
Terlihat ramainya hiruk pikuk kesibukan perkotaan dari jendela kaca besar yang terdapat di sebuah ruangan perkantoran. Tangan seorang pemuda mulai meraba dengan perasaan putus asa.
"Tuan!?" terdengar suara seseorang pemuda di belakangnya.
"Siapa dia sebenarnya!?" tanya sang pemuda.
"Tidak ada yang istimewa dari latar belakangnya. Dia diadopsi dari panti asuhan, kemudian di bawa ke Singapura oleh orang tua asuhnya. Besar dan bersekolah di sana hingga meraih gelar master. Hanya itu informasi yang saya dapatkan. Saya rasa dia bukanlah orang yang penting atau berpengaruh," Ken (asisten Daniel) menghebuskan napas kasar.
"Bukan orang yang penting!? Orang seperti itulah yang paling patut di curigai. Apa tujuannya kemari!? Kenapa bersedia menjadi asisten sekaligus suami pura-pura dari Jeny. Dengan gelar, kemampuan, dan rupanya seharusnya tidak menginginkan Jeny," Daniel meraba kaca jendela yang tertuju langsung pada langit.
"Orang yang berkerja pada Ren!?" lanjutnya mulai memikirkan kata-kata Nana.
"Siapa Ren!?" Ken mengenyitkan keningnya.
"Orang yang dicintai Jeny, kemungkinan besar Farel adalah orang suruhannya. Awasi dan selidiki orang-orang yang dekat dengan Farel!!" Daniel menghebuskan napas kasar, berurusan dengan orang yang tidak diketahui masih hidup atau sudah mati cukup merepotkan baginya.
"Baik tuan..." Ken menunduk memberi hormat, berlalu pergi.
"Sial!!" umpatnya, mengingat wajah memuakan Farel.
***
Hari ini cukup mendebarkan bagi Nana, wanita itu menguras uang cashnya lagi, sebab sudah menunggu berbulan-bulan tanpa hasil. Satu orang kepercayaan yang dikirimkannya.
Seorang pria yang terlihat berwajah tidak bersalah, pintar, dan kelihatan bertampang seperti orang baik. Satu lagi kreteria yang harus ada, serakah dengan uang.
"Bertemanlah dengan orang di rumah sebelah, buat dia menjadi sahabat terbaikmu," Nana mengenyitkan keningnya.
"Baik..." ucap Key menadahkan tangan, dengan mata berbinar binar.
"Tadi kan sudah," Nana menghembuskan napas kasar.
"Sewa ruang tamu untuk rapat denganku, waktu yang terbuang untuk diskusi, dua gelas air dingin di atas meja. Aku memberikanmu diskon besar, Soekarno-Hatta (uang pecahan seratus ribu)," Key masih setia menadahkan tangannya.
"Uang Deposit sudah lebih dari satu juta, apa tidak cukup!?" tanya Nana geram.
"Ini dibayar terpisah..." Key tersenyum simpul, meraih air putih dinginnya.
"Pattimura (uang pecahan seribu rupiah) terima atau tolak!? Jika menolak tugas, kembalikan Depositku..." Nana menadahkan tangannya.
Wajah pemuda itu seketika pucat, setelah beberapa bulan menjadi sasaran pemerasannya, ternyata Nana sudah cukup banyak belajar.
"Pattimura!!" Key meninggikan intonasi suaranya, mengambil uang bergambarkan tokoh pahlawan nasional di tangan Nana."Pelit..." umpatnya.
"Matre..." balas Nana mencibir.
***
Strategi mulai dijalankan, dengan penuh senyuman Key mendatangi rumah sebelah membawa sekotak kue bolu. Yang dibuat olehnya.
Tok...tok...tok
Pintu dibuka, terlihat seorang pemuda rupawan, memakai celemek, dengan sapu bulu di tangannya dan headset melekat di sebelah telinganya.
"Perkenalkan, aku Key tetangga sebelah. Aku membawakan kue bolu, untuk mengakrabkan diri. Maaf, sudah berbulan-bulan kalian pindah kesini aku baru sempat berkunjung," ucapnya penuh senyuman.
"Bolu!? Tidak ada sesuatu yang aneh didalamnyakan!?" tanya Farel waspada, mengingat dirinya pernah diracuni Renata.
Key tertawa canggung, orang gila kenapa... batinnya.
"Ada tepung terigu, gula pasir, telur, soda kue, dan meses coklat sebagai toppingnya," Key menahan rasa geramnya.
__ADS_1
Dengan penuh rasa penasaran Farel mengambil sebuah pisau. Memotong kue bolu itu di depan rumah, tanpa mempersilahkan tamunya masuk,"Makanlah!!" ucapnya masih curiga.
"Ini bolu asli!!" ucap Key dengan mulut penuh memakan potongan kue bolu.
"Benar-benar asli, terimakasih..." Farel menutup pintu, membawa kue bolunya.
"Ke ... kenapa pintunya di tutup!? Woi buka!!" teriak Key dari luar, sembari menggedor gedor pintu dengan kencang.
Tidak lama pintu kembali terbuka,"Ada apa!?" tanya Farel dengan wajah penuh senyuman ramah.
"Tidakkah kamu ingin memperkenalkan dirimu!?" Key mengenyitkan keningnya.
"Kamu homo!? Atau memiliki kecenderungan tidak menyukai perempuan!?" Farel kembali bertanya penuh senyuman.
Pertanyaan macam apa ini!? Apa dia homo!? Ya Tuhan, kuatkan hamba dari rasa jijik pada orang gila ini, demi uang 1.401.000 rupiah... doanya dalam hati berusaha tetap tersenyum.
"Aku pria normal," Key masih setia tersenyum.
"Kalau kamu normal, jangan dekat-dekat!!" Farel membentak kesal, membanting pintu di hadapan Key.
"Ja...jadi dia benar-benar homo!? Pedang melawan pedang!?" wajah pemuda itu seketika pias mengira pemuda yang menutup pintu itu memiliki kecenderungan menyimpang.
Sementara itu, Farel mengenyitkan keningnya, mengambil sebilah pisau.
"Dia bukan homo berarti dia memiliki magsud lain. Mendekati istriku dengan kue bolu!? Aku akan menghabisinya!!" Farel terlihat kesal, menusuk-nusuk kue bolu di atas meja, kemudian sedikit memakannya,"Sial ternyata enak..." ucapnya masih kesal.
Farel kembali membuka pintu, dengan tidak tau malunya, kembali tersenyum tulus."Masuklah, kita akan jadi tetangga yang akrab, asalkan kamu memberi tahuku resepnya,"
Ulang tahun nona sebentar lagi, aku akan membuat pengganti sponge cake dari resep bolu ini... tekadnya dengan prilaku yang berubah, menarik Key ke dalam rumah penuh senyuman.
Ibu, demi uang cash 1.401.000 aku akan menghadapi homo seksual, memalukan ini. Karena uang aku bahagia, karena uang pula aku sengsara... Key menghembuskan napas kasar ketakutan.
***
Sementara itu, dengan penuh senyuman Jeny memasuki sebuah butik, guna membeli gaun. Satu persatu gaun dipilihnya, tidak menyadari kedatangan seorang selebriti yang namanya kembali melejit.
"Wanita murahan, sudah puas merusak hidupku!?" tanyanya mencengkram erat lengan Jeny..
"Sakit!! Ada apa!? Jangan ganggu aku!! Lebih baik kamu pulang dan layani Danielmu tersayang..." Jeny menghembuskan napas kasar.
"Daniel mencampakkanku karenamu!! Dasar murahan!! Janda yang berselingkuh dan hamil di luar nikah...!!" Renata, menarik rambut Jeny penuh emosi.
Seberapa besar batas kesabaran seseorang!? Setiap orang pastinya memiliki batas kesabaran yang berbeda-beda, begitu pula dengan Jeny yang telah habis batas kesabarannya. Tangan Renata dicengkeramnya, hingga wanita itu menjerit melepaskan rambut Jeny. Dengan satu bantingan menjatuhkan tubuh wanita seksi itu hingga tersungkur di lantai. Beberapa pegawai dan pengunjung butik yang mayoritas perempuan seperti enggan melerai pertengkaran itu.
Bahkan terdiam berbisik-bisik tidak yakin dengan wajah Renata yang baru saja mengembalikan nama baiknya yang rusak akibat skandal dengan seorang sutradara film.
Wanita yang masih memegangi pinggangnya yang sakit akibat dibanting, perlahan mulai bangkit. Menutup wajahnya dengan tas tangan sebelum ada pengunjung yang yakin jika dia Renata.
Berlari dengan cepat keluar dari butik. Jeny menghembuskan napas kasar kembali memilih pakaian. Tidak menyadari akal busuk seseorang.
Renata yang kesal, pergi menuju pintu belakang butik. Menemui salah seorang pegawainya dengan menyodorkan uang cash yang sekitar dua juta rupiah. Membisikkan sesuatu pada sang karyawan.
***
Satu persatu pakaian dicoba oleh Jeny. Tasnya diletakkan dekat ruang ganti. Jemari tangan seorang karyawan memasukkan syal dengan nilai yang tidak murah dalam kantong kecil tasnya.
Beberapa puluh menit berlalu, Jeny keluar dari ruang ganti membawa dua gaun yang hendak dibelinya. Berjalan perlahan menuju meja kasir.
"Ini saja..." ucapnya.
"Tunggu sebentar," sang kasir mulai menghitung harga barang. Kemudian membungkusnya meletakkan dalam paper bag.
__ADS_1
"Totalnya, 2.853.000," lanjut sang kasir.
Jeny membayar dengan kartu kreditnya, kemudian mengambil paper bag hendak berjalan keluar. Namun, saat melewati mesin detektor, bunyi nyaring terdengar. Pertanda wanita itu membawa barang yang belum di bayar.
"Tunggu!! Tujukan semua isi tasmu!! Security!!" panggil sang kasir.
"Aku tidak mengambil apa-apa!!" Jeny menurunkan semua bawaannya.
Seorang pria berbadan tegap yang berjaga di depan butik datang menggeledah isi tas wanita itu. Dan benar saja sebuah syal ditemukan.
"Cantik-cantik pencuri, ternyata orang tidak bisa dinilai dari rupanya," salah seorang pengunjung mencibir.
"Itu wanita yang tadi bertengkar dengan orang yang mirip artis Renata kan!? Orang mirip Renata mengatakan dia itu janda yang hamil karena perselingkuhan. Mungkin tuntutan ekonomi..." pengunjung lainnya mencibir.
"Jalang yang sok kaya," salah seorang karyawan butik ikut-ikutan menghina.
Cibiran demi cibiran dari mulut sampah didengar oleh Jeny. Wanita itu terdiam tidak tau harus berucap bagaimana.
"Saya tidak mencuri ..." Hanya itu pembelaan yang keluar dari mulutnya. Janda yang hamil akibat perselingkuhan? Itu sudah pernah dilaluinya, dan itu adalah kenyataan. Tidak memiliki pembelaan atas hal itu. Namun, mencuri? Dirinya masih cukup dapat memenuhi kebutuhannya dan putranya. Lagipula bagaimana bisa hidup hanya dengan mencuri sebuah syal, itu adalah sebuah lelucon.
"Ikut saya ke kantor polisi. Kita buktikan disana!!" sang security menarik paksa Jeny, yang hanya bisa tertunduk mendengarkan lebih banyak cibiran lagi dari beberapa orang yang menyaksikan.
"Jika tidak bisa beli, jangan sok gaya!!" sang kasir berucap dengan nada tinggi.
***
Wanita itu tertunduk dalam diam di kantor polisi, tidak mempunyai perlindungan atau orang yang berpengaruh untuk dapat membebaskannya dari tuduhan.
"Bagaimana caramu mencuri...!?" tanya sang polisi dengan komputer di hadapannya. Mulai mengetik tentang kasus pencurian yang terbilang ringan.
"Tunggu!! Tolong telfon suami saya..." ucap Jeny dengan tangan gemetar, dalam anggapan kedatangan Farel mungkin tidak dapat membantunya tapi dapat menenangkannya.
***
Aroma kue bolu tercium, seorang pemuda tersenyum bangga akan hasil masakannya,"Terimakasih..." ucapnya pada Key.
"I...iya," Key saat ini masih gugup menyangka Farel seorang homo seksual.
"Sekarang pergilah!!" usir Farel penuh senyuman.
"Pergi!?" Key mengenyitkan keningnya.
"Benar, tebu yang sudah diperas sarinya harus dibuang. Lagipula kamu harus segera pulang, sebelum istriku tersayang datang..." ucapnya masih tersenyum cerah.
"Ta... tapi sebaiknya kita berteman," Key masih dengan rencananya tidak ingin mengembalikan uang deposit Nana.
"Pergilah!! Sebelum istriku pulang!!" Farel menarik Key keluar, kemudian mendorongnya.
"Tetangga yang baik, terimakasih atas kue bolu dan resepnya. Lain kali jangan pernah berkunjung lagi!!" lanjut Farel, menutup pintu dengan kasar.
"Sial!! 1.401.000!! Aku tidak akan menyerah!!" Key berteriak masih tersungkur di teras.
***
Dering suara handphone Farel berbunyi, pemuda itu mengenyitkan keningnya menatap nomor yang tidak dikenalnya. Perlahan mengangkatnya.
Terdengar suara petugas kepolisian menjelaskan situasi yang terjadi pada Jeny. Farel mengenyitkan keningnya, kesal.
"Aku akan segera kesana..." kata-kata terakhir yang keluar dari mulutnya, sebelum menutup telfonnya. Ekspresi penuh senyumannya tidak lagi terlihat.
Bersambung
__ADS_1