Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Arti Sebuah Keluarga


__ADS_3

...... Tidak perlu menjadi sempurna untuk dicintai atau mencintai. Karena cinta memang pada dasarnya sesuatu yang sempurna. Aku mencoba mencintaimu dengan sempurna, walaupun aku tidak sempurna. Sejauh apapun kamu pergi, akan ada tempat untukku menyambut dirimu di hatiku, itulah kesempurnaan cintaku......


Author...


Sinar tipis matahari menerangi bumi, Doni mulai membuka matanya, menatap tempat tidur di sampingnya yang kosong sembari tersenyum, menghela napasnya."Dia tidak pulang lagi..." gumamnya, berjalan menuju kamar mandi.


Beberapa puluh menit berlalu, seorang pemuda turun dari tangga, langsung berjalan menuju dapur,"Tuan biar kami saja..." salah seorang pelayan, berusaha menghentikan.


"Hanya sarapan, hanya ini caranya memperhatikan Jeny. Nanti aku harus bertugas kembali," ucapnya hendak mengeluarkan bahan makanan dari lemari pendingin.


Namun, jemari tangan kecil menghentikannya,"Biar saya saja, tugas saya adalah menjaga nona,"


"Baik, ingat semua yang disukai dan tidak disukai Jeny," Doni tersenyum mulai mengiris bahan-bahan. Diikuti tangan kecil yang membantu sebisanya, mungkin hanya mencuci sayuran atau beras.


Setidaknya akan ada orang yang mempedulikan anak keras kepala itu selain diriku... gumamnya dalam hati.


Beberapa makanan hangat terhidang, aromanya menyerebak ke seluruh ruangan. Dua anak tersenyum makan dengan lahap.


"Hati-hati nanti kalian tersedak..." ucap pemuda dengan wajah penuh senyuman itu.


Hingga suara mobil terdengar memasuki area halaman depan. Seorang wanita datang dengan rambut panjang yang tidak begitu rapi, berjalan melintasi mereka.


Doni segera bangkit, memegang tangan sang wanita,"Sarapan dulu," ucapnya.


"Lepas!!" Dea menepis tangan suaminya, berjalan sedikit terhuyung menapaki tangga dengan bau minuman keras yang cukup menyengat di tubuhnya.


Doni tersenyum, kembali menghebuskan napas kasar. Setidaknya hari ini dia pulang...


***


Jeny dan Ren diantarkannya menggunakan sepeda menuju sekolah yang memang cukup dekat. Ren di bagian belakang, berpegangan erat sedangkan Jeny di bagian depan, hingga sampai di gerbang sekolah dasar.


"Ayah aku berangkat dulu," Jeny berucap penuh senyuman.


"Ayah aku juga..." kata-kata Ren kecil terpotong, Jeny menarik telinganya.


"Ayah? Panggil tuan Doni!!" bentaknya.


"Ba...baik tuan Doni," ucap Ren, tertunduk mengusap-usap telinganya, yang baru dilepaskan Jeny.


Doni tertawa kecil,"Kamu boleh memanggilku ayah," ucapnya tersenyum lembut.


"A...Aya..." kata-kata Ren kembali terpotong, Jeny kecil menatapnya sinis."Tuan Doni" ucap Ren dengan cepat, patuh pada anak perempuan yang berdiri di dekatnya.


"Kalian berdua sangat lucu..." ucapnya tertawa dengan kencang."Masuklah, belajar yang rajin," lanjutnya.


Kedua anak seumuran itu berlari memasuki sekolah, Doni tersenyum melambaikan tangannya.


***


Pemuda yang berprofesi sebagai polisi itu, mulai memakai seragam dinasnya, menatap pantulan dirinya di cermin penuh senyuman. Sejenak perhatiannya teralih pada tubuh istrinya yang terbaring.


"Dasar..." ucapnya tersenyum, melepaskan sepatu hak tinggi yang masih melekat pada Dea. Membelai lembut rambut panjang yang menutupi wajah istrinya.


"Aku mencintaimu..." ucapnya mencium kening Dea yang masih tertidur pulas.


Perlahan pintu ditutup olehnya, tidak ingin membangunkan istrinya yang terlihat kelelahan.


Dea memang jarang pulang ke rumah mereka, dengan alasan lembur di salah satu cabang perusahaan ayahnya yang berada sekitar satu jam perjalanan dari rumah mereka.

__ADS_1


Hati yang tulus? Mungkin itu yang dimiliki Doni, semenjak dirinya memutuskan menjadi polisi, Dea tidak pernah lagi bersedia tidur dengannya. Pulang ke rumah hanya sesekali, itupun dalam kondisi mabuk.


Doni, mulai melajukan mobilnya menatap pantulan dirinya di spion mobil, yang memakai seragam kebanggaannya. Dea suatu hari nanti akan mengerti dengan pilihannya, itulah yang ditunggunya, berusaha meluluhkan hati istrinya agar mengerti keputusannya, yang memang tidak menyukai dunia bisnis.


"Doni, malam ini ada tugas operasi pemberantasan miras dan razia hotel yang menyediakan tempat mesum..." ucap rekannya, menjeda aktivitasnya yang tengah berkutat menuliskan laporan.


"Iya..." Doni menghela napas kasar.


Tidak dapat bermain dengan Jeny dan Ren lagi. Dea sedang apa di rumah? Aku ingin menunggunya bangun, tapi sepertinya tidak bisa... gumamnya dalam hati, tertunduk kecewa.


Malam menjelang...


Beberapa kardus minuman keras diangkutnya masuk ke dalam mobil, bersama rekan-rekannya. Hingga tengah malam, razia di hotelpun dilakukannya. Udara cukup dingin malam itu, Doni mengenakan jaket kulitnya, mulai membuka paksa beberapa kamar.


Terlihat banyak pasangan tanpa busana yang tertangkap, bahkan ada yang menunjukkan buku nikah palsu.


"Pak kami sudah menikah," ucap sang pria, menunjukkan buku nikahnya.


"Tanggal berapa istrimu lahir?" Doni mengenyitkan keningnya. Sang pria nampak gugup, mengeluarkan keringat dingin.


"3 Oktober," jawabnya ragu.


"Bawa mereka, cek buku nikahnya palsu atau tidak..." ucapnya pada rekannya penuh senyuman. Menemukan ketidak cocokan dengan tanggal pada buku nikah.


Hingga tangan seorang polwan menepuk pundaknya,"Doni, kamar sebelah.." ucapnya murung.


Doni mengenyitkan keningnya tidak mengerti, berjalan menuju kamar yang diperiksa rekannya.


Langkahnya terhenti, seorang pria seusia dengannya, terlihat memakai pakaiannya terburu-buru. Tapi bukan itu yang menarik perhatiannya, seorang wanita yang tadi pagi tertidur pulas di ranjang mereka, kini tengah kebingungan. Memakai pakaian dalamnya di bawah selimut, rambut panjang tergerai, bagian dada dengan banyak tanda merah keunguan sedikit terlihat.


Doni segera berlari mendekatinya, dengan cepat membantu Dea menggunakan pakaian dalam bagian atasnya. Memakaikan jeket pada tubuh wanita yang bersetatus istrinya.


"Ayo, bagaimanapun sudah seperti ini, kita harus membuat laporan kan?" ucapnya membantu Dea bangkit dari tempat tidur.


Sakit? Iya itulah jawabannya, tujuh tahun menjalani pernikahannya. Selama enam tahun, rekan hidupnya membencinya, hanya karena meninggalkan perusahaan keluarganya demi mengejar cita-citanya untuk mengabdi pada negara.


Langkah Doni gemetar, namun tetap berusaha tersenyum, merangkul pundak istrinya yang berbalut jaket kulit miliknya. Beberapa rekannya menatap iba pada polisi muda yang hanya dapat menyunggingkan senyuman tulusnya.


"Kita berpisah saja..." satu kalimat keluar dari mulut Dea.


Doni menggeleng gelengkan kepalanya,"Aku tidak membencimu hanya karena ini," ucapnya, menapaki langkahnya di lorong panjang menuju tempat parkiran.


"Kenapa?" Dea menonggakkan kepalanya, menatap wajah pemuda rupawan yang lebih tinggi darinya.


"Semenjak aku menikah denganmu, berarti aku juga sudah siap menerima kekuranganmu. Apapun itu..." jawabnya, menatap lurus ke depan, sedikit melirik ke arah Dea, kemudian tersenyum.


"Berhentilah menjadi polisi, jika keluargamu tidak mengijinkanmu kembali ke perusahaannya, aku akan meminta ayah membuatkan perusahaan baru untukmu," Dea tertunduk, cukup malu baginya menatap wajah pemuda yang kini tengah merangkul pundaknya.


Doni menggeleng gelengkan kepalanya,"Harta, kedudukan, bukan hal yang penting. Yang terpenting adalah keluarga, aku akan melindungi kalian walaupun dari jauh," ucapnya.


"Dengan memiliki kedudukan tinggi, kamu akan dihormati. Aku juga akan menghormatimu," Dea meyakinkan.


"Maaf..." satu kata keluar dari mulut Doni yang tersenyum padanya.


Waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, Doni merapikan anak rambut Dea yang tengah tertidur setelah membuat laporan di kantor polisi. Istrinya menyewa seorang gigolo? Pemuda itu tidak dapat melakukan apapun selain tertawa kecil bagaikan mendengar lelucon, saat istrinya beberapa jam lalu diperiksa. Tidak ingin orang lain menatapnya iba.


Mungkin dalam fikiran rekannya, Doni tidak mencintai istrinya, sehingga dapat tersenyum. Namun, hati seseorang tidak pernah ada yang tau.


"Aku mencintai wanita kejam..." ucapnya tersenyum, mengecup kening istrinya. Kemudian bangkit dari tepi tempat tidur, kembali memakai topinya hendak bertugas.

__ADS_1


Pagi menjelang, Doni mengemudikan mobil, diparkirkannya di depan rumah. Berjalan ke lantai atas hendak mengganti pakaiannya, menatap tempat tidur yang kembali kosong."Dia pergi lagi..." gumamnya, sejenak membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Karena seragam ini dia membenciku..." ucapnya, memejamkan matanya sejenak, menatap langit-langit kamar.


Pintu dibuka pelan oleh dua orang anak, merayap perlahan mengejutkan ayah mereka,"Ayah!!" Jeny berteriak mengejutkan.


"Maaf, tuan Dony, nona merindukan anda..." Ren menunduk canggung, sedikit melirik Jeny, agar telinganya tidak menjadi sasaran lagi.


"Anak-anak ayah yang baik," ucap pemuda itu, bangkit dari tempat tidurnya, mengangkat tubuh kecil Jeny.


Yang terpenting di dunia ini adalah keluarga, bukanlah kedudukan. Semenjak aku berjanji menjaga dan menyayanginya, dia adalah keluargaku. Ibu dari Jeny dan Ren... ucapnya dalam hati, mulai bermain dengan kedua anaknya melupakan rasa lelahnya.


***


Beberapa bulan Dea tidak pernah pulang, hingga suatu hari mengatakan akan pergi ke Australia membantu mengurus perusahaan milik Sam.


"Jangan pergi, ada George (kakak Dea) disana, keluarga lebih penting dari segalanya. Jeny terlalu kecil, kita harus membesarkannya bersama-sama," ucapnya menggenggam erat tangan Dea, yang tengah menarik koper.


"Aku tidak pernah pulang, tapi Jeny baik-baik saja. Ada anak adopsimu, dan belasan pelayan. Apalagi yang kurang!?" Dea membentak.


"Dea, yang terpenting adalah keluarga, saling menjaga ketika sakit. Tertawa dan menangis bersama..." ucap Doni meyakinkan.


"Rumah ini memang milikmu, tapi apa gajimu cukup untuk membayar gaji para pelayan. Hidup kita sebagian besar aku yang membiayai!! Aku hanya akan tinggal di Australia beberapa waktu, merebut hak waris ayahku untuk Jeny!!" ucapnya menepis tangan Doni.


Doni tertunduk, mulai bertanya,"Apa kamu pernah mencintaiku?" tanyanya pelan.


"Tidak, aku hanya menyukai kesempurnaan. Kamu sudah tidak sempurna seperti dulu," jawabnya.


"Tolong tetap cintai Jeny, karena tidak akan ada manusia yang sempurna. Suatu hari nanti dia akan memiliki kelemahan..." kata-kata Doni terhenti sejenak.


"Dan aku akan tetap mencintaimu dan menunggumu pulang..." ucapnya tersenyum.


"Pecundang," Dea memalingkan wajahnya, menarik kopernya pergi.


***


Dor...dor...dor...


Baku tembakan terjadi, saat gembong narkotika hendak di tangkap. Doni bersembunyi di balik sebuah tembok kokoh, sesekali menunjukkan dirinya, menembak beberapa pengedar narkotika bersenjata itu.


Salah prediksi, itulah yang terjadi. Gembong narkotika yang disangkanya hanya belasan orang, ternyata lebih dari empat puluh orang. Beberapa orang anggota kepolisian sudah terbunuh. Mengulur waktu menunggu bantuan, hanya hal itu yang dapat mereka lakukan.


Hingga Doni berlari, tempat persembunyiannya di kepung, lengannya tertembak. Senyuman terlihat di wajah seorang pria berambut hitam panjang yang terikat rapi, terlihat berkewarganegaraan asing.


Dor...


Satu letupan menghujam tepat di area dadanya, tepatnya lambung. Pemuda itu, roboh memuntahkan darah. Hingga lepupan berikutnya diarahkan tepat di kepalanya.


Aku bangga dengan hidup yang aku jalani, bangga memakai seragam ini... Bahkan jika dia tidak bangga padaku, cukup kedua anakku yang bangga padaku... Melindungi semua yang dapat aku lindungi...


Tubuhnya bersimbah darah, terbaring di lantai. Matanya tidak terpejam, tersenyum mungkin masih dalam kebanggaan.


***


Makam Doni, peringatan hari kematiannya setelah 18 tahun kemudian...


Dea yang sudah berusia tidak lagi muda tengah menunggu sidang perceraiannya dengan Jony, menaruh seikat bunga di makam Doni,"Status dan kedudukan adalah segalanya, karena aku bahagia dengannya. Tidak seperti kamu yang mati dengan bodoh,"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2