Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Anggur Seri Langka


__ADS_3

Taukah kalian apa keuntungan berkeliaran di suatu tempat dengan memakai kostum? Melihat wajah sebenarnya, dari orang lain...


Malam itu, Farel ada disana, menatap pertengkaran Renata dan Jeny. Kakinya hendak melangkah membela istrinya. Namun, langkahnya terhenti, melihat tingkah aneh seorang wanita yang tersenyum, bersiap untuk mengambil air kotor bekas pel, tanpa ada magsud untuk langsung melerai.


Hingga, pada bagian akhir, Jeny hendak melangkah pergi, bersamaan dengan Renata yang menyiram rambutnya, barulah wanita aneh itu bergerak bagaikan pahlawan.


Farel merasakan ada sesuatu yang tidak beres, berjalan mendekati Jeny yang hendak berkenalan dengan Clarissa. Menjadikan tubuhnya sebagai tameng dengan dalil membagikan cemilan, sebagai maskot pesta. Tidak ingin Jeny terlalu dekat dengan wanita yang menurutnya memiliki tujuan lain, mendekati istrinya.


Dalam mobil yang melaju...


Jeny mengenyitkan keningnya, menatap wajah suaminya yang tengah konsentrasi menyetir,"Apa yang kamu fikirkan?" tanyanya.


"Nona, nona yang selalu ada di fikiranku, bagaimana jika kita malam ini menghabiskan waktu berdua?" ucapnya sembari tersenyum.


"Kita akan kemana?" Jeny mengenyitkan keningnya.


"Rumah lama, aku sudah menghubungi penjaga untuk meletakkan kuncinya di bawah pot depan," Farel menginjak pedal gasnya, menuju rumah lama mereka yang terdapat di pedesaan.


Udara semakin dingin, waktu telah menunjukkan pukul tiga pagi. Mobil tersebut akhirnya terhenti di area depan rumah di pedesaan yang cukup megah.


"Nona, bangun..." ucapnya membangunkan Jeny yang tertidur dalam perjalanan.


"Eemmmgghhhh...kita sudah sampai?" Jeny tersenyum merenggangkan otot-ototnya.


"Sudah, ayo kita keluar," Farel membukakan savety belt yang dipakai istrinya. Kemudian berlari keluar, membuka pintu mobil sembari membungkuk di hadapan Jeny.


"Naiklah..." lanjutnya.


"Aku sudah dewasa..." Jeny menghela napasnya.


"Aku bilang naik, ya naik...." ucap Farel, tidak menerima penolakan. Dengan ragu Jeny naik di punggung suaminya, kemudian mulai tertawa kecil,"Dasar,"


"Saat remaja aku terlalu kurus dan pendek untuk menggendong nona di punggungku," Farel tersenyum simpul, berjalan ke area belakang rumah, dengan Jeny yang masih berada dipunggungnya. Pemuda itu melangkah, tepatnya menuju gazebo tempat mereka sering mengerjakan tugas ketika kecil.


Perlahan Jeny diturunkannya disana,"Tunggu aku disini, aku akan membuat minuman hangat..." Farel berlari kecil menuju pintu depan rumah, hendak mengambil kunci rumah.


Jeny duduk terdiam sejenak, menunggu kedatangan pemuda yang kini telah menjadi suaminya.


"Cuma ada teh..." Farel menghebuskan napas kasar.


"Ice chocolate dengan toping meses coklat," ucap Jeny terlihat merajuk.


"Udaranya dingin!! Teh hangat...!!" Farel tidak mau kalah.


Jeny mulai tersenyum berjalan mendekat, meraih dua cangkir teh hangat yang dibawakan Farel, kemudian meletakkannya di atas meja,"Bibirmu lebih hangat..." ucapnya, mengalungkan tangannya di leher Farel. Berjinjit bagaikan hendak mencium suaminya.


Farel memejamkan matanya, menundukkan sedikit kepalanya. Hal yang tidak terduga terjadi, Jeny berjongkok, sehingga ciumannya gagal.


"Jangan terlalu percaya diri..." Jeny tertawa kecil, kemudian berlari, merasa berhasil mempermainkan suaminya.


"Nona!!" Farel berteriak, berucap jengkel, berlari mengejar istrinya.


"Kamu sudah berani pada nonamu!!" bentak Jeny sembari berlari, di area taman dekat gazebo.


"Aku akan menghukum nona, karena mempermainkan pria polos!!" Farel masih mengejar sambil tertawa kecil.


"Pria polos apanya? Aku sering diganggu ketika tidur..." ucapnya tertawa kecil.


Hingga akhirnya, Jeny tertangkap tubuhnya dipeluk dari belakang,"Nona selalu menganggapku remeh ..." bisik Farel.


"Kamu yang semakin berani padaku sekarang," Jeny tertawa kecil, membalikkan tubuhnya, berjinjit mengecup bibir Farel sekilas, penuh tawa dan senyuman.

__ADS_1


Waktu telah menunjukkan pukul lima pagi, perapian rumah besar bergaya Eropa itu sudah menyala.


Senyuman menyungging di bibir Farel, menatap wajah teduh istrinya yang tertidur lelap di pangkuannya, menghangatkan diri dari dinginnya udara pagi di hadapan perapian. Tubuh wanita itu diselimuti nya, perlahan tangan hangatnya menyibakkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya,"Aku mencintaimu, nonaku yang nakal..." gumamnya, sembari tertawa kecil.


Farel menghembuskan napas kasar, senyuman menghilang dari wajahnya. Mulai merogoh sakunya menghubungi seseorang.


Tidak lama kemudian, panggilannya diangkat.


"Pagi, kakek dimana sekarang?" tanyanya, bagaikan hendak membicarakan sesuatu.


"Di luar, ada seseorang yang ingin bertemu dengan kakek..." jawab orang dari seberang sana.


"Siapa?" Farel mengenyitkan keningnya.


"Seorang pebisnis bernama Lery, kakek tidak begitu menyukainya. Karena itu kakek meminjam Tomy untuk berjaga-jaga..." Taka menghembuskan napas kasar.


"Berhati hatilah..." ucapnya, mematikan panggilannya, mengurungkan niatnya untuk membicarakan sesuatu dengan Taka.


Farel terdiam sejenak, mengingat wanita berwajah rupawan, yang berusaha mendekati Jeny dengan menggunakan cara kotor. Berpura-pura baik, tapi tersenyum saat istrinya menerima masalah."Aku akan menjagamu nona..." janjinya tersenyum, kemudian mencium pipi istrinya sekilas.


***


Di tempat lain, Tomy menghebuskan napas kasar, tidak dapat tidur sama sekali setelah menjadi MC, dan sekarang harus menemani Taka, mengadakan pertemuan di jam lima pagi.


Apa hanya aku yang tidak sibuk? Apa hanya aku orang yang berguna? Aku juga perlu beristirahat... keluhnya dalam hati, mengikuti langkah Taka.


Lorong demi lorong dilaluinya, hingga memasuki ke sebuah ruangan hotel. Pintu mulai dibukakan dua orang penjaga.


Seorang pria duduk di sofa tersenyum menatap kedatangan Taka. "Maaf, mengundang anda pagi-pagi seperti ini..." ucapnya.


Dia ini kakek tua hebat, yang kaku. Kamu memperlakukannya seperti ayam jantan, membangunkannya pagi buta. Bersiaplah untuk dihajar dengan tongkat, seperti nasibku dan tuan Farel... cibir Tomy dalam hati mengikuti langkah Taka, berusaha untuk tetap tersenyum.


"Ada apa ingin menemuiku?" Taka mengenyitkan keningnya, mulai duduk berhadapan dengan Lery.


Taka tersenyum mencibir,"Kamu mengira aku memperlakukan keluargaku seperti saham..."


"Dengarkan ini baik-baik, untuk dapat aku restui pernikahannya, cucuku melakukan banyak cara. Dia sudah mendapatkan restuku sekarang, jadi istrinya adalah cucu menantuku. Jikapun suatu hari nanti Farel berselingkuh aku sendiri yang akan memberinya pelajaran, karena istrinya saat ini juga bagian dari anggota keluargaku..." lanjutnya menatap tajam, senyuman mulai menghilang dari wajahnya.


Asalkan tuan besar sudah berpihak pada tuan Farel. Di dunia ini tidak ada yang perlu ditakuti. Berharap memberikan wanita lain pada bos gilaku? Orang ini menggali kuburannya sendiri... Tomy menatap penuh keangkuhan.


"Aku hanya ingin memberi penawaran, omong ngomong beberapa hari lagi ulang tahun putraku. Ini undangan untukmu dan cucumu. Cucu menantumu boleh ikut," ekspresi Lery entah kenapa berubah penuh senyuman ramah.


Taka mulai bangkit,"Tomy ambil undangannya..." ucapnya dingin.


"Baik tuan..." Tomy meraih undangan yang berikan Lery.


Sebagai pesuruh yang baik, tidak boleh berkata tidak. Tapi aku tidak menyukai orang ini, seperti sesuatu yang sulit dihadapi... entah kenapa radar insting tajam Tomy aktif. Meraih undangan dari pria yang tersenyum menatapnya.


"Anda tidak minum dulu?" Lery menyesap cangkir teh yang berisikan teh hijau.


"Tidak, siapa tau ada racun didalamnya..." Taka melangkah keluar diikuti Tomy.


Astaga, kakek tua yang benar-benar keren. Siapa tau ada racun di dalamnya? Aku harus meniru kata-katanya saat mengancam musuh... Tomy menghembuskan napas kasar menatap kagum.


Sementara, Lery menyunggingkan senyuman di bibirnya. "Kakek yang protektif, saat Clarissa menjadi cucu menantumu nanti. Anakku tersayang juga akan mendapatkan perlindungan dan kekuasaan yang sama. Hanya tinggal menyingkirkan wanita bodoh yang dijaga ketat saja..." gumamnya, menyiram teh hijau ke atas meja. Menatap pantulan dirinya dari air yang menggenang, dengan senyuman yang mengembang.


***


Tomy mengikuti langkah Taka yang terlihat emosi, berjalan dengan cepat.


Kakek tua ini!! tidakkah dia tau aku sudah terlalu lelah... keluhnya dalam hati.

__ADS_1


"Tomy, setelah ini istirahatlah beberapa hari, orang-orangku yang akan mengurus perusahaan," ucapnya menghentikan langkahnya.


Terimakasih ya Tuhan, kakek tua ini ternyata pengertian... syukurnya penuh haru dalam hati.


"Di sela-sela istirahatmu, cari tau tentang kematian orang yang dulu mencoba meracuni Jeny," perintahnya, penuh kecurigaan mengetahui berita kematian Renata yang tiba-tiba. Kemudian berjalan cepat meninggalkan lorong.


"Astaga...aku bukan seorang detektif!! Aku juga bukan robot yang tidak perlu istirahat!! Aku adalah pria singgel yang ingin dicintai!!" rajuknya kesal, kembali melangkah mengikuti Taka.


Seorang pemuda dengan rambut panjang terikat memakai topi, serta masker, berpapasan dengannya tanpa menoleh.


"Bau anggur?" gumam Tomy, mengendus bau yang aneh, sedikit melirik ke belakang. Menatap punggung pria yang berjalan menelusuri lorong.


"Mungkin seri anggurnya langka," Tomy menghebuskan napas kasar, merasakan sedikit bau amis bercampur dengan bau anggur saat pemuda itu melintas.


Kembali berjalan penuh senyuman mengikuti Taka, mengeluarkan kacamata dan dasi kupu-kupunya, dari balik jas. Berlagak bagaikan detektif Conan yang akan mulai bertugas.


***


Angin menerpa wajahnya dari jendela mobil yang terbuka. Entah kenapa hari ini pria yang jarang tersenyum itu tertawa kecil. Perlahan turun dari mobil, menatap villa luas sekaligus sanatorium miliknya. "Istriku dimana?" tanyanya pada seorang pelayan yang membukakan pintu.


"Menyiram tanaman kentang di kebun belakang," jawab sang pelayan.


Gabriel segera berjalan cepat penuh semangat, melewati lorong panjang menuju kebun tanaman sayuran yang memang dibuatnya khusus untuk Citra.


Terlihat seorang wanita menatap hamparan kebun kentang yang mulai berbunga. Senyuman menyungging di wajahnya, seakan menatap putranya yang tersenyum di hadapannya.



Gabriel berjalan mengendap-endap, memeluknya dari belakang,"Sangat cantik..." ucapnya. Wajah Citra bersemu kemerahan, menganggap dirinya yang dipuji.


"Bunga kentangnya sangat cantik," lanjutnya tertawa kecil, menggoda istrinya. Citra mengenyitkan keningnya kesal, melepaskan pelukan Gabriel, menatap suaminya dengan raut wajah tidak suka.


"Jangan marah begitu, Citralah tetap yang tercantik..." Gabriel tersenyum, menyeka tanah bercampur peluh di pelipis hingga pipi istrinya.


'Dasar perayu! Sudah, nanti tanganmu kotor,' ucap Citra dengan bahasa isyarat, kemudian melepaskan sarung tangannya yang kotor.


"Tidak apa-apa, biar kotorpun asalkan kotor denganmu..." Gabriel tertawa kecil.


Namun ekspresi aneh terlihat dari wajah wanita yang selalu ada di hatinya, Citra mulai menggerakkan tangannya,'Ada apa, kenapa kamu terlihat bahagia?' tanyanya.


Gabriel nampak ragu, kemudian menghebuskan napas kasar, mengutarakan pemikiran gilanya,"Apa ada kemungkinan Lendra selamat dari kebakaran?" tanyanya ragu.


Citra menggeleng gelengkan kepalanya, kemudian kembali menggerakkan tangannya, berucap menggunakan bahasa isyarat,'Kita sudah membicarakan ini, jika Lendra selamat, mungkin dia akan pergi ke rumah tetangga. Tapi tidak seorang tetanggapun yang melihatnya, kali ini kenapa kamu bertanya lagi?'


"Kamu bilang Lendra anak yang pintar, mungkin dia melihatku menikammu. Kemudian, memutuskan bersembunyi hingga saat aman. Ketika, Zen membawamu mungkin dia mengira Zen adalah orang jahat. Mungkin masih ada jeda waktu, sebelum Hans membakar rumah. Jadi beberapa jeda waktu itu, Lendra berkemungkinan bisa melarikan diri. Mungkin, menyembunyikan dirinya, pergi jauh dengan identitas baru, karena takut padaku," ucapnya antusias, bagaikan menemukan kemungkinan putarnya masih hidup.


Citra, menghela napasnya dengan mata berkaca-kaca, menatap iba ke arah suaminya,'Sudah lima kali kamu berkata, kata mungkin...'


Wanita itu berusaha untuk tetap tersenyum,'Putra kita tetaplah hanya seorang anak kecil, jika dia selamat dari kebakaran, tidak ada cara baginya meninggalkan desa. Warga desa tidak ada yang melihatnya. Kita hanya harus menerima kenyataan kepergiannya dan selalu mendoakannya...' ucapnya dengan bahasa isyarat.


"Tapi kemarin malam aku melihat seseorang yang sedikit mirip denganmu. Tinggi dan postur tubuhnya sepertiku, caranya, tingkah lakunya mirip denganku. Bahkan dia seumuran dengan Lendra..." ucap Gabriel antusias. Namun, Citra memeluknya erat, menggeleng gelengkan kepalanya, sembari menangis terisak-isak tanpa suara. Seolah berkata untuk merelakan putra mereka.


"Apa aku salah mengenali karena terlalu merindukannya?" tanyanya, pada Citra dengan air mata yang mulai menetes. Citra hanya mengangguk membenarkan, menepuk pundak Gabriel pelan.


Wanita itu, kembali melepaskan pelukannya, jemari tangan kecilnya terangkat, menghapus air mata Gabriel,'Biarkan putra kita pergi dengan tenang. Aku tau kamu ingin memeluk dan memanjakannya, tapi dia sudah tidak ada...' Citra tertunduk, mulai mencabuti rumput liar di kebun kentang, sembari menitikkan air matanya.


Gabriel meraih tangan istrinya,"Aku akan membantumu," ucapnya penuh senyuman sembari menyingsingkan lengan kemeja tangan panjangnya.


Citra mengganguk kembali tersenyum, menghapus air matanya, menatap wajah ceria suaminya.


Aku akan mengujinya, jika dia putraku, dia akan membenciku. Bahkan berusaha membunuhku... Anggaplah aku sudah gila, tapi... Lendra, ayah harap itu adalah dirimu... gumam Gabriel dalam hatinya, belum dapat melupakan sosok pemuda yang keluar dari kostum Doraemon.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2