
Sang pemuda menghela napas dalam-dalam,"Orang pelit itu benar-benar budak cinta," ucapnya meminum seteguk kopinya.
"Budak cinta!?" Hans mengenyitkan keningnya, berpura-pura tertawa kecil, bagaikan tertarik.
"Benar, dia menyukai nona muda dari keluarga kaya. Membelikannya perhiasan, melindunginya, walaupun kisah cinta mereka memiliki banyak rintangan, dan kebohongan..." Tomy menghela napasnya.
"Bukannya majikanmu orang yang diliput media, saat pembukaan cabang JH Corporation? Pemiliknya kan? Kelihatannya sangat mencintai istrinya," Hans menghela napas kasar, "Pasangan yang kelihatan sempurna," ucapnya, diam-diam tersenyum, otaknya mungkin sedang menyusun rencana bagaimana untuk menyingkirkan Farel.
Pria itu menyenderkan tubuhnya, memejamkan matanya sejenak. Membayangkan jeritan pasangan suami istri yang akan dibunuhnya. Farel yang dengan beraninya berniat menipu Lery, tentu akan menjadi target selanjutnya.
"Pasangan yang terlihat sempurna!?" Tomy tiba-tiba menggebrak meja, menghentikan lamunan Hans.
"Jika bukan karena tuan muda kecil (Rafa)!! Tuanku tidak akan sudi menikahi wanita yang bahkan tidak mewarisi usaha keluarganya. Wanita yang hanya memiliki EO kecil, janda bekas pakai mantan suaminya!! Benar-benar wanita tidak tau diri, menjerat tuanku dengan menggunakan anaknya sebagai alat..." lanjutnya terlihat kesal.
Hais... gagal sudah... Han mengusap kasar wajahnya, menikmati setiap detik kematian orang lain merupakan kesenangan bagiannya. Namun, Farel ternyata bukan penipu? Ini menghancurkan rencana pembunuhan indah yang disusunnya beberapa detik lalu.
"Jadi siapa yang disukainya?" tanyanya dengan nada malas.
"Tentu saja wanita baik-baik dari kalangan atas, mereka sempat bertemu beberapa kali, di pesta, rumah sakit, bahkan club'malam. Sayangnya mereka tidak berjodoh. Tuan besar (Taka), tidak akan menerima perceraian..." jawab Tomy menghela napas kasar tertunduk sejenak, kemudian sedikit mengangkat kepalanya. Tangannya yang memegangi cangkir kopi gemetaran, kembali diletakkannya.
Tugas yang mengerikan, aku dimasukkan ke kandang harimau putih. Aku hanya ulat kecil yang gemetaran, tuan tugas ini terlalu berat... Tomy menutup matanya sejenak, berusaha setenang mungkin.
Benar, detektif Tomy tidak gagal sama sekali. Mobil yang berada di tempat parkir bawah tanah sebagian besar dari kalangan menengah keatas. Tentunya beberapa memiliki kamera yang terpasang di mobil mereka.
Tidak ada yang merekam saat Renata dibunuh, namun salah satu kamera mobil yang hendak meninggalkan parkiran merekam Hans yang tersenyum ramah membersihkan noda merah. Mengenakan seragam cleaning service, sedangkan tidak ada data tentang Hans sebagai pegawai hotel.
Memang, butuh waktu lama bagi Tomy, meminta satu persatu rekaman mobil para tamu undangan.
Ada satu hal ganjil lagi dalam ingatannya, Hans pernah berpapasan dengannya, saat dirinya mengantar Taka bertemu dengan Lery.
Alibi, bukti, semua mengarah padanya. Hari ini hanya pengujian, jika Hans menggali informasi tentang Farel, maka dialah pelakunya. Memiliki motif untuk melenyapkan Renata.
Hans menyunggingkan senyuman palsunya,"Aku ada urusan, aku pamit duluan..." ucapnya menyembunyikan rasa jenuhnya.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin curhat. Omong-omong, orang yang paman katakan cinta pertama..." kata-kata Tomy terhenti.
"Dia memilih untuk pergi, mungkin karena dunia ini yang terlihat makin munafik saja..." ucapnya menghela napas kasar, menunggingkan senyuman palsunya. Berjalan penuh dengan keramahan.
Semenjak Hyeri tidak ada, tidak ada tempat di dunia ini untuk jujur. Dunia munafik penuh kebohongan yang dijalaninya, tidak ada lagi wanita naif yang menunggunya di tengah hujan salju, hanya untuk berdoa di kuil dengannya. Mengucapkan permintaan yang tidak akan diwujudkan oleh-Nya.
__ADS_1
Adakah Tuhan itu? Hans tersenyum, semakin meragukan keberadaan-Nya.
***
"Maaf, coffee latte?" pelayan menyajikan minuman yang tadinya dipesan Hans, pada Tomy. Karena tidak menemukan kebenaran pria itu.
"Terimakasih!!" Tomy meminum sekali tegukan, keringat dingin mengalir dari pelipisnya, tangannya masih gemetar ketakutan.
"Dia bisa membunuh sekejam itu, dengan meninggalkan hanya sedikit jejak? Jika aku ketahuan sebagai ulat parasit maka aku akan dipenggal, dipotong-potong. Rohku gentayangan mencari potongan tubuhku yang terpisah," Tomy mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Sial, aku adalah ulat hijau daun teh, yang seharusnya hanya berteriak...Pucuk! Pucuk! Pucuk!... Kenapa harus menjadi ulat parasit yang melawan harimau putih..." gumamnya menghentak hentakan kakinya kesal bercampur ketakutan.
***
Tik...tok...tik...tok...
Suara jam terdengar. Terlihat ruangan besar, menyerupai perpustakaan. Buku tersusun rapi di beberapa rak besar. Sebuah meja dengan laptop, tumpukan berkas dan takoyaki yang hanya dimakan setengahnya terlihat di atas meja.
Seorang pemuda masih diam berlutut, dihadapannya seorang kakek tua berdiri memegangi tongkat kayu miliknya.
Plak...
Satu pukulan dilayangkan tepat mengenai punggung sang pemuda.
"Ayah diam, ayah hanya orang luar..." ucap Farel memejamkan mata, menahan rasa perih di punggungnya.
"Apa kesalahanmu!?" Taka membentak.
"Aku menuduh tanpa bukti, tidak matang dalam membuat rencana, aku..." kata-kata Farel terhenti.
Taka berlutut menggeleng-gelengkan kepalanya, mensejajarkan tubuhnya dengan Farel, pria tua kaku itu menitikkan air matanya.
"Cucu yang tersenyum setiap aku belikan makanan hampir mati. Jika aku yang tua ini mati tidak apa-apa, asalkan jangan cucuku..." ucapnya memeluk Farel yang masih berlutut di lantai, erat.
Taka menepuk-nepuk punggung cucu angkatnya menggunakan tangan keriputnya, "Bocah nakal!! Kesalahan terbesarmu membahayakan nyawamu sendiri..."
Farel tersenyum, membalas pelukan kakeknya,"Maaf... aku mencintai kakek..."
Gabriel menghela napas kasar, menatap ke arah pasangan kakek dan cucu angkatnya itu... Syukurlah Lendra, dibesarkan dan dididik oleh keluarga yang baik. Putraku yang tampan dan sempurna... gumamnya membanggakan putranya dalam hati.
__ADS_1
Farel melepaskan pelukan Taka,"Kakek, aku ketakutan saat berada di sarang penyamun, jadi untuk mengembalikan rasa traumaku. Bolehkah aku minta sisa takoyaki kakek!?" tanyanya memelas.
Gabriel membulatkan matanya, menatap tingkah aneh putranya."Ma... makanan sisa lagi, dari mana dia mendapat sifat tidak higienis itu?" gumamnya.
"Tentu, kamu boleh minta apa saja, asalkan jangan pernah mati mendahului kakekmu ini..." Taka berusaha tersenyum mengacak-acak rambut cucunya penuh kasih.
"Baik..." Farel mulai bangkit bersamaan dengan Taka.
Pemuda itu, menatap hidangan yang hanya tersisa setengah di atas meja, tangan dan mulutnya sudah gatal menikmati makanan sisa.
Namun, jemarinya terhenti, makanannya direbut Gabriel,"Ini tidak higienis!!" dokter bedah itu membentak kesal.
Farel membulatkan matanya,"Kembalikan!!" bentaknya, hendak merebut makanan yang dilarikan Gabriel.
Gabriel bagaikan tidak rela anaknya yang sempurna, menjadi makhluk tidak higienis. Dokter itu berlari cepat mengitari meja serta rak-rak buku.
Taka menghembuskan napas kasar,"Andai saja Hyeri masih hidup, anaknya mungkin akan lebih ceria dan cerah dari Farel, seperti putriku Hyeri yang naif..." gumamnya tersenyum.
***
"Sakit!! Bisa pelan tidak!?" ucap Farel dalam ruang rawat duduk di atas tempat tidur, tidak mengenakan atasan, sembari memakan takoyaki sisa yang berhasil direbutnya.
"Jangan makan makanan sisa lagi..." Gabriel tersenyum menghebuskan napas kasar.
"Mencari makanan itu sulit, dengan mungubrak-abrik tempat sampah saja, belum tentu..." kata-kata Farel terhenti, pemuda itu kembali terdiam. Mengingat sampah sayuran basi, roti berjamur, bahkan nasi bungkus dalam tempat sampah yang entah sisa siapa dimakannya ketika kecil. Hanya agar perutnya tidak terasa sakit, akibat kelaparan. Setelah meninggalkan rumah, berkeliaran sendirian di kota besar.
"Tempat sampah?" Gabriel yang tengah mengobati Farel mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
"Aku hanya asal bicara saja," jawabnya tersenyum, memendam semuanya seorang diri.
"Apa tuan Taka sering memukulmu? Ayah akan bicara padanya tentang..." kata-kata Gabriel diselanya, Farel kembali mengenakan kemeja putihnya, tidak menatap langsung mata ayahnya.
"Kakek hanya mendidikku, aku sudah terbiasa..." ucapnya berjalan pergi, tidak menoleh lagi, meninggalkan takoyaki yang hanya dimakannya sedikit.
Sudah terbiasa? Dari kecil setiap berbuat kesalahan Dea akan memukulinya dengan rotan. Didikan Taka, tidak begitu menyakitkan baginya. Sudah terbiasa, kata-kata yang terasa ganjil keluar dari mulut pemuda itu.
"Farel, ayah belum mengatakan, alasan ayah dulu..." kata-kata Gabriel kembali disela.
"Melihat ibu tersenyum sudah cukup bagiku. Ketika, ayah tidak ada ibu selalu termenung merindukan ayah. Apapun alasan ayah, aku memaafkannya..." ucapnya berlalu pergi, menutup pintu ruang rawat.
__ADS_1
Gabriel mulai duduk di tepi tempat tidur pasien, tangannya cekatan mengambil takoyaki yang belum habis,"Apa dia marah padaku?" gumamnya dengan mulut penuh.
Bersambung