Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Dalam Diam


__ADS_3

......Rasa kasih tidak perlu diucapkan, karena aku yakin hatimu dapat merasakannya. Walaupun, mulutku ini hanya dapat terdiam......


Author...


Farel menghembuskan napas kasar masih duduk menyender di atas tempat tidur tanpa busana, hanya berbalut selimut, penuh senyuman menanti Jeny yang tengah berada di kamar mandi. Matanya menatap ke arah jendela, menghebuskan napas kasar,"Nona, maaf..." ucapnya, berusaha untuk tetap tersenyum.


***


29 tahun yang lalu...


Seorang wanita bisu, yang berkulit tidak terlalu bersih, tengah memetik pucuk teh di kebunnya. Seorang pemuda berlari menuju kakaknya, menunjukkan ijasahnya,"Kakak aku lulus!!" teriaknya.


Sang gadis bisu menggerakkan tangannya, menggunakan bahasa isyarat,'Adik kakak yang pintar,'


"Tentu saja aku pintar, tapi disini tidak ada tempat kuliah? Bolehkah aku kuliah di kota?" tanyanya.


Kakak perempuannya, mengangguk, tersenyum tanda setuju, kemudian kembali menggerakkan tangannya,'Kita jual kambing-kambing di kandang untuk biayamu,'


"Terimakasih, jika berhasil nanti aku akan membawa kakak ke kota," ucap sang adik tersenyum senang.


***


Tibalah hari keberangkatan sang adik, kandang kambing samping rumah mereka telah kosong. Semuanya, dipakai untuk membiayai adiknya berangkat ke kota, menempuh pendidikan.


'Belajarlah yang baik,' sang gadis bisu menggerakkan tangannya berucap menggunakan bahasa isyarat.


"Kakak, jaga dirimu..." Tirta memakai ranselnya, membawa sebuah tas gendong besar.


Di besarkan oleh kakaknya yang bisu, membuatnya merasa bersalah pada kakak perempuannya tersebut. Beberapa kali melirik ke arah kakaknya hingga akhirnya pergi berjalan ke jalan besar mencari angkot. Hendak menuju terminal bus.


Bau ayam, amisnya ikan bercampur menjadi satu dalam angkot yang dinaikinya,"Aku akan segera menjemput kakak," gumamnya, penuh tekad.


***


Satu tahun setelah kepergian Tirta...


Hujan semakin deras. Citra, sang gadis bisu mengambil baskom dan ember. Menadah air hujan yang mengalir dari atap yang bocor.


Perlahan mengusap foto adiknya penuh senyuman. Petir menyambar pohon di dekat rumahnya, beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan pintu.


Tangan Citra gemetar ketakutan, apalagi dengan ketidak beradaan adiknya, perlahan mengintip dari jendela. Terlihat seorang pemuda bersandar di depan pintu rumahnya, mengetuk dengan suara lirih, meminta pertolongan.


Dengan ragu, gadis itu membuka pintu,"Tolong aku..." sang pemuda tiba-tiba tidak sadarkan diri.


Citra mengenyitkan keningnya, Apa dia mati? Aku harus mengubur mayatnya jika mati. Jika ada orang yang melihat, mereka mungkin mengira aku membunuhnya... gumamnya dalam hati ketakutan.


Perlahan menendang pelan tubuh sang pemuda, kemudian memberanikan diri mendekatkan telinganya pada dada kirinya. Terdengar debaran jantung di balik pakaian sang pemuda yang basah.


Masih hidup... Citra membulatkan matanya, mulai memegang kaki sang pemuda. Menariknya kasar ke dalam rumah. Bahkan beberapa kali, kepala, serta lengan sang pemuda, membentur kaki meja, atau dinding.

__ADS_1


Napas gadis itu terengah-engah kelelahan, mulai memberikan pertolongan pertama yang paling diketahuinya untuk orang yang pingsan. Hal pertama yang dilakukannya adalah membuat teh manis hangat.


Kemudian, mengambil minyak angin, mengusap pada area belakang telinga, pelipis, lalu mendekatkan pada hidung sang pemuda.


Kenapa tidak bangun juga? Apa dia tidur... tanyanya dalam hati mendengar suara dengkuran halus.


Gadis itu tidak kehabisan akal, berjalan menuju dapur meraih sebaskom air.


Byur....


Cara membangunkan pasien yang salah, pemuda itu bangkit sembari terbatuk-batuk. Mungkin sedikit air masuk dalam alat pernapasannya.


"Br*ngsek!!" umpatnya kesal.


Citra membulatkan matanya, tidak menerima mendapatkan perkataan kasar dari orang yang telah ditolongnya. Dengan segera menunjuk ke arah pintu.


'Keluar, aku sudah bersusah payah menolongmu!! Dasar tidak tau diuntung!!' gadis itu menggerakkan tangannya, berucap menggunakan bahasa isyarat.


"Kamu tidak bisa bicara?" tanya sang pemuda yang sama sekali tidak mengerti dengan bahasa isyarat.


Citra mengangguk, kemudian menarik pemuda yang bertubuh lebih tinggi darinya itu, sembari menunjuk ke arah pintu, kesal.


"Ijinkan aku berteduh, aku mohon..." sang pemuda berucap mengiba.


Citra bersikukuh, menariknya menuju pintu, mengusir sang pemuda.


"Begini, aku bisa apa saja!! Bahkan menjadi pelayan gratis untuk gadis miskin sepertimu!! Asalkan jangan usir aku..." sang pemuda memelas.


Gadis itu menghembuskan napas kasar, kemudian mengangguk tanda setuju. Mengambil, segelas teh hangat yang sebelumnya dibuatkannya.


"Ini untukku?" tanya sang pemuda, hanya dibalas anggukan oleh Citra. Gadis itu, berjalan dengan cepat menuju bekas kamar adiknya, menyodorkan pakaian yang ditinggalkan Tirta.


"Kamu sudah menikah?" tanyanya menatap pakaian laki-laki yang dibawakan Citra.


Menikah kepalamu!! Aku adalah kembang desa, andaikan aku bisa bicara... gumam Citra dalam hati menatap jenuh.


Citra menggunakan bahasa isyarat, menggerakkan tangannya,'Aku belum menikah, ini pakaian adikku,'


"Aku tidak mengerti bahasa isyarat, apa artinya suamimu sedang pergi?" tanyanya tidak mengerti.


Citra menghebuskan napas kasar kembali menggunakan bahasa isyaratnya,'Ini milik adikku, dia sedang sekolah di kota,'


"Suamimu mencampakkanmu karena bisu?" sang pemuda bertanya penuh asumsi.


Gadis itu menggeleng gelengkan kepalanya, bergerak lebih perlahan,'Ini milik adikku, dia pergi ke kota untuk belajar. Kamu boleh memakai pakaiannya,'


"Dia meninggalkan mu karena kamu jelek dan miskin?" sang pemuda kembali bertanya, dengan prediksi gilanya.


Terserah apa yang kamu fikirkan. Dasar orang gila!! Sabar... ingat pembantu gratis... Citra berkali-kali menghela napasnya, berusaha untuk tersenyum. Padahal ingin rasanya mencabik-cabik pemuda yang tidak mengerti dengan bahasa isyarat yang digunakannya.

__ADS_1


"Jika tersenyum berarti benar, kasihan sekali sudah jelek ditambah miskin, harus ditinggalkan suami,"sang pemuda terlihat iba.


"Omong ngomong, namamu siapa?" tanya sang pemuda.


Citra mengenyitkan keningnya, bingung harus menjawab dengan cara apa, menulispun gadis buta huruf itu tidak bisa. Sedangkan, sang pemuda sama sekali tidak mengerti bahasa isyarat.


Sang pemuda menghebuskan napas kasar,"Namaku Gabriel, bagaimana jika aku memanggilmu Cici. Panggilan saudara perempuan dalam bahasa Cina,"


Citra tersenyum mengangguk, tanda setuju.


"Jadi malam ini aku harus tidur dimana?" tanya sang pemuda.


Citra sedikit berpikir, tidak mungkin baginya membiarkan Gabriel tidur di kamar Tirta. Walaupun, berbeda kamar, jika ketahuan warga desa dirinya mungkin akan berada dalam masalah. Akhirnya tercetuslah satu ide.


***


Hangat, memang sedikit hangat setelah diberi kain sarung dan karpet. Sedikit nyaman setelah dibersihkan dan tempat itu di beri bantal.


Namun, kandang kambing? Lelucon macam apa ini. Bau yang menyengat, Gabriel hanya dapat meringkuk kedinginan di balik sarung, menahan rasa bau dan jijiknya.


"Untuk pertama kalinya, seorang Gabriel tinggal di kandang kambing. Dasar wanita egois!! Ada dua kamar, tapi kenapa aku tidur di kandang kambing!! Aku doakan, jika kamu punya anak, akan sama pelitnya denganmu!!" umpatnya, menutup tubuhnya dengan sarung.


***


Beberapa jam berlalu, malam semakin larut, hujan gerimis masih terjadi. Seorang pemuda dengan rambut panjang lurus diikat rapi, diikuti dua orang yang membawa payung, mengetuk pintu kayu yang rapuh.


Citra membuka pintu, mengejap-ngerjapkan matanya, mengenyitkan keningnya.


"Apa kamu melihat orang ini?" tanya pemuda yang tidak dikenalnya, menunjukkan foto Gabriel.


Citra spontan berbohong, menggeleng gelengkan kepalanya, menggerakkan tangannya, menggunakan bahasa isyarat,'Saya tidak pernah melihatnya,'


"Periksa!!" sang pemuda, memberi perintah, salah seorang yang dibawanya, menggeledah seisi rumah.


Semua kamar diperiksa, tidak ada yang lolos dari penggeledahan. Citra menghebuskan napas kasar, tidak dipungkiri dirinya saat ini ketakutan.


Gabriel? Siapa sebenarnya pemuda sialan yang ditolongnya. Citra ragu untuk mengatakan keberadaan sang pemuda, melirik senjata api yang terlihat dari jas seorang pemuda berambut panjang terikat rapi di hadapannya, dengan tato bar kode di tangan kirinya.


"Tidak ada siapapun tuan!!" orang yang diberi perintah keluar menunduk memberi hormat.


Sang pemuda menghebuskan napas kasar, meninggalkan rumah Citra, mencari di rumah lain.


Kaki gadis yang sedari tadi itu gemetaran, lemas terduduk di lantai, penuh perasaan lega.


"Cici, terimakasih..." Gabriel menyunggingkan senyuman di wajahnya, membalut dirinya dengan sarung, turun dari kandang kambing. Tempatnya tinggal dan bersembunyi, mengamati situasi.


Terimakasih apanya? Kehidupanku yang damai hampir saja berakhir. Aku akan benar-benar menjadikanmu budak, memanfaatkan tenagamu hingga habis karena kejadian malam ini... umpat Citra dalam hati, menatap tajam ke arah Gabriel.


"Entah kenapa, aku merasakan aura dingin. Sebaiknya aku kembali ke kandang kambing..." ucapnya mengeluarkan keringat dingin, menatap kebencian dalam sorot mata wanita yang dipanggilnya Cici.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2