Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Karena Farel


__ADS_3

Infus masih terpasang di tangannya, tubuhnya belum dapat bergerak leluasa. Sudah satu minggu dari hari, Farel membuka matanya. Luka pasca operasi di tubuhnya belum sembuh benar.


Fisioterapis, membantunya belajar bergerak sedikit demi sedikit, mengangkat tangan, mengepalkan tangan, bahkan baru berusaha untuk berjalan. Akibat tubuhnya yang terlalu lama tidak bergerak, terbaring tidak sadarkan diri.


Perawat menuntunnya duduk. Farel menghela napas kasar, tersenyum menatap seorang wanita hamil yang baru datang menjenguknya, membawa sebuah paperbag.


"Perawat akan mengurusku..." ucapnya tersenyum.


"Aku tau, karena itu aku hanya datang saat makan siang. Apa kamu tidak merindukanku lagi?" tanya Jeny dengan mata berkaca-kaca.


"Aku merindukanmu, karena itu aku bangun..." ucapnya, berusaha menaikkan tangannya yang tidak bertenaga, perlahan bergerak membelai rambut Jeny yang duduk di tepi tempat tidur.


"Saya permisi dulu," perawat melangkah pergi meninggalkan kamar rawat.


"Apa masih sulit?" Jeny meraih tangan Farel yang berada di atas kepalanya. Membelai jemari tangan putih pucat itu, kemudian menggenggamnya erat.


"Sudah jauh lebih baik, maaf..." ucapnya, berusaha tersenyum, menatap iba pada wanita di hadapannya.


"Untuk apa? Dari kecil, kamulah yang selalu memanjakanku. Aku mendapatkan kesempatan memanjakanmu kali ini..." Jeny tersenyum, mengeluarkan dua kotak bekal yang dibawanya."Karena kemarin perawat bilang kamu harus makan-makanan lunak. Aku belajar membuat bubur labu..." ucapnya membuka salah satu kotak memamerkan hasil karyanya.


"Terlihat enak," Farel tersenyum tulus.


Jeny mengangkat tangannya mulai menyuapi suaminya. Satu suapan penuh, Farel mengunyahnya perlahan-lahan. Hingga setetes air matanya mengalir,"Terimakasih, sangat enak..." ucapnya dengan mulut penuh.


"Kenapa menangis?" Jeny mengenyitkan keningnya.


"Rasanya terlalu enak," jawabnya berusaha tersenyum, menatap bubur labu yang dibuatkan istrinya dengan susah payah.


Terlalu bahagia melihat wajahmu, aku merindukanmu... gumamnya dalam hati, tidak ingin kehilangan atau terpisah lagi dengan istrinya.


Jeny mengecup bibir pemuda di hadapannya sekilas,"Aku merindukanmu..." ucapnya tersenyum, menatap wajah suaminya yang masih terlihat pucat.


"Aku ingin buburnya lagi," Farel tersenyum, perlahan satu sendok yang penuh kembali digunakannya menyuapi suaminya.


Farel menghabiskannya dengan lahap hingga tandas tidak tersisa sama sekali. "Apa seenak itu?" tanya Jeny penasaran, belum mencicipi bubur buatannya.


Farel mengangguk, membenarkan,"Kamu membawa dua porsi kan? Lebih baik, istriku makan makanan cafetaria saja. Satunya untuk aku makan nanti..."


"Dasar, ya sudah istirahatlah. Aku akan turun untuk makan..." Jeny penuh senyuman mulai bangkit, sejenak kemudian melirik Farel sudah memejamkan matanya.


Dengan cepat, kotak bekal yang belum terbuka dibawanya, penasaran dengan rasa bubur labu buatannya. "Apa seenak itu? Sampai dia ingin porsi milikku..." gumamnya, mengambil kotak yang belum tersentuh tanpa sepengetahuan Farel.


Dengan tidak sabaran, Jeny duduk di depan ruang rawat suaminya. Mencoba bubur labu yang terlihat menggoda.


Hanya dengan satu suapan, Jeny berlari ke toilet umum terdekat, di lantai itu. Memuntahkan bubur dengan rasa tidak karuan."Ueeek...puh...puh...puh..."


Tidak ingin mengecewakan istrinya? Benar mungkin itulah yang membuat Farel memaksakan diri memakan bubur tidak karuan hingga tandas.


Tidak ingin istrinya mencicipi satu kotak bubur lainnya, agar kebohongannya tidak diketahui.


"Bagaimana Ren bisa mengatakan ini enak? Bahkan dapat makan satu kotak sampai habis, apa indra pengecapnya rusak?" gumam Jeny sambil berkumur berkali-kali di depan wastafel.


***


Merindukan suaminya? Mungkin itulah yang membuat Jeny masih disana, menceritakan banyak hal seusai makan siang di cafetaria.


"Daniel akan menikah? Apa yang terjadi selanjutnya? Apa wanita itu berhasil menjeratnya?" tanya Farel tersenyum menatap wajah ceria istrinya yang tidak hentinya bercerita.


***


Indonesia, 3 bulan yang lalu...


Malam semakin gelap, Ken telah menunggu Candra di lobby villa. "Silahkan masuk..." ucapnya, membuka pintu penumpang bagian depan.


Candra masuk dengan sungkan, sesekali melirik pemuda yang tengah konsentrasi menyetir. "Dimana alamatnya?" Ken memulai pembicaraan.


"Akan aku tunjukkan jalannya..." jawabnya, tertunduk. Menjemput cucunya, hanya itu tujuannya saat ini.


Beberapa puluh menit perjalanan, rumah paling mewah di desa seberang itu, terlihat. Candra turun dari mobil, diikuti Ken yang membawa sebuah map.


Teng...teng...teng...


Pintu gerbang besi lumayan besar diketuk dengan penguncinya, menunggu sang pemilik rumah membukakan pintu.

__ADS_1


"Ada apa?" Fahri mengenyitkan keningnya, menatap sinis ke arah ayah mertuanya.


"Sesuai perjanjian, setelah sertifikat rumah dan tanah diserahkan, kami akan menjemput anak bernama Ega..." Ken tersenyum ramah, berbicara terlebih dahulu dibandingkan Candra.


"Masuk..." ucap Fahri tersenyum, membuka gerbang.


Ruang tamu yang lumayan luas jauh lebih besar dari ruang tamu rumah Candra, Kelas rendah... tetap saja Ken memandang remeh, berusaha tersenyum.


Candra mulai duduk di sofa, sedang Ken berdiri di belakangnya. Mungkin kebiasaannya sebagai asisten.


Selang beberapa menit seorang ART datang memakai daster lusuh. Menyajikan empat cangkir teh, pada tamu majikannya.


Fahri dan Kinara duduk bersebrangan dengan mereka, menatap tajam, memandang remeh.


"Kinara, ambilkan sertifikatnya..." ucap Fahri.


Wanita itu tersenyum masuk ke sebuah ruangan, kemudian keluar membawa map yang sebelumnya diberikan Daniel.


"Ini..." Fahri melempar map ke atas meja sembari tersenyum,"Kami berubah fikiran, kami ingin villanya..." ucapnya.


Wajah Candra pucat pasi, menatap wajah anak dan menantunya, wajah serakah yang menginginkan lebih banyak.


"Ayah tidak memilikinya. Daniel..." kata-kata Candra disela.


"Aku tau, bos besar yang menyewa Kanaya akan membelikan kalian villa kan? Tunjukkan kesungguhan, kalau kalian menyayangi Ega, berikan villa pemberiannya..." Kinara, tetap setia tersenyum menatap sinis.


Candra mengepalkan tangannya tertunduk penuh rasa malu, "Ayah mohon terimalah sertifikat ini. Biarkan kami bertemu dengan Ega..." ucapnya lirih, sudah cukup memalukan baginya tinggal di tempat yang disediakan Daniel.


Dan sekarang Kinara menginginkan villa? Sesuatu yang bahkan enggan diterimanya, tidak ingin menjatuhkan harga diri Kanaya di depan keluarga suaminya kelak.


"Sudah aku bilang, ayah tidak benar-benar tidak menunjukkan kesungguhan! Jadi tidak pantas bertemu dengan Ega..." ucap Fahri masih setia tersenyum.


Candra berlutut di hadapan anak dan menantunya, wajahnya tertunduk. Mungkin karena rasa rindunya pada cucunya yang tengah sakit, dirinya rela menurunkan harga dirinya serendah-rendahnya.


"Setidaknya ijinkan ayah dan ibu bertemu Ega sekali saja..." ucapnya tertunduk, mengepalkan tangan, dengan air mata tertahan.


Pasangan suami istri itu tersenyum, acuh merasa dirinya ditinggikan.


"Tidak, minta saja Kanaya merayu bos besar itu, ditiduri hingga puas. Segala keinginannya pasti akan dikabulkan..." Fahri tersenyum menghina.


Plak...


Ken tiba-tiba berdiri di hadapannya, menampar pipi keriput pria tua kaku itu. "Jangan mempermalukan nama keluarga Ananta. Sudah aku bilang, angkat kepala anda!! Sekarang anda adalah calon mertua dari seorang Daniel Ananta," ucapnya penuh keangkuhan dengan wajah dingin.


Candra menatap mata tajam yang mengulurkan tangannya, membantunya berdiri.


"Baik, Weed Villas and spa untuk kalian. Tapi, jangan lupa sediakan uang untuk membersihkan reruntuhannya. Tuanku tidak senang benda yang tidak dapat dimilikinya, dimiliki oleh orang lain..." senyuman di wajah Ken menghilang sepenuhnya, menatap tajam kearah sepasang suami istri yang duduk tertegun.


"Tidak bisa begitu!!" bentak Fahri.


"Kalian ingin menerima tanah pertanian subur dan sebuah rumah yang berdiri tegak atau reruntuhan villa?" tanyanya tegas.


Fahri melirik kearah istrinya, kemudian mengambil keputusan sepihak,"Aku ingin rumah dan tanahnya,"


"Fahri!!" Kinara membentak tidak setuju.


"Apa gunanya sebuah reruntuhan? Membersihkannya juga memerlukan banyak waktu dan tenaga. Nilainya akan turun jauh, bahkan merugikan," Fahri menghela napas kasar.


"Tapi..." Kinara tidak setuju.


"Tidak ada tapi-tapian!!" Fahri menatap tajam, mengambil keputusan berdasarkan keuntungan.


Tangan Kinara mengepal, geram menahan semuanya. Bukan masalah uang yang utama, namun egonya yang tidak ingin kalah dari kakaknya.


"Bagus, Weed Villas and spa akan tetap berdiri menjadi hadiah dari tuanku untuk mertuanya. Tanah dan rumah ini merupakan uang penjualan anak kalian..." ucap Ken kembali dapat tersenyum.


"Ini dokumen perjanjian hak asuh dan pergantian kepemilikan tanah serta rumah, mohon tanda ditangani kedua belah pihak..." lanjutnya, menyodorkan dokumen.


"Kenapa jadi pengalihan hak asuh, ini masalah keluarga..." kata-kata Fahri disela.


"Kalian bermaksud memeras kami bukan? Dengan memanfaatkan seorang anak. Orang rendahan seperti kalian, ingin memanfaatkan jalur hukum suatu saat nanti, meminta uang lebih banyak..." Ken tersenyum, kembali menyodorkan dokumennya.


Fahri menatap tajam kesal, seolah semua niatnya untuk memperdaya mertuanya sudah diketahui. Menandatangani dokumen tanpa banyak protes.

__ADS_1


"Terimakasih..." Ken meraih dokumen pengalihan hak asuh penuh senyuman. "Tuan Candra, temuilah cucumu. Dan jangan pernah menunduk di hadapan orang rendahan lagi..." ucapnya sinis.


Candra melangkah, menuju kamar cucunya, menatap anak yang tengah menggigil dengan wajah pucat. Perlahan meraihnya,"Kakek..." sang anak lirih.


"Ega tinggal dengan kakek dan nenek ya? Seperti dulu..." Candra memeluk erat sang anak dalam gendongannya.


Sang anak hanya mengangguk sembari menangis. Merindukan kakek dan nenek yang mengasuhnya dari bayi. Sering ditinggalkan Kinara entah kemana, setelah ibunya menikahpun harus tinggal di tempat asing, memanggil pria yang tidak menyayanginya 'ayah'.


"Saya undur diri dulu..." ucap Ken, tersenyum menghina. Mengikuti langkah Candra menggendong cucunya tanpa mempedulikan apapun.


Kinara mengepalkan tangannya kesal,"Pria tidak berguna!!" cibirnya pada Fahri.


Plak...


Satu tamparan mendarat di pipinya,"Aku menikahimu yang sudah memiliki anak!! Menuruti keinginanmu menjual beberapa sapi untuk tambahan modal membuka butik!! Sekarang apa!? Pria tidak berguna!?"


"Wanita tidak tau diuntung!!" umpat Fahri, melempar dokumen ke wajah Kinara. Berjalan pergi menenangkan dirinya.


Kinara tertunduk, mengepalkan tangannya. Istri anak kepala desa? Apa gunanya, mempunyai suami dengan wajah biasa-biasa saja. Kaya? Awalnya Kinara mengganggap Fahri sudah cukup kaya. Namun, sosok Daniel? Pemuda rupawan itu dapat menginjak harga diri suaminya bagaikan semut.


***


Weed Villas and Spa, dibelinya atas nama Candra. Tempat tersebut terdiri dari dua puluh villa dengan masing-masing villa memiliki beberapa kamar, kamar mandi dengan berbagai fasilitasnya serta kolam renang berukuran tidak begitu besar, dengan konsep minimalis namun menyatu dengan alam.


Kolam renang umum yang cukup besar terletak di dekat restauran. Pengelolaan villa tetap pada manajemen lama, hanya kepemilikannya yang telah dibeli oleh Daniel, atas nama Candra.


Keuntungan bersih dari penyewaan beberapa villa, restauran, serta spa. Setelah dipotong gaji pegawai, promosi, dan beberapa keperluan manajemen, secara otomatis akan masuk ke rekening Candra. Pria tua yang lebih terbiasa meladang.


"Ayah mertua sedang apa?" Daniel yang sudah jauh lebih sehat, mengenyitkan keningnya.


"Bekerja, tanah belakang villa kosong, jadi aku pinjam untuk menanam melon..." ucapnya penuh pertimbangan mengingat tidak begitu banyak tempat pengairan, tidak membiarkan lahan subur menganggur sedikit saja.


"Sebaiknya ayah mertua istirahat saja, nanti..." kata-kata Daniel terpotong.


Candra menghela napas kasar."Aku sudah terbiasa bekerja, jika tidak bekerja tubuhku terasa sakit. Selain itu, sebagai seorang ayah, memalukan jika aku bergantung hidup pada pemberianmu,"


"Baik, ayah mertua boleh meladang, aku akan membuatkanmu usaha baru yang lebih sesuai," ucapnya menyunggingkan senyumnya.


Jangan kira Daniel hanya pandai menghabiskan uang. Tidak, bagaimana keluarga Tirta dapat bertahan bahkan bisnisnya berkembang pesat, padahal putranya dulu sering menghamburkan uang untuk Renata?


Pandai menghabiskan uang, juga harus pandai mencarinya bukan? Tanah di belakang villa yang kosong dibelinya atas nama Candra. Membiarkan Candra yang lebih ahli, mengelola tanah luas, bahkan memberdayakan warga sekitarnya.


Membuat perkebunan buah, membuat paket liburan keluarga di dekat villa. Membiarkan Candra menjalankan hobinya, sekaligus mempertahankan harga dirinya. Dengan penghasilan lebih dari petani rata-rata tentunya.


Bagaikan Jin Aladin? Begitulah Sumi menatap calon menantunya saat ini. Pemuda yang hanya terlihat berlibur sambil menghamburkan uang, namun sebenarnya menginvestasikan uangnya. Agar berkembang perlahan, mungkin untuk keturunannya nanti.


***


Penampilan sedikit tidak serupa? Semuanya dapat diperbaiki. Kinara memotong sedikit rambut panjangnya, memakai pakaian kasual ala saudarinya. Memakai riasan tipis menatap cermin, kini benar-benar menyerupai Kanaya.


Hal yang dilakukannya? Tentu saja mengambil kekasih kaya milik kakaknya. Semudah dulu saat mengambil Kemal, mungkin begitulah fikirnya.


Hanya melayani pria rupawan di tempat tidur, mungkin setelah itu Daniel akan terperdaya takluk padanya, meninggalkan saudarinya.


Hari mulai malam, Kanaya tengah menikmati waktu bersama ibu, ayah, dan keponakan kecilnya di villa terpisah. Tidak menyadari ada seseorang dengan penampilan serupa berjalan menuju villa tempat kekasihnya menginap.


Suara bel terdengar, Daniel yang tengah membaca dokumen kiriman ayahnya mengenyitkan keningnya. Berjalan perlahan membuka pintu.


"Kanaya? Katanya akan main game dengan keponakanmu?" tanyanya penuh senyuman.


"I...iya, Ega sudah tertidur," jawab Kinara dengan rendah diri, bagaikan Kanaya.


"Masuklah..." Daniel berucap penuh senyuman.


Untuk pertama kalinya Kinara memasuki villa yang hanya dapat disewa kalangan atas. Villa yang bahkan terlihat jauh lebih mewah dibandingkan dengan rumah milik Fahri. Semua ini milik seorang Daniel, dibeli dengan mudah? Tidak bisa dibayangkan bagaimana rumah utama pemuda di hadapannya.


Perlahan tangannya terulur, memeluk dari belakang tubuh Daniel yang berjalan memunggunginya. "Aku mencintaimu..." ucapnya.


"Aku juga..." Daniel tersenyum, walaupun ada hal yang terasa janggal baginya.


Tubuhnya berbalik, menatap wanita di hadapannya. Perlahan memeluknya, menyingkap sedikit pakaian yang menutupi bahunya, menghebuskan napas menggoda. Bibirnya mengecup pelan leher jenjang di hadapannya. Kemudian kembali melonggarkan pelukannya.


"Ibu menghubungiku, sepupuku Farel mengalami cidera parah. Mungkin ibu akan datang sedikit lebih terlambat, maaf..." ucapnya tertunduk, menghela napas kasar, masih setia berusaha tersenyum.

__ADS_1


"Tidak apa-apa..." Kinara mengalungkan tangannya pada leher Daniel, berjinjit hendak merasakan bibir pemuda di hadapannya.


Bersambung


__ADS_2