
Tidak sedikitpun tersenyum, begitulah ekspresi Clarissa saat ini, menghadiri acara makan malam yang diadakan di villa dekat dengan sebuah danau. Jeny menatap lurus ke depan, sesekali alat makan di hadapannya terjatuh ke lantai, terkadang mengotori meja.
Farel menghela napasnya menatap jenuh,"Ini..." ucapnya mengambil alat makan yang terjatuh di lantai."Kapan kamu akan menandatangani surat perceraian kita?" tanyanya, menatap dingin.
Jeny hanya terdiam tertunduk, berusaha melanjutkan aktivitas makannya, dihadapan Lery dan Clarissa. Bagaikan wanita tidak dicintai, sekaligus tidak berdaya.
Clarissa terdiam sejenak menatap wajah Jeny yang terlihat murung. Iba? Begitulah perasaannya saat ini, setelah hatinya tertambat pada Zion. Jeny terlihat dengan sabar menyukai orang yang tidak menyukainya, mirip dengan pemuda yang dirindukannya.
Beberapa makanan kini tumpah di meja, Jeny menghela napasnya, tangannya gemetar bagaikan ketakutan, akan kemarahan orang-orang.
"Menyusahkan..." cibir Ayana.
"Pelayan!! Antar dia ke kamar, biar perawat yang menyuapinya..." perintah Farel, bagaikan jengkel.
"Ti... tidak perlu, biar aku jalan sendiri..." Jeny mulai membuka tongkat penuntunnya. Berpegangan pada area sekitarnya, hingga tiba-tiba terjatuh.
Clarissa beranjak dari kursinya, berjalan mendekati Jeny,"Tidak bisakah kalian iba sedikit saja!!" bentaknya menatap tajam pada orang-orang yang masih menikmati makanannya dengan tenang.
Tidak ada orang yang peduli di meja makan itu. Begitulah yang dilihat Clarissa. Farel? Awalnya Clarissa kagum dengan pemuda itu. Namun, dengan sikapnya yang bahkan tidak sedikitpun berniat membantu Jeny. Mungkin inilah sifat aslinya, mirip dengan Lery. Membuang sesuatu yang menyusahkan atau berkhianat, itulah sosok Farel dimatanya saat ini.
"Aku akan membantumu ke kamar dan menyuapimu..." Clarissa tersenyum ramah.
Sial, aku ingin tidur dan berbaring di kamar, membaca laporan keuangan. Sambil memakan sate ayam tanpa kecap dengan irisan bawang yang dibelikan Ren-ku tersayang. Wanita menyebalkan ini malah ikut, haizzz... menyebalkan... gerutu Jeny dalam hati.
"Ti... tidak perlu, kamu hanya wanita murahan yang..." kata-kata hinaan Jeny disela.
Clarissa meneteskan air matanya,"Maaf..." ucapnya mengingat kecelakaan Jeny karena perintah darinya pada Hans.
Jeny tertegun diam... Dia tidak salah minum obat kan...
Wanita itu, perlahan membantu Jeny bangkit, berjalan membimbingnya.
"Lepas, aku tidak butuh belas kasihmu...!!" ucapnya menepis tangan Clarissa.
"Tidak perlu sungkan, aku mengerti perasaanmu," Clarissa mencengkeram lengan Jeny memaksa membimbingnya ke kamar, dalam rangkulan bahunya.
"Aku tidak menyukaimu!! Kita adalah musuh!!" ucap Jeny telah berada di lorong dekat kamarnya.
"Aku menyukaimu, aku menyukai keteguhan hatimu..." Clarissa tersenyum tulus, terus menarik dan merangkul bahu Jeny.
Jeny mengenyitkan keningnya, Apa dia penyuka sesama jenis? Ya Tuhan...aku bukan melon pemakan melon. Ren tolong aku...
***
Lampu kamar yang gelap dinyalakannya, Jeny dibimbingnya untuk duduk di atas tempat tidur. Menatap wajah itu iba, "Kenapa kamu tidak ingin bercerai?"
__ADS_1
"Farel kaya dan tampan, dia orang tanpa celah. Aku tidak akan melepaskannya..." jawabnya asal.
"Begini, Jeny, aku belakangan ini baru menyadari sesuatu. Harta bukalah segalanya, yang terpenting dia tulus padamu dan menerima semua kekuranganmu," Clarissa tersenyum, menggenggam tangan Jeny meyakinkan,"Apa ada orang seperti itu di hidupmu?"
Jeny menghela napasnya, sedikit berfikir untuk menjawab pertanyaan Clarissa,"Ada, namanya Ren, kami kekasih masa kecil. Dia adalah pelayan sekaligus anak angkat ayahku..."
"Apa yang terjadi padanya? Kelihatannya kalian dekat..." tanya Clarissa, penuh rasa ingin tahu.
Jeny terlihat tersenyum,"Dia pacar pendekku, sering mengantarku ke sekolah menggunakan sepedanya. Semua kebutuhan, kelemahan dan kekuranganku, hanya dia yang mengetahuinya..."
"Lalu, kenapa kalian tidak bersama...?" tanyanya, bertepatan dengan Farel yang tiba-tiba berada di ambang pintu.
"Clarissa, ayahmu memanggil..." ucapnya penuh senyuman.
Clarissa menghela napasnya, menatap penuh kebencian pada Farel.
Kemudian tersenyum, menepuk pundak Jeny,"Pertimbangkanlah untuk bercerai. Mungkin dia (Ren) sedang menunggumu untuk hidup bahagia bersama..."
Dia sedang melihatku di ambang pintu, untuk apa bercerai dengannya... gumam Jeny dalam hatinya, memaksakan dirinya tersenyum.
***
Clarissa mulai duduk di balkon lantai dua kamarnya di villa milik Taka. Undangan untuk liburan bersama 3 hari 2 malam? Bukan itu yang membuat Clarissa datang.
Dengan penuh rasa penasaran, Clarissa mulai mencari tahu tentang kekasih masa kecil Jeny, istri dari Farel itu.
Jemari tangannya dengan lincah menari di atas laptop. Sesekali menelfon orang kepercayaannya. Tidak ingin melihat Jeny hidup bahagia, maaf magsudnya hidup tersiksa lebih lama dengan bersama orang sekejam Farel.
Beberapa jam berlalu, beberapa fax dikirimkan padanya. Terlihat biodata seorang remaja kurus, pendek, berkulit tidak begitu bersih, lengkap dengan kacamatanya.
Anak angkat dari almarhum ayah Jeny? Itulah statusnya, namun keluarga Jeny yang termasuk berada. Memiliki anak angkat, mungkin seharusnya hidup tanpa kekurangan. Namun, foto-foto yang didapatkan sebagian besar sang anak angkat berpakaian layaknya pelayan.
Satu informasi lagi yang didapatkan Clarissa, membuat wanita itu menitikkan air matanya. Orang bernama Ren dinyatakan meninggal 14 tahun yang lalu karena kecelakaan, dengan mobil terbakar tidak berbentuk.
"Hidupnya ternyata lebih menyedihkan dari hidupku..." gumam Clarissa menangis terisak, menyeka air matanya. Membaca beberapa data yang didapatkannya di balkon kamar.
"Aku akan menyadarkannya, dan membantunya melarikan diri dari Farel. Hidup sebagai wanita karir mandiri..." tekadnya.
Entah darimana, sebuah pesawat kertas terbang ke arahnya. Clarissa menatap area sekitar kamarnya, hanya ada beberapa pengawal yang berjaga di halaman.
Perlahan kertas itu dibukanya, terlihat sebuah peta. Dengan ragu Clarissa keluar dari villa, berjalan keluar tanpa sepengetahuan pengawal, mengikuti tujuan yang tertera disana.
Rerimbunan pohon di dekat danau dilaluinya, satu persatu celah ranting di tepisnya. Hingga akhirnya sampai pada area pinggir danau yang lapang, dengan tanaman ilalang setinggi pinggang.
Kunang-kunang beterbangan redup di sekitarnya, beberapa melayang terbang di atas air. Terlihat, pantulan cahaya, bintik remang-remang kecil di atas air danau yang tenang.
__ADS_1
Seorang pemuda menadahkan tangannya, perlahan seekor kunang-kunang hinggap di jemarinya. Wajahnya tertunduk, sedikit tersenyum, belum menyadari keberadaan Clarissa.
"Zi... Zion?" ucapnya lirih, bersamaan dengan, pandangan pemuda itu teralih padanya.
Clarissa berjalan cepat, menembus rimbunnya ilalang, kunang-kunang yang hinggap pada ilalang beterbangan seiring langkahnya.
Tubuh itu dipeluk erat olehnya, seakan takut akan kehilangan, isakannya terdengar pelan.
"Jangan menangis..." sang pemuda tersenyum hangat, membalas pelukan Clarissa.
Kunang-kunang mengapung terbang di sekitar mereka. Angin dingin bertiup menyibakkan ilalang, di tengah pelukan hangat yang menenangkan.
***
Di tempat lain, Tomy mengenyitkan keningnya, menatap belasan pesawat kertas yang diterbangkannya jatuh tidak tepat sasaran. Pesawat keras yang tadinya ditujukan pada balkon kamar Clarissa.
Satu persatu dipungutnya, bahkan menaiki pohon guna mengambil yang tersangkut disana. Tidak ingin salah satu pengawal Lery menemukannya.
"Sedikit lagi... sedikit lagi... aaaaaa..." Tomy terjatuh dari atas pohon yang tidak begitu tinggi.
"Siapa!?" senter dari salah satu pengawal Lery menyorot ke arah asal suara.
"I...ini aku..." Tomy meringis kesakitan.
"Kenapa kamu ada disini!?" tanya sang pengawal membentak.
Aku harus apa? Jika berkelahi aku tidak akan menang melawan mereka... Tomy tertunduk berfikir.
Sejenak kemudian menatap ke arah para pengawal terlihat murung. "Aku sedang merindukan kekasihku. Kami berjanji akan menikah. Dia meninggal bunuh diri, beberapa bulan yang lalu," pemuda itu, menghela napas kasar bagaikan menahan rasa dukanya.
"Pesan kerinduan, biasa aku kirimkan setiap aku merindukannya. Menatap bintang, sambil menerbangkan pesawat kertas..." lanjutnya menahan tangis, menggengam erat beberapa pesawat kertas di tangannya.
Sang pengawal tidak serta merta percaya,"Siapa nama almarhum pacarmu!?" tanya sang pengawal curiga.
"Re... Renata...." jawab Tomy asal selalu menjadikan nama wanita itu sebagai dewi penyelamatnya.
Salah seorang pengawal berbisik-bisik, bagaikan berdiskusi.
"Lain kali jangan berkeliaran di sekitar kamar nona (Clarissa)..." ucapnya, berlalu bersama empat orang pengawal lainnya.
"Iya..."
Tidak bisakah menyatakan lamaran dengan cara biasa? Sekarang sudah ada e-mail, SMS, Chat, bahkan video call. Tapi dengan entengnya berkata pesawat kertas lebih romantis. Kenapa tidak sekalian menggunakan telepati, itu lebih romantis dan tidak masuk akal kan... Tomy memegangi pinggangnya yang terasa sakit akibat jatuh dari pohon.
Bersambung
__ADS_1