
Beberapa hari berlalu, Farel tinggal di rumah Jeny yang tidak begitu besar. Menatap wajah wanita yang kini tengah menata makanan di atas meja.
"Aku dilayani oleh nona..." ucapnya tertawa kecil penuh kebanggaan. Pandangannya tidak beralih dari Jeny yang mengambilkan lauk ke piring Farel.
"Nanti lakukan tugasmu sebagai seorang suami. Genting di atas ada yang bocor, pipa kamar mandi kemarin pecah. Lampu belakang sudah harus diganti bohlamnya. Benar juga, tolong pel lantainya dan cuci pakaian Rafa..." ucap Jeny penuh senyuman.
Aku masih saja menjadi kacung... tapi sebagai suami yang baik, apa pun akan aku tempuh... untuk mendapatkan jatah... tekad Farel dalam hatinya.
"Aku akan menyelesaikan semuanya!!" ucapnya tegas.
Jeny tertawa kecil, menatap suaminya,"Maaf, aku harus bekerja hingga larut. Nanti tolong bantu bibi jaga Rafa,"
"Baik, tapi bayaranku perjamnya sangat mahal..." Farel berucap penuh keseriusan.
"Berapa!?" Jeny mengenyitkan keningnya.
"10.000 dolar per jam," jawabnya jujur, mengingat pendapatan terendahnya. Jika meladeni klien kelas rendah.
Jeny mengenyitkan keningnya menatap sinis,"Aku akan bangkrut untuk membayar gajimu sehari," ucapnya, tertawa kecil.
"Jika begitu tidak usah dengan uang, perjamnya dibayar dengan ciuman saja..." ucap Farel berbisik menggoda.
"Sudah!! aku akan berangkat," Jeny tersenyum simpul, bangkit mengambil tasnya.
Wanita yang terlihat menahan malu itu, berjalan beberapa langkah. Kemudian sedikit menengok,"Aku mencintaimu!!" ucapnya menutup pintu, berlari meninggalkan Farel.
"Aku adalah kacung yang bahagia..." gumamnya, menatap kepergian Jeny.
***
Pernahkah kalian melihat seorang bapak rumah tangga!? Hingga saat ini Jeny masih mengira Farel adalah seorang pengangguran, alhasil...
"Br*ngsek!! Sebaiknya kamu mengundurkan diri!! Atau namamu saya blacklist agar tidak dapat bekerja di perusahaan manapun!!" bentaknya menghubungi seseorang menggunakan earphone dari atas atap nan tunggi, membawa genteng, paku dan palu serta kayu kecil untuk memperbaiki kayu bangunan yang sedikit lapuk.
"Kirimkan laporan pembekuannya besok, dasar makan gaji buta!!" umpatnya, Masih dengan earphone terpasang di telinganya. Satu persatu piring dibersihkannya dan tertata rapi.
"Sorry, if you can't get that's projects, don't call me again!!" bentaknya pada salah seorang partner bisnisnya, masih dalam keadaan memakai celemek dengan tongkat pel di tangannya.
Bibi Resti (baby sitter) yang mendengarkan umpatan Farel hanya menggeleng gelengkan kepalanya,"Wong gendeng (orang gila)," ucapnya sambil menggendong Rafa.
Kegiatan bapak rumah tangga paling aneh itu akhirnya selesai. Perlahan membuka laptopnya, bersamaan dengan ratusan e-mail yang masuk.
__ADS_1
"Aku harus baca yang mana dulu," Farel menghembuskan napas kasar, bergumam sendiri. Konsentrasi mengerjakan sesuatu di laptopnya.
Hingga satu suara terdengar, bibi Resti tiba-tiba menghampirinya,"Tuan, stok ASI cadangannya habis," ucapnya.
Farel menghembuskan napas kasar menutup laptopnya,"Baik, aku akan pergi ke kantor Jeny,"
***
Taksi online mulai terparkir, kali ini Farel memasuki kantor EO milik Jeny sebagai suami wanita itu.
Memakai pakaian santai, dengan jeans hitam dan sweater putih. Tatanan rambut hitam terlihat rapi, berjalan mendapatkan tatapan kagum dari beberapa karyawati.
"Pak Farel aku tunggu dudamu!!" salah satu karyawati berteriak dari meja kerjanya.
"Kamu ini!! Ingin dipecat nona!?" Helen menatap sinis.
"Aku menunggu dudanya, tidak bermaksud menjadi pelakor..." karyawati itu tertawa kecil.
Pemuda yang tengah hendak berjalan ke ruangan Jeny, menyentuh hendel pintu dengan perasaan berdebar.
Kali ini aku akan membantunya memompa ASI... fikiran mesum Farel membuatnya melupakan segalanya. Perlahan pintu dibukanya.
Namun, hal memuakkan di lihat pemuda itu, dari pintu yang sedikit terbuka. Dea berada di sana, menatap sinis pada Jeny.
"Ibu, dia itu Ren dan ibu tau semua itu!! Aku hanya mencintainya dari dulu!!" Jeny membentak.
"Seperti kakekmu, ibu tidak dapat menerima ahli waris yang memiliki kelemahan. Jika tidak ingin bercerai, lebih baik mundur menjadi ahli waris perusahaan kakekmu. Kamu tinggal pilih, kembali bersama Daniel dan suatu saat nanti memegang perusahaan kakekmu. Atau selamanya membusuk, menjadi pemilik EO kecil, memiliki suami pengangguran..." Dea memberi pilihan, menyodorkan dokumen lain, yang isinya pengalihan hak waris dari Jeny pada ibunya, Dea.
"Terimakasih, dulu sudah mengirim uang untuk membesarkanku..." ucapnya miris menandatangani dokumen pengalihan hak waris.
"Ibu sebenarnya kecewa dengan pilihanmu," Dea menghebuskan napas kasar, "Kita tidak ada hubungan lagi, anakku satu-satunya adalah Dimas,"
Wanita paruh baya itu, meraih kedua dokumen, membawanya pergi, sembari sedikit mencibir,"Dasar bodoh!! Menyia-nyiakan suami sempurna seperti Daniel,"
"Sempurna dalam pandangan ibu dan pandanganku adalah hal yang berbeda," Jeny menghebuskan napas kasar.
Pintu dibuka oleh wanita paruh baya itu, hendak keluar dari ruangan.
"Selamat siang nyonya..." ucap Farel dengan wajah dingin, senyuman yang tidak terlihat lagi di wajahnya.
"Dasar pria benalu!! Seharusnya kamu tidak pernah kembali!!" Dea kembali mencibir berjalan berlalu.
__ADS_1
Farel menyunggingkan senyuman mengerikan di wajahnya, sedikit tertawa kecil, melirik kepergian Dea.
Perlahan menghebuskan napas kasar, aura kebencian menghilang di tubuhnya.
"Sayang!!" ucapnya penuh senyuman, membuka pintu dengan membawa box khusus.
"Aku merindukanmu..."Farel menutup pintu, memeluk Jeny yang duduk di kursi putarnya dari belakang.
Istrinya yang sedikit penat akibat perilaku Dea, menyunggingkan senyumnya,"Dasar..." ucapnya tertawa kecil.
"Tidak apa-apa kan!? Merindukan istri bukanlah sebuah dosa..." Farel melepaskan pelukannya, menatap Jeny penuh harap.
"Aku kemari untuk mengambil stok ASI, apa aku perlu membantumu mengeluarkannya!? Rafa sangat haus...." lanjutnya penuh modus.
"Ini, aku sudah menyiapkannya," Jeny mengeluarkan box lain yang sudah berisikan stok ASI.
"Sudah!? Ini terlalu sedikit, tidak akan membuat Rafa kenyang. Aku bantu lagi ya," Farel mendekat, wanita yang bersetatus istrinya itu mendorong wajahnya.
"Itu sudah cukup," Jeny menghebuskan napas kasar.
Aaaakkhhh, aku sudah terbayang dari rumah. Tapi angan, tinggal angan... gumam Farel dalam hati, merutuki nasibnya sebagai pengantin baru yang penuh gairah.
"Farel maaf, ibuku memblack list namamu di beberapa perusahaan karenaku," ucap Jeny tertunduk penuh rasa bersalah.
"Tidak apa-apa," Farel menggeleng gelengkan kepalanya sembari tersenyum,"Jika begitu selamanya aku akan menunggumu di rumah mengurus Rafa. Apa kamu tidak keberatan membiayai hidupku!?" tanyanya.
"Tidak masalah, aku akan memecat bibi Resti dan memberikan gaji yang seharusnya diperuntukkan untuknya padamu," Jeny tertawa kecil.
"Menjadi baby sitter, menjadi supir, menjadi pelayan, bahkan menjadi suami. Aku akan melakukan semuanya untuk nona," ucap Farel, tersenyum tulus, mengecup bibir Jeny sekilas.
Jeny hanya tersenyum, kemudian menghebuskan napas kasar, menatap persiapan undangan pembukaan salah satu anak cabang perusahaan JH Corporation yang eventnya di terima Helen.
"Ada apa!?" Farel mengenyitkan keningnya.
"Dalam rangkaian acaranya, pemilik JH Corporation akan mengenalkan ahli warisnya," jawab Jeny menatap penuh kecemasan.
"Lalu!?" Farel duduk di meja kerja Jeny, membelai rambut istrinya.
"Rafa adalah putranya, apa dia akan merebut hak asuh Rafa..." ucap Jeny dengan cemas, mulai menitikkan sedikit air matanya, rasa takut kehilangan Rafa berkecamuk dalam dirinya.
"Jangan menangis, sebagai ayah Rafa, aku akan melindungi kalian..." ucapnya menatap mata Jeny, menghapus air mata istrinya yang terlanjur mengalir.
__ADS_1
Sebagai ayah dan suami yang baik sudah seharusnya aku memberikan sesuatu pada kalian... gumamnya dalam hati.
Bersambung