
Farel memejamkan matanya, menghembuskan napas dalam-dalam, menatap bayangannya di cermin,"Keputusan ini sudah aku ambil, jadi dimanapun dan kapanpun aku tidak membiarkan nona menangis lagi..." ucapnya.
Stelan taksedo putih dengan bunga kecil di bagian sakunya. Rambutnya tertata rapi, penampilannya sebagai mempelai pria terlihat sempurna. Berbeda dengan hatinya yang porak-poranda berdebar kencang, ingin rasanya Farel bersembunyi atau mempercepat waktu, berkutat dengan rasa tegang, hanya untuk mengatakan bersedia di altar.
Farel mulai memberanikan dirinya, melangkah keluar dari ruang ganti. Terlihat para pegawai EO, Ayana, serta Tomy dan beberapa orang lainnya yang menyaksikan upacara sucinya. Tanpa kehadiran dari pihak keluarga Jeny yang seperti enggan untuk datang.
Beberapa kali Farel mengepalkan tangannya, menahan rasa tegang dan berdebar dalam hatinya, menunggu di depan altar. Hingga, sosok yang dinantikannya datang. Secara khusus Dilen hadir walaupun hanya dua hari saja, sebelum kembali ke Singapura, menggunakan kursi roda yang dapat dikendalikan dengan tombol. Hanya demi mengantar calon menantunya yang tidak memiliki ayah, ke altar.
Alunan musik seorang pianis terdengar, bersamaan dengan masuknya mempelai wanita yang dituntun Dilen. Gaun putih panjang yang indah, serta kepalanya yang ditutup kain putih transparan yang menjuntai panjang.
"Farel adalah satu-satunya putraku, dia anak yang baik, mohon jaga dia..." Dilen berucap dengan suara kecil.
Jeny yang wajahnya masih berselimut kain putih tipis diam tidak menjawab. Entah, bagaimana menjelaskan, jika dirinya trauma menjadi istri yang baik. Trauma untuk berusaha menyukai seseorang, atau menerima seseorang dalam hatinya.
Samar-samar terlihat sosok Farel yang berdiri di altar mulai tersenyum padanya. Mungkin hanya imajinasinya sekilas, sosok itu berubah menjadi Ren remaja yang tersenyum padanya, walaupun hanya beberapa detik.
Ren!? Apa kamu mengijinkanku menikah dengannya!? Atau ini hanya sekedar imajinasiku, yang terlalu menginginkan untuk memberikan keadilan padamu... tanyanya dalam hati, air mata mengalir tidak dapat ditahan olehnya mungkin karena rasa haru dapat menatap sosok itu lagi walaupun hanya fatamorgana.
Langkahnya terhenti di hadapan Farel, dengan kata 'Bersedia' dari kedua mempelai, telah mengikat diri mereka masing-masing.
Dari dulu aku sudah terikat dengan nona, selepas bagaimanapun nona mencintai pria lain. Aku akan menjaga nona, tidak akan membiarkan nona menangis sedikitpun... Farel menghela napasnya menatap Jeny yang enggan membuka kain putih tipis penutup kepalanya.
Jeny menundukkan kepalanya terisak, merindukan sosok Ren serta terlanjur trauma dengan status pernikahan. Dalam fikirannya saat ini, 6 bulan yang akan datang adalah kesengsaraan. Mungkin Farel akan memperlakukannya seperti Daniel, begitulah anggapannya.
"Cium!! Cium!! Cium!!" Beberapa orang berucap serempak.
Farel tersenyum, hendak menyingkap kain tipis yang menutupi wajah cantik istrinya. Namun jemari tangannya terhenti, isakan kecil yang tertahan, terdengar.
Farel menurunkan tangannya, perlahan mencium kening Jeny dengan wajah wanita itu, masih berbalut kain putih transparan. Memeluknya erat, diiringi dengan tepukan tangan orang-orang yang menyaksikan upacara pernikahan.
"Jangan menangis, maaf..." ucap pemuda itu pelan.
Jeny mulai lebih tenang mendapatkan perlakuan lembut dari Farel. Dia adalah Farel asistenku, aku masih berkuasa untuk membatah dan menolaknya... ucapnya dalam hati. Entah kenapa mendapatkan perlakuan lembut, energi Jeny seperti terisi. Tangannya yang berbalut sarung tangan putih, menyeka air matanya.
Kemudian Jeny membuka sendiri tutup kain transparannya. Dengan wajah penuh intimidasi, menatap Farel yang mengenyitkan keningnya.
"Nona, maskara..." ucapan Farel terhenti, Jeny mencium bibir pria yang bersetatus suaminya itu sekilas. Bersamaan seluruh orang yang berteriak riuh, kembali bertepuk tangan. Kemudian berbisik-bisik menahan tawanya, mengetahui ada yang aneh dengan mempelai wanita.
"Kamu adalah asistenku, pernikahan kita akan ada dalam kekuasaanku..." ucapnya berbisik mengintimidasi.
Aku katakan atau tidak ya!? Jika dikatakan dia akan malu, jika tidak saat dia sadar, aku akan dihajar seperti dulu... Farel terlihat berfikir menatap pemandangan yang sedikit mengganggunya.
"Terimakasih atas kehadirannya!!" Farel menunduk pada pada para tamu yang datang. Kemudian memulai aksi yang paling memalukan baginya.
Pemuda itu, mengambil keputusan sendiri, melempar buket bunga pengantin wanita asal. Kemudian memaksa Jeny untuk dipikulnya bagaikan beras. Agar wajah wanita itu tidak terlihat sepenuhnya.
"Turunkan aku!!" Jeny berteriak, dengan wajahnya yang berada di posisi terbaik, kembali ditutupi kain putih dan punggung Farel. Berusaha turun agar tidak dipermalukan, memukul-mukul punggung Farel yang berjalan cepat meninggalkan altar.
"Pengantin prianya tidak sabaran!!" Helen berteriak, diikuti dengan tawa semua orang.
__ADS_1
***
Dengan cepat Farel menurunkan Jeny di kursi penumpang sebelah pengemudi, mobil sederhana milik wanita itu yang dihiasi bunga.
Menutup pintu, kemudian mulai menginjak pedal gasnya saat sudah memasuki mobil.
"Asisten kurang ajar!! Kenapa kamu mempermalukanku!?" Jeny membentak, menjambak rambut Farel yang tengah pengemudi.
"Dasar penindas!! Lihat kaca spion!!" Farel berteriak, menahan rasa sakit pada rambutnya yang ditarik.
Sejenak perhatian Jeny teralih menatap spion..."Aaaaaa...." wanita itu berteriak menjerit, bersamaan mobil yang berhenti di bahu jalan yang sepi.
"Telingaku sakit!!" pemuda itu menutup telinganya mendengar jeritan Jeny.
"Lihat ini, aku seperti Susana yang baru selesai syuting film horor..." ucapnya menangis kerena malu, menatap pantulan dirinya di kaca spion, maskaranya merembes kemana-mana karena tangisannya sebelumnya, saat akan berjalan ke altar.
Farel mati matian menahan tawanya, mengecup bibir Jeny sekilas,"Nona adalah pengantin wanita tercantik..." ucapnya tersenyum tulus.
Jeny mengenyitkan keningnya menghela napasnya menatap Farel yang tersenyum ramah,"Kenapa kamu bersedia menikah dengan wanita sepertiku!? Kamu tidak terlihat dari keluarga kalangan menengah kebawah!? Kamu mungkin akan dapat wanita yang lebih baik," tanyanya.
"Aku menyukai nona, karena itu bisakah nona menyukaiku!?" Farel mengenyitkan keningnya, menatap ke arah Jeny, sembari mengeluarkan tissue basahnya. Perlahan menghapus maskara yang mengotori wajahnya.
"Tidak, setelah 6 bulan kita berpisah..." ucapnya, menahan perasaan aneh saat menatap wajah Farel. Meremas gaun pengantinnya tidak ingin membuka hatinya kembali.
Farel menghembuskan napas kasar,"Kita sebaiknya segera ke villa..." ucapnya, berusaha untuk tersenyum.
"Villa!?" Jeny mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
"Ta...tapi tidak mungkin, orang aneh sepertinya!!" ucapan Jeny terhenti, Farel menatap tajam padanya, menahan rasa kecewa dan jengkelnya.
Kenapa suasananya jadi aneh begini!? Farel kenapa jadi aneh... Jeny memilin jemari tangannya ketakutan.
Aku ditolak lagi!? Menyebalkan!! Sebenarnya sesempurnanya apa pria yang disukai nona, hingga nona tidak bersedia menyukaiku sedikit saja... batin Farel yang masih berusaha menenangkan diri.
Satu jam perjalanan, dalam mobil yang cukup hening, bercampur suasana canggung. Villa yang cukup besar terlihat, dijaga oleh beberapa orang pengawal.
"Tuan..." salah satu pengawal memberi hormat, membukakan gerbang untuk majikannya.
"Tuan!? Kenapa mereka memanggilmu tuan!?" Jeny mulai merasakan kejanggalan. Namun, Farel hanya terdiam saja, enggan menjelaskan, pemuda itu menarik tangan Jeny turun dari mobil setelah memarkirkan mobilnya.
Mulai memasuki villa yang memang dikosongkannya dari aktivitas pelayan. Hanya terdapat empat orang security yang berjaga di luar. Farel mengunci pintu depan villa, kemudian mulai tersenyum.
"A... apa yang akan kamu lakukan!?" tanya Jeny ketakutan. Farel mulai mendekat, melepaskan taksedo dan dasi kupu-kupunya, hingga hanya mengenakan setelan kemeja, berjarak beberapa sentimeter dari wajah Jeny.
Dia mengunci pintunya, melepaskan pakaiannya. Dia sama saja seperti Daniel!! Semua pria ternyata br*ngsek!! Tidak ada yang sebaik Ren... Jeny ketakutan, memejamkan matanya, mungkin karena rasa traumanya, tubuhnya sedikit gemetaran.
"Nona mau makan apa!?" terdengar suara Farel tersenyum ramah. Melewati Jeny yang masih memejamkan matanya ketakutan, mengira akan mendapatkan serangan brutal dari Farel.
Mata Jeny mulai terbuka, mengetahui tidak ada yang terjadi. Membalikkan tubuhnya, terlihat pemuda tengah mengenakan appron bersiap-siap untuk memasak.
__ADS_1
"Nona mau makan apa, akan saya buatkan!?" tanyanya kembali, sambil membuka isi lemari pendingin.
"A...apa saja!!" Jeny duduk lemas di lantai menghela napas kasar, penuh dengan perasaan lega.
"Kamar pengantin ada di lantai dua, bersihkan diri nona dulu...," ucapnya, mulai konsentrasi memotong beberapa bahan makanan.
"Ba...baik!!" Jeny segera berlari, menahan rasa malunya pada dirinya sendiri, yang mengira Farel akan berprilaku seperti Daniel.
Semua pria itu sama... semua pria itu sama... hanya Ren yang berbeda, jangan tergoda oleh pria mesum seperti Farel... mantra yang terus berkutat dalam fikirannya. Mengingat wajah serius penuh senyuman yang tengah memasak makanan untuknya.
"Kuatkanlah aku ya Tuhan, aku gemas ingin memakannya..." gumam Farel menatap Jeny yang berlari cepat ke lantai dua.
***
Jeny yang harus menghapus riasannya, berada cukup lama dalam kamar mandi. Dengan perasaan lega setelah membersihkan diri sepenuhnya berjalan keluar hanya memakai jubah mandi saja.
"Nona..." Farel berucap, dengan pakaian yang telah diganti, memakai kimono pria yang disiapkan Ayana. Meletakkan satu persatu makanan di kamar mereka.
Farel mengalihkan pandangannya, dengan jemari tangan gemetaran. Bagaikan ingin menarik tali jubah mandi yang dipakai Jeny, merasakan tubuhnya seperti saat dalam pengaruh minuman bercampur obat sebelumnya.
Wanita itu, segera membuka lemari, mencari pakaian ganti. Namun, yang terlihat hanya puluhan stel pakaian tidur setipis kain tissue, serta beberapa bikini. Dengan sebuah catatan,
'Jika pakaiannya kurang banyak, karena dirobek oleh suami anda, mohon hubungi saya...'
'Tomy'
"Sial!!" Jeny mengumpat, melirik ke arah Farel."Apa ada kamar lain!?" tanyanya.
"Nona ingin tidur di kamar yang berbeda dengan saya!?" Farel mengenyitkan keningnya.
"Penjaga akan curiga, dan melapor pada Tomy..." Jeny menghembuskan napas kasar.
"Nona, makanlah..." Farel tersenyum setelah meletakkan makanannya di meja depan sofa kamar itu.
Jeny berusaha menutupi bagian dadanya yang sedikit terbuka, dengan jemari tangannya. Mulai menyendok makannya.
"Apa makanannya enak!?" Farel mengenyitkan keningnya.
"Iya sangat enak, kamu seperti tau seleraku..." ucap Jeny penuh senyuman.
"Lalu karena masakanku enak, apa nona sudah mulai menyukaiku!?" tanyanya.
"Tidak, aku tidak akan bisa mencintai seseorang lagi..." ucap Jeny, mengaduk aduk makanannya.
"Menyebalkan!!" Farel terlihat kesal, mendorong tubuh Jeny hingga jatuh di atas sofa. Menindihnya, mengunci pergerakan wanita itu.
"Farel!!" Jeny membentak.
Farel mengecup lembut bibir Jeny sekilas membuat, bungkam mulutnya. Wanita itu, tertegun dengan perasaan berdebar, menatap lekat wajah rupawan di atasnya.
__ADS_1
"Aku pemilik villa ini, bos dari Tomy, ayah kandung dari Rafa, dan sekarang aku suamimu. Jadi mau tidak mau belajarlah menyukaiku..." Farel menyunggingkan senyuman di wajahnya.
Bersambung