Aku Bukan Siapa-siapa

Aku Bukan Siapa-siapa
Bingung


__ADS_3

Alsava sedang asyik menyiapkan makan siang. Ia terkejut tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.


"Kangen." Kata Nufail.


"Cepat banget kamu, udah disini aja." Kata Alsava, ia kaget tiba-tiba Nufail memeluknya dari belakang.


"Ngapain juga lama-lama sama ba**ngan kaya dia, mendingan aku lama-lama sama kamu."


"Ngga boleh gitu, ini juga permintaan Papi Mario. Aku tidak mau membuat Papi sedih nanti."


"Iya, Sayang... Wah! udah ada makanan aja nih, kamu pesan?."


"Iya, Babay. Aku sudah memesan sebelum kamu menemui Abbas dan Sekretarisnya."


"Sstt... Kamu yang sebut namanya di depanku. Aku cemburu mendengarnya." Nufail memberi telunjuk ke bibir Alsava.


"Iya, sayang. Kamu tenang aja di hatiku cuma ada nama kamu." Alsava tersenyum.


"So sweet banget sih, istri siapa ini?." Nufail merasa gemas.


"Ya udah kita makan, aku dan anak-anak udah lapar."


"Baiklah."


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Umi Aisyah, Mama Savara dan Oma Anne sedang berkunjung ke kebun buah yang terletak di daerah Bandung.


"Mom, gimana kalau Mario suruh kesini. Biar mereka bisa bersatu, Mom." Bisik Mama Savara ke Oma Anne.


"Benar kamu, mereka kan sama-sama sudah menjadi duda dan janda. Ya udah kamu telpon Mario suruh dia datang kesini." Balas Oma Anne melirik Umi Aisyah yang sedang memetik buah stroberi.


"Baik, Mom." Mama Savara mengambil ponsel di tasnya.


Mama Savara mencari kontak Papi Mario.


"Assalamualaikum, Mario. Apa kabar?." Kata Mama Savara.


"Wa'alaikumsalam, Baik. Kamu dan yang lain gimana?." Papi Mario Di seberang sana.


"Alhamdulillah Baik, Oia. Mommy ingin ketemu kamu, bisakan kesini. Kami sekarang ada di kebun buah yang ada di Bandung."

__ADS_1


"Insya Allah, aku kesana. Setelah urusan disini udah kelar." Kata Papi Mario.


"Jangan lama-lama, kamu sendiri Mommy paling ngga suka menunggu terlalu lama." Kata Mama Savara.


"Baiklah, aku akan segera kesana." Kata Papi Mario.


"Aku tunggu, ya udah. Aku mau meneruskan lagi memetik buah bareng Mommy, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Setelah sambungan telpon usai, Mama Savara mendekati Oma Anne dan Umi Aisyah.


"Mom, oke. Nanti dia akan datang." Bisik Mama Savara. Oma Anne merasa senang.


"Dari tadi aku lihat kalian ini bisik-bisikkan terus, apa sih yang di bahas." Umi Aisyah merasa curiga.


"Ini loh Savara, katanya ada pengusaha yang mau membeli buah-buahan kita dengan harga yang tinggi." Bohong Oma Anne.


"Iya, Syah. Kita akan mendapatkan keuntungan sangat besar." Mama Savara ikut berbohong.


"Benarkah?Siapa pengusaha itu, tapi tumben Mommy menjual buah-buahan ke pengusaha. Biasanya kan Mommy kasih ke para pekerja untuk di jual dan hasilnya buat mereka." Umi Aisyah masih curiga.


"Mommy ingin mendapatkan keuntungan lebih, biar pekerja dapat keuntungan besar." Oma Anne menyakinkan Umi Aisyah.


"Lebih baik kamu bantu aku, untuk mengatur buah-buahan itu biar terlihat indah." Mama Savara merangkul Umi Aisyah.


"Oke, dengan senang hati." Kata Umi Aisyah senang.


Tak lama kemudian, Papi Mario datang.


"Assalamualaikum para wanita cantik-cantik" Sapa Papi Mario.


"Wa'alaikumsalam." Serentak.


"Loh, Mario kok bisa ada disini." Kata Umi Aisyah terlihat bingung.


"Loh, ada Aisyah juga." Batin Papi Mario tampak senang.


"Maaf Mario aku dan Mommy mau ketemu pengusaha yang mau membeli buah, kamu sama Aisyah dulu ya." Mama Savara menggandeng tangan Oma Anne.


"Iya, kalian. Baik-baik disini, ya. Ingat kalian ini belum sah." Goda Oma Anne.

__ADS_1


"Ish, apalagi maksud Mommy?." Kata Umi Aisyah. Mama Savara dan Oma Anne sudah pergi.


Papi Mario tersenyum melihat Umi Aisyah. Dan mereka tampak canggung.


"Aisyah, apa kabar?." Papi Mario mulai dulu pembicaraan.


"Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri gimana?." Umi Aisyah malu-malu.


"Alhamdulillah, baik juga." Kata Papi Mario terus menatap Umi Aisyah.


"Oia, Mas mau minum apa?."


"Ya Allah, kenapa jantung ku berdetak kencang." Batin Papi Mario dan Umi Aisyah.


"Apa aja, Syah."


"Tunggu sebentar aku buatkan." Umi Aisyah menuju ruangan. Lalu, ia keluar lagi membawakan minuman dan cemilan.


"Silakan, mas." Umi Aisyah meletakkan gelas dan cemilan.


"Terimakasih." Papi Mario mengambil gelas di meja, lalu meminum isi gelasnya. dan meletakkan gelasnya kembali ke meja.


"Oia, Syah. Aku tau ini terlalu cepat, tapi aku ngga bisa menunggu lagi. Maukah kamu menjadi istriku." Papi Mario memegang tangan Umi Aisyah.


"Mas, jujur aku bingung harus jawab apa. Kamu tiba-tiba melamarku, lagian juga kamu baru saja bercerai dengan Siska. Apa kata orang, aku tidak mau di salahkan atas perceraian kalian." Umi Aisyah melepas tangan Papi Mario.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan Lupa Like, Vote dan komentarnya ya...


See you... 😘😘😘


__ADS_2