Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Cucu menantu


__ADS_3

Brak...


Sang pelayan memegangi dadanya, punggungnya terbentur pada dinding ruangan khusus VIP yang tidak begitu besar.


"Maaf tuan apa magsud anda?" ucapnya terbatuk-batuk, memegangi dadanya.


Farel mengambil kue ikan yang dipesan Jeny, menyodorkannya pada sang pelayan,"Makan!!" ucapnya.


"Maaf, saya baru saja makan siang," sang pelayan mengeluarkan keringat dingin.


Farel tersenyum mengerikian, menekan tubuhnya ke dinding, mencengkram pipinya hendak mencekokinya dengan kue ikan,"Makan!!" bentaknya.


"Maaf, saya disuruh..." sang pelayan gemetar ketakutan, mengetahui sianida yang ditaburinya pada kue ikan. Farel mulai menurunkan tangannya.


"Siapa yang menyuruhmu!?" Farel menghebuskan napas kasar.


"Saya, baru bertemu dengannya, gadis yang wajahnya mirip dengan artis Renata..." ucapnya terduduk di lantai lemas ketakutan.


Farel tersenyum, menunduk, menepuk nepuk pelan pipi sang pelayan. Kemudian kembali menendang lengannya, hingga tubuhnya membentur pintu geser yang terbuat dari kayu berpapis kertas, pintu tidak kokoh itu seketika roboh. Sang pelayan meringis tidak berdaya.


"Berapa dia membayarmu!?" tanya Farel tanpa ekspresi, menarik rambut pria yang sudah lemas dengan banyak luka.


"Sa...saya belum menghitungnya, tapi tolong ampuni saya, saya akan memberikan uangnya pada anda ..." ucapnya.


Farel tersenyum, membenturkan kepala sang pelayan ke dinding, lebih dari sekali.


Wajah Jeny nampak pias ketakutan, untuk pertama kalinya, wanita itu melihat Farel semarah ini. Matanya menelisik mengamati Taka dan Ayana yang meminum minumannya, tanpa ada magsud untuk melerai.


"Ren!! Sudah, hentikan!!" terdengar suara istrinya menghentikan Farel yang hendak mengangkat kerah pakaian sang pelayan.


"Jika manusia seperti ini di biarkan lepas tanpa dididik, suatu hari nanti dia akan kembali membunuh manusia demi uang..." ucapnya tanpa menoleh pada Jeny.


Jeny bangkit, berjalan mendekat, menarik jass yang dikenakan Farel, agar tubuh suaminya itu menghadap dirinya."Sudah ya?" ucapnya memeluk Farel erat.


Hatinya bagaikan luluh, rasa kesal tidak terasa lagi, Farel tersenyum simpul, membalas pelukannya, kemudian mengangguk.


***


Mesin mobil mulai menyala, Farel menyetir sembari tersenyum, sesekali melirik ke arah nonanya.


Mata Jeny tiada hentinya mengamati pemuda yang kini bersetatus suaminya. Wajah mengerikan tanpa belas kasih yang tadi dilihatnya membuat jemari tangannya masih gemetar. Mengerikan? tentu saja, bahkan lebih mengerikan dari sosok Daniel. Tapi memang begitulah bayangan Jeny selama ini tentang pemilik JH Corporation, bos dari Tomy.

__ADS_1


Saat ini yang berada di sampingnya sembari mengemudi adalah sosok Ren, remaja baik hati yang rela berkorban. Berbanding terbalik dengan seorang pemuda yang beberapa saat lalu memukuli seseorang tanpa belas kasih.


"Ren, jangan memukuli orang lagi..." ucap Jeny dengan ragu.


"Baik, aku hanya akan memukuli orang yang berniat buruk pada keluargaku," Farel tetap konsentrasi pada jalanan di hadapannya.


Tetap saja itu namanya memukul... Jeny menghembuskan napas kasar.


Salah satu tangan Farel lepas dari stir, menggenggam jemari tangan Jeny,"Jangan takut, selama aku hidup, aku akan melindungi keluargaku," ucapnya.


Perasaan aman? Jeny memang merasakannya saat ini, sekaligus ketakutan. Tangannya gemetar hendak melepaskan jemari tangan putih dingin, yang beberapa puluh menit yang lalu memukuli seseorang.


Farel tertawa kecil, menggenggam tangan Jeny lebih erat lagi, tidak membiarkannya lepas,"Maaf, tadi aku terlalu emosi, aku janji tidak akan memukul orang di hadapan istriku lagi..." ucapnya, tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.


Tidak di depanku? Lalu di belakangku? Jeny, kenapa kamu selalu bernasib sial, setelah lepas dari monster yang menganiaya istrinya. Kamu harus berhadapan dengan iblis yang terlalu menyayangi istrinya... Jeny merutuki nasibnya dalam hati.


"Aku mencintaimu, jangan sakit, jangan terluka, dan jangan mati. Nona adalah tujuan hidupku..." ucapnya tersenyum simpul.


Setidaknya, dia tetap Ren yang selalu memperhatikanku... gumamnya dalam hati.


"Aku juga..." jawabnya.


***


"Sial!! Sial!! Sial!! Renata sialan!!" umpatnya sembari menyetir diikuti mobil lainnya, banyak pekerjaan yang di cancelnya hari ini. Pertemuan dengan klien dan rapat yang ditunda, semua karena wanita yang kini sudah tertangkap oleh raja dari rajanya iblis.


Malam menjelang, mobil berhenti di sebuah area villa milik Farel. Dengan cepat Tomy berlari ke dalam. Penjagaan yang ketat, pintu di hadapannya mulai di buka dua orang pengawal.


Tomy menghembuskan napas kasar. Jujur, saat ini dirinya gemetar ketakutan, berjalan menelusuri lorong. Hingga sampai di sebuah ruangan yang luas, terlihat seperti perpustakaan. Pintu mulai ditutup dua orang pengawal lainnya.


"Tomy..." terdengar suara menakutkan bagaikan petir yang hendak menyambarnya.


"Tuan Taka, maaf..." ucapnya, tertunduk.


Taka yang duduk di kursi yang cukup besar, berjalan mendekat. Menendang betis, tepatnya tulang kering kaki Tomy, membuat pemuda itu berlutut menahan rasa sakitnya.


"Jika tau membuat kesalahan yang menumpuk, seharusnya berlutut dari awal!!" ucapnya menatap tajam.


"Maaf..." satu kata keluar dari mulut Tomy yang biasanya bertindak arogan.


"Apa kesalahanmu!?" tanya Taka, berdiri di hadapan bawahan cucunya.

__ADS_1


"Kelalaianku adalah membiarkan tuan Farel mengkonsumsi afrosidac, gagal membujuknya untuk tidak menikah," jawabnya.


Tepatnya kelalaian pembawa nikmat bagi tuan Farel... gumamnya dalam hati.


"Apa lagi?" Taka mengenyitkan keningnya.


"Tidak ada..." Tomy menjawab, tertunduk dengan raut wajah datar.


"Tidak ada? Kesalahanmu adalah tidak mengurus wanita bernama Renata dengan baik!! Dasar tidak berguna, jika jadi Farel aku sudah memberikanmu hukuman!!" bentaknya kesal.


Mengurus? Aku sudah pernah memberikan hukuman untuknya. Haruskah aku mengurusnya dengan menggendong dan memberikannya susu formula... Tomy menghembuskan napas kasar.


"Maafkan saya tuan..." jawab Tomy tanpa membantah.


Prinsip hidup menjadi budak, harus tunduk pada Firaun dan keluarganya... gumamnya dalam hati.


"Pengawal!!" panggil Taka, dua orang berbadan tegap masuk, mendorong Renata hingga tersungkur di hadapannya.


Sebenarnya, Renata beberapa hari ini sudah menyelidiki keberadaan Jeny yang tinggal dengan Farel, Taka, serta Ayana. Mengetahui kesamaan wajah Farel dengan foto pemberian Daniel, sebagai pemilik JH Corporation. sehingga dirinya percaya begitu saja.


Namun sekarang? Tomy berlutut di hadapan orang yang sudah berusia tua. Majikan Tomy, pemilik JH Corporation, benar-benar kakek tua? Daniel berbohong? Itulah yang terus berputar di otak Renata saat ini menatap Tomy yang berlutut pada Taka.


Sial!! Daniel membohongiku!! Pemilik JH Corporation ternyata benar-benar orang tua mesum. Lalu pemuda yang ke restauran bersama mereka siapa? Apa mungkin cucu pemilik JH Corporation... wajah Renata nampak pias, pucat.


"Aku sudah memberimu pelajaran sebelumnya, tapi kamu masih belum juga belajar. IQ-mu sebenarnya berapa?" Tomy mencibir dengan suara kecil.


"Su... sudah tua..." ucap Renata, antara terkejut dan kecewa menatap Taka yang berdiri dengan raut wajah dingin di hadapannya. Menyangka, pemilik JH Corporation adalah kakek yang berdiri di hadapannya, menyangka kata-kata Daniel adalah kebohongan.


"Kenapa? Aku memang sudah tua!!" Taka berucap menatap tajam.


"Tuan, maafkan saya. Daniel mengatakan jika anda tampan dan berusia...."kata-kata Renata terhenti, menyadari kesalahan dirinya dalam bicara, hampir menyinggung perasaan kakek tua di hadapannya.


"Daniel? Tomy hubungi Tirta!!" ucap Taka geram.


Renata merangkak hendak menyelamatkan dirinya sendiri,"Tuan, saya akan membantu anda mendapatkan Jeny. Bahkan memaksanya merangkak ke tempat tidur anda. Putra anda? Saya juga akan membantu anda merebutnya," ucapnya menyangka Daniel berbohong, dan dihadapannya saat ini adalah orang tua mesum pemilik JH Corporation, ayah dari Rafa.


Seorang putra? Membawa cucu menantunya ke tempat tidurnya... Tomy mati-matian menahan tawanya. Mengetahui kesalah pahaman Renata yang mengira bos Tomy, sekaligus orang yang dulu menghamili Jeny adalah Taka.


"Baik tuan Taka..." Tomy berucap mulai merogoh sakunya, menghubungi Tirta.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2