
πΈπΈπΈππππBagi anak di bawah umur mohon menyingkir, walaupun tidak fulgar, mengandung konten dewasa πΈπΈπΈππππ
...... Sinar lilin mengingatkanku tentangmu. Ingin rasanya aku, menjagamu yang berdiri tegar berusaha menghangatkan hatiku. Tidak mempedulikan tubuhmu, yang terkikis melebur oleh panasnya api. Hanya memikirkanku untuk membuatku bahagia dengan sinar kecimu. Itulah dirimu, hanya sebatang lilin yang aku cintai......
Author...
Farel menghebuskan napasnya dalam-dalam, tersenyum menatap hidangan yang dipesannya secara delivery dengan harga fantastis, wine dikeluarkannya, meletakkannya di atas meja dengan penerangan redup, hanya berhiaskan lilin.
Tidak sudi memasak untuk Clarissa? Mungkin itulah yang membuatnya, lebih memilih memesan makanan.
Wajah yang saling menatap penuh senyuman, dentingan suara pisau dan garpu beradu pada piring keramik terdengar. Teguk demi teguk wine, mulai diminumnya.
"Bagaimana jika setelah ini kita menonton film di kamarku?" tanya Farel tersenyum, memegang jemari tangan Clarissa.
Cepat-cepatlah mabuk, kenapa lama sekali? Aku hampir melewati batasanku untuk meminum alkohol... cemasnya dalam hati, takut akan kehilangan kesadaran.
Kamar yang lumayan luas yang gelap, DVD player mulai diputar, film romantis dengan banyak adegan erotis minim sensor terlihat. Sepasang muda-mudi itu, kembali menenggak minumannya. Aroma wine tercium menyengat, duduk di sofa berdampingan. Beberapa botol minuman telah tergeletak di lantai.
"Farel..." Clarissa melenguh, setengah sadar, berusaha meraih pria yang duduk di sampingnya.
"Tunggu, aku mematikan DVD-nya dulu," ucapnya tertawa kecil nampak limbung, hampir tidak sadarkan diri telah melewati batasannya meminum alkohol.
Ruangan menjadi gelap setelah sinar dari TV menghilang. Clarissa, memeluk erat tubuh pria yang kini mendekapnya, bau maskulin parfum menambah gairahnya.
Bibir mereka bertaut, penuh hasrat, mengulum, bertautan. Pengaruh alkohol? Mungkin itulah yang membuat semuanya terjadi. Minidrees yang dipakainya dilepaskan hingga teronggok.
Benar-benar sangat buas penuh napsu, bagian bawah bibir Clarissa bahkan sempat di gigit gemas, hingga terluka. Bibirnya kembali turun ke area leher wanita itu, menyesapnya penuh hasrat.
"Farel..." racaunya, merasakan sentuhan pemuda itu. Yang mulai melepaskan satu persatu kain kecil yang membalut tubuhnya.
Sebuah sweater, jeans hitam teronggok di lantai. Diserang dengan bringas? Itulah yang dirasakannya saat ini. Melupakan dirinya yang berpura-pura masih perawan.
Tubuhnya direbahkan di atas tempat tidur, laci samping mulai terbuka, pemuda yang tengah mencicipi tubuhnya, mengambil sebuah dasi. Tangan wanita dalam kungkungannya, diikat pada senderan tempat tidur.
Clarissa mengelejang, kala seluruh tubuhnya menerima sentuhan bibir nakal, pemuda berambut hitam, dengan sebelah tindik yang bersinar samar. "Emmmnnngghhh..." gumamnya, merasakan bibir itu memainkan lidahnya pada tubuhnya.
"Ah...." suara paraunya terdengar memekik, seiring pergerakan tubuhnya yang ditembus dalam penyatuan. Tubuhnya tersentak-sentak, dasi yang mengikat tangannya mulai dilepaskan, oleh jemari tangan pria yang berada di atasnya.
Bibir mereka bertaut lembut, sesekali terlepas, Clarissa menyesap kasar, pundak dan leher pemuda di atasnya. Menahan guncangan kenikmatan yang membuatnya bagaikan terayun menikmati permainan menggairahkan.
Sekali? Tidak, sesuatu yang membuat keduanya menggila. Melakukan berkali-kali seakan tidak pernah puas.
***
"Full service yang mahal, ingat tiga di leher, pundak ada sekitar empat, mungkin nanti buat beberapa cakaran. Kamu sudah profesional untuk ini..." ucap Tomy melirik ke arah sampingnya sembari mengamati tabnya, menyaksikan adegan 21 tahun ke atas, melalui kamera malam tersembunyi yang terhubung dengan tab yang dipengangnya.
"Mengerti!! Tapi orang mabuk ini tidak mau diam!!" Jeny menatap jengkel, strategi yang disusunnya mirip dengan saat menjerat Renata. Namun tidak menggunakan obat bius, mengingat Clarissa adalah tipikal orang yang waspada.
Mabuk kemudian tidur dengan pria yang memiliki postur tubuh serupa dengan Farel, bahkan didandani dengan aksesoris dan pakaian serupa? Begitulah strategi mereka, namun siapa yang menyangka kemampuan minum Clarissa tidak dapat dianggap enteng. Farel mabuk bersamaan dengan sepupunya.
Ditarik pergi oleh Jeny yang bersembunyi di lemari pakaian, saat Farel berjalan mematikan DVD. Bersamaan dengan pria pengganti yang masuk ke kamar.
__ADS_1
"Aku menginginkan mu..." bisik Farel mengeluarkan suara serak menggodanya, dari kursi penumpang bagian belakang, merayap menyesap leher Jeny yang duduk di kursi penumpang bagian depan.
"Tomy, singkirkan dia dariku..." Jeny mendorong kepala suaminya yang masih meracau ingin menjamahnya.
"Tuan beruntung, tidak bergerak sendiri. Jika bergerak sendiri mungkin akan benar-benar berselingkuh dan meniduri sepupunya sendiri," Tomy menyerahkan tabnya pada Jeny, mulai membuka pintu mobil.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Jeny membentak.
"Lakukanlah di mobilku dengan puas, ingat buatlah tanda di tempat serupa..." ucapnya Tomy menutup pintu mobil.
Jeny mengenyitkan keningnya, berdidik ngeri melihat tingkah Clarissa yang memang merupakan pemain cinta dengan gigolo profesional yang disewa Tomy. Bahkan melakukan pose, serta perbuatan tidak lazim dalam berhubungan.
"Aku yang terlalu pasif? Atau mereka yang terlalu agresif?" gumamnya. Tidak menyadari, jemari tangan Farel menariknya paksa ke kursi penumpang bagian belakang.
"Ren...!!" bentak Jeny, tab yang dipengangnya jatuh retak, tubuhnya berhasil tertarik ke kursi penumpang bagian belakang.
"Aku bilang, aku menginginkanmu malam ini, nona..." tawanya kecilnya terdengar.
"Ren, ini di dalam mobil. Kita tidak perlu melakukannya, hanya harus membuat tanda yang sama di..." kata-kata Jeny terhenti, bibir wanita itu di bungkam dengan ciuman panas, mulai melenguh, membiarkan Farel melakukan semaunya.
Tidak sesuai sisa tanda dalam video? Memang benar, Jeny tidak dapat berfikiran jernih, menyisakan bekas di tubuh suaminya, sesuai hasratnya dalam ruangan yang sempit.
***
Tomy menghela napas kasar, berdiri di jalanan sepi depan kediaman milik Ayana. Menatap ke arah bintang, setelah menghubungi taksi online. Jemari tangannya mulai mencoba menghubungi seseorang.
"Tomy, bagaimana?" tanya seorang wanita di seberang sana.
"Mobilku, seharga 250.000 dolar, dipakai oleh tuan saat ini, mungkin mobilku tersayang sedang berguncang hebat di garasi..." ucapnya memelas.
"Tapi aku trauma memiliki mobil mahal. Bagaimanapun aku masih bujangan, tapi hari ini menyaksikan pasangan mesum. Bahkan mobilku dipakai pasangan mesum lainnya,"
"Untuk mengobati rasa traumaku aku perlu menikmati angin laut..." ucapnya ambigu.
"Bonus liburan ke kapal pesiar?" tanya Ayana.
"Bukan..." Tomy kembali menjawab.
"Bonus speed boat? Alat selam? Ferry?" Ayana kembali bertanya.
"Ferry, aku ingin memiliki Ferry pribadi. Aku hampir mati menjadi detektif, menjadi ulat parasit. Memasuki sarang penyamun, merayap di dinding tinggi, bahkan ulat polos sepertiku harus menyaksikan adegan 21 tahun keatas,"
"Tuan besar (Taka) dan Farel tidak pernah memberikanku bonus besar, mereka terlalu pelit..." Tomy tertunduk, menghela napas kecewa.
"Baiklah sebuah kapal Ferry mewah, bahkan membiayai pernikahanmu. Jika ulat polos ini berhasil memusnahkan orang yang sudah membuat adikku bunuh diri..." terdengar suara Ayana ikut-ikutan menghela napasnya.
"Siap!! Aku akan menganggap daging para penyamun adalah daun teh pilihan!! Aku akan memakan daging mereka dengan bahagia!!" Tomy terdengar antusias.
"Bagus, awasi situasi baik-baik, jangan biarkan Farel atau Jeny ada dalam bahaya..." Ayana menutup panggilan setelah diberi interupsinya.
Tomy duduk di trotoar, membatalkan pesanan taksi onlinenya. Kapal Ferry mewah, menikah dengan gadis cantik yang lembut, di atas kapal pribadinya. Mengarungi bulan madu di laut yang berguncang.
__ADS_1
Pemuda itu tersenyum sendiri, menunggu pagi tanpa istirahat. Melupakan dirinya yang sudah memiliki persiapan menikah, namun mempelai wanita lembut dalam khayalannya belum ada di hidupnya.
***
Suasana di luar masih gelap, Jeny membuka matanya, menatap suaminya yang tertidur dengan dengan ditutupi helai pakaian mereka. Wanita itu merasakan tubuhnya yang remuk, satu persatu pakaian dikenakannya kembali.
"Ren, bangun..." ucapnya mengguncang tubuh suaminya.
"Sebentar lagi..." racau Farel dengan suara khas orang bangun tidur.
"Ini sudah pagi, jangan sampai..." kata-kata Jeny di bungkam dengan kecupan sekilas
"Terimakasih, sudah menjadi istriku, wanita yang paling sabar di hidupku," ucapnya tersenyum tulus.
Sweater, serta semua pakaiannya yang berceceran di mobil kembali dikenakannya. Melangkah perlahan keluar dari mobil. Kamar mandi dekat ruang tamu? Mungkin itulah tujuannya saat ini.
Jeny menghela napas kasar... Aku akan menjagamu untuk tetap hidup dalam kebahagiaan. Karena aku tidak ingin mengulangi penyesalan ibu, mengabaikan hidup orang yang paling tulus padanya... gumamnya dalam hati.
***
Farel melangkah menuju kamarnya, hanya mengenakan jubah mandinya, membawa amplop coklat yang lumayan besar, menatap pemuda yang baru bangkit dari tempat tidur.
"Kamu sudah memuaskannya? Bagaimanapun dia sepupuku, tentunya aku harus memberikan yang terbaik padanya..." ucapnya penuh senyuman, menyender di pintu yang terbuka.
Sang pemuda tersenyum, mulai bangkit, kembali memakai pakaiannya,"Dia yang memuaskanku, benar-benar hebat di tempat tidur. Tapi apa dia benar-benar sudah meminum obat kontrasepsi? Karena aku tidak memakai pengaman, aku tidak ingin mengambil resiko..."
"Entahlah... tapi jika dia menginginkan untuk menjadi seorang ibu. Apa mungkin sifatnya berubah? Aku ingin tau..." Farel menghebuskan napas kasar. Bagaimanapun kesalahan pendidikan dari Lery dan dendam Gabriel lah yang membuat Clarissa dibiarkan bebas, menjadi liar.
Sang pemuda bayaran yang telah memakai pakaiannya, sedikit melirik ke tempat tidur,"Aku bukan pria yang bersih, tapi aku juga bukan pria b*jingan. Seharusnya, aku tidak menerima pekerjaan jika tidak mengenakan pengaman. Entah kenapa aku tertarik padanya, jika dia mencariku atau tidak sengaja mengandung, berikan alamatku..."
"Baik, jika dia memintanya suatu hari nanti, aku akan memberikan alamatmu padanya," Farel menyerahkan amplop coklat besar yang dibawanya, diambil oleh sang pemuda.
Tertarik? Karena one night stand? Untuk pertama kalinya, setelah dua tahun menjadi pria bayaran pemuda itu tertarik pada kliennya. Berjalan, beberapa kali menengok ke belakang, hingga akhirnya keluar dari rumah.
Jeny yang sedari tadi berada di dalam mobil menghebuskan napas kasar,"Ternyata dia tidak begitu kejam pada sepupunya," mengamati penampilan pria yang berperawakan, memakai pakaian, serta aksesoris yang sama dengan suaminya.
Mirip dengan Farel? Tidak, wajahnya tidak mirip sama sekali, bisa dibilang cukup rupawan. Berjalan menuju area depan rumah menghentikan taksi.
***
Farel duduk di sofa, menyediakan teh hangat seiiring matahari yang mulai terbit. Mengenakan kemeja dan celana panjang, bagaikan hendak ke kantor. Namun, dengan sengaja, menunggu wanita di atas tempat tidurnya bangun.
"Clarissa..." panggilnya, mengelus pelan rambut wanita itu.
"Emmmnnngghhh... Farel..." Clarissa terbangun, hanya berbalutkan selimut, merenggangkan otot-ototnya.
"Maaf, semalam aku mabuk dan tidak sengaja..." kata-katanya terhenti, Farel terlihat merasa bersalah, kemudian menghembuskan napas kasar,"Aku akan meminta kakek dan tuan Lery untuk mengadakan pertunangan kita, menunggu sidang perceraian, aku akan bertanggung jawab..." ucapnya terlihat tulus, duduk di tepi tempat tidur.
"Iya...aku bersedia..." Clarissa memeluk Farel erat.
Nyaman? Begitulah perasaannya saat dekat dengan Farel, mirip saat bersama dengan ayahnya atau Deren. Tidak menyadari perasaan itu hanya karena darah yang sama mengalir dalam tubuh mereka.
__ADS_1
Namun, malam ini entah kenapa hatinya bergetar di tengah percintaan panas mereka. Bergetar? Clarissa sudah sering tidur dengan beberapa pria, hanya untuk tender proyek, hanya mengikuti napsu saja. Kali ini memiliki perasaan yang berbeda, entah kenapa...
Bersambung