADS_1
"Abi juga tadi maunya seperti itu, makanya tadi Abi berniat menghampiri kamu."
"Ternyata kita memang di jodohkan sebagi menantu dan mertua ya, Bi. Hehehe..."
"Hahaha... Iya, Nak. Oia, gimana kalau lusa kita berangkat ke Indonesia. Sekalian Abi ingin menengok ke 4 cucu kembar Abi dan Umi."
"Ah! Baiklah, Bi. Aku akan mengurusnya." Abbas terlihat senang.
"Tidak usah, kita akan naik Jet pribadi Nufail. Abi nanti menghubungi Nufail untuk mempersiapkan semuanya, nanti kita akan berangkat."
"Siap, Bi. Aku yang akan menghubungi lagi Nufail."
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Umi Aisyah tidak bisa tidur, karena sebentar lagi Alsava sudah boleh pulang dan berarti dia akan menjawab lamaran Papi Mario. Umi Aisyah nampak gelisah.
"Ya Allah, aku harus bagaimana?Kenapa aku menjadi gelisah seperti ini?."
"Jujur aku masih mencintai Mas Adam dan tidak mau melupakannya, tapi semenjak bertemu kembali dengan Mario perasaan di masa lalu yang sudah aku kubur, sekarang muncul lagi dan perasaan ku kepada Mas Adam lama-lama pudar. Aku tidak mau melupakan Mas Adam, dia lah yang sudah membuat ku bahagia dan memulai hidup dengan baik. Rasa gelisah ini sangat menyiksa ku, aku bingung dengan diri ku ini. Di satu sisi aku ingin menerima Mario, disisi lain aku masih mencintai Mas Adam dan aku ngga mau melupakan Mas Adam."
Setelah Sholat Istikharah, Umi Aisyah berdoa.
"Ya Allah, apa yang harus ku perbuat?perasaan gelisah ini sangat menyiksa ku, aku serahkan semuanya kepada Mu, ya Rob. Aku mohon petunjuk Mu, kalau memang Mario jodoh hamba. Insya Allah hamba akan menerima dan hamba akan berusaha menjadi istri soleha, kalau tidak biarkan kami tetap menjadi saudara dan tetap menjalani hidup kami dengan rukun. Mas Adam maafkan aku yang telah mencintai laki-laki lain, aku bukan bermaksud melupakan mu. Tapi perasaan ini tiba-tiba hadir kembali menjadikan aku gelisah, bimbang dan bingung harus apa?. Aku sekarang hanya bisa mendoakan mu yang terbaik."
Umi Aisyah melipat mukena dan sajadah. Lalu, naik keranjang. Kemudian, Umi Aisyah memejamkan matanya.
Pria tampan dan bersinar menggunakan Koko dan sarung menghampiri Umi Aisyah.
"Assalamualaikum, Umi."
"Wa'alaikumsalam, Mas Adam." Umi Aisyah terkejut. Pria baya itu adalah Abi Adam.
__ADS_1
"Iya, Umi ini aku." Abi Adam tersenyum.
"Mas... Hiks... Hiks... Hiks... Maafkan aku." Umi Aisyah tiba-tiba menangis.
"Umi, sudah jangan menangis. Waktu Abi hanya sebentar, Abi akan menjelaskan semuanya kepada Umi."
"Menjelaskan apa?."
"Maafkan Abi telah menutup semuanya, itu Abi lakukan karena Abi sangat mencintai Umi, Abi takut kehilangan Umi. Mario pernah bertemu Abi menjelang pernikahan kita dan dia berniat kembali kepada mu dan menceritakan pernikahan dengan Siska hanya bentuk tanggung jawab, Abi terpaksa berbohong kalau Abi telah menghamili Umi. Agar Mario tidak mengganggu di pernikahan kita nanti, saat itu Mario sangat kecewa dan memukul Abi hingga Abi babak belur. Tapi Mario pun menyerahkan Umi sepenuhnya buat Abi dan berjanji tidak akan mengganggu lagi. Maafkan Abi... Ini saatnya Abi menembus dosa Abi kepada Umi, Abi sudah ikhlas Umi bersama Mario. Terimalah dia sebagai pengganti Abi, Mario orang baik. Waktu Abi sudah Abis,, sekali lagi maafkan Abi, terimalah Mario menjadi pengganti Abi. Dia yang akan membahagiakan Umi, selamat tinggal Umi. Assalamualaikum." Abi Adam menghilang.
Umi Aisyah membuka matanya.
"Astaghfirullah, itu mimpi jelas banget. Mas Adam... Hiks... Hiks... Hiks... Terimakasih engkau sudah mau menjadi suami yang baik buat ku, Insya Allah aku akan menerima Mario dan aku sudah memaafkan mu. Semoga kamu tenang disana dan di tempatkan surga Allah. Amiin Ya Robbal'alamin."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan Lupa Like, Vote dan Komentarnya ya...b
See you... ππππ