
Farel memasuki mobilnya, jantungnya berdegup dengan cepat. "Aku harus tenang, jika tidak Clarissa akan curiga..." ucapnya menetralkan napasnya.
Beberapa belas menit berselang, kedua orang wanita yang ditunggunya keluar dari butik. Clarissa? Wanita itu membimbing Jeny menuju mobil Farel. Riasan beserta pakaian terakhir Jeny dibiarkan oleh Clarissa. Riasan bagaikan cosplayer dewi atau siluman penggoda, dengan rambut palsu putih panjangnya.
"Aku sudah menelfon pengawal ayahku, sebaiknya kamu antar istrimu pulang..." ucapnya, membuka pintu mobil, mendorong Jeny masuk ke kursi penumpang sebelah kursi pengemudi.
Farel menggenggam erat stir mobilnya, bayangan tentang penampilan Jeny beberapa belas menit yang lalu terus terbayang.
"Kenapa tidak aku antar saja sekalian?" tanyanya.
"Aku harus pergi ke kantor..." jawab Clarissa yang memiliki niatan ingin mendekatkan Jeny dengan Farel.
"Ya sudah, hati-hati di jalan, dan jaga kandunganmu..." ucap Farel melajukan mobilnya tanpa ragu, meninggalkan parkiran butik.
"Bagaimana caranya menaklukkan hati iblis itu agar dapat melupakanku dan mencintai istrinya..." gumam Clarissa, menatap mobil yang telah jauh melaju.
"Jelek?" Jeny mengenyitkan keningnya, mengingat kata-kata Farel.
"Itu hanya ekting..." Farel masih mencengkram erat stir mobilnya, menginjak pedal gasnya lebih dalam. Tanpa menoleh pada Jeny sedikitpun.
"Ekting? Tapi kamu tidak tergoda sama sekali kan? Aku didandani habis-habisan, tapi sama sekali tidak bereaksi..." cibir Jeny, merajuk tanpa alasan.
"Jangan mengingatkanku tentang yang tadi!!" Farel menggigit bagian bawah bibirnya sendiri, menahan sesuatu, masih setia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Tapi benarkan? Aku bahkan untuk pertama kalinya memakai pakaian dress seksi. Kamu bahkan diam tanpa reaksi membeku dengan wajah dingin..." Jeny menghebuskan napas kasar, mengeluarkan semua hal mengganjal dalam hatinya.
"Bukannya tidak bereaksi...tapi..." kata-kata Farel terpotong.
"Tapi apa? Clarissa bilang tidak ada pria yang tahan dengan kostum pelayan kelinci penggoda..." ucapnya bertambah cerewet.
Sial!! Dia mengingatkanku dengan dua pakaian terkutuk itu lagi... gumamnya dalam hati.
"Jeny diam sebentar ya..." Farel mati-matian menahan dirinya.
"Tidak akan, aku..." kata-katanya terhenti, mobil diparkiran asal oleh Farel di sebuah penginapan.
"Kenapa kita berhenti disini?" tanya Jeny tidak mengerti.
Farel masih setia terdiam tidak mengatakan apapun, turun dari mobilnya, diikuti Jeny.
"Kenapa kita kemari, apa tugas dari kakek!? Atau tugas dari ayahmu!? Sampai kapan kita harus berpura-pura menjadi pasangan suami istri tidak harmonis!?" tanya Jeny membentak mulai emosi.
"Satu kamar..." ucap Farel, seakan menganggap kata-kata Jeny angin lalu.
Kunci diraihnya dari tangan resepsionis, berjalan menuju kamar dengan nomor yang sama dengan yang tertera pada gantungan kunci.
"Ren!! Sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku!? Sebulan ini kita bahkan jarang bersama, mengantar Clarissa, menjemput Clarissa, membelikan pakaian ibu hamil untuk Clarissa. Selama 14 tahun ini hingga sekarang aku menyukaimu, apa kamu bosan padaku..." tanyanya masih merajuk, bersamaan dengan Farel membuka kunci kamar penginapan.
Tangan Jeny ditarik olehnya ke dalam kamar, pintu kamar dikuncinya dari dalam.
"Ren!! Kamu belum menjawab pertanyaanku!!" Jeny membentak tanpa menyadari situasi di sekelilingnya.
"Diam... cerewet..." Farel membungkam bibir Jeny perlahan. Sedikit berminyak? Itulah yang dirasakannya, mencicipi bibir dengan lapisan lip gloss, lidahnya tidak ada hentinya bermain disana.
"Bosan? Bagaimana bisa bosan, jika aku hanya dapat tergoda olehmu. Aku tidak dapat tergoda oleh wanita lain..." bisiknya dengan napas terengah-engah. Menggigit leher Jeny, tangannya melepas perlahan resleting gaun yang menutupi punggung putih tanpa noda.
"Ugghhh..." suara lirih samar-samar terdengar dari mulut Farel, yang telah dari tadi menahan hasratnya. Disela-sela aktifitasnya menjelajahi leher Jeny.
Jeny mendorong tubuh Farel, agar terjatuh di atas tempat tidur. Menaiki tubuh suaminya agresif, gaun belum terlepas sempurna dari tubuhnya. Rambut palsu putih yang tergerai terlihat indah menghiasi wajah wanita yang tengah duduk di atas tubuh Farel.
"Aku emosi padamu, yang sering membuatku bingung dengan sandiwaramu. Karena itu aku tidak akan mengampunimu..." ucapnya membuka kancing kemeja yang dipakai Farel, mengelus perut hingga dada bidangnya yang terlihat padat atletis. memberi sensasi geli yang aneh. Bibir mereka kembali bertaut, menyatukan hasrat mereka yang dua minggu ini saling acuh. Tepatnya berpura-pura saling acuh, karena hampir setiap malam Lery mendatangi rumah Ayana, hanya untuk sekedar berdiskusi tentang pertunangan yang akan diadakan beberapa hari lagi.
"Biar aku saja..." Farel berusaha bangkit dari bawah tubuh Jeny.
"Aku yang kali ini menegaskan, diam dan nikmati saja..." ucapnya dengan nada suara menggoda, tidak membiarkan Farel bangkit.
Pasrah? Pada awalnya memang iya? Siapa yang akan tahu pada akhirnya.
__ADS_1
***
Brug...
Bantal dilemparnya pada tubuh Farel yang berbaring sambil tertawa disampingnya. Rambut Farel tidak lepas dari jambakannya.
"Maaf... tolong lepas..." ucapnya dengan tubuh tanpa busana masih berbalut selimut yang sama dengan Jeny.
Farel menipiskan bibirnya menahan tawanya, namun tetap saja tidak bisa. Pemuda itu kembali tertawa,"Diam dan nikmati saja? Tapi malah minta berhenti di tengah jalan, tidak ingin diatas lagi..." ucapnya.
Jeny menatap tajam padanya, seketika Farel kembali terdiam. Menghembuskan napas kasar, memindahkan pelan kepala Jeny agar menyender pada dadanya. Mengelus rambut istrinya penuh kasih.
"Maaf, aku mudah lelah, mungkin karena sedang hamil ..." kata-katanya terpotong, Farel mengecup pelan pucuk kepalanya.
"Aku siap menunggu, melayani, dan menjagamu. Aku adalah pelayan setiamu, dimanapun yang nona inginkan, apapun yang nona perlukan aku akan mengetahui, memaklumi, dan tetap hanya dapat mengasihimu seumur hidupku..." ucapnya tulus.
"Ren, kenapa kamu menyukaiku?" tanya Jeny tidak mengerti. Citra buruk? Seharusnya itulah yang diketahui Farel tentang Jeny.
Sering memerintah, kasar, dan sering mengatur. Tidak masuk akal rasanya Farel mendirikan JH Corporation hanya untuk membuktikan bahwa dirinya dapat membahagiakan nona egois yang selalu merajuk. Ingin memiliki Jeny di tengah gadis-gadis cantik yang pastinya mengejarnya setelah diangkat menjadi putra Ayana.
Tampan, mapan, pintar, tidak ada yang kurang dari Farel saat ini.
"Sudah aku bilang, tidak ada alasan untuk mencintai seseorang..." ucapnya, memeluk tubuh Jeny erat."Tapi jika didesak untuk mencari alasan, aku memiliki dua alasan..." jawabnya.
"Dua alasan?" Jeny seakan bertanya.
"Alasan pertama, tuan Dony pernah menyelamatkan nyawaku. Jadi sisa nyawaku adalah milik putrinya..."
"Alasan yang kedua, menemukan wanita cantik itu mudah. Tapi menemukan wanita yang mencintaimu apa adanya itu sulit..." jawabnya.
"Apa adanya?" Jeny mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
"Ketika aku kurus, pendek, dekil dan memakai kacamata, hanya kamu gadis yang tersenyum tulus padaku. Bahkan teman pria di sekolah saja membullyku,"
"Kamu bukannya memerintahku, tapi mencintaiku dengan cara yang berbeda..." jawabnya.
"Nona sering terlambat bangun dan enggan sarapan agar aku masuk ke kamarmu kan? Tidak suka ke sekolah menggunakan mobil yang nyaman? Alasan sebenarnya karena ingin menyender pada punggungku, saat menaiki sepeda,"
"Perasaan yang berbalas, aku senang memperhatikan nona, bukannya karena senang di perintah. Tapi karena aku senang, menerima cinta tulusmu dengan cara yang berbeda..."
***
Di tempat lain...
Seorang wanita membawa dua kotak bekal dalam paperbag-nya, satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Daniel. Melangkah perlahan mengetuk pintu.
"Masuk..." pemuda yang duduk di kursi putarnya tersenyum ramah.
"Aku mencoba resep baru, apa pak Daniel mau mencobanya?" tanyanya memperlihatkan paperbag besar yang dibawanya.
"Apa enak?" Daniel mengenyitkan keningnya, menyambar paperbag.
Hubungan tanpa status? Hal itulah yang di jalani mereka hingga Kanaya menatapnya tanpa berkedip. Terhanyut akan kesalah pahamannya tentang perhatian Daniel.
"Tentu saja..." ucapnya, tersenyum, mengambil alat makan mereka. Bahkan alat makan dalam kotak berpasangan? Siapa yang menyangka mereka tidak memiliki hubungan khusus.
Pak Daniel orang yang baik dan perhatian, aku beruntung memiliki tunangan sepertinya... gumamnya dalam hati.
Sendok demi sendok makan masuk ke mulutnya, perlahan Kanaya kini sudah mengerti cara menata penampilannya. Wajahnya terlihat lebih cantik saat ini, cara berpakaiannya juga sudah jauh mengalami perubahan.
"Hubungan kita sudah diketahui orang tuaku dari televisi saat pembukaan cabang perusahaan JH Corporation, kapan pak Daniel akan ke kampung halamanku bertemu orang tuaku...?" tanyanya di sela-sela aktifitas makan mereka.
Daniel menyemburkan makanan dari mulutnya, terbatuk-batuk, segera meminum air mineral yang disodorkan Kanaya.
"Kenapa bertemu orang tuamu? Tidak mungkin kamu berfikir kita akan benar-benar menikah kan?" tanyanya tertawa kecil meremehkan.
Kanaya tertunduk sejenak, kemudian berusaha tersenyum,"Aku terlalu banyak berfikir..." ucapnya, dengan tangan gemetar.
__ADS_1
"Benar, kamu terlalu banyak berfikir, kamu adalah sahabat terbaikku..." Daniel mengacak-acak rambut Kanaya gemas.
Wanita itu memejamkan matanya sejenak, ingin memperjelas semuanya. Perhatian, kedekatan, mereka selama beberapa bulan ini, apakah tidak ada artinya di mata Daniel?
Matanya mulai terbuka, memberanikan dirinya memojokkan Daniel di sofa. Nekat? Begitulah tindakannya, mencium bibir Daniel, secara paksa.
Sedetik, dua detik, tidak ada respon, Daniel tidak membuka mulutnya. Tubuhnya di dorong oleh pemuda itu.
"Kanaya!! Kita ini hanya sekedar teman..." ucapnya.
Gadis itu tertunduk, duduk di lantai,"Aku mengerti..." tubuhnya mulai berdiri, air matanya mengalir, diseka olehnya, kembali tersenyum.
"Maaf berbuat tidak pantas..." ucapnya kembali duduk di sofa, memakan-makanannya yang belum habis.
Tidak ada satu katapun keluar dari mulut Kanaya. Daniel hanya terdiam, sesekali meliriknya, menahan perasaan di hatinya.
Aku menyukainya, tapi hanya dengan kata cinta apakah hubungan dapat bertahan? Apa dia akan berkhianat seperti Renata? Atau suatu hari nanti dapat aku kecewakan seperti Jeny? Aku ingin menyembuhkan lukaku sebelum memulai semuanya... gumamnya dalam hati.
Handphone Kanaya berbunyi, tanda sebuah pesan masuk.
'Kanaya, bagaimana calonmu? Apa bisa segera datang? Kemal sudah datang beberapa kali melamar, bapak tidak enak menolaknya terus menerus, tanpa alasan. Lebih baik kamu pulang menolak secara langsung, sekalian kenalkan calonmu padanya.'
Gadis itu menghela napas kasar, membalas pesan ayahnya.
'Kanaya tidak punya calon. Kanaya besok pulang sendiri.'
"Siapa yang mengirim pesan?" Daniel dengan nada posesif.
"Ayah saya, besok saya cuti, ada urusan keluarga..." jawabnya enggan bercerita.
Kanaya tertunduk diam menikmati makannya tidak banyak bicara seperti biasanya. Sementara pemuda yang duduk di sampingnya hanya menghela napasnya, menganggap semua akan kembali seperti semula dengan sendirinya.
Sore mulai menjelang, gadis itu terlihat hendak meninggalkan kantor. Daniel menghentikan mobilnya yang baru keluar dari parkiran. Mengantar Kanaya pulang? Hal itu belakangan ini menjadi kebiasaannya.
"Naiklah..." ucapnya.
"Maaf, saya sudah memesan ojek online. Itu sudah datang..." Kanaya berucap dengan sopan, berjalan meninggalkan Daniel, menaiki ojek online yang dipesannya.
Daniel tertegun kesal dari dalam mobilnya,"Apa karena drivernya lebih muda dariku? Mantan pacarmu juga lebih muda? Apa kamu juga akan menyukai yang lebih muda untuk menjadi suamimu!?" bentaknya tidak jelas dari dalam mobil, menatap ojek yang telah pergi jauh membawa Kanaya.
Angin menerpa rambut Kanaya yang tertegun diam. Kemal? Pria itu sudah dianggap kakak olehnya. Entah kenapa lama-kelamaan dirinya jatuh cinta pada Daniel.
"Eneng, kenapa?" tanya sang driver, masih mengemudikan motornya.
"Patah hati, bang...mau tidak pulang ke kampung halaman saya. Jadi suami saya?" tanyanya nekat.
"Mau, sih mau tapi istri saya sudah dua..." ucapnya tidak tau malu.
Wajah Kanaya pucat, menatap aneh pada sang driver ojek online.
"Gimana mau nggak neng...?" tanyanya.
"Mendingan abang ikut program pemerintah, dua istri cukup. Jangan nambah istri lagi!!" jawabnya kesal.
"Itu mah dua anak cukup neng..." sang driver tertawa kencang.
***
Kapal pesiar mewah yang akan berlayar di laut Artik, itulah lokasi upacara pertunangan yang menelan biaya tidak sedikit.
Lery menatap Farel yang tengah berbincang dengan Taka dari jauh.
"Penghianat..." ucapnya menghancurkan flashdisk pemberian tim IT-nya. Virus berkedok pengamanan yang di pasang Farel pada sistem komputer mereka? Lery baru mengetahuinya malam ini, dari rekrutan tim IT-nya yang baru bergabung.
Flash disk yang hancur, dilemparkannya ke dalam laut,"Penghianat harus mati..." gumamnya, menatap pecahan flashdisk yang jatuh ke laut. Gelas wine di tangannya ikut dijatuhkan, air laut tercemar sedikit noda merah dari anggur terlihat sejenak.
Pecahan flashdisk tenggelam, bersama dengan gelas anggur. Jatuh ke dasar laut, sedangkan noda merah darah dari wine mengapung di atasnya.
__ADS_1
Bersambung