Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Kesempurnaan


__ADS_3

Ruangan kamar yang cukup luas, tanpa pemiliknya. Perlahan Nana menghebuskan napas kasar, membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Sejenak kemudian mulai bangkit, hendak mengeluarkan barang-barangnya di koper. Satu-persatu barang dimasukkannya hingga matanya tidak sengaja menelisik sebuah laci saat berkemas. Terlihat foto yang beberapa bulan lalu di tunjukkan Dimas pada Daniel.


"Dia masih menyimpannya!?" Nana tertawa kecil, penuh senyuman tulus.


Flashback on


15 tahun yang lalu...


"Cucu kakek yang paling pintar..." puji Sam (almarhum kakek Jeny) memberikan hadiah sebuah jam tangan bermerek dengan harga yang fantastis pada Nana, yang saat itu berumur 14 tahun.


Jeny yang masih berusia 12 tahun, menghembuskan napas kasar, duduk di kursi meja makan. Sam sebenarnya datang bersama Nana untuk merayakan ulang tahun Jeny, malah tidak mempedulikan gadis kecil itu.


"Nona, yang terpintar, tapi sayangnya tidak mau belajar..." Ren berbisik, mengejek sembari menghidangkan makanan di hadapan Jeny, berusaha menghibur nonanya yang terlihat murung.


Jeny menatap tajam kesal pada anak angkat almarhum ayahnya itu. Entah kenapa rasa kecewanya berganti dengan rasa sebal, yang membuatnya sedikit tersenyum aneh pada pelayannya.


Nana mengenyitkan keningnya, menatap dari jauh. Mungkin melihat sepupunya iri lebih menyenangkan dibandingkan melihat ekspresi jengkelnya pada sesosok pelayan pendek berkacamata itu.


***


Rasanya mungkin sangat pengap menyaksikan sepupunya di elu-elukan. Gadis kecil yang sedang berulang tahun tersebut, mulai melangkah ke pinggir kolam ikan yang cukup dalam. Duduk termenung disana.


"Nona, tidak membuka kadonya!?" Ren mengejutkan Jeny, tertawa kecil membawakan sepotong kue yang memang khusus dibagikan pada para pelayan.


"Tidak, aku boleh minta kuemu!? Kue milikku yang ada di dalam rasanya tidak enak..." Jeny merebut kue yang dibawa oleh Ren, memakannya dengan lahap.


"Anda benar-benar penindas," Ren kecil terlihat memelas.


"Iya, iya ini aku sisakan," Jeny menahan tawanya, memberikan potongan kue yang hanya tersisa krimnya saja.


"Sudahlah... untuk nona saja..." ucap Ren dengan jemarinya yang sedikit mengotori wajah Jeny.


"Beraninya pada nonamu!!" Dengan penuh semangat, Jeny mengoleskan semua krim pada wajah Ren.


"Aku akan..." Ren terlihat emosi.


"Siapa nonamu!?" Jeny membentak.


"Jeny yang tercantik..." Ren tertunduk menghembuskan napas kasar.


"Bagus, tetaplah ada dalam kekuasaanku," ucap gadis kecil itu penuh tawa, entah kenapa Ren kecil ikut tertawa bersamanya. Seakan kebahagiaan Jeny adalah kebahagiaannya.


Hingga Nana muncul, menatap penuh rasa iri. Setiap hari ditekan belajar, mengikuti kursus, tidak boleh berteman dengan siapapun, itulah yang dijalani Nana, sebagai cucu kesayangan Sam untuk dapat mewarisi seluruh kekayaannya.


"Jeny dapat tersenyum!? Dia tidak mendapatkan pujian bahkan diabaikan kakek. Tapi dia bisa tersenyum!?" gumamnya, mulai mendekati kedua orang anak itu.


"Permisi nona..."Ren tertunduk memberi hormat, segera berjalan pergi tidak ingin ikut campur dengan urusan keluarga nonanya.


Nana sedikit melirik ke arah Ren, mulai bertanya pada sepupunya,"Kenapa kamu tidak masuk ke dalam!? Kita sedang merayakan ulang tahunmu..."


"Diluar lebih menyenangkan, didalam sangat pengap," Jeny kecil berucap penuh senyuman.


"Bukannya karena iri padaku!? Kakek memberikanku yang tidak sedang berulang tahun sebuah jam tangan keluaran terbaru. Sedangkan untukmu yang berulang tahun, hanya sebuah boneka kecil," Nana tersenyum mengejek.


"Aku tidak iri, awalnya memang iri. Tapi sekarang tidak, Ren ada bersamaku," ucap Jeny kecil penuh senyuman.


"Aku akan memberikanmu jam tanganku. Bagaimana jika pelayanmu untukku saja, aku akan memberikan pelayan baru," Nana terlihat antusias, bagaikan ingin merebut permen dari bayi.


"Tidak, terimakasih aku tinggal sendirian di sini. Ibu jarang pulang, jadi hanya ada Ren yang menemaniku," Jeny masih setia tersenyum, menatap ke arah sepupunya.


Nana mengenyitkan keningnya emosi, tidak menerima penolakan, melemparkan jam tangannya ke arah kolam ikan.


"Bibi!!Jam tanganku!! Jeny melemparnya!!" teriaknya memanggil Dea, berpura-pura menangis dalam kepanikan.


"Ada apa!?" Dea serta beberapa anggota keluarga yang memang hanya mengadakan pesta keluarga, keluar.


"Jeny mengatakan dia tidak suka memiliki sepupu sepertiku. Jadi jam tanganku..." kata-kata Nana terpotong, seorang pelayan dengan wajah yang masih dikotori sedikit krim datang.

__ADS_1


"Saya tidak sengaja menjatuhkannya ke kolam saat nona Jeny meminjamnya," Ren yang menyaksikan semua kejadian itu dari jauh berucap, menutupi kenyataan.


"Tapi Ren..." kata-kata Jeny terpotong, Ren menggeleng gelengkan kepalanya, memberi isyarat agar Jeny bungkam.


"Pelayan ini berbohong Jeny yang..." kata-kata Nana kembali terhenti.


"Saya yang menjatuhkannya, nona Nana salah paham. Karena nona Jeny saat itu berada di sini sendirian, menunggu saya yang sedang ingin membersihkan wajah," ucapnya.


"Dasar anak tidak tau diri!! jika bukan almarhum Doni yang mengadopsimu. Kamu mungkin akan membusuk di panti asuhan!!" Dea yang emosi menarik lengan Ren ke tempat lain.


Jeny berjalan beberapa langkah hendak mengikuti, namun Ren menggeleng gelengkan kepalanya, sembari tersenyum.


***


Plak!! Plak!! Plak!!


Entah berapa kali pukulan rotan dilayangkan pada tubuh kecil Ren. Anak itu memejamkan mata menahan rasa sakitnya.


"Anak tidak tau diri!! Tidak tau terimakasih!! Anak kurang ajar!!" berbagai umpatan dilayangkan Dea yang merasa malu pada ayahnya, Sam.


Hingga akhirnya menyeret Ren keluar dari ruangan itu setelah mendapatkan banyak luka bekas pukulan rotan,"Cari sampai dapat!!" ucap Dea menunjuk ke arah kolam ikan.


Saat itu seluruh anggota keluarga telah berada di ruang keluarga kecuali tiga orang. Jeny mengepalkan tangannya menangis, menatap Ren dari salah satu jendela dapur, meraba kaca itu. Seakan ingin menolong dan meminta maaf.


Satu orang lagi Nana, menghembuskan napas kasar, merasa bersalah. Dengan jemari tangannya yang gemetaran. Menunggu dengan sabar kepergian Dea.


Beberapa menit setelah kepergian Dea, Nana berjalan dengan cepat ke arah Ren. Menarik tangan penuh lukanya dari dalam kolam ikan,"Berhenti!! Aku akan mengatakan pada bibi Dea, bukan kamu yang menjatuhkan jamnya!!"


"Tidak perlu..." Ren menghempaskan tangannya, kembali mencari.


"Kamu mau membuatku merasa bersalah!?" tanya Nana menatap ke arah Ren yang memunggunginya.


Anak itu tidak menjawab, masih terus berusaha mencari,"Sudahlah!! Dasar pelayan bodoh," umpatnya.


Namun, perasaan bersalahnya seperti terus menggerogotinya, dengan cepat ikut masuk ke dalam kolam mencari jam tangan.


"Kenapa ada orang kaku dan terlalu bodoh sepertimu!!" Bentak Nana terus mencari."Kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya!?" lanjutan tidak mengerti dengan prilaku Ren.


"Tentu saja tidak!!" Nana membentak menghentikan kegiatannya sejenak.


"Lalu!? saya sudah terbiasa di hukum walaupun tidak berbuat kesalahan," ucap Ren


"Lagipula, setiap orang punya sisi baik dan burukkan!?" lanjutannya, menatap penuh senyuman pada sedikit perubahan sikap Nana.


"Dasar anak jelek!! Cepat mencari jangan tersenyum!!" Nana kembali mengumpat, memendam rasa kagumnya. Pada sosok anak berwatak kaku itu.


Namun, tanpa diduga sebuah magnet diikat dengan tali oleh seorang gadis kecil. Menjatuhkan magnet itu kemudian menariknya.


"Ketemu!!" Jeny berucap penuh senyuman, mengambil jam yang melekat pada magnetnya.


"Bodoh!!" Ren dan Nana berucap serempak. Dengan cepat Nana merebut jam tangannya.


"Jam ini anti air, tapi tidak boleh dekat-dekat dengan magnet!! Menyebalkan!!" Nana mengumpat, sembari keluar dari kolam, sedikit senyuman entah kenapa menyungging di bibirnya.


Pantas saja Jeny terlihat bahagia, benar-benar menyenangkan bersamanya... gumam Nana dalam hatinya.


Hampir setiap liburan, Nana akan berkunjung walaupun hanya satu atau dua hari saja, hanya untuk sekedar mengobrol dengan kedua anak yang lebih muda dua tahun darinya. Rasa kagum yang aneh berkembang setiap menatap dan berbicara dengan Ren. Berpura-pura mengunjungi Jeny hanya untuk melihat pelayan sepupunya.


Hingga suatu saat, ketika menginjak Senior High School (SMU) di Australia. Rasa tertekan, karena belasan kursus dan menjaga etika yang harus dilakukannya jika ingin mempertahankan status sebagai ahli waris. Serta seorang teman yang baru dikenalnya, membuatnya terjerumus menggunakan obat-obatan terlarang. Dea memanfaatkan kesempatan ini, mengadukan Nana pada Sam, sehingga hak waris jatuh ke tangan Jeny.


Nana direhabilitasi selama setahun, mendengar kabar kematian Ren yang tiba-tiba, membuatnya semakin tertekan. Walaupun, sudah mengetahui kematian Ren ada hubungannya dengan kakek dan bibinya yang mendambakan kesempurnaan.


Flashback off


"Andai saja masih hidup, dasar anak baik. Tipe suami ideal!! Mungkin jika kamu masih hidup dan sudah dewasa. Aku akan melupakan dendamku, dan fokus mengejarmu. Pria baik dan setia yang jarang ditemukan, sayangnya tidak berumur panjang..." ucapnya menghebuskan napas kasar menyeka air matanya. Mengingat tidak pernah ada mantan kekasihnya yang benar-benar tulus atau membelanya. Hidup kesepian di dunia yang kejam ini, setelah kematian ayah dan kakeknya.


***


Hujan lebat turun, wajah Jeny masih terlihat pucat, sudah lengkap memakai minidrees berwarna putih. Rafa dititipkannya pada Ayana, sedang untuk pernikahannya yang akan berlangsung dua hari lagi, semua persiapannya diserahkan pada EO miliknya.

__ADS_1


Matanya menatap pada jendela mobil yang basah, embun dari udara dingin akibat hujan deras yang turun menghalangi pandangannya.


Dalam pelukannya, terlihat bunga Lily putih tanda kedukaan, sekaligus tanda kasih sayang yang tulus. Tatapannya terlihat kosong, terus menerus menatap ke arah jendela, tanpa teralih sedikitpun.


Bukannya seharusnya nona bahagia akan bertemu orang yang disukainya. Tapi kenapa murung begitu, jangan-jangan dia pria yang sudah menikah...dan nona selama ini jadi kekasih rahasianya... Farel mengenyitkan keningnya tidak mengerti dengan tingkah laku Jeny.


"Apa masih jauh!?" tanyanya masih menyetir, mengingat mereka sudah keluar dari kota.


"Sudah dekat..." ucap Jeny.


Mobil masih melaju menuju daerah perbukitan tanpa ada rumah penduduk sedikitpun, hanya terlihat beberapa jurang curam dan tikungan tajam. Bahkan ada banyak peringatan daerah rawan kecelakaan.


"Disini jarang ada rumah penduduk, apa masih jauh!?" Farel kembali bertanya.


"Berhenti..." Jeny berucap tepat di sebuah tikungan. Terdapat jurang dengan sungai dibawahnya. Pagar pembatas dari besi terlihat kokoh. Tidak seperti 13 tahun yang lalu. Pagar pembatas jalan yang rusak, dengan mobil hangus tidak berbentuk diderek dari dasar sungai.


"Tunggulah disini," lanjutnya, perlahan turun dari mobil.


"Tunggu!! Nona mau kemana!? Pakai payung dulu!!" Farel membuka jendela mobilnya berucap pada Jeny yang mulai melangkah.


"Tidak perlu, aku hanya ingin bermain hujan sebentar," Jeny menghembuskan napas kasar, membawa bunga Lily putihnya.


Farel hanya dapat menghela napasnya menunggu di dalam mobil, penuh tanda tanya mengingat tingkah aneh nonanya.


***


Wajah dan rambutnya nampak basah, Jeny melemparkan bunga yang dibawanya ke dasar jurang, terjatuh tepat di tepi sungai.


"Ren, ternyata kematianmu benar-benar karenaku," Air mata mengalir, bercampur air hujan yang dingin.


"Maaf, seharusnya aku tidak pernah mengatakan aku menyukaimu. Jika waktu dapat terulang, aku ingin menarik kata-kataku, agar kamu dapat hidup kembali," Jeny menghembuskan napas kasar dalam tangisannya.


"Aku menepati janji, aku berusaha menyukai Daniel walaupun itu menyakitkan. Dia tidak sepertimu, maaf aku memilih berpisah. Ren... jika Rafa tidak ada, mungkin aku akan menyusulmu. Tapi tidak ada yang menjaganya, walaupun keberadaannya berawal dari sebuah kesalahan. Dia tetap bayi mungil manis, yang diberikan Tuhan untukku," Jeny mulai tertawa kecil menyeka air matanya.


"Wajahnya mirip denganmu, apa dia putramu!?" tanyanya bagaikan bercanda di depan sebuah jurang.


"Aku mencintaimu..." ucap Jeny kakinya mulai lemas, berjongkok, menangis dengan lebih kencang.


Air hujan yang membasahi rambutnya tiba-tiba terhenti, bagaikan dihalangi sesuatu.


Jeny menonggakkan kepalanya, payung hitam menghalangi jatuhnya air. Terlihat wajah tidak suka dari Farel,"Nona menangis!?" tanyanya mengamati Jeny yang tertunduk gemetar bagaikan orang menangis, walaupun tidak dapat mendengar kata-kata Jeny dari dalam mobil tempatnya mengamati wanita itu.


"Tidak ini hanya air hujan..." Jeny perlahan mulai bangkit.


"Dimana orang yang nona sukai!?" Farel mengenyitkan keningnya, tidak sabar lagi, memukul pria yang dicintainya nonanya.


Jeny menghembuskan napas kasar, berusaha untuk tersenyum,"Dia sudah meninggal, ibuku membunuhnya..." ucapnya kembali terisak.


Farel tertegun sejenak, memeluk wanita itu erat, berusaha menenangkan tangisan Jeny.


"Ibu membunuhnya karenaku!! Seharusnya aku tidak mengatakan aku menyukainya... Agar dia masih tetap hidup...," Jeny berteriak histeris.


Nyonya anda sudah keterlaluan, apa mengirimku pergi tidak cukup... ucap Farel dalam hati, mengeratkan pelukannya, mungkin merelakan Jeny bersama orang yang dicintainya lebih baik. Dari pada melihat wanita itu menangis.


"Aku ingin menguak kematiannya, karena itulah aku memanfaatkanmu. Aku ingin pulang ke rumah ibu untuk mengetahui kebenarannya..." Jeny menonggakkan kepalanya, raut wajahnya terlihat menyedihkan, kulit wajahnya pucat. Jemari tangannya gemetar, menahan rasa dingin.


"Nona, manfaatkan aku dengan baik. Aku bersedia menjadi alat balas dendammu..." ucapnya tersenyum tulus. Tidak tega menatap tangisan dari wanita yang dicintainya.


"Terimakasih..." Jeny mulai tersenyum.


"Tapi sebelum itu, aku ingin membuat kekasih anda yang sudah meninggal, iri..." Farel tersenyum simpul menatap wajah Jeny. Perlahan menjatuhkan payungnya.


Mata Jeny terpejam, seakan sudah terbiasa dengan perlakuan Farel yang aneh. Merasakan kehangatan kecil ditengah udara dingin yang menerpa tubuh mereka.


Farel tersenyum, merasakan bibir Jeny yang membalas ciumannya. Pemuda itu, mulai melepaskan ciumannya perlahan,"Bisakah nona belajar menyukaiku!?" tanyanya.


"Tidak akan..." Jeny tertunduk.


"Kita lihat saja nanti, nona tidak akan bisa menghindariku..." Farel kembali tersenyum simpul, mencium bibir Jeny di tengah derasnya hujan.

__ADS_1


Tetes-tetes air hujan membasahi payung yang teronggok di atas bahu jalan. Terlihat terkena angin menjauh, terjatuh ke dasar jurang. Bertepatan dengan buket bunga Lily mulai hanyut oleh air sungai yang pasang.


Bersambung


__ADS_2