Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Dicintai Dua Pria


__ADS_3

Hujan gerimis turun membasahi bumi, Lery meraba ke arah jendela yang basah mulai tersenyum, entah apa yang ada di fikirannya saat ini.


Suara dering telepon terdengar dari luar, seorang pengawal mengetuk pintu ruangan yang cukup besar.


"Masuk..." ucap Lery dari dalam sana.


"Maaf, tuan mobil yang ditumpangi nyonya mengalami kecelakaan beruntun. Nyonya, beserta supir pribadinya tidak ada yang selamat..." sang pengawal menunduk memberi hormat.


Lery mulai berbalik, duduk di kursi putarnya, tidak terlihat kedukaan di wajahnya,"Pindahkan mayat Sasha ke salah satu rumah sakit milik Gabriel. Hubungi Gabriel, berikan perintah untuk memalsukan otopsi penyebab kematian yang akan diserahkan pada kepolisian,"


"Tapi, nyonya meninggal karena kecelakaan. Maaf, saya kurang mengerti apa maksudnya dengan memalsukan otopsi penyebab kematian?" tanyanya, tidak tahu bagaimana memberikan intrupsi pada Gabriel nantinya.


"Wanita murahan dan *njing pengkhianat itu, mati keracunan gas karbon yang dikeluarkan AC mobil, sebagai hukuman menipuku. Berikan perintah pada Gabriel, mereka mati karena benturan akibat kecelakaan atau sejenisnya..." jawabnya, mulai membuka berkas-berkas yang ada di mejanya.


"Satu lagi, jangan sampai Clarissa dan Deren tau tentang kematian Sasha. Buat seolah-olah ibu mereka sudah kembali ke California..." lanjutnya.


"Baik tuan..." sang pengawal, segera keluar dari ruangan, hendak melaksanakan perintah Lery.


Mengetahui segalanya? Mungkin, makan siang tadi adalah kesempatan terakhir bagi istrinya. Akan dimaafkan atau mati bersama kekasih gelapnya. Mencintai Sasha? Istrinya memang dicintainya, karena itulah mendapatkan kesempatan terakhir untuk memilih.


"Penghianat!!" cibirnya, melempar foto pernikahan lama yang berada di atas meja hingga pecah berkeping-keping.


Suara tangisnya terdengar, meniduri berbagai wanita di negara lain hanya untuk memuaskan hasratnya saja. Tapi beginilah rasa sakit, di khianati orang yang benar-benar dicintainya.


Hingga kini Lery tidak memahami perasaan Sasha, yang sama sakitnya merasakan pengkhianatan yang lebih banyak darinya. Terdiam dalam keegoisannya,"Semua salahmu yang berkhianat!!" Lery berteriak mengeluarkan emosi dan luka hatinya, suaranya menggema dalam ruang kerjanya. Air matanya mengalir sulit dibendung olehnya.


***


Seorang pemuda tersenyum, membawa satu persatu minuman untuk para karyawan. Mendapatkan pekerjaan sangat sulit baginya yang telah belasan kali di tolak karena tidak memiliki pengalaman.


Mengancam Clarissa, walau merupakan hal yang licik, namun itu berhasil. Dirinya kini resmi menjadi office boy di kantor cabang perusahaan yang baru beberapa bulan berdiri.


Tok...tok...tok...


Suara ketukan pintu terdengar, seiiring dengan masuknya seorang office boy membawa ice coffee, lengkap dengan cemilannya.


"Kopinya..." ucapnya meletakkan di atas meja Clarissa.


"Emmm..." hanya satu kata itu keluar dari mulut wanita yang tidak menoleh sama sekali. Tengah konsentrasi mengerjakan tugasnya.


"Nanti esnya mencair, minumannya tidak dingin lagi," Zion mengenyitkan keningnya.


"Tidak dingin lagi, memangnya kenapa!?" Clarissa membentak menoleh pada pria yang tersenyum licik padanya.


"Ini khusus aku buatkan untukmu, mencurahkan semua perasaanku. Kafein dalam kopinya, melambangkan betapa cerahnya wajahmu hari ini. Low calori sugar, kamu terlalu manis, aku takut jika menggunakan gula tebu, banyak pria akan mengerubunimu seperti semut,"

__ADS_1


"Panasnya air untuk menyeduh, bagaikan panasnya hati yang aku simpan untukmu. Es yang mendinginkannya, seperti dinginnya hatimu yang ingin aku luluhkan...." gombalan aneh keluar dari mulutnya, menyembunyikan contekan yang ditulis menggunakan pena di telapak tangannya, bagikan akan mengikuti ujian.


Aku sudah berusaha menyusun kata-kata. Ini seharusnya berhasil kan? Semoga saja bisa... pemain cinta profesional itu untuk pertama kalinya mengeluarkan keringat dingin, dibalik senyumannya.


Clarissa nampak kesal, mulai berdiri dari kursi putarnya, mengenyitkan keningnya membentak,"Siapa yang mengirimmu untuk merayuku? Aku hanya menyukai pria sempurna seperti Farel!! Orang yang mengirimmu tidak akan bisa merusak hubungan ayah dengan tuan Ta..."


Kata-katanya terhenti, Zion memeluknya erat dengan satu tangan. Tangan lainnya memegang belakang leher wanita itu. Menyentuh tubuh Clarissa bagaikan candu untuknya. Perasaannya berdebar aneh, kala bibir itu bertaut perlahan, menyesap wanita yang memberontak itu dalam napsu. Perlahan gerakan bibirnya dibalas, wanita itu bagaikan terhanyut olehnya. Mungkin merasakan perasaan yang sama.


"Pelecehan...aku akan..." kata-katanya terhenti, Zion tersenyum mencium kening Clarissa.


"Dengar, aku boleh melakukan apa saja padamu. Nikmatilah, jika menolak, foto ciuman panas kita akan sampai ke kantor JH Corporation..." bisiknya.


"Tidak bisa begini!! Aku tidak sudi dilecehkan oleh office boy sepertimu!!" teriak Clarissa, menahan perasaan berdebar dalam hatinya.


"Apa kelebihannya selain berpendidikan dan kaya, dibandingkan denganku? Aku pernah melihatnya, dia sama tampannya denganku," tanya Zion mengenyitkan keningnya.


"Dia romantis!! Pandai dalam segala hal dan yang paling penting, ahli di tempat tidur!!" bentak Clarissa, seketika menutup mulutnya, menyadari kesalahannya dalam bicara.


"Ahli di tempat tidur?" Zion menahan tawanya,"Kelihatannya, jika di tempat tidur kalian memang cocok..." ucapnya berlalu pergi, berjalan keluar dari ruangan Clarissa.


Tidak dipungkiri sulit menolak pesona kuat, pemuda menyebalkan yang baru dikenalnya. Hanya menyukai pangeran seperti Farel, itulah yang digumamkan dalam hatinya saat ini, menahan debaran dalam hatinya.


"Fa... Farel lebih tampan, dia tulus dan hanya menyukaiku, bahkan yang terbaik di tempat tidur..." gumamnya terus menerus bagaikan mantra untuk mengusir pemuda mesum yang baru dikenalnya dari dalam fikirannya.


***


Hari mulai sore...


Clarissa, menatap ke arah kaca transparan ruangannya yang berada di lantai 8. Terlihat mobil sport berwarna hijau tua, mulai terhenti di depan kantornya, hendak memasuki parkiran.


Dengan cepat wanita itu mengemasi barang-barangnya. Menyimpan kembali dalam tasnya. Tempat parkir? Itulah tujuannya saat ini menyambut kedatangan Farel.


Penuh semangat menuruni tangga, sebagian besar karyawan telah pulang ke rumah mereka masing-masing mengingat waktu yang sudah menunjukkan pukul 6 sore.


Namun, tanpa di duga sebelum mencapai parkir lengannya ditarik dalam lorong menuju toilet, pergerakannya tiba-tiba dikunci."Kamu mau kemana?" tanya seorang pemuda dengan nada protektif.


"Lepas, aku ingin menemui calon tunanganku!!" bentaknya pada Zion, meronta mencoba melepaskan diri.


"Tidak, aku ingin menyentuhmu lagi. Sebaiknya, jangan berisik, jangan sampai calon tunanganmu menyaksikan kemesraan kita..." bisiknya kembali mencium bibir Clarissa dengan sengaja. Bersamaan dengan derap langkah seorang pemuda menelusuri lorong.


Clarissa tidak melawan, membalas pelan ciuman pria itu penuh rasa bersalah. Melihat Farel berjalan menelusuri lorong sekilas, seperti hendak mencarinya. Tidak ingin pemuda itu salah paham jika mendengarnya memberontak dari Zion, namun tidak dipungkiri, dirinya merasakan perasaan aneh dalam ciumannya saat ini. Bahkan tangan Zion dengan beraninya mer*mas tumbuhnya yang masih berbalut pakaian lengkap.


Aku hanya mencintai pangeran seperti Farel. Farel maaf... entah kenapa, aku tidak berdaya merasakan ciuman orang ini... gumaman aneh penuh dilema dalam hatinya.


Merasakan cinta tulus dari Farel, namun membiarkan Zion yang pemaksa melecehkannya. Zion baginya adalah tokoh antagonis yang menggairahkan. Sedangkan Farel protagonis di hidupnya yang tanpa sengaja dalam keterpaksaan dikhianatinya. Dilema diperebutkan dua pria tampan, begitulah dalam fikirannya.

__ADS_1


***


Sebelum Clarissa berciuman...


Farel menghebuskan napas kasar turun dari mobil, dengan langkah jenuh mencari sepupunya yang menyebalkan. Langkah demi langkahnya menelusuri lorong.


Hingga terlihat, dua manusia berciuman panas. Wajahnya memerah, berbalik, berjalan cepat pura-pura tidak melihat. Kemudian kembali ke mobilnya.


Brak...


Pintu mobil tertutup,"Clarissa, kamu sama saja seperti ayah (Gabriel) meracuni otak adik sepupumu ini, dengan tontonan panas..." ucapnya mengacak-acak rambutnya kesal.


Hingga sebuah panggilan diangkatnya, dengan nama pemanggil Tomy.


"Tuan.." terdengar suara seseorang dari seberang sana.


"Ada apa?" Farel menghembuskan napas kasar.


"Ada kabar dari tuan Gabriel. Istri Lery, meninggal di bunuh oleh suaminya menggunakan gas karbon," jawabnya.


"Nanti malam aku akan menemui ayah. Omong-ngomong, maaf...kamu boleh mengumpat padaku saat ini. Aku sudah berbuat banyak kesalahan padamu," Farel kembali menghela napasnya.


"Kesalahan?" Tomy meyakinkan pendengarannya.


"Aku saat ini sedang menunggu dengan sabar, Clarissa berciuman dengan Zion. Jadi begini perasaanmu ketika aku menggunakan kamarmu untuk tidur dengan Jeny,"


"Bahkan menggunakan mobilmu untuk melakukan..." kata-kata Farel terhenti sejenak,"Kamu memang perjaka tangguh..." pujinya.


"Terimakasih tuan, sudah mengerti perasaan saya..." Tomy penuh haru.


"Nasibmu sungguh malang, untung saja setelah ini aku akan membeli seikat bunga, coklat, gaun tidur tipis, dan memberikan kejutan manis pada nonaku tersayang. Agar malam ini dapat melewati malam yang panas dengannya," ucap Farel.


"Sialan..." umpat Tomy dengan suara kecil menahan kekesalannya.


"Kamu bilang apa?" Farel mengenyitkan keningnya.


"Bukan apa-apa..." jawabnya geram.


"Aku memuji ketegaranmu, yang melewati malam dingin tanpa pasangan setelah menyaksikan banyak adegan romantis. Benar-benar pahlawan bagi para bujangan, jika aku menjadi dirimu pasti tidak akan mampu..." puji Farel.


"Tuan, aku sudah cukup iri dengan anda!! Aku akan meniduri nona anda karena kesal!!" umpatnya merasa terhina dan iri dengan kata-kata pujian Farel. Mematikan panggilannya sepihak.


"Tomy!! Kamu tidak serius kan!? Tomy!? Asisten br*ngsek!!" umpat Farel menatap panggilannya yang sudah diakhiri sepihak. Pemuda itu segera memasukkan gigi mobilnya, tancap gas dengan kecepatan tinggi meninggalkan parkiran.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2