Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Matahari


__ADS_3

......Menguatkanmu, adalah sesuatu yang menyenangkan bagiku. Karena kekuatan hatiku berasal dari rasa cintamu. Tetaplah tersenyum, menghadapi dunia. Jika dunia tidak berpihak padamu, kita akan bersama-sama menaklukkannya......


Author...


Daniel menatap mantan kekasihnya tersenyum simpul.


"Apa maumu!? Kenapa ingin menemuiku!? Aku sudah memiliki tunangan, direktur salah satu cabang perusahaan JH Corporation. Apa setelah aku kembali terkenal, kamu ingin kembali padaku? Jika kamu minta maaf, aku akan menerimamu dengan senang hati..." Renata terlihat memakai dress berwarna biru yang elegan. Berpenampilan bagaikan gadis sopan yang baik.


"Ini..." Daniel menyodorkan sebuah foto.


"Siapa? Apa dia model pendatang baru?" tanyanya antusias.


Pemuda itu menggeleng gelengkan kepalanya,"Kamu mengantarkan istriku ke tempat tidurnya..." jawabnya.


"Pemilik JH Corporation? Orang tua mesum itu? Wujud aslinya seperti ini?" Renata membulatkan matanya, terkejut.


"Benar, dia sudah menikahi Jeny, segera setelah anak itu lahir..." Daniel tersenyum, meminum kopi hangat yang disajikan office boy kantornya.


Renata mengenyitkan keningnya, terlihat menahan kekesalannya. Menyesal? Tentu saja itulah yang ada di fikirannya saat ini. Andai saja waktu dapat terulang, mungkin Renata akan mengantar dirinya sendiri ke atas tempat tidur Farel. Mengandung putranya, menikahi pemilik JH Corporation, hidup bergelimang harta serta memiliki suami yang sempurna.


"Kenapa menunjukkan foto ini padaku!?" Renata mengenyitkan keningnya.


"Tidak apa-apa... hanya ingin kamu tau saja, Jeny sekarang sudah hidup bahagia," ucap Daniel.


"Aku tidak tertarik lagi pada kehidupannya, maaf aku permisi dulu, aku sibuk..." Renata bangkit dari tempatnya duduk, meninggalkan ruangan Daniel.


"Tuan, kenapa membocorkan informasi yang baru anda dapatkan?" Ken (asisten Daniel) mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Kompetitif, mungkin karena itu Renata merebutku dari Fani. Jika dugaanku tidak salah, hal yang sama akan terjadi pada Jeny, Renata tidak akan dapat menerima jika Jeny mendapatkan sesuatu yang lebih darinya..." Daniel mulai berjalan perlahan menatap kaca besar yang langsung menghadap ke luar di ruangannya yang berada di lantai 3.


Terlihat wanita, yang baru keluar dari ruangannya, pergi dengan terburu-buru menaiki taksi.


***


Angin malam berhembus dari jendela balkon yang terbuka, Farel menyenderkan tubuhnya, merenggangkan otot-ototnya, menghilangkan penatnya dari beban pekerjaan yang menumpuk.


"Tuan..." terdengar suara Tomy dari pintu kamar yang terbuka.


"Bagaimana?" tanyanya, pada sosok pemuda yang baru masuk.

__ADS_1


Tomy menggeleng gelengkan kepalanya,"Tidak berhasil, Tirta benar-benar menekan pergerakan kita. Rekaman CCTV, pelayan yang mengantar minuman, bahkan dokter yang sebelumnya memeriksa kondisi anda semuanya tidak dapat ditemukan,"


"Renata?" Farel mengenyitkan keningnya, menanyakan tentang orang yang mungkin dapat membersihkan nama baiknya.


Tomy kembali menggeleng gelengkan kepalanya,"Tidak ada bukti dia terlibat, dulu saya mengetahuinya dari Daniel tanpa memiliki satupun bukti. Sekarang Renata semakin disorot media, satu kata yang keluar dari mulutnya pada media massa, dapat membuat tuan Taka dan bawahannya bergerak membawa anda kembali,"


"Tuan, jika sudah mengetahui identitas anda, kenapa Tirta belum bergerak?" lanjutnya tidak mengerti.


"Menunggu saat yang tepat, saat dimana kakek tidak akan memaafkanku. Tepatnya, saat aku memperkenalkan Rafa dan Jeny. Jika bergerak sekarang, Tirta masih bimbang aku akan mengakui Rafa sebagai putraku atau putra Daniel," Farel menghembuskan napas kasar, banyak hal yang ada di fikirannya saat ini.


"Magsudnya?" Tomy tidak mengerti.


"Jika aku mengakui Rafa sebagai putraku, anak hasil hubungan terlarang, reputasiku dan nona akan rusak. Kakek akan memisahkan kami, membawaku dan Rafa kembali ke Jepang. Tapi jika aku tidak mengakui Rafa sebagai putra kandungku, maka Daniel sebagai mantan suami dapat merebut hak asuhnya," jawabnya.


"Jika begitu, jangan mengakui Rafa sebagai putra kandung anda. Buat statusnya menjadi putra Daniel, lalu rebut hak asuhnya di pengadilan sebagai ayah tiri," Tomy memberi usulan.


"Dia adalah putraku!!" Farel membentak, bersamaan dengan suara tangisan bayi terdengar. Terkejut dengan suara ayahnya yang cukup keras.


Farel berjalan mendekati box bayi, menggendong putranya penuh senyuman,"Maaf, papa berisik, tidur lagi ya?" ucapnya menepuk nepuk pelan punggung putranya. Perlahan bayi mungil itu kembali tenang, tertidur nyenyak.


Bagaimana tuan tega tidak mengakui darah dagingnya? Meski itu jalan satu-satunya untuk bersama keluarga kecilnya, tuan tidak akan melakukannya. Satu satunya, makhluk mungil yang memiliki ikatan darah dengan tuan... Tomy tersenyum, menghembuskan napas kasar.


"Baik tuan..." Tomy menyanggupi,"Saya permisi dulu," lanjutnya.


Aku jadi ingin punya anak, tapi harus membuatnya dengan siapa? Tidak mungkin membuatnya seorang diri kan... gumam Tomy dalam hatinya, mungkin menginginkan makhluk mungil yang mirip dengan dirinya, meninggalkan kamar Farel, sembari berkali-kali menghela napasnya.


***


Sementara itu, perang dingin masih berlangsung, tidak menemukan titik temu. Wanita teraniaya yang tidak melawan dan lemah? Bukan, itu bukan sosok Jeny yang sebenarnya. Janjinya pada Ren 13 tahun yang lalulah, membuatnya dapat dengan mudah mengalah pada Daniel dan Renata, selama dua tahun.


"Masa depan lebih penting, selamatkan reputasimu. Aku berjanji jika tidak ingin kembali pada mantan suamimu, aku akan mencarikan orang dari kalangan menengah ke atas untukmu. Bahkan mendirikan perusahaan yang cukup besar untuk kamu miliki..." Taka memberi penawaran, menekan emosinya.


Jeny menghembuskan napas kasar,"Kakek tua, anda tau kenapa kami bisa memiliki Rafa? Mantan suamiku dan selingkuhannya memberi afrosidac dosis tinggi pada Ren, magsudku Farel. Kemudian, menjualku dengan imbalan kerja sama proyek padanya untuk meredakan efek obat..." jelasnya, ikut berbicara dengan kepala dingin.


"Mantan suamimu sudah mendapatkan bayaran dari penjualanmu, jadi sebagai wanita yang dijual satu malam saja, seharusnya tidak memiliki hubungan lagi dengan pria yang membelimu,"


"Aku sangat berterima kasih karena sudah mau melahirkan cicitku, karena itu aku menawarkan untuk menjodohkanmu dengan pria baik-baik serta mendirikan perusahaan yang mengimbangi perusahaan milik almarhum kakekmu. Karena itu, terimalah tawaranku, tinggalkan anak dan suamimu. Relakan mereka pergi, ini semua demi kebaikan bersama," ucap Taka.


"Mereka keluargaku!! Aku mencintai mereka!! Bahkan setelah 13 tahun perasaanku pada Farel tidak berubah," Jeny berucap dengan nada tinggi, matanya terlihat berkaca-kaca menahan air matanya.

__ADS_1


"Cinta ya? Aku menghargai perasaan kalian, terlepas dari statusmu yang sudah pernah menikah atau derajat kalian yang tidak sama. Aku tidak pernah memandang orang dengan berbeda, semuanya sama rata. Hanya saja, untuk apa sebuah perasaan jika hanya akan saling melukai, jika bersama. Suamimu akan menjadi bahan cibiran, tidak dapat mengangkat kepalanya penuh kebanggaan di depan umum.


"Putramu, aku yakin dimanapun kalian akan tinggal nanti, akan sulit menyembunyikan kenyataan jika Rafa adalah anak di luar nikah. Bahkan hasil perselingkuhan, walau itu bukan kesalahan kalian sekalipun, seumur hidupnya hanya akan menjadi bahan gunjingan. Aku yakin kamu dapat menerima semua itu, tapi apa kamu tega jika mereka juga menerima hal yang sama?" tanyanya, mulai bangkit,"Fikirkan ini dengan tenang...," Taka mulai berjalan meninggalkan Jeny yang terdiam.


Isakan tangisannya terdengar, Jeny tertunduk diam. Apa perasaannya ini salah? Miskin atau kaya, kesalahan dan kebenaran semua ternyata tidak ada gunanya. Yang paling berguna dan berkuasa bukanlah orang kaya atau miskin. Tapi mulut orang-orang yang berucap tanpa tau kenyataan. Mencibir tanpa memiliki bukti, beberapa kali dirinya dihina di hadapan umum.


Akibat ulah Renata, serta orang kiriman ayah tirinya. Anak di luar nikah? Apa anak itu meminta untuk dilahirkan? Apa kesalahan anak itu sehingga menjadi bahan cibiran. Jeny masih tertunduk diam dalam tangisannya, membayangkan pembullyan dan cibiran yang dulu dihadapinya, akan diterima putranya dan Farel.


Tangan hangat terulur, memeluknya yang duduk di kursi dari belakang,"Jangan menangis, aku tidak akan pernah meninggalkan nona..." terdengar suara teduh yang dikenalnya.


"Tidak, aku tidak apa-apa..." ucap Jeny mengusap air matanya, berpura-pura tegar.


"Masih ada dua minggu sebelum aku memperkenalkan Rafa, dan dua minggu batas waktu untuk mengurus media," ucapnya, menyenderkan kepalanya di bahu Jeny.


"Apa sebaiknya kamu..." kata-kata Jeny terhenti, Farel berpindah posisi, berjongkok di hadapannya.


"Stttt...nonaku adalah orang yang percaya diri, wanita yang mandiri, tidak akan menyerah semudah itu," ucapnya tersenyum lembut, menyentuh pipi wanita yang bersetatus istrinya itu.


"Setelah ini kita akan bersinar bersama sama..." lanjutnya, membuka telapak tangan Jeny, meletakkan sesuatu di atasnya.


Wajah Jeny pias, terlihat kalung silver yang hampir hancur diinjak Daniel telah kembali utuh seperti semula."Ini...!?" Jeny mengenyitkan keningnya, menatap pasangan matahari dari bandul kalung yang selalu dipakainya.


"Aku menemukannya di laci seminggu yang lalu, aku memperbaikinya. Aku ingin nona memakaikannya padaku," ucapnya mulai berbalik.


"Aku akan memberikanmu yang baru!! Daniel sudah pernah memakai ini," Jeny menunduk, merasa malu dan kecewa pada dirinya sendiri.


"Ren-mu tidak peduli!! Pakaikanlah!!" Farel tersenyum, memberi perintah.


Dengan ragu Jeny memakaikannya, namun tanpa diduga Farel berbalik memegang lengan Jeny, berlutut di hadapan wanita yang tengah duduk itu, memejamkan matanya, mencium bibir istrinya perlahan.


"Aku hanya barang bekas. Pergilah, kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dariku..." ucap Jeny dengan napas tidak teratur.


"Aku hanya barang bekas pakai satu orang, Aku akan melekat pada pemilik pertamaku. Jadi terimalah kenyataan, barang bekas pakaimu ini, akan menempel selamanya padamu," Farel tersenyum simpul, kembali memejamkan matanya, mencium bibir istrinya agresif.


Sinar lampu berkilap memantul dari sepasang kalung silver yang berdekatan. Dua pecahan logam berbentuk setengah matahari bagaikan telah menyatu. Sepasang kalung yang bersinar bersama sama dalam kegelapan.


Bertemu denganmu, bukan suatu kesialan bagiku. Majikan muda yang suka memerintah... mencari perhatianku dengan cara yang berbeda... Kamulah orang yang paling memperhatikanku memberikan tempat di sudut hatimu yang tulus...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2