
Setelah beberpa menunggu, akhirnya hasil tes DNA kelar.
"Astaghfirullah..." Kata Dokter Erik terkejut melihat hasil tes.
Dokter Erik tidak percaya dengan hasil DNA yang ia sendiri periksa, lalu ia tes kembali. Tapi hasilnya tetap sama. Baby Satria benar bukan anak dari Abbas.
Dokter Erik bingung harus bagaimana, saat ini Abbas mau pun Mami Siska jiwanya sedang terganggu.
"Gue harus bagaimana? apa ini karma yang mereka berbuat?Ya Allah, aku harus bagaimana?." Dokter Erik menghela napas.
Dokter Erik meletakkan hasil tes DNA di dalam laci, lalu menuju ke kamar rawat Abbas.
Dokter Erik masuk ke kamar Abbas, terlihat Papi Mario dengan penuh kasih sayang merawat anaknya.
"Assalamu'alaikum Om..." Dokter Erik mencium punggung tangan Papi Mario.
"Wa'alaikumsalam Nak, gimana sekarang perkembangan Abbas?." Tatap Papi Mario ke Abbas penuh kasih sayang.
"Tetap sama Om, kita hanya berdoa agar Abbas bisa sembuh. Oia, Om... Tadi menantu Om sudah melahirkan, anaknya co.." Kata Dokter Erik berhenti.
"Stop jangan pernah berkata wanita ja***ng itu bukan menantu Om." Papi Mario Marah tiba-tiba.
"Maaf Om." Dokter Erik menunduk.
"Om, kamu pasti sudah tau anak yang di kandung wanita ja***ng itu bukan anak Abbas." Papi Mario menatap tajam Dokter Erik.
__ADS_1
"I-iya Om, Baby itu bukan anak Abbas." Ucap Dokter Erik ketakutan.
"Ya Om, udah tau semua. Bahkan saat ini Wanita ja***ng itu sedang repot-repot memindahkan harta atas nama Abbas. Dia tidak tau harus berurusan dengan siapa." Papi Mario memukul-mukul dadanya.
"APA!!! kebangetan tuh perempuan, bikin gue jadi perkedel. Tapi salahnya juga memilih wanita krikil dari pada wanita berlian yang harus di jaga, loe emang manusia bodoh." Dokter Erik kesel.
"Iya, benar dia bodoh sama seperti Maminya." Papi Mario mengingat masa-masa bersama dengan Alsava menjadi menantunya.
"BTW Om, terus rencananya apa?untuk mengungkapkan kelicikan wanita ja**ng di hadapan Abbas dan Maminya." Ucap Dokter Erik.
"Kamu tenang aja, sudah Om handle. Sekarang biarkan dia sibuk cari-cari itu berkas dan dokumen." Papi Mario duduk dengan santai.
"Alhamdulillah kalau begitu Om." Dokter Erik bernapas lega.
"Udah santai aja, lebih baik kamu fokus penyembuhan Abbas dulu. Oia, tolong jaga Abbas dulu. Om ada urusan." Papi Mario bangun dari duduknya, lalu menepuk pundak Dokter Erik.
"Syukurlah, Abbas masih dikelilingi orang baik seperti kamu. Ya udah Om pamit ya, Assalamualaikum." Papi Mario pergi keluar ruangan.
"Abbas, setelah loe bangun dari tidur panjang loe. Gue yakin loe bakal syok melihat ini, wanita yang loe pilih ternyata ular. Sungguh bodohnya loe, gue ngga abis pikir sama loe." Dokter Erik menggeleng kan kepala.
"Semoga bokap loe berhasil mengungkapkan kejahatan Eliana dan memasukkan kedalam jeruji besi." Ucapnya lagi.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Di sis lain Eliana masuk keruang kerja Abbas di Mansion utama, ia mencari dokumen.
__ADS_1
"Ish! dimana mereka menyimpannya, gue harus cepat mendapatkan sebelum mereka sadar." Kata Eliana agak kesal belum menemukan apa yang ia mau.
"Kok, ngga ada juga. Kemana-mana, ya. Aauuww... ini Me** Gue sakit banget. Entar gue cariin lagi, gue harus kerumah sakit." Eliana mencoba bangun dari duduknya. Tapi nihil Kela***nya semakin sakit.
"Aauuww... Ssaakkiitt. Pelayan..." Teriak Eliana.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.