Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Rantai


__ADS_3

"Bagaimana?" tanyanya pada Tomy.


"Tuan, kenapa bertemu dengan istri anda tidak menjaga etika dan penampilan, sedangkan bertemu dengan Clarissa...." kata-kata Tomy terhenti.


Farel merapikan jas yang dipakainya, menatap pantulan dirinya di atas cermin,"Visual..." ucapnya.


"Wanita yang tulus padamu akan menyukai tidak hanya kelebihanmu, tapi juga kekuranganmu. Dari remaja aku sudah mendapatkan cinta sempurna dari istriku, jadi tidak perlu berpura-pura menjaga etika atau penampilan..." ucapnya penuh senyuman.


Tomy menatap jenuh... Memang benar, semua kekurangan, termasuk pelit, tukang makan banyak, bahkan terkadang sering kentut. Benar-benar cinta sempurna... gumamnya dalam hati menggeleng-gelengkan kepalanya heran.


"Khusus untuk wanita yang hanya akan kita manfaatkan, perlu membuatnya takluk. Membuatnya, mengemis ingin memiliki, buatlah dia berfikir seolah olah aku mencintainya. Tapi tidak bisa bersama dengannya..." Farel menyunggingkan senyumannya. "Yang pertama dimata wanita tidak tulus adalah visual(penampilan) dan isi yang ada di dalam saku (kekayaan)..." ucapnya.


***


Sinar matahari hangat menembus jendela mobil yang tengah melaju, Farel tengah membaca beberapa data yang dikirimkan Dilen dari Singapura hingga suara handphone terdengar di memecah kesunyian mobil yang tengah melaju.


Tangan Tomy gemetar ketakutan, mulai mengangkat panggilan."Se... selamat siang..." ucapnya kikuk.


"Dimana bocah tidak tau diuntung itu!! Berikan handphonemu padanya!!" terdengar suara tua renta yang berteriak penuh amarah.


Tangan Tomy yang gemetaran, hampir saja menjatuhkan handphonenya, dikejutkan oleh bentakan Taka.


"Tuan Taka sudah tau!! Dia ingin bicara dengan anda..." Tomy berucap dari kursi penumpang bagian depan, memberikan handphonenya pada Farel yang duduk di kursi penumpang bagian belakang.


Pemuda itu menutup laptopnya, meraih handphone yang disodorkan Tomy, menghela napasnya berusaha untuk tenang,"Kakek, aku mencintaimu..." ucapnya pada seseorang di seberang sana.


"Kamu tau apa yang kamu lakukan? Kenapa meretas sistem keamanan perusahaan milik Lery!? Jangan pernah terlibat dengan hal yang berada di luar kekuasaanmu!!" bentak Taka, Farel menjauhkan handphone dari telinganya sejenak, menahan rasa pening di telinganya. Akibat mendengar bentakan kakek angkatnya.


Pemuda itu, menghela napasnya dalam-dalam,"Melukai istriku hingga kehilangan pengelihatannya, aku sudah cukup bersabar. Tapi polonium? Dia mencoba membunuh Jeny agar mati dalam penderitaan..."


"Kamu memiliki bukti!? Jika tidak, kakek sendiri yang akan mendidikmu!!" bentak Taka penuh amarah.


"Seseorang bernama Gabriel, mengirim orang untuk menyelamatkan Jeny. Dia yang memberikanku petunjuk. Tidak memiliki bukti? Aku memang tidak memilikinya, kakek boleh melakukan apapun padaku, setelah aku menghancurkan mereka..." Farel yang terlanjur kesal, mematikan panggilan telfon sepihak. Kemudian menonaktifkan handphone milik Tomy, sama dengan handphonenya.


"Apa tidak apa-apa, kita bertindak sendiri?" Tomy nampak ragu, meraih handphonenya yang dikembalikan Farel dalam keadaan tidak aktif.


"Sudah aku bilang, asalkan bisa menghancurkan mereka. Mati juga tidak apa-apa..." Farel tersenyum menatap Tomy, kembali membuka laptopnya, mengerjakan pekerjaannya yang tiada habisnya.

__ADS_1


Mati juga tidak apa-apa? Tindakah bos pelit sepertimu memikirkan karyawannya. Kamu sudah tidak perjaka, keperjakaanmu sudah diambil. Sedangkan aku masih perjaka, jika aku mati akan menjadi hantu perjaka. Penasaran dengan rasa malam pertama... Tomy menatap ke arah jendela mobil, menghebuskan napas kasar.


***


Taka menggengam erat phonecellnya, setelah berkali-kali menghubungi nomor Farel dan Tomy yang tidak aktif.


"Ayah?" Ayana meletakkan Rafa yang baru saja terlelap dalam baby box.


"Dimana Jeny sekarang?" tanyanya.


"Terakhir kali mereka menghubungiku, Jeny akan dipindahkan ke tempat yang lebih aman oleh Farel, semacam sanatorium,"


"Farel juga meminta agar menjaga keamanan rumah dengan ketat, dan jangan merekrut pengawal atau baby sitter baru. Sebenarnya ada apa?" Ayana mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Farel bertindak sendiri tanpa bukti, ini semua karena Gabriel!! Pria busuk itu, bagaimana dia dapat mempengaruhi Farel..." ucapnya kesal, mulai mencoba menghubungi sang dokter bedah.


Hingga akhirnya panggilannya diangkat...


"Maaf ini siapa?" tanya seseorang di seberang sana.


"Taka, apa yang kamu katakan pada cucuku?" ucapnya dengan nada dingin.


"Jangan berpura-pura peduli!! Kamu melemparkan cucuku ke dalam api, hanya untuk mengalahkan Lery!! Walau Farel jenius sekalipun. Untuk melawan orang yang memiliki banyak bisnis ilegal sepertinya, kamu ingin cucuku mati!!" Taka membentak kesal penuh amarah.


"Apa magsudnya? Farel bertindak sendiri?" tanyanya memastikan pendengarannya.


"Benar, apa kamu senang? Jika Farel mati aku akan membunuhmu!!" ancaman tidak main-main keluar dari mulut Taka.


"Untuk apa aku mengorbankan putraku sendiri!! Farel adalah anak kandungku..." Gabriel menghela napas kasar, berusaha untuk berpikir."Aku akan mengirim orang untuk menjaganya. Jika Farel terluka sedikit saja, anda boleh membunuhku..." ucapnya, mematikan panggilan sepihak, guna menghubungi orang kepercayaannya.


Gabriel menghela napas kasar, menatap dari kaca jendela, seorang wanita dengan tongkat penuntun di tangannya, terdiam duduk di kursi belakang sanatorium.


"Farel apa rencanamu...?" gumamnya mencemaskan putranya.


***


Mobil mulai terparkir, Farel keluar dari mobilnya diikuti Tomy. Mulai masuk ke dalam rumah besar yang bagaikan kastil bernuansa modern.

__ADS_1


Kami pernah nekad menghancurkan satu perusahaan karena pemiliknya menyindir nyonya besar (Ayana) yang tidak dapat memiliki anak ... Tapi menghancurkan sarang penyamun? Mungkin dapat mati ditebas, kemudian menjadi mayat tanpa kepala... Tomy berdidik ngeri, terlihat tegang.


"Tomy, musuh kita adalah singa, sedang kita adalah ulat yang menggerogotinya. Jangan bersikap seolah-olah kita ini serigala yang akan mencoba menyerang singa. Tersenyum dan makan saja mereka..." ucapnya menyunggingkan senyuman di wajahnya.


"Baik tuan..." Tomy mulai tersenyum ramah, dirinya tidak ketakutan lagi. Seakan pengaruh aura bos pelitnya juga ada dalam dirinya.


Pasangan yang mengerikan? Itulah mereka, berjalan menelusuri lorong. Terlihat beberapa orang memakai jas hitam, berpapasan dengan mereka.


Hingga di ujung lorong terlihat sebuah ruang tamu. "Maaf, aku terlambat..." ucapnya tertunduk penuh senyuman.


"Duduklah..." Lery menghela napas kasar.


Farel mulai duduk, dibelakangnya Tomy berdiri yang juga menatap penuh senyuman.


"Bagaimana kabar istrimu?" tanyanya sedikit melirik, sembari meminum secangkir teh di hadapannya.


Farel tertunduk, matanya berkaca-kaca,"Dia ingin bercerai karena tidak ingin menyusahkanku, tapi aku tidak bersedia. Putra kami masih terlalu kecil..." ucapnya putus asa.


"Kenapa tidak bersedia?" Lery mengenyitkan keningnya, ingin mengetahui fikiran pria di hadapannya.


Farel menyeka air matanya,"Siapa yang ingin memiliki istri buta? Tapi tetap saja, demi anak kami, aku tidak ingin Rafa kehilangan kasih sayang ibu kandungnya,"


Pelayan yang hanya mencintai majikannya ini, mengatakan tidak ingin memiliki istri buta. Kebohongan yang bagus, andai saja aku dapat merekamnya. Anda sebulanan tidak akan mendapatkan jatah dari nona anda... gumam Tomy dalam hatinya.


"Tidak ingin memiliki istri buta? Bukannya kamu sangat mencintai istrimu ya?" tanyanya mengingat pesta pengumuman pewaris perusahaan JH Corporation.


"Aku hanya mencintai putraku, alasan kami menikah adalah putraku. Ada orang yang menaruh afrosidac dosis tinggi dalam minumanku. Untuk meredakan efeknya, aku menyewanya, dengan bayaran tender bisnis pada mantan suaminya. Tapi, setelah bercerai dari suaminya, dia menemuiku dan menunjukkan putraku yang sudah lahir. Memanfaatkan Rafa kecilku untuk menikah..." dustanya, menghela napas seolah sebagai korban yang dimanfaatkan Jeny.


Nona maafkan aku, aku mencintaimu, tapi mau bagaimana lagi. Orang ini sulit dihadapi... gumamnya dalam hati.


Siapa yang panik ingin menembus badai menggunakan sekoci (kapal kecil tanpa mesin) jauh-jauh dari Singapura. Karena tidak mendapatkan alat transportasi, bahkan ingin aku mencarikan pintu Doraemon, hanya karena mengetahui wanita yang dihamilinya adalah majikannya sendiri. Dasar pelayan... sindir Tomy dalam hatinya, menatap jenuh.


Lery mulai dapat tersenyum,"Kamu mendirikan perusahaan besar di usia muda. Juga cucu dari Taka, bisnis kakekmu di balik layar juga cukup besar, aku sempat berpikir kamu hanya pria bodoh yang menjadi budak dari wanita yang tidak berkuasa. Sampai-sampai rela berlutut memakaikan gelang kaki pada wanita biasa," ucapnya tertawa lepas.


"Itu hanya iklan, aku berencana merambah usaha di bidang perhiasan..." dustanyanya tersenyum, terlihat tulus.


Merambah usaha bidang perhiasan apanya? Anda memang budak dari wanita tukang perintah. Aku dulu sudah mengusulkan, jika ingin membuat istrimu tidak pergi, jangan pakaikan gelang di kakinya. Sekalian saja pakaikan rantai berlian di lehernya, tarik dia kemana saja anda pergi...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2