Aku Bukan Siapa-siapa

Aku Bukan Siapa-siapa
Keputusan Papi Mario


__ADS_3

Papi Mario kembali ke Indonesia.


"Keputusan ku sudah bulat." Papi Mario baru tiba di Bandara Soekarno-Hatta.


Papi Mario langsung masuk ke dalam taxi, karena ia tidak akan menghubungi Abbas atau istrinya. Kalau dia sudah kembali.


"Pak, tolong ke alamat ini ya." Perintah Papi Mario kepada supit taxi.


"Baik, pak." Kata Supir taxi, kemudian mobil melaju ke alamat yang di tuju Papi Mario.


Berapa jam kemudian, tibalah Papi Mario di rumah dulu yang membuat ia bahagia memiliki menantu Alsava.


Dari kejauhan Eliana dan Mami Siska, melihat mobil taxi terpakir di halaman rumah.


"Mi, itu siapa ya?." Tanya Eliana bingung.


"Mami juga ngga tau." Mami Siska mengangkat kedua bahunya.


Papi Mario di dalam taxi ragu, mau keluar atau tidak. Ia terus menatap dua wanita beda generasi itu, ada rasa benci dan muak dengan dua wanita itu.


"Maaf pak, apa bapak mau turun atau lanjut pergi." Kata Supir taxi, menyadarkan Papi Mario yang terdiam menatap keluar.


"Hah! iya, pak. Kita pergi dari sini, tolong antarkan saya ke hotel Ferdinand group." Kata Papi Mario.


"Baik, pak." Supir melajukan mobil.


"Saya tidak akan menyentuh rumah itu, kalau masih ada sih rubah." Batin Papi Mario, ia menyandarkan kepalanya.


"Loh, Mi. Taxi itu malah pergi." Eliana memegang lengan Mami Siska.

__ADS_1


"Mungkin penumpangnya salah alamat." Mami Siska asal jawab.


"Apa itu papi?tapi kenapa dia tidak langsung turun." Kata Mami Siska dalam hati.


"Eliana, Mami ada keperluan. Mungkin pulang akan malam, kamu ngga apa-apakan Mami tinggal?."


"Ngga apa-apa, Mi." Eliana senang.


"Yes, aku bebas. Aku harus memanfaatkan kekayaan Abbas." Batin Eliana dan tersenyum.


"Mi, apa boleh aku belanja?." Eliana dengan wajah malu-malu.


"Boleh dong, sayang. Sekarang kamu sudah tanggungan Abbas, mau sekalian kamu Mami antar ke Mall?." Mami Siska membelai rambut Eliana.


"Ngga, Mi. Biar supir aja yang antar, nanti Mami telat lagi."


"Kamu memang menantu yang baik dan pengertian. Mami pergi dulu, ingat kamu jangan sampai kelelahan." Mami Siska memeluk Eliana dan pergi.


Di sisi lain


Abbas sedang berkutik dengan laptopnya, sekretaris Roy menghampirinya.


"Bos, saya dapat kabar. Bahwa tuan besar Mario sudah kembali, sekarang beliau berada di hotel Ferdinand group." Kata Sekretaris Roy.


"Benarkah, tapi kenapa beliau tidak memberitahu saya." Abbas menghentikan kegiatannya.


"Mungkin Tuan besar Mario ingin memberi kejutan." Pikir sekretaris Roy.


"Baiklah, kamu tolong handle rapat nanti. Saya mau ketemu papi saya dulu." Abbas menggunakan jas dan mengambil ponsel serta kunci mobil.

__ADS_1


"Baik, bos." Sekretaris Roy menunduk.


Abbas keluar dari ruangannya dan menuju pakiran mobil.


"Pi, kenapa ngga memberitahu kalau papi sudah pulang dan kenapa ngga pulang kerumah malah ke hotel." Kata Abbas dalam hati. Ia melajukan mobil menuju hotel.


Papi Mario duduk di balkon sambil menikmati kopi hangat.


"Aku harus cepat membuat keputusan, walau hati ini akan sakit. Siska kenapa kamu berubah menjadi wanita jahat, padahal dulu kamu begitu lembut dan penyayang." Papi Mario sedih.


"Pi, Papi." Teriak Abbas yang baru datang.


"Papi di balkon, Nak." Kata Papi Mario.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2