
Abbas sangat posesif semenjak Khumaira dinyatakan hamil, ia melarang Khumaira pergi kemana-mana dan tidak melakukan pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab seorang wanita yang sudah berumah tangga. Karena ini debay paling sangat di harapkan Abbas.
Khumaira merasa bosan, jenuh dan beberapa kali menghela napas, ia ingin menikmati suasana luar rumah.
"Mas, aku bosan di rumah terus dan tidak melakukan apa-apa. Aku ingin ke taman menikmati es krim, boleh ya. Aku kan lagi hamil, ingin suasana berbeda bukan di rumah aja. Please boleh ya." Khumaira dengan mimik wajah imutnya. Abbas menelan silvana, ia selalu menahan hasratnya. Karena demi sih debay.
"Mas, kok diam aja sih." Khumaira menggoyangkan tangan Abbas.
"Baby, kamu kan sedang hamil. Aku ngga mau kamu kenapa-napa, kamu tau sendiri kan kalau bayi ini aku sangat harapkan dari dulu." Abbas membelai wajah Khumaira.
"Oh! Jadi kamu cuma peduli dengan bayi ini dan kamu tidak peduli sama aku, asal kamu tau ya. Sifat kamu yang seperti membuat aku merasa bosan dan jenuh di rumah tidak melakukan apa-apa, aku ini cuma hamil mas. Bukan orang sakit, aku tau bayi ini yang kamu harapkan. Tapi jangan kaya gini juga dong, dulu Ukhti Alsava hamil bisa keluar rumah dan menikmati suasana di luar. Malah Ukhti Alsava hamil 4 anak sekaligus, abang Nufail selalu menuruti permintaan Ukhti Alsava yang penting mas itu menjaganya dan selalu mengikuti apa yang di inginkan ibu hamil seperti ku. Kamu mau nanti anak mu lahir tidak tau dunia luar itu seperti apa dan kamu mau anak mu ileran, karena tidak mau menuruti permintaan ibu hamil. Oke kalau itu yang kamu mau, aku turuti. Tapi jangan salahkan aku bila anak mu lahir minim tentang dunia luar dan ileran yang akan menjadi ejekan orang-orang." Emosi Khumaira memuncak, lalu ia pergi masuk kamar dan menutup pintu kamar dengan keras.
Bbrraakkk
"Astaghfirullah, Baby. Bukan itu yang ku maksud... Aarrgghhh... Kenapa jadi begini sih." Abbas menarik rambutnya dengan kasar. Lalu menghampiri Khumaira.
Tok
Tok
Tok
"Sayang, Baby, manisku, istriku. Please buka pintunya." Abbas mengetuk pintu.
"Aku ngga mau, aku muak melihat mas seperti ini. Biarkan aku menjadi tahanan mu, agar kamu puas. Kalau tau seperti ini aku tidak mau hamil... hiks... hiks... hiks..." Kata Khumaira air mata membasahi pipinya.
"Baby, kamu jangan bicara seperti itu... Oke-oke aku minta maaf dan... huh! Aku ijinkan kamu keluar rumah, tapi kamu harus tetap sama aku kalau perginya. Please buka ya pintunya." Abbas mengalah, ia takut emosi Khumaira tambah naik yang akan mengakibatkan bayinya kenapa-napa.
"Bohong, aku ngga percaya."
"Ya Allah, Baby. Ini beneran, aku akan mewujudkan apapun keinginan kamu. Buka ya, pintunya."
Ceklek
Pintu dibuka.
"Benar, Mas ngga bohong. Apapun yang aku minta akan kamu turuti?."
"Iya, Baby."
"Oke, yang pertama ubah panggilan ku. Aku geli mendengarnya, panggil aku Aira sayang."
"Oke-oke, terus apa?."
"Aku mau pergi jalan-jalan keluar."
"Ya udah, yuk."
"Tunggu tapi aku yang menyetir."
__ADS_1
"No, kalau itu. Aira sayang."
"Tidak ada penolakan."
Khumaira melototi Abbas.
"Huh! Baiklah."
"Kita ganti baju dulu."
"Siap Nyonya."
Mereka berganti pakaian.
Di tempat lain
Mami Siska dan Suster Dyah selalu adu mulut.
"Ibu Siska... Ibu ini sudah tua, apakah ibu tidak cape menjadi orang jahat selama ini?Lihatlah orang-orang yang dulu ibu sayangi sekarang pergi menjauh dan melupakan ibu disini, bertaubatlah Bu. Mumpung masih ada waktu, ibu lihatkan bagaimana kematian Eliana itu bagaimana?Eliana dulu wanita jahat seperti ibu, ia langsung bertaubat dan meninggal sedang sholat. Subhanallah, jangan sampai ibu belum bertaubat tapi Allah sudah memanggil mu." Kata-kata Suster Dyah sangat menyusuk dihati.
Mami Siska menundukkan kepala mengingat apa yang dia lakukan selama ini, air mata pun keluar.
"Ya Allah, sungguh berdosanya aku. Pantaskah aku memohon ampun?." Mami Siska menatap Suster Dyah dengan sedih.
"Tenang, Bu. Allah itu Maha Pemaaf, mari aku bantu ibu untuk memohon ampun kepada Allah." Suster Dyah memegang bahu Mami Siska.
"Benarkah?Tolong saya, saya tidak mau masuk api neraka. Semalam aku mimpi berada di daerah yang sekeliling ku hanya Api, semua orang berteriak minta tolong. Semua orang tertelan kolam api yang besar... Hiks... Hiks...Hiks... Tolong ibu, nak. Bantu ibu bertaubat." Mami Siska memohon.
"Iya, nak. Terimakasih."
Suster Dyah melepas ikatan yang ada di tangan dan Kaki Mami Siska.
"Mari, Bu. Saya bantu, ibu melakukan mandi dan berwudhu."
"Iya, Nak."
Suster Dyah dengan telaten membantu Mami Siska Mandi dan berwudhu, setelah selesai Mami Siska berpakaian yang sudah di siapkan Suster Dyah, yaitu pakaian syar'i. Mami Siska terlihat cantik menggunakan pakaian syar'i, walau tidak di poles.
"Subhanallah, ternyata ibu Siska cantik kalau seperti ini." Puji Suster Dyah.
"Benarkah?." Mami Siska malu-malu.
"Benar, ibu. Ya udah, kita sholat dulu. Ibu bisakan bacaan sholat dan niatnya?."
"Bisa, tapi ada yang lupa-lupa sedikit."
"Oke, bu. Ngga apa-apa, sekarang ibu hanya mengikuti saya aja. Ya."
"Iya, nak."
__ADS_1
Mereka melakukan Sholat saat ini sudah waktunya sholat Dzuhur.
Tak lama kemudian mereka selesai sholat Dzuhur.
"Alhamdulillah, kita telah usai sholat Dzuhur. Oia, ibu saya ada kabar gembira buat ibu."
"Apa itu, nak."
"Mmm... Tuan Abbas akhirnya bisa memiliki anak, saat ini istrinya nyonya Khumaira sedang hamil anaknya tuan Abbas."
Mami Siska terdiam tanpa ekspresi apa-apa.
"Bu, aku tau berita ini mungkin tidak ada hubungan sama ibu. Aku tau ibu sangat membencinya."
"Bukan begitu, nak. Ibu tidak tau harus berbuat apa, sedih atau senang. Karena di satu sisi ibu masih tidak percaya, Abbas kan di vonis mandul dan ibu takut Abbas di bohongi lagi. Di satu sisi Ibu senang kalau anak itu Benar-benar anak kandungnya Abbas."
"Ibu ngga perlu berpikir seperti itu, karena wanita yang di nikahi tuan Abbas adalah wanita sholeha dan Nyonya Khumaira itu bercadar. Lagi pula Nyonya Khumaira merupakan adik sepupu dari Tuan Bos Nufail."
"Benarkah?Dunia memang sempit, jodoh hanya berputar sekitar situ-situ aja."
"Benar, Nyonya. Bukannya anda sudah melihatnya di televisi?."
"Hehehe... Saya lupa, maklum sudah tua."
"Iya-iya, ibu memang sudah tua. Tapi Alhamdulillah ibu sudah mau bertaubat, serahkan semuanya kepada Allah."
"Iya, Nak. Terimakasih sudah mau peduli dengan wanita tua seperti saya, maaf kalau selama ini saya menyusahkan kamu."
"Tidak apa-apa bu."
.
.
.
.
.
.
.
.
ππππSelamat Tahun Baru 2022πππ
Jangan lupa like, vote dan Komentarnya ya...
__ADS_1
See You ππππ