Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Singkong


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸŒΈπŸŒΈπŸŒΈπŸŒΈ


Maaf jarang membalas komentar, dalam dunia nyata aku tidak pandai bicara.🀭🀭🀭🀭


Sebelumnya aku ingin curhat...


Sampai sekarang novelku aslinya tidak mendapatkan level, alias dibawah yang terbawah. Bahkan jika kalian melihat novel tanpa pembaca sama sekali, aku setara dengan mereka.


Menerima kritik dan memperbaiki, sudah aku lakukan. Tidak ada novel yang ditulis dengan sempurna, aku menyadari itu. Tapi dibawah yang terbawah, rasanya menyakitkan 😭😭😭😭


Promosi, aku sering promosi di novel tamat, tapi di kolom membalas komentar. Agar tidak menggangu author novel terkenal. Walaupun, masih sering kena semprot juga 🀧🀧🀧🀧


Kalau ditanyakan bayaranπŸ€”πŸ€”πŸ€”πŸ€”, berapa banyak pembacapun, tidak akan mendapatkan cuan kalau tidak kontrak, dan aku tidak kontrak. Sebelumnya, terimakasih yang memberikan tips, rasanya terharuπŸ€—πŸ€—πŸ€— walaupun uangnya tidak bisa ditarik...😭😭😭nangis lagi😭😭😭....


Sebelumnya aku ingin bertanya, apa novel ini kurang bagus ya? Sehingga tidak pernah muncul di beranda depan...


Jujur aku sedikit terpuruk. Alasannya, rasanya tidak ada yang salah dengan tulisanku, tapi menjadi yang terbawah, diantara yang terbawah rasanya menyesakkan. Novel yang tidak memiliki level sama sekali, haizzzπŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜”πŸ˜”πŸ˜”πŸ˜”


Padahal memori handphoneku penuh, karena banyaknya game, audioroom MT, dsb. Sesuatu yang tidak pernah aku pakai. Pengen rasanya unistal aplikasi, tapi senang rasanya dapat menulis dan membaca komentar kalian, menerima dukungan. Kalianlah semangatku tetap berada di aplikasi ini.


Maaf curhat...


Terimakasih sudah mendukung novel ini dengan like, komentar, vote, tips, maupun hadiah...


Kalian boleh bertanya apa saja di kolom komentar hari ini. Akan aku jawab, asalkan jangan minta bocoran chapter selanjutnya...


Satu lagi, karena novel ini akan segera end, aku membuat pilihan tentang novel berikutnya.




"Secret Of CEO" novel di akun lamaku dengan ID penulis: "BIDADARIQ" yang E-mailnya di heaker, rencananya akan aku tulis ulang di akun ini dengan cerita yang diperbarui dan alur yang dirubah. Kalau lagi gabut kalian boleh baca, cari saja "Secret Of CEO".




Kisah tentang Tomy, masih banyak hal tentang keluarganya. Serta keadaan kakak cantiknya sekarang. Satu lagi tentang orang tua yang kini mengharapkan kehadirannya.




Novel baru dengan judul "Menantu Kesayangan Pembuat Masalah", bercerita tentang tuan tanah yang memiliki seorang anak perempuan tunggal yang cacat akibat kecelakaan. Di khianati kekasihnya, yang disokong biaya kuliahnya di kota hingga menjadi seorang dokter. Tapi malah menikahi wanita lain, setelah sukses.




Anak si tuan tanah tidak mempercayai cinta lagi. Hingga ayahnya membuatnya terjerat pernikahan dengan pemuda singgel (benar-benar belum pernah menikah) paling miskin dan tidak berguna di kampung. Pemuda yang menyusahkan dan membuat banyak masalah untuk mereka. Masalah yang selalu dapat diatasi gadis cacat yang pintar itu.


Tetap menyayangi menantu satu-satunya, apapun masalah yang dibuatnya, begitulah perasaan tulus sang tuan tanah. Berusaha mencintai sang suami dan membuat suaminya mencintainya, begitulah perasaan tulus sang gadis cacat.


Namun, satu rahasia di sembunyikan sang pemuda yang sering dipanggil Jono (Jonathan Northan nama asli yang disembunyikannya). Rahasia yang akan membuat sang istri dan mertuanya membencinya.


Nah, aku cuma bisa update satu novel perhari, untuk novel selanjutnya. Tolong tentukan pilihan kalian, aku menanti pendapat kalian, sebagai pertimbangan πŸŒΈπŸŒΈπŸŒΈπŸ€πŸ€πŸ€


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€—πŸ€—πŸ€—


...Hanya segelintir orang yang jatuh cinta sekali dalam hidupnya. Hingga, perlahan-lahan makhluk yang tidak menghargai cinta, belajar tumbuh menjadi lebih dewasa. Mencari jalan hingga dirinya menemukan teman hidup sesungguhnya...


...Ingin mengasihi? Tapi tertunduk teringat dengan diriku yang dulunya hanya dapat menyakiti. Apakah aku yang saat ini dapat menjaga makhluk rapuh di hadapanku? Ataukah harus melepaskannya agar bahagia bersama pria lain...


Daniel...


Tidak sepatah katapun keluar dari mulut pemuda yang terdiam, terlarut dalam fikirannya. Gadis yang kini memunggunginya layaknya seekor burung gereja yang dapat pergi kemanapun dia inginkan.


Menginginkan bersamanya, namun jika terpisah membuatnya bahagia, tidaklah mengapa. Lebih dewasa bukan? Waktu dan pengalaman hidup yang membuatnya jauh lebih dewasa.


Ingin hujan segera berhenti? Begitulah dalam hati Kanaya saat ini. Hingga suara ketukan pintu terdengar.


"Tuan..." Ken menunduk, membawa sebuah paperbag. Setelah dibukakan pintu oleh tuannya.


"Sudah hampir sore, turunlah untuk makan..." ucapnya pada sang asisten.


"Baik tuan," Ken segera meninggalkan kamar, setelah paperbag yang dibawanya diraih Daniel.


Daniel menghebuskan napas kasar, menatap gadis yang masih menatap kearah balkon kamar dengan tubuh gemetar bagaikan ketakutan.


Asistennya membeli obat kuat dan alat pengaman...Duren br*ngsek, jangan coba-coba merusak gadis polos sepertiku. Karena aku sulit menahannya... gumamnya dalam hati, ketakutan, akan terkena rayuan atasannya.

__ADS_1


"Pakailah, setelah ini aku akan mengantarmu pulang," ucap Daniel, menyodorkan paperbag yang dibawanya.


"Te... terimakasih..." Kanaya meraih paperbag.


Aku salah paham padanya, ternyata dia masih pak Daniel yang baik hati... gumamnya berlari ke arah ruang ganti, mengamati pakaian yang ada di dalam paperbag.


Minidrees cantik berwarna putih, menghiasi tubuh indahnya. Rambutnya terlihat terurai setengah kering. Daniel menghembuskan napas kasar, tersenyum ke arahnya.


"Ini untukmu..." ucapnya tersenyum, memakaikan sebuah kalung dengan sepasang cincin sebagai bandulnya."Pakaikanlah pada orang yang kamu pilih nanti,"


"Pak Daniel kenapa..." ucap Kanaya ragu-ragu.


"Aku serius padamu, aku..." kata-kata Daniel terhenti, Kanaya berjinjit mencium bibir pemuda di hadapannya. Tangannya memegangi bahu Daniel menjaga keseimbangannya.


Pemuda itu, perlahan menutup matanya, merasakan bibir wanita yang dirindukannya.


Perasaan menggebu-gebu penuh hasrat? Bukan, perasaan ini lebih seperti ingin menjaga dan menyayanginya memperlakukan layaknya mangkuk kaca yang rapuh. Tautan bibir yang terasa tidak seberapa lama.


Kanaya menatap mata itu lekat, bagaikan sebuah mantra yang membuatnya tunduk. Menginginkan, pelukan bahkan lebih dari tubuh itu. Namun...


"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Daniel tersenyum, mencium pipi Kanaya.


"I...iya..." jawabnya gelagapan.


***


Pakaian santai sudah dikenakan sang pemuda, menyetir mobilnya di tengah hujan melewati area pasar tradisional. "Apa yang orang tuamu sukai?" tanyanya penasaran.


"Eeemmm, singkong..." satu kata terucap di bibirnya.


"Tunggu disini..." Daniel menghentikan laju mobilnya, membuka payung, keluar dari mobil. Berjalan dengan cepat menuju pasar tradisional.


"Dia mau apa?" gumam Kanaya tidak mengerti.


Beberapa puluh menit berlalu, entah berapa video pendek di media sosial yang dibukanya dalam mobil yang tertutup rapat. Hingga hujan mulai reda, hanya suasana gerimis yang cukup dingin.


Beberapa orang datang, membawa sesuatu ke dalam mobil penumpang berharga ratusan juta itu. Yang pertama masuk adalah dua karung besar singkong kwalitas terbaik, rata-rata berukuran besar.


"Taruh disana..." suruh Daniel, membuka bagasi mobilnya.


"Dia sudah gila," gumam Kanaya menatap dari kursi penumpang bagian belakang menghentikan kegiatannya membuka media sosial.


Wajah Kanaya nampak pias, pucat pasi. Hingga bergantian, entah berapa kotak porsi getuk lindri (kue olahan singkong) yang dimasukkan pedagang kue lainnya, tersebut ke dalam mobil.


"Pak Daniel?" Kanaya mengenyitkan keningnya, menatap bosnya yang memasuki mobil tanpa rasa bersalah,"Oleh-oleh..." ucapnya tersenyum.


"Anak sultan..." Kanaya menghembuskan napas kasar.


"Anak singkong," Daniel tertawa kecil, mengacak-acak rambut Kanaya.


Mobil yang hampir penuh itu kembali melaju, hingga tidak sengaja terlihat satu kata lagi 'Singkong Keju', di lapak pedagang pinggir jalan. Seketika Daniel menghentikan laju kendaraannya.


"Sudah cukup, jika ditambah lagi, seluruh keluargaku akan terkubur singkong!!" bentak Kanaya kesal.


Mobil kembali melaju, sesuatu yang manis difikirkan Daniel. Sesuatu yang dirasanya akan menyenangkan jika dilakukannya dengan gadis yang duduk di sampingnya.


"Kanaya, kamu suka singkong kan? Apa yang besar lebih enak?" tanyanya, mengalihkan pandangannya pada Kanaya yang kini meminum sebotol air putih.


"Benar, yang besar jika direbus akan lebih enak," jawabnya.


"Jika orang tuamu menyetujuiku dan kita menikah. Aku akan membantumu mengupas singkong (singkong dalam artian sebenarnya) kwalitas terbaik dengan ukuran yang lumayan besar," Daniel masih fokus pada jalanan di hadapannya.


Singkong besar? Apa dia sama mesumnya dengan Kemal? Mereka menyebalkan... anggapan dalam hatinya.


"Dasar mesum!! Aku tidak suka singkong!!" bentaknya, menjambak rambut Daniel, kesal. Pasalnya dirinya sudah muak dengan kata anaconda yang sering diucapkan Kemal. Dua kata yang mengerikan bagi gadis perawan sepertinya.


"A...apa magsudnya, aku hanya ingin memasak singkong bersamamu!!" Daniel gelagapan, mencoba melepaskan jambakan rambut Kanaya.


***


Brak...


Terdengar suara meja digebrak dengan kencang...


Seorang pemuda dengan kulit sawo matang terlihat kesal. Berdampingan dengan istrinya yang putih rupawan dan putra sambungnya, seorang anak yang berusia enam tahun.


"Tenang dulu..." sang istri, menenangkan kemarahan suaminya.


"Jelaskan pada orang tuamu!!" bentak sang pemuda.


"Ayah, ibu, kak Fahri hanya ingin meminta hak warisanku lebih awal. Kami ingin membuka usaha, kalau berhasil bukannya bapak dan ibu juga akan senang," ucap Kinara, pada Candra dan Sumi.

__ADS_1


"Kami masih hidup!! Tanah dan rumah dijual? Kemudian uangnya dibagi dua? Jika dijual kami tinggal dimana? Penghasilan bapak cuma dari meladang, kami makan apa nantinya?" Candra menghela napas berusaha untuk tenang.


"Mudah, setengah uangnya gunakan untuk menyewa rumah dan membuat warung kecil..." jawab Kinara enteng.


"Kinara, bapak dan ibu sudah tua, kami tidak punya apa-apa lagi. Kalau bapak dan ibu sakit bagaimana? Fikirkan juga kakakmu, yang tidak akan mendapatkan apa-apa..." mata Sumi berkaca-kaca menahan tangis, menggenggam erat jemari tangan putri yang dibesarkannya dengan kedua tangannya sendiri.


"Kakak masih belum menikah!! Belum punya anak!! Tidak mungkin keperluannya lebih banyak dibandingkan keperluanku..." Kinara menghebuskan napas kasar duduk menyender, membandingkan hidupnya dengan saudara kembarnya.


Miskin? Tidak, Fahri memang tidak begitu rupawan. Namun berkecukupan, anak dari kepala desa seberang, memiliki beberapa lahan. Lalu kenapa harus menutut warisan dari mertuanya?


Diam-diam Kinara tersenyum. Benar, ini keinginan wanita itu, menginginkan membuka butik dengan menggunakan warisan yang belum pantas dituntutnya. Cibiran, orang-orang yang membandingkannya dengan kakaknya Kanaya. Gadis mandiri memiliki perkejaan tetap di kota, bahkan mengirimkan uang setiap bulan untuknya dan putranya.


Dulu ketika SMU dirinya yang rupawan dielu-elukan semua orang. Namun, kini hanya Kanaya yang menerima pujian. Mungkin dengan memiliki usaha sendiri dirinya akan dianggap sebagai wanita mandiri yang lebih hebat dibandingkan dengan kakaknya, walau mengorbankan orang tuanya sekalipun.


"Tapi..." kata-kata Sumi disela. Suaminya mulai bangkit, menatap mata putrinya.


"Apa kamu masih menghormati ayahmu?" tanya Candra.


"Aku menghormati ayah, tapi aku hanya ingin meminta hakku lebih awal. Apa itu salah?" tanyanya membentak menatap tajam pada kedua orang tuanya.


Jemari tangan keriput yang membesarkan putrinya penuh kasih mulai menyeka air matanya.


Anak yang diajarkan bicara perlahan kini berbalik membentaknya. Anak yang diajarkannya untuk berjalan, melangkah meninggalkan orang tuanya. Anak yang disuapinya penuh kasih, kini meminta sesuatu yang dikatakannya sebagai hak.


"Ayah meminta waktu untuk bicara dengan kakakmu..." ucap Candra, berusaha untuk tetap tersenyum.


Punggungnya yang kokoh, mungkin terlalu lelah membungkuk, mencangkul lahan gersang. Kakinya pecah-pecah, kasar, mungkin sering terasa sakit karena menapaki jalan berbatu. Setiap hari meladang, berjalan pulang menatap kedua putri kecilnya setiap hari, penghapus rasa lelahnya.


Penyemangat hidupnya kini telah dewasa. Wanita dewasa yang tidak lagi dikenalnya, walau sosok putri kecilnya masih tersembunyi disana. Putri yang tetap dikasihinya bagaimanapun perbuatannya.


"Aku menunggu kabar dari kalian..." ucapnya, menarik kasar tangan Ega, putranya. Yang hendak berjalan mendekati sang nenek. Bagaikan Kinara tidak rela, sang nenek menyentuh tangan kecil putranya.


"Ibu masih, merindukan Ega..." ucap Sumi lirih, menatap wajah polos cucunya.


"Jual rumah dan tanah dulu, baru boleh menyentuh Ega!!" bentaknya, menarik anaknya yang mulai menangis merindukan sang nenek yang ikut andil membesarkannya.


Apa salah menyentuh jemari tangan kecil cucunya? Cucu yang dibesarkannya penuh kasih. Bahkan menyeduhkan, memberikan susu formula, menimang, saat putrinya tidak ingin merusak bentuk dadanya. Kecantikan bentuk tubuh? Itulah alasan Kinara dulu tidak ingin menyusui putranya sendiri, hingga anak itu lebih dekat dengan sang nenek.


Cucu yang dikasihinya, kini ditarik pergi, dengan alasan tidak disetujui meminta hak waris lebih awal. Harta yang tidak seberapa, dibandingkan dengan senyuman cucunya yang manis.


Keheningan, itulah saat ini yang terasa. Hanya sepasang suami istri yang menunduk dengan wajah keriput mereka, menitikkan air matanya, duduk di kursi rotan terisak tanpa kata-kata.


***


Mobil pick up milik Fahri melaju, meninggalkan jalanan rusak, menuju jalan desa yang lebih luas. Sebuah mobil berharga fantastis melaju perlahan mengingat jalanan desa yang sempit, berpapasan dengan mobil pick up mereka. Mata Fahri menelisik,"Saudarimu benar-benar jal*ng, yang menggoda bos kaya..." cibirnya, mengamati wajah rupawan yang menyerupai istrinya, di dalam mobil lain.


"Apa maksudnya?" tanyanya.


"Tidak, mintalah uang lebih banyak pada orang tuamu. Kakakmu sudah hidup enak, bertunangan dengan anak pengusaha kaya, dia tidak perlu uang lagi," ucapnya tersenyum.


"Benar, lebih baik minta semuanya saja sekalian..." Kinara ikut tersenyum. Kesal? Tentu saja, dulu dirinyalah yang lebih cantik, lebih dibanggakan. Tapi kenapa kakaknya yang jelek, tiba-tiba menjadi wanita karir, dan mendapatkan pria kaya?


Hidup bergelimang harta, layaknya Cinderella, mungkin itulah anggapan Kinara, mengetahui pertunangan kakaknya di telivisi.


Kami kembar, namun memiliki nasib yang berbeda. Pria kaya, tampan, seperti Daniel Ananta? Hanya pantas untuk dirinya. Andai saja anak sialan ini tidak ada. Jemari tangannya, refleks mencubit paha anaknya yang tidak bersalah, tidak mempedulikan tangisan sang anak yang semakin kencang. Menyalahkan anak tidak berdosa, atas karmanya sendiri.


***


"Pergi!! Bawa pulang!!" Candra membentak pria kota di hadapannya. Menatap tumpukan berbagai macam singkong di teras depan rumahnya. Sedangkan Kanaya duduk terdiam, napas gadis itu terengah-engah setelah membantu Daniel menurunkan singkong dari dalam mobilnya.


"I...ini, singkong...aku harus pergi, perutku sakit!!" Daniel melarikan diri tidak ingin mengangkat kembali 50 kg singkong. Serta puluhan kotak olahan singkong di hadapannya.


"Hey, anak nakal!! Orang kota arogan!! Anak kami, tidak bisa dibeli dengan singkong!!" Candra berteriak, mengejar Daniel yang telah berada dalam mobil yang tengah melaju.


Plang...


Singkong berukuran besar dilemparkannya tepat mengenai mobil Daniel.


"Bocah singkong!!" bentaknya kesal.


Bersambung


...Bayi telahir tanpa mengenakan sehelai benangpun, orang tuanyalah yang memakaikan baju. Merawatnya dengan baik, memberinya kasih sayang, tidak kenal lelah, walau kantuk terasa. Walaupun ketika rasa sakit menyiksanya. Memberi bayi itu makan, membuatnya tersenyum adalah hal yang utama, pemberi energi untuknya...


...Tangan renta itu kini masih memegang cangkul, merasakan kerasnya tanah yang gersang. Tidak ingin menyusahkan anak mereka yang sudah dewasa, memakan sekedarnya, hanya untuk bertahan hidup...


...Teringin melihat benih-benih baru yang tumbuh dari anak mereka. Sesuatu yang orang katakan sebagai cucu. Makhluk berjemari kecil, tunas kecil menghiasi hari-hari tua mereka...


Sayangilah orang tuamu, saat mereka masih ada...


Author...

__ADS_1


__ADS_2