
Abbas melihat keadaan Mami Siska, hari makin hari tambah buruk. Kadang Mami Siska mencoba melukai dirinya.
"Gara-gara Papi, Mami seperti ini. Emang apa yang di lakukan wanita mandul itu, sampai-sampai Papi membelanya dan menceraikan Mami. Gue akan beri pelajaran buat mereka yang udah nyakiti Mami gue." Geram Abbas.
Saat ini Mami Siska berada di rumah sakit jiwa, karena Mami Siska selalu menyakiti dirinya sendiri dan orang di rumah. Abbas menatap sedih melihat Mami tercinta gangguan jiwa.
"Hiks... Hiks... Hiks... Kamu jahat, mas. Apa salah ku hingga kamu berbuat seperti itu, aku tidak terima kamu memperlakukan aku seperti ini. Hiks... Hiks... Hiks..." Mami Siska menangis dengan tatapan kedepan.
"Harus sampai kapan, mami seperti ini. Gue ngga tega Mami seperti ini." Abbas meneteskan Airmata. Ia tidak menyadari, kalau ini karma telah menyakiti Alsava.
"Maaf anak muda, kenapa anda masih di sini?Ini sudah waktunya Sholat Dzuhur." Kata pria baya memakai peci dan sorban.
"Ah! Iya, pak. Saya sedang melihat Mami saya yang sedang sakit." Abbas membalikan badan dan menghapus airmatanya.
"Segala masalah dan cobaan bisa di atasi dengan kita berdekatan sama Maha Kuasa." Pria baya itu mengangkat satu tangannya keatas.
"Iya, saya tau itu pak." Kata Abbas.
"Lebih baik kamu ikut saya." Pria baya itu mengajak Abbas.
"Kemana, pak." Abbas bingung.
"Kita Sholat Jama'ah, biar kamu tenang menghadapi cobaan yang setiap hari akan datang." Pria baya itu menjelaskan, lalu Abbas mengikuti Pria baya itu.
Pria baya itu sebenarnya Papi Mario yang sedang menyamar, ia ingin melihat keadaan Mami Siska. Udah hampir satu bulan, keadaannya belum pulih. Bahkan tambah parah, hingga perceraian tertunda.
Pria baya itu melakukan wudhu, Abbas melihatnya dari belakang dan mengikutinya.
__ADS_1
"Sudah siap mengadu kepada Sang Pencipta?." Kata Pria baya itu.
"Insya Allah, pak." Kata Abbas.
Mereka melakukan Sholat Dzuhur bersama, airmata Abbas mengalir deras mendengar ayat-ayat suci di ucapkan pria baya itu sangat merdu dan menenangkan hatinya.
Setelah usai sholat, Abbas masih menangis dan ia mengingat kejadian. Dia menyakiti Alsava.
"Ya Allah, apa ini karma buat ku yang telah menyakiti perempuan. Dulu pernah ku sayangi dan cintai, apakah ini rasa sakit yang ia rasakan. Ya Allah, aku mohon ampunilah. Segala dosa-dosa hamba." Panjat Doa Abbas dan menangis.
Pria baya itu membalikkan badan menghadap Abbas, ia merasa iba.
"Kamu harus bertaubat, agar kamu tidak semakin tertutup hati mu, nak. Maafkan Papi, bersikap seperti ini." Kata Papi Mario.
"Kenapa kamu terlihat sedih seperti itu?ceritakan semua kepada bapak, agar kamu bisa lega." Papi Mario menepuk pundak Abbas.
"Ini karma yang aku dapatkan, karena telah menyakiti perempuan." Abbas tambah tangisannya.
"Begini, nak. Kamu harus meminta maaflah kepada wanita itu, mungkin dengan cara ini kamu bisa memperbaiki kehidupan kamu." Papi Mario menatap Abbas.
"Saya tidak tau dimana ia berada, dia sudah pergi dan di sembunyikan oleh Papi saya, pak." Ucapan Abbas membuat Papi Mario tersenyum.
"Coba kamu tanyakan kepada Papi mu itu, nak. Sebelum kamu menyesal. Maaf sebelumnya, apakah kamu pernah menyelidiki masalah kamu sebelumnya?." Pertanyaan itu yang selalu mengganjal di hati Papi Mario selama ini semenjak pertengkaran hebat Abbas dan Alsava.
"Tidak, Pak. Soal bukti yang dapat, sudah sangat meyakinkan buat ku."
"Bukti apa yang kamu dapat, nak. Kalau boleh bapak bisa dapat membantunya nanti." Abbas mengeluarkan kertas hasil periksaan atas diri Alsava.
__ADS_1
"Ini pak. Pernikahan kami memasuki 5 tahun, kami belum mempunyai keturunan. Karena desakan Mami ingin mempunyai cucu dari ku dan akhirnya aku bersama Alsava memeriksakan diri ke dokter kandungan. Waktu itu betapa kagetnya aku melihat hasil lab nya keluar dan menyatakan kalau Alsava tidak bisa memberikan keturunan, aku bingung harus apa. Sejak saat itu aku tidak pulang kerumah, malah aku bersenang-senang bersama gadis-gadis sampai salah satu gadis itu hamil dan aku menikahinya. Membuang Alsava begitu aja tanpa ada penjelasan apapun darinya, hati ku sudah tertutup dan malah mencintai wanita yang sedang mengandung anak ku. Setelah aku bercerai dari Alsava, aku bukannya senang atau bahagia. Malah aku merasa sedih seakan dalam diri ku terasa sepi dan hampa, walau ada istri ku." Abbas menangis sejadi-jadinya, Papi Mario mengelus punggung Abbas.
"Sekarang aku sedang mengalami karma yang jauh sangat menyakitkan." Abbas mengusap wajahnya dan meneteskan airmata.
"Kamu yang sabar, nak. Inilah ujian, kamu harus kuat dan selalu menghadap kepada Allah. Karena Allah yang bisa meringankan ujian yang kamu alami." Perkataan Papi Mario sangat menyentuh hati Abbas.
"Baik, pak. Saya akan bertaubat mulai sekarang."
"Bagus, nak. Kalau begitu bapak pamit dulu, Assalamualaikum." Papi Mario pergi dan ia menghapus airmata, Papi Mario merasa kasihan terhadap anaknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Segini aja dulu... Jangan lupa vote, likeπππ, komentar dan berbagi hadiahnya πππ